Home / Jurnalisme Warga / POTRET MAKELAR KASUS DI KOTA 1 KM2

POTRET MAKELAR KASUS DI KOTA 1 KM2

MABMonline.org, Pontianak-(11/4/2013)8 tahun lalu, Sukadana kala itu dalam keadaan gelap gulita, tak ada satu pun penerangan yang ada di kota 1 km2 itu selain bintang-bintang yang ada di langit bahkan sang bulan pun tak terlihat menunjukkan dirinya walaupun hanya sekadar bias dimalam yang cerah itu. Penerangan yang ada di Sukadana kala itu mati total, di setiap rumah hanya bercahyakan lilin dan pelita, kalaupun ada lampu emergency mungkin hanya dibeberapa rumah saja. Pecah tangis anak berusia 1 tahunan itu cukup mengoyakkan sunyinya malam kala itu. Seperti lumrahnya balita pada umumnya yang selalu kelaparan di tengah malam, hal inilah yang juga terjadi pada Fifi (bukan nama sebenarnya) (8) yang saat itu berusia 1 tahunan. Ayahnya yang baru saja pulang kerja sekitar 2 jam lalu pun, membuatkan 1 botol susu untuk anak bungsunya itu. Saat selesai membuatkan susu, rasa letih tentu mendera laki-laki yang kala itu berumur 42 tahun. Jelas saja jam dinding pada saat itu menunjukkan pukul 02.00 pagi, dan ayah dari 3 orang anak itu baru akan melelapkan matanya setelah seharian kerja. Saat akan melelapkan matanya, tiba-tiba terdengar suara pintu yang bergemuruh yang digedor dengan kerasnya. Bapak itu pun membuka pintu rumahnya dengan rasa terkejut melihat sosok laki-laki yang menggedor pintu rumahnya tersebut. “Truk beserta drum di dalamnya tolong diparkirkan di depan kantor kapolsek, dan bapak diharapkan menghadap pihak kepolisian besok pagi di kantor,” ujar satu di antara staf kepolisian Sukadana kala itu, sebut saja dia Andi.

Kalimantan Barat saat itu sedang menghadapi kelangkaan BBM terutama solar yang sangat parah. Harganya pun melonjak naik dari harga normal Rp. 4.500 sampai pada tingkat Rp.15.000 per liter. Hal ini tentu berdampak pada masyarakat, terlebih pada nelayan, pekerja kayu yang kesehariannya membutuhkan 2 drum solar untuk bahan bakar mesin pemotongan kayu (bensol) sebelum adanya undang-undang pemerintah mengenai illegal logging tercetus pada saat itu. Belum lagi di Pontianak kala itu banyak sekali menjual minyak oplosan sehingga membeli minyak pun saat itu sangat rawan dan dikhawatirkan adanya penimbunan terhadap BBM.

Sukadana waktu itu masih termasuk wilayah Kabupaten Ketapang. Kapolres Ketapang saat itu memerintahkan stafnya di kapolsek Sukadana untuk merazia truk yang berisi drum minyak yang akan lewat di sekitaran jalur Sukadana, jelas saja karena Sukadana menjadi satu jalur menuju Teluk Batang, tempat dimana pelabuhan menuju Pontianak itu berada.

Pada saat satu hari sebelumnya satu truk yang berisi 25 drum berhasil lolos dan diloloskan oleh pihak polisi yang sedang piket saat itu. Merasa berang kepada stafnya, yang melepaskan truk tanpa adanya koordinasi dengan dirinya, Suroso (bukan nama sebenarnya) selaku kepala kapolsek Sukadana kala itu tidak ingin tahu atas kelalaian anak buahnya itu, dia tetap menyuruh mencari pengendara truk itu sampai ketemu.

Staf kepolisian yang kelimpungan akibat kemarahan kepalanya tersebut mencoba mencari alternatif lain dengan mencari pengganti atau ‘tumbal’ dari kelalaian mereka tersebut. Disandralah truk  ayah tiga orang anak itu, sebut saja Didi (50) yang saat itu masih berumur 42 tahun yang kebetulan ada membeli minyak 16 drum,  padahal saat itu truk tersebut sudah ada di dalam rumahnya beberapa jam yang lalu dan tidak sedang berada di jalan yang bukan termasuk dalam jaringan razia pada kala itu.

Pukul 08.00 pagi pun Didi (50) menghadap kepada Andi satu di antara staf kepolisian yang menggedor rumahnya tadi malam. Andi (40) yang saat itu masih berumur 32 tahun pun menginterogasi dan menanyakan kelengkapan surat. “Terjadi perdebatan panjang pada saat itu,” ucap Mansyah (40) adik ipar Didi. Jelas saja surat-surat izin yang dipinta pihak kepolisian lengkap namun belum diperpanjang, dan pihak polisi pun tidak dapat mengenangkan pasal mengenai penimbunan BBM karena saat itu solar itu akan segera didistribusikan di daerah Sandai. “Ujung-ujungnya polisi menawarkan damai dan meminta uang sebesar 5 juta dengan dalih kasus ini tidak akan diperpanjang ke Kapolres Ketapang dan truk beserta minyak tidak akan ditahan” jelas Didi si pemilik truk. Tentu saat itu uang tersebut bukanlah jumlah sedikit pada masa itu. “Setelah bernegosiasi akhirnya polisi itu mau jika hanya dibayar setengahnya” lanjut Didi. Kepala Kapolsek Sukadana saat itu juga menyuruh mendistribusikan kepada nelayan setempat, dan minyak solar tersebut pun sebagian didistribusikan ke nelayan dan sebagian lagi didistribusikan ke daerah Hulu Sandai.

Potret-potret kecil seperti ini tentu sudah sering terjadi. Jangankan di daerah sekecil Sukadana yang sering dijuluki dengan kota 1 km2 ini. Bahkan di luar pulau kalimantan juga mungkin kasus-kasus ini sudah menjamur seperti yang dialami daerah ini. Uang seakan menjadi saksi bisu carut marut hukum yang selalu dimanipulasi dan uang selalu menjadi benda ampuh untuk meringankan bahkan mematikan suatu kasus. Fungsi aparatur negara yang bertugas mengamankan negara kadang dikesampingkan dengan menjadikan kasus tertentu  sebagai mata pencaharian mereka. Walaupun tidak selamanya demikian tapi potret ini cukup jadi gambaran kecil untuk kita semua bahwa tak selamanya aparatur negara itu bebas dari carut marut manupulasi hukum.

Check Also

Tugu Khatulistiwa, ikon wisata kota Pontianak

Oleh Fransiskus Ningkan MABMonline.org, Pontianak —Tugu ini terletak di Kota Pontianak, tepatnya di pinggir Jalan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *