Home / Kolom / Pisau Tajam itu bernama Internet

Pisau Tajam itu bernama Internet

jazBelum usai keterkejutan kita tersebarnya video mesum sepasang kekasih di Pontianak, kini muncul kejutan berikutnya: sepasang remaja Pontianak bugil di Facebook. Dan, saya tidak yakin bahwa fenomena ini akan pudar dalam waktu dekat—berkurang tentu mungkin. Ketidakyakinan yang masih dibalut harapan.

Melihat fenomena tersebut, saya teringat lontaran ucapan kala berdiskusi dengan seorang teman, saya berujar singkat: Seorang pecundang akan fokus kepada duri di tangkai mawar; Seorang pemenang lebih fokus menikmati keindahan sekuntum mawar. Demikianlah kita di sini.

Di sini, dunia online seakan telah menjadi momok bagi orangtua terhadap polah tingkah anaknya. Internet juga menambah beban guru mewanti-wanti anak didiknya. Karena tidak akrab dan kurangnya informasi melalui media, internet bak musuh yang perlu dibasmi.

Saat kita sibuk mengutuk teknologi yang merusak moral. Saat kita sibuk menuding candu game online bagi anak. Saat kita sibuk mencari belangnya internet untuk dijadikan mangsa alasan merosotnya nilai ujian anak didik. Saat kita sibuk…

Di sana, di belahan dunia lain, jutaan orang merayakan legitnya berinteraksi dengan dunia maya. Ribuan startup membuka jutaan lapangan kerja. Ribuan ilmuwan giat terbitkan jurnal online. Ribuan orang kaya raya tanpa riuh retorika. Ribuan remaja tanggung menangguk untung pasar dunia maya.

Apa yang salah dengan kita?

Saat internet blusukan di seluruh sendi kehidupan, kita lupa bahwa internet hanyalah alat. Laksana pisau tajam, kitalah yang menentukan: apakah dipakai untuk memotong rempah atau dipakai untuk bunuh diri!

Melalui media terpapar jelas, pemanfaatan internet di Indonesia tak lebih hanyalah sebagai media hiburan. Meski lebih dari 60 juta pengguna internet di Indonesia, namun kita belum banyak mendengar berita mengenai kesuksesan seseorang dalam memanfaatkannya. Entah sebagai produsen teknologi atau pemasar internet.

Kalaupun ada, bagi media, nama-nama seperti Anne Ahira, Aulia Halimatussadiah, Budiono Darsono, Rudi Salim, Habibie Afsyah, Hendrik Tio tidaklah terlalu seksi. Lebih menarik berita perkenalan lewat Facebook yang berujung perkosaan ketimbang prestasi pemuda Indonesia yang sukses mendirikan startup company di Internet. Bad news is good news, masihkah?

Janganlah mengutuk kegelapan. Bersegeralah cari lilin, dan nyalakan!

Dengan kesadaran itulah, saya termasuk yang merasa perlu untuk nimbrung dalam “menyalakan” manfaat internet, tak terkecuali di MABM Online. Mencoba mengisi gelas dunia maya dengan tetesan hal-hal positif, dan berharap lambat laun elemen negatif akan tumpah. Menyusut.

Mari kita manfaatkan internet mulai sekarang, jangan terlalu lama menunggu. Karena ketika semuanya sempurna, mungkin itu sudah terlambat. Wallahu a’lam.

(Yaser Ace, penulis ide-pengusaha aksi, tinggal di Pontianak)

 

Check Also

Bahasa Politik

Hari itu seorang kolega datang ke ruang saya dan menyampaikan gagasan besar. Ingin membuat buku. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *