Home / Jurnalisme Warga / Perjalanan Menuju Negeri Intan

Perjalanan Menuju Negeri Intan

Oleh Yudistira

negeri intan1MABMonline.org, Pontianak — Aksi sosial dan edukatif Gamaska  (ASEG) yang telah dilaksanakan beberapa bulan lalu, tepatnya pada bulan Juli 2012 kini masih menyisakkan goresan kenangan dalam memori. Kegiatan selama sepuluh hari mengabdi dan mendekatkan diri dengan realita sosial di ujung Negeri Intan Landak memang menjadi sebuah pengalaman sekaligus pembelajaran yang sangat berharga.

ASEG merupakan agenda tahunan dari organisasi mahasiswa katolik di FKIP Untan atau yang dikenal dengan Gamaska. Seperti namanya, kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Berbagai kegiatan yang telah diadakan seperti renovasi kapel (tempat ibadah), bimbingan belajar, olah raga bersama warga, Misa, memasang plang nama desa, memberi nomor rumah warga, nonton bareng, hingga malam keakraban di malam terakhir.

Perjalanan panjang ini dimulai dengan upacara pelepasan rombongan ASEG, Sabtu (13/7/2012) oleh pihak fakultas yakni, Bapak Achmadi selaku Pudek III FKIP. Upacara pelepasan berlangsung lancar dan dihadiri pula oleh dosen Pembina Gamaska, Dra. Sesilia Seli, M.Pd. Ketika  upacara berlangsung, beberapa orang dari rombongan tengah sibuk mengatur bus-bus yang telah siap mengangkut rombongan menuju Landak. Setelah upacara berakhir, saya berserta teman-teman lainnya kemudian  mengemas semua barang-barang kami ke dalam bus.

Sekitar pukul 9.30 pagi setelah semua barang selesai dinaikkan ke dalam bus, kami pun berangkat menuju tempat tujuan dengan kecepatan sedang. Empat buah bus yang berjalan saling beriringan pun menelusuri jalan mulus dari arah ibu kota provinsi menuju Kabupaten Landak. Beberapa jam di perjalanan membuat kami merasa lelah dan perut kami keroncongan, kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan mengisi perut kami di sebuah rumah makan Anjungan.

“Tempatnya masih jauh?” tanyaku kepada salah satu dari temanku saat kami sedang asyik menyantap makanan lezat yang disuguhkan rumah makan itu. “Tentu masih jauh, ini baru seperempat dari perjalanan kita.” jawabnya sambil melihat arloji di tangannya. Ucapannya itu membuatku sedikit terkejut sebab saya sama sekali belum pernah pergi ke tempat yang akan kami tuju ini. Sejenak  pikiranku menerawang membayangi perjalanan yang akan kami tempuh nantinya, “perjalanan kali ini pasti jauh dan sangat melelahkan” pikirku. Tak beberapa lama kemudian supir beserta kernet bus telah siap di dalam bus dan berteriak ke arah kami dengan mengatakan bahwa sebentar lagi kami akan melanjutkan perjalanan. Aku berserta teman-teman yang lain lalu bergegas sembari membayar makanan kami lalu memasuki bus dan menempati kursi masing-masing. Beberapa terlihat masih menikmati makanan ringan dan minuman yang mereka beli di rumah makan yang sangat besar itu.

Setelah beberapa lama dalam bus akhirnya kami tiba di Sampang, Darit yakni sebuah pasar kecil yang merupakan perbatasan atau persimpanagan jalan menuju desa yang akan kami sambangi. Empat jam total waktu yang kami tempuh dari kota Pontianak ke tempat sekarang kami berada. Namun, ini bukanlah akhir dari perjalanan kami. Kami masih harus melanjutkan perjalanan melalui jalan kecil dan rusak yang hanya dapat dilalui sepeda motor dan mobil dengan modifikasi khusus di bagian bannya. Di pasar ini jemputan kami telah siap, yaitu warga desa Mayun dengan kendaraan roda dua mereka. Dari kendaraan yang mereka terlihat sangat kotor dipenuhi lumpur kuning, ban-ban itu nampaknya baru saja mencangkul jalanan yang dilaluinya. Terlihat pula para bapak pengendara roda dua itu mengenakan sepatu boot yang juga dipenuhi lumpur yang mengering. Beberapa di antaranya mengenakan topi dan helm. Dari pemandangan yang terlihat  itu, kami dapat membayangkan betapa parahnya medan akses desa yang akan kami kunjungi untuk melakukan kegiatan kami sembilan hari ke depan.

“Wah ramai juga ya rombongannya, kami sudah menunggu kedatangan kalian sejak dua jam yang lalu di pasar ini” ujar seorang bapak yang mengenakan jaket kulit sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kami.

“Mari istirahat dulu di warung itu.” tambahnya lagi menawari kami meregangkan tulang ke sebuah warung kopi yang terlihat agak sepi. Kami pun memenuhi ajakan bapak itu dan mengikutinya dari belakang. Di warung kopi itulah kami melepas dahaga dan sejenak meluruskan urat-urat yang terasa kaku sebelum kembali melanjutkan perjalanan. “Mau pesan apa dek?” tanya seorang ibu paruh baya dengan sedikit bedak membalut wajahnya yang terlihat mulai keriput. Rupanya ibu itu ialah si pemilik warung kopi yang kami singgahi ini.

Beberapa menit setelah melepas dahaga kami kemudian bergegas menuju bus yang sudah berjejer di halaman ruko yang tak jauh dari warung kopi. Para supir dan kernet tengah melepas tali ikatan barang muatan kami yang berada di atas bus. Dibantu oleh beberapa orang warga,  kami lalu menurunkan semua barang bawaan kami dari bus ke sebuah mobil pengangkut barang (strada). Mobil tersebut telah disewa guna membantu kami mengangkut tas dan barang-barang berat lainnya.

Setelah semua barang dimuat dalam mobil tersebut kami kemudian bergegas melanjutkan perjalanan menggunakan sepeda motor bersama warga yang mana setiap warga dengan kendaraan besar membawa dua orang dari rombongan. Sementara saya mendapat tumpanagn dari Pak Edi dengan kendaraan besarnya. Ia membawa sekarung beras yang baru dibelinya dari pasar Sampang sehingga motornya tidak cukup untuk membawa dua orang penumpang. Sekitar 50-an motor berbondong-bondong memulai perjalanan yang diawali dengan pemandangan rumah-rumah warga di antara perkebunan sawit.

Motor yang saya tumpangi berada di posisi belakang mobil strada yang membawa barang. Bersama dengan tiga pengendara lainnya kami menjadi pengawal mobil itu, sementara kendaraan lainnya telah melaju dan tidak nampak lagi di depan kami. Pengawalan terhadap mobil itu bukan tanpa alasan, namun bukan juga karena banyak perampok. Akan tetapi, kami khawatir dengan kondisi jalan yang tidak memadai itu nantinya akan membuat mobil mogok atau keram di tengah kubangan lumpur, jadi kami bisa membantu mendorongnya.

Sepanjang mata memandang terlihat sawit-sawit tumbuh begitu subur dengan buah-buahnya yang berwarna merah kehitaman. Tampak pula seorang petani sawit di lahan tersebut tengah membersihkan pohon-pohon sawit yang belum terlalu tinggi itu. Dilihat dari ukurannya pohon dapat diperkirakan usianya sekitar 4-5 tahun. Selang beberapa menit berlalu jalan berbatu yang kami lalui perlahan-lahan membuat penat punggungku. Ilalang yang menjulur di tepi jalan sesekali menusuk betis saat kami melalui pinggiran jalan yang sedikit mulus. Semakin jauh perjalanan, jalan yang tadinya berbatu-batu kini berganti pasir dan kerikil-kerikil kecil.

Perasaan takjub saat memperhatikan pemandangan sabana dan bukit-bukit membentang seketika hilang dengan hentakan keras dari kuda besi yang kami tumpangi. Semakin jauh perjalanan kami tempah, semakin parah pula kerusakan jalan menuju tempat tujuan kami ini. Kami pun melintasi beberapa bekas galian tambang di tepian jalan dan galian tambang yang masih dipakai penambang dengan pondok-pondok kayu di sekitarnya. Hal ini tampak dengan adanya kesibukkan beberapa penambang dan kebisingan suara mesin tambang.

“Itu adalah lokasi pertambangan intan.” Ujar Pak Edi sembari mengendalikan kendaraan dari batu-batu jalan yang becek dan licin. “Penambangan intan? Wah saya kira itu penambang emas pak.” Ujarku menanggapi perkataan pak Edi. “Tidak dilarang ya pak?” tanyaku sedikit penasaran. “Dilarang atau tidak dilarang sama saja dek, apalagi banyak masyarakat di sini menggantungkan hidupnya dengan penambangan itu. Siapa sih yang tidak tergiur dengan harga intan yang sekarang harganya cukup mahal” ucap bapak yang mengenakan topi cowboy ini.

Mendengar penjelasan Pak Edi saya sedikit bertanya-tanya dengan kondisi yang ada. Beliau mengatakan banyak masyarakat menggantungkan hidup dengan bertambang intan dan harganya mahal. Selain itu, perkebunan sawit juga cukup luas di daerah ini tetapi mengapa infrastrukturnya tidak memadai. “Apakah pemerintah tidak tahu dengan kondisi di wilayah ini?” ucapku bertanya-tanya dalam hati.

“Bruu…uukkk…!” terdengar keras ada sesuatu yang ambruk di depan kami. Benar saja, jembatan kayu yang dilalui mobil strada pengangkut barang kami roboh dan sang sopir berusaha menancap gas sekeras-kerasnya agar mobil tidak terjerumus dalam sungai. Kami pun bergegas turun dari atas motor dan berlari untuk membantu mobil tersebut dengan mendorongnya. Dengan segenap kekuatan kami dan berkat keahlian sang supir akhirnya mobil yang nyaris jatuh itu berhasil terdorong dan kembali berada di posisi yang aman.

Insiden yang cukup dramatis dan menegangkan itu membuat saya sedikit syok. Apabila terlambat sedikit, bisa jadi semua barang bawaan kami akan tercebur dengan mobilnya. Bukan hanya itu, penumpang di dalamnya yang merupakan bagian dari rombongan ASEG berserta sopir juga akan ikut menjadi korban. “Syukurlah Tuhan!” ucapku dengan mengelus dada. Pak Edi bersama warga lainnya kemudian memperbaiki posisi kayu jembatan dan membuang kayu yang ambruk. Wajar saja jembatan itu ambruk, jembatan kayu tersebut hanya terdiri dari beberapa batang pohon lalu disatukan dengan rantai motor dan dipaku.

Setelah kayu-kayu jembatan itu tersusun rapi kami kemudian melanjutkan perjalanan kami. Dengan sangat hati-hati kami melalui jembatan tersebut, di bawahnya saya melihat air jernih mengalir cukup deras dengan dengan batu-batu besar di dalamnya. Saya sedikit takut saat kendaraan kami melewati jembatan nyaris memakan korban itu. saat itu nasib kami mungkin sedang beruntung namun tidak menutup kemungkinan jembatan itu akan menjadi ancaman keselamatan bagi pengendara lain yang melintasinya terutama kendaraan dengan beban berat. Dilihat dari kondisi jembatan sebenarnya sangat tidak layak untuk digunakan dan butuh perhatian khusus dari pemerintah setempat. Akan tetapi, masyarakat di sana sepertinya terpaksa mempertaruhkan keselamatan mereka karena tidak ada jalan lain. Jembatan kayu itupun mereka bangun secara bergotong-royong. Bahkan, menurut pengakuan Pak Edi jembatan itu bukanlah satu-satunya jembatan yang rusak melainkan masih ada beberapa jembatan penghubung jalan dengan kondisi serupa.

Dua jam berlalu menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya kami tiba di sebuah desa yang cukup ramai penduduknya. Desa tersebut adalah Desa Berinang Mayun. Walaupun jalan yang ada masih berupa tanah, namun fasilitas di desa ini cukup lengkap, yakni memiliki bangunan sekolah, gereja, dan pos kesehatan serta sarana telpon umum. Desa ini bukanlah tujuan akhir kami, kami hanya menumpang istirahat sejenak. Kami singgah di salah satu rumah warga yang merupakan kerabat Pak Edi. Kami pun disuguhi air minum dan rasa dehidrasi dan haus yang saya tahan dari tadi sedikit demi sedikit terasa segar kembali.

“Mobil… mobil…mobil…! Hore… ada mobil!” teriak sekumpulan anak-anak kecil. Terlihat dari kejauhan mereka berlari mendekati mobil strada kami yang tengah melintasi jalan tanah dengan penuh kehati-hatian. Saya termangu, terdiam tanpa kata, dan sedikit tersenyum. Saya keheranan melihat tingkah bocah-bocah kecil itu, mereka terlihat sangat senang sekali.  Dibalik senyuman saya juga merasa sedikit iba dengan kejadian yang saya saksikan itu. Begitu jarangkah mobil yang setiap hari menjadi pemandangan dan hiasan kota melintasi tempat ini? atau begitu terisolirkah masyarakat di pedalaman daerah yang dijuluki Negeri Intan ini? Itulah sederet pertanyaan yang terlintas dibenakku saat melihat anak-anak kecil itu dengan lambaian tangan mereka yang seolah memberikan salam kepada gajah besi yang merupakan pemandangan langka bagi mereka.

Rasa dahaga sedikit pulih berkat segelas air pemberian kerabat Pak Edi. Kami pun melanjutkan perjalanan kami yang menurut Pak Edi sekitar satu setengah jam lagi akan tiba di tempat tujuan. Setelah melintasi beberapa rumah warga, kami pun meninggalkan Desa Berinang Mayun dan kembali terbentang pemandangan hutan di sisi kiri dan kanan kami. Kali ini pemandangan pohon karet mendominasi. Setiap pohon karet terdapat bekas goresan-goresan pisau karet, di antara goresan itu nampak sisa-sisa  karet yang sudah membeku. Tidak sedikit pula pohon-pohon karet yang telah mati dimakan usia, daun-daunnya kering dan terdapat sekumpulan semut hitam bersarang di pangkal pohonnya.

Tak terasa satu setengah jam berlalu melintasi hutan dengan beaneka ragam pohon dan semak belukar kini kami tiba di desa tujuan kami, yaitu sebuah perkampungan yang indah, tentram, sejuk, dan damai, Dusun Mayun namanya. Saat tiba di Mayun kami disambut dengan penuh suka cita oleh warga desa yang sejak pagi sudah berkumpul menunggu kedatangan kami. Hal serupa yang tak luput dari perhatianku seperti saat singgah di desa Berinang Mayun tadi adalah keceriaan sekumpulan anak-anak kecil yang mengelilingi mobil strada pengangkut barang-barang kami. Beberapa di antaranya bahkan tak segan naik di atasnya dan melompat-lompat dengan riang “Mobil…mobil…mobil!” serunya.

negeri intan2Hal itu membuat salah seorang warga harus sibuk mengusir anak-anak itu agar menjauh dari mobil itu agar barang-barag di dalamnya tidak rusak. Saya pun kembali tersenyum menyaksikan tingkah lucu anak-anak polos itu. Beberapa anak laki-laki tidak mengenakan baju dan terlihat jelas kulit mereka yang kusam dan hitam terpanggang sinar matahari.

Rasa lelah yang saya dan teman-teman lain rasakan seketika hilang menyaksikan ratusan antusias warga dengan kebahagiaan dan sambutan hangat mereka. Kami disambut bak tamu istimewa yang datang dari negeri seberang. Dalam acara sambutan itu kami disuguhi dengan tarian sederhana yang dibawakan oleh empat gadis remaja Mayun. Meskipun tidak terlau jelas tarian apa yang sedang diperagakan dengan iringan musik Dayak itu, kami merasa sangat terhibur. Keramahan dan kekerabatan warga Mayun terpancar dari wajah-wajah mereka yang seakan tertulis “Selamat datang di rumah kami!”

 

Check Also

Karman: Kita Merasa Sangat Puas dengan Kinerja Dewan Juri

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Sambas—Karman, ketua panitia Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX, merasa puas dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *