Home / Budaya / Permainan Tradisional Melayu (1)

Permainan Tradisional Melayu (1)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org— Permainan tradisional yang berkembang di masyarakat menjadi sebuah warisan budaya yang tidak bisa dibeli ataupun ditukarkan dengan apapun.  Artinya, keberadaan permainan tradisional tersebut bisa dianalogikan sebagai harta warisan yang tidak bisa dinilai dengan uang sebanyak apa pun. Pihak luar tidak dapat membeli apalagi mengklaim bahwa permainan khas yang ada di daerah kita merupakan milik mereka. Oleh karena itu, sebagai pemilik kekayaan tersebut sudah sepantasnyalah kita menjaga apa yang kita miliki.

Hampir semua daerah di Kalimantan Barat masih memiliki permainan tradisional yang sampai hari ini masih dimainkan. Sambas satu di antara daerah yang masih menyimpan unsur kebudayaan tersebut. Puluhan jenis permainan masih bisa ditemukan di sana. Namun, kita memang harus bersabar karena tidak semua permainan bisa dilihat secara langsung, tetapi hanya dalam bentuk cerita yang dituturkan oleh orang yang sangat tua. Saya tidak mengetahui apakah anak-anak Sambas masih bisa menuturkannya atau tidak.

Perjalanan saya dimulai dengan sebuah desa dari Kecamatan Selakau Timur sampai ujung Sambas di Kecamatan Sajingan Besar—berbatasan dengan Biawak Malaysia. Dari proses pengumpulan data yang saya lakukan terhadap permainan tradisional, saya berhasil menghimpun 30 jenis permainan tradisional yang pernah dan masih ada di Sambas. Keseluruhan data tersebut saya dapatkan dari 11 informan yang mengalami dan melaksanakan permainan tradisional di Kabupaten Sambas.

Data-data permainan yang saya dapatkan di Kabupaten Sambas  secara keseluruhan belum dapat saya simpulkan kesemuanya merupakan permainan yang asli “kepunyaan” Sambas. Hal ini disebabkan oleh beberapa bahkan sebagian besar data permainan yang saya kumpulkan juga dapat dijumpai di tempat-tempat lain. Akan tetapi, saya menemukan kekhasan permainan tradisional Melayu Sambas, yaitu  dari segi pelaksanaan, peristilahan, dan kandungan nilai moral, seta konvensi yang dapat dipetik dengan utuh oleh masyarakat dan kita semua.

Berikut beberapa deskripsi singkat permainan tradisional yang ada di Kabupaten Sambas.

1.    Sinyatu

Ilustrasi: Mandi di sungai (sumber: irfc.wordpress.com)
Ilustrasi: Mandi di sungai (sumber: irfc.wordpress.com

Permainan ini saya dapatkan ceritanya dari seorang informan di Tebas Kuala, yaitu Bapak Darmansyah. Beliau menyampaikan bahwa sejak dahulu masyarakat khususnya anak-anak sering memainkan permainan ini. Permainan ini dilaksanakan di sungai saat anak-anak mandi bersama di sore hari menjelang magrib. Anak-anak di Sambas sangat akrab dengan sungai karena sebagian besar wilayah sambas dekat dengan jalur sungai.

Permainan ini  tidak memerlukan banyak alat karena anak-anak melaksanakannya bersamaan dengan kegiatan berenang dan menyelam bersama di sungai. Sebelumnya, anak-anak akan  melakukan osom. Osom merupakan kegiatan menentukan pemain yang akan menjadi ”tumbal” dalam permainan. Para pemain akan menyepakati bentuk-bentuk dan makna dari bentuk tangan sebagai cara untuk menentukan pemain yang kalah di awal. Di tempat lain, osom dikenal dengan istilah hom pim pah.

Setelah melakukan osom dan didapatkan pemain yang kalah, pemain tersebut akan menjadi orang yang akan menebak satu barang yang di ambil dari permukaan sungai. Barang tersebut biasanya berupa potongan kayu kecil, plastik, sampah lainnya yang berukuran kecil. Barang yang telah diambil dari permukaan sungai tersebut akan dibawa oleh pemain lain (selain pemain yang kalah). Pemain lain akan menyelam dan menyembunyikan  barang yang telah ditemukan tadi di sela ibu jari dan jari telunjuk kaki. Setelah menyelam, para pemain tersebut akan timbul ke permukaan kembali dengan setiap pemain memiliki barang yang telah disembunyikan.

Setelah itu, pemain yang kalah di awal tadi harus menebak barang yang dijepit di jari kaki pemain lain. Jenis barang di sungai yang tidak terlalu beragam, biasanya kayu, gabus bekas, plastik, dan sebagainya. Jadi, peluang menebak dengan benar akan semakin besar. Namun, jika pemain tersebut salah menebak, pemain yang kalah tersebut akan terus menebak dan tidak merasakan sensasi menyelam dan menyembunyikan barang. Begitu seterusnya dilaksanakan sampai semuanya sepakat untuk mengakhiri permainan tersebut.

2.        Tuma’

Permainan ini merupakan permainan yang dilakukan oleh anak-anak ketika menjelang tidur. Permainan ini tergolong kegiatan yang dilakukan di ruangan. Permainan ini menuntut ketelitian dan ingatan yang kuat dari setiap pemainnya. Pasalnya, para pemain akan dituntut untuk menebak rekan bermainnya tanpa melihat sosok wajahnya.

Pelaksanaan permainan ini dilengkapi dengan perlengkapan, yaitu kain sarung untuk setiao pemain. Alasan memilih kain sarung karena sebagian besar anak-anak Melayu Sambas menggunakan sarung ketika tidur malam. Permainan tuma’ ini dilaksanakan biasanya dilakukan ketikan terdapat anak seumuran yang akan tidur beramai-ramai, biasanya ketika ada acara keluarga atau ada anak yang “tidur main” ke rumah temannya.

Permainan ini sangat sederhana. Para pemain akan melakukan osom untuk menentukan pemain yang akan menjadi penebak. Permainan ini merupakan permainan menebak teman yang seluruh bagian tubuhnya dari kepala sampai kaki ditutup menggunakan kain sarung. Pemain yang bertugas sebagai penebak hanya boleh meraba bagian tubuh pemain yang ada di dalam kain sarung (kepala sampai badan). Pemain harus tepat menebak nama pemain lain agar tersebebas dari menjadi pemain penebak.

Oleh karena itu, permainan ini menuntut para pemainnya untuk memiliki daya ingat dan akurasi yang tinggi. Permainan ini juga mengandung makna moral bahwa kita harus mengenal teman-teman kita secara utuh sehingga dapat tercipta keakraban. Permainan ini dilakukan untuk anak-anak yang berjenis kelamin sama. Setelah permainan tersebut dilaksanakan para anak-anak akan kelelahan karena tertawa dan akhirnya mereka tertidur dengan pulas.

Check Also

Upacara Setelah Melahirkan, Tradisi Keraton Mempawah

Oleh Rommi MABMonline.org, Mempawah — Mempawah, merupakan sebuah kota kecil yang memiliki sejarah yang panjang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *