Home / Jurnalisme Warga / Perjalanan, Dari Pontianak ke Brunei Darusalam

Perjalanan, Dari Pontianak ke Brunei Darusalam

Oleh Ogi William

MABMonline.org, Pontianak– Maret 2012, saya dan tiga orang teman—Ryan dari FKIP Matematika, Japno dari Fakultas Ekonomi (FE) Akuntansi, dan Ferdinan dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam—mendapat kesempatan mengunjungi Negeri Petro Dollar, Brunei Darussalam. Sungguh satu kesempatan yang tidak akan kami lewatkan meskipun harus mengorbankan kuliah selama satu minggu. Bagi kami, terutama saya, kesempatan ke luar negeri seperti ini tidak datang tiap tahun. Kami pergi ke sana untuk menghadiri sebuah konferensi pemuda.

Hari itu mendung. Kami menunggu kedatangan bus saat cuaca mendung. Bus yang akan kami tumpangi untuk pergi ke negeri penghasil minyak itu adalah bus Damri. Walaupun bus agak telat, kebosanan tidak dapat mengganggu kami karena kami terlalu sibuk membayangkan hal-hal yang nantinya akan kami lihat di negeri tetangga itu.

Baca juga kisah perjalanan menarik lainnya: Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Saat bus besar itu datang, kami segera memasukkan barang-barang kami ke bagasi kemudian langsung masuk ke bus menduduki kursi kami. Kami semua sangat girang waktu itu terlihat dari senyum lebar yang muncul di wajahkami saat masuk ke dalam bus.

Tak lama kemudian, bus pun berjalan, seiring dengan imajinasi kami yang mulai membayangkan negara dengan gedung-gedung besar di sepanjang jalan. Maklum, kami—atau mungkin lebih tepatnya saya—memang jarang pergi jauh dari rumah. Di Kalimantan ini saja, kota terjauh yang pernah saya kunjungi hanyalah Singkawang.

Diperkirakan perjalanan akan ditempuh dalam waktu 24 jam. Jadi, selama seharian penuh kami hanya akan duduk di dalam bus melihat ke luar jendela. Tetapi, hal ini tak mengapa bagi saya. Melihat pemandanggan dari dalam bus pun cukup menggirangkan hati anak rumahan yang jarang travelling seperti saya ini.

Untuk mengisi waktu, kami bernyanyi, mengeluarkan teka-teki, dan mengeluarkan guyonan-guyonan yang sebenarnya sedikit garing. Sesekali pula teman kami Ferdinan menceritakan pengalamannya ketika ia tur ke beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, dan lain-lain. Di antara kami berempat, dialah yang paling sering keluar negeri. Maklum, mahasiswa berprestasi. Paspornya pun sudah dipenuhi bermacam-macam cap yang membuktikan bahwa segala yang diceritakannya itu benar.

Simak berita tentang perbatasan di: http://mabmonline.org/bahasa-buku-dan-listrik-harus-menjadi-perhatian-di-jagoi-babang/

Bus kami berjalan melewati jalan yang kadang lurus kadang menikung.Rute yang kami tempuh ialah dari Tanjung Pura, ke Tanjung Hulu, ke Ambawang, kemudian ke Sosok. Di Sosok, kami berhenti sebentar untuk makan di sebuah rumah makan. Terlihat sebuah patung tokoh dalam perwayangan di depan rumah makan itu—entahlah saya pun tak tahu nama tokoh tersebut, tapi yang jelas ia merupakan salah satu tokoh perwayangan.

Di sini kami mendapat sebuah pengetahuan tentang teknik berjualan para pemilik rumah makan Indonesia yang unik—yang mungkin lebih tepatnya disebut licik. Rumah makan yang menjadi tempat persinggahan para pelancong dari luar negeri memberlakukan suatu sistem pembayaran tertentu, yaitu sebagai berikut. Ketika pembeli yang sudah mengambil makanan duduk di kursi, seorang pelayan akan datang untuk menghitung harga makanan yang sudah diambil itu. Kemudian, ia akan memberikan sepotong kertas kecil yang bertuliskan angka yang menunjukkan harga yang harus dibayar oleh pembeli. Tapi, angka yang biasa tertulis di kertas itu biasa hanya terdiri dari dua digit, seperti 24, 18, atau 30.Nah, mungkin bagi orang awam, hal ini disebabkan sang pelayan malas untuk menulis angka penuh, misalnya 24.000, 18.000, dan 30.000. Jadi, mereka hanya menulis dua digit angka saja—24, 18, 30. Tapi, sebenarnya ini adalah satu teknik untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Maksud penulisan dua digit angka tersebut adalah “Anda (pembeli) boleh membayar Rp 24.000,00, atau membayar dengan mata uang negara Anda, misal 24 ringgit, atau 24 dollar brunei.” Jadi, ketika pelancong dari luar negeri melihat dua digit angka di kertas itu, ada kemungkinan mereka akan membayar dengan mata uang negara mereka. Saya serasa ingin tumbang ketika mendengar informasi yang diungkapkan penjual di rumah makan tersebut.

Setelah kami selesai makan di rumah makan itu, kami melanjutkan perjalanan. Rute yang kami tempuh selanjutnya adalah dari Sosok, ke Simpang Tanjung, kemudian ke daerah perbatasan, Entikong. Nah, di sini kami turun untuk melakukan pemeriksaan. Saya agak ketakutan sebenarnya saat saya berbaris menunggu giliran diperiksa. Otak saya membuat sebuah skenario film horor. Saya membayangkan ketika giliran saya tiba, ibu yang melakukan pemeriksaan menggunakan bahasa Inggris yang rumit yang tidak saya mengerti, atau lebih buruk lagi bahasa Tagalog, Sansekerta, atau bahasa Thai. Saya juga membayangkan ketika pak polisi membongkar tas saya, mereka menemukan benda yang dilarang di Malaysia, entahlah mungkin senjata tajam, pistol, buku harian, atau entahlah. Tapi, semuanya berjalan lancar. Ibu yang melakukan pemeriksaan menggunakan bahasa Melayu yang sederhana. Polisi pun tidak menemukan sesuatu yang berbahaya di dalam tas saya.

Ketika melewati garis perbatasan, saya girang bukan main. Saya melompat-lompat sambil berkata, “Keluar negeri. Keluar negeri.”Saya juga bolak-balik garis perbatasan Indonesia—Malaysia. Paspor mendapat dua cap baru: cap tanda keluar dari Indonesia dan cap tanda masuk ke Malaysia. Ketika sampai, saya melihat tanda-tanda yang ditulis dalam bahasa Malaysia, seperti tandas, polis, dan lain-lain. Senyum saya semakin lebar melihat tanda-tanda itu—padahal hanya tanda di tempat umum.

Ketika memasuki daerah Malaysia, saya masih juga sesekali melihat beberapa sampah yang dibuang tidak pada tempatnya. Jadi, sepertinya anggapan yang mengatakan bahwa Malaysia negara yang sangat bersih, yang sangat berbeda dengan Indonesia, sepertinya sedikit berlebihan. Memang tidak sejorok di negeri kita tercinta, tapi tetap masih ada sampah di jalan-jalan.

Setelah kami selesai dengan urusan kami di perbatasan, kami melanjutkan perjalanan. Jalan raya di Malaysia lebih mulus dari pada di Indonesia. Jalan rayanya sudah rata dan beraspal. Sesekali saya menjorokkan kepala keluar jendela untuk menghirup udara yang sejuk dan membiarkan angin menyisir rambut saya yang berantakan.

Satu hal yang membuat saya terkejut—dan saya harap ini tidak lebih dari sekedar opini saya—yaitu pemandangan di Malaysia yang lebih hijau dari Indonesia. Pohon-pohonnya tampak lebih rimbun. Pohon-pohon di Indonesia juga banyak, tapi pemandangannya terkesan monoton—pohon yang tampak hanya satu macam, yaitu pohon sawit. Sekali lagi, semoga ini hanya opini saya. Semoga pengusaha sawit memang belum menebang habis hutan-hutan di Kalimantan dan mengubahnya menjadi lahan sawit—ya, semoga.

Bus kami terus berjalan, melewati jalan yang berkelok-kelok dan naik turun.Sesekali kami melewati jembatan yang cukup besar. Sesekali juga supir bus yang kami tumpangi bergantian menyetir dengan rekannya.Kami sempat singgah sebentar di pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Selain itu, kami juga sempat singgah di rumah makan untuk mencicipi makanan di Malaysia. Menurut saya, satu-satunya yang unik dari makanan di sana adalah namanya. Kami tersenyum membaca nama-nama makanan di sana. Mengenai rasa, tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Tapi, kalau pun ada satu yang unik, menurut saya itu adalah teh tarik. Tehnya sedikit berbeda. Ada sedikit rasa manis krim, dan teh ini berbusa. Entah apa yang mereka masukkan ke sana, mungkin sabun. Saya tidak sempat bertanya langsung tentang cara pembuatannya, tapi katanya teh ini dibuat dengan cara ditarik: cara penuangan teh seperti cara penuangan anggur dalam gelas, yaitu kontainer awal berada jauh di atas gelas.

Setelah berjam-jam perjalanan, hari pun mulai larut. Kami terlelap di dalam bus. Walaupun tidak bisa nyenyak karena sesekali terbangun akibat goncangan, kami cukup beristirahat—masih bisa mempertahankan badan agar tetap fit. Sesekali saat terbangun, saya melihat keluar jendela. Ternyata di Malaysia ada beberapa perusahaan penyedia bahan-bakar, seperti Petronas dan Shell, tidak seperti di Pontianak yang hanya satu, Pertamina.

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kami pun sampai di perbatasan Malaysia—Brunei Darusalam.Tapi, waktu itu kami tidak bisa menyeberang karena portalnya ditutup. Kami tiba sekitar tengah malam dan portal baru dibuka sekitar pukul empat. Jadi, kami harus menunggu sekitar empat jam. Kami pun menghabiskan waktu dengan tidur.

Ketika jam menunjukkan pukul empat, portal perbatasan di buka dan kami pun masuk ke wilayah pemeriksaan. Di sana, saya tidak se-paranoid ketika masuk wilayah pemeriksaan di perbatasan Indonesia—Malaysia. Prosedur pengecekan tidak jauh berbeda dengan prosedur yang ada di wilayah pengecekan di perbatasan Indonesia—Malaysia.Tapi, menurut saya, di sini lebih ketat. Pertanyaan yang diajukan lebih banyak, seperti mengenai tujuan kedatangan, tempat menginap, dan lain-lain. Di sini juga tas kami benar-benar dibongkar, tidak hanya dimasukkan ke alat pendeteksi saja. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, kami pun diperbolehkan masuk ke Brunei, yaitu ke kota Bandar Sri Begawan.

Tidak seperti yang kami bayangkan—gedung besar, jalanan besar, mobil dan motor mewah—ternyata Brunei Darusalam sangat sepi. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di sini. Tata letak gedungnya juga baik. Ada spasi di antara tiap gedung yang ditanami dengan pohon-pohon yang rindang. Lingkungannya bersih. Lalu lintasnya juga teratur. Sungguh negara kecil yang damai.

Ya, mereka cukup beruntung karena penduduknya sedikit. Jadi, pemerintahnya tidak terlalu sulit mengaturnya. Bayangkan saja, penduduk di seluruh negara Brunei Darusalam lebih sedikit dari pada di Pontianak. Perbandingannya satu negara (Brunei) dengan satu kota di Indonesia (Pontianak), dan jumlah penduduk mereka masih lebih sedikit. Jadi, menurut saya salah besar jika kita membandingkan keadaan Brunei dengan Indonesia. Pemerintah mereka hanya perlu mengatur sekitar 400-an ribu orang, sementara pemerintah Indonesia harus mengatur hingga 250-an juta jiwa—sungguh tidak sebanding.

Setelah masuk ke Brunei, tepatnya kota Sri Begawan, kami diturunkan di depan sebuah hotel. Sambil menunggu jemputan, kami melakukan hal yang biasa dilakukan turis-turis dari luar negeri—berfoto.

Kami disambut dengan hangat saat jemputan kami datang. Setelah basa-basi sebentar, kami langsung dibawa ke gedung konferensi pemuda diadakan. Ternyata, kami datang terlambat. Konferensi sudah dimulai saat kami sampai di gedung itu. Setelah melakukan registrasi, kami langsung masuk ke ruangan tempat acara diadakan.

Saat masuk ruangan, kami disambut oleh seorang wanita berdarah Cina—mungkin sekitar 19 tahun—dengan bahasa Inggris. Kami sangat gugup saat itu. Maklum, walaupun sudah tujuh tahun belajar bahasa Inggris, baru pertama kali ini lah kami benar-benar harus menggunakannya untuk berkomunikasi.Selama tiga hari, kami harus membiasakan diri dengan keadaan seperti ini.

Selanjutnya kami mengikuti seminar seperti maksud kedatangan kami ke sini.Di sini pemuda-pemudanya sangat antusias. Pembicaranya juga humoris—cara penyampaiannya lucu walaupun pesan yang ingin disampaikan serius. Di sini kami berempat melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, seperti melukis, membuat karya seni, bermain freesbee­—kalau Anda belum pernah main permainan ini, Anda harus segera mencobanya—dan lain-lain.

Sebenarnya tidak banyak yang bisa diceritakan saat kami berada di sini karena walaupun tiga hari berada di sini, kami tidak ke mana-mana. Wilayah gerak kami hanya di sekitar gedung seminar. Tetapi, kegiatannya tetap menyenangkan.

Pada hari ketiga, sehabis seluruh acara selesai, barulah kami berkesempatan berkeliling kota. Gerombolan pelancong dari Pontianak ini sempat berfoto di depan istana terbesar di dunia—sungguh menyenangkan. Kami juga diajak melihat tempat-tempat perbelanjaan. Di tempat perbelanjaan kawan kami, Andrew, yang mengajak kami jalan-jalan sempat menonton sinetron laga Indonesia—entah bagaimana  saluran televisi Indonesia bisa sampai di sini. Iapun langsung terpingkal-pingkal melihat sinetron itu—melihat sang pendekar bertarung melawan naga. Saya langsung galau, pusing apakah harus risih dengan sikapnya terhadap sinetron Indonesia, atau ikut menertawakan sinetron itu.Banyak lagi kejadian-kejadian lucu yang kami alami di sini, seperti mengetahui bahwa orang Brunei—atau teman kami dari Brunei, supaya tidak melebih-lebihkan—senang tidur di kamar yang mungkin yang sangat dingin—yang mungkin lebih tepat disebut kulkas.

Segala pengalaman itu sungguh merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.Sebelum kami berpisah, kami melakukan sebuah ritual “tukar uang”. Kami memberikan uang Rupiah berbagai macam—Rp. 1.000,00., Rp. 5.000,00., Rp. 10.000,00., dan Rp. 20.000,00.—kepada Andrew, dan kami menyimpan uang Brunei berbagai macam dengan harapan kami akan pergi ke tempat uang itu berasal—kami berkunjung ke Brunei, dan Andrew ke Indonesia.

Check Also

Antar Ajung, Antara Tradisi dan Wisata

Oleh Nabu Sambas—Terdengar gendang rabana dan ratib. Lantunan nama-nama Allah disertai doa selamat dan doa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *