Kabar Terkini
Home » Sastra » PUISI SATU

PUISI SATU

Oleh Ahmad Asma

2o 08’ LU – 3o 05’ LS
108o 0’BT – 114o 10’ BT

Tugu Khatulistiwa, Pontianak 22 mei, 17.28

Dalam Bingkai foto dari ibu jari dan jari telunjuk
Memandang ke arah barat
Sinar matahari membentuk bayangan tugu
Rona ungu dan merah memberi nuansa khatulistiwa
Lewat sudah orang-orang bersinggah titik kulminasi
Melihat tubuh tanpa bayang di siang hari

Muare Ulakan, Sambas, September, 11.30

Menunggu dzuhur
Menyandar tulang

Menapak langkah turun ke sungai
Membasuh raga tertib berwudhu

Assalammu’alaikum, wr wb hamba haturkan
Sertakan 2 rakaat kearah qiblat

Kaki bersila di kayu belian
Mendengar hiqmat muadzin mengumandang adzan
Menunggu imam memimpin shalat

Melempar pandang ke arah beranda
Berharap Sulthan meneduh rasa
Sepanjang masa

Pasar Sungai Duri, Sintang, 17.30

Hujan gerimis, memang memberi nuansa lain dari menu makanan panas yang tersaji
Namun,
Sedikit menganggu pandanganku ke arah sungai

Sehingga tak terlihat jelas pertemuan Sungai Melawi
dan Sungai Kapuas
Mesjid jami’
Dan Keraton Dare Juante

Sengaja aku memilih tempat duduk paling tepi. Dari kawasan ‘pantai’ tepat di pinggir Sungai Kapuas
Aku merasa seperti seorang saudagar pedagang sungai di abad 19-an
Singgah sebentar di sini, untuk esok harinya kembali menyusuri sungai
Ke arah hulu atau sebaliknya
ke arah hilir

Abad 19-an
Sungai Kapuas, Sungai Melawi
Jadi terbayang selintas, bagaimana dulu Neuwenhuis melintas di sini

Kampung kaum, Ketapang, 14.15

Sampai saye’ di keraton Panembahan
Singgah sebentar di tepi sungai mengambil wudhu
Sampai saye’ di tanah tuan
Singgah tak bersimpang, mengambil hikmah seyogyanya tawadlu

Singkawang, 18.50

Melintas jalan ali anyang berbelok kearah kiri
Memesan mie tiauw selera pedas

Memandang gadis putih bermata sipit mengucap logat
Membayang Cheng Ho, andai bersinggah di kota ini

Ensaid Panjang, Sintang, 09.20

Lama perjalanan terbayar tuntas
Dengan satu ulasan senyum saudara tua menyambut ramah

Naik bersinggah, menapak tangga di rumah betang
Anak-anak mengintip
Perempuan menyapa
Para pria menjabat erat

Di satu sisi rumah betang,
Terlihat alat pembuat tenun ikat
Dan beberapa perempuan yang sudah tua tersenyum
Di tangannya masih memegang tenun ikat setengah jadi
Dengan beberapa motif binatang
Seorang menjelaskan
Satu yang ku tangkap,
Ungkapan keserasian
dan keaslian hubungan manusia dengan alam

Parit Kebumen, Kab Pontianak, 19.15

Kaki di sila dalam beranda
Depan rumah seorang tetua
Teh tubruk beraroma melati menambah hangat suasana
Seorang muda penuh kharisma membuka kata
Aksen leluhur kental terasa

Penganan berbungkus daun pisang
Bersinggah dalam raga
Awal makna tanda syukur berpulang
Akan berkah, panen masa tiba

Sedekah bumi,
Sebagai tradisi
Lusa di mulai
Mengingat syukur pada generasi

Kuala Secapah, Mempawah, 09.35

Datang berkerabat
Kawan menunggu di muare
Pagi hampir beranjak siang
Hari selasa minggu terakhir di bulan Safar

Mengenggam tradisi
Melangkah menyambut hari

Mandor, 28 Juni, 10.00

Kerabat dekat ramai bersinggah
Mengenang masa juga jiwa berjasa

‘Ereveld Mandor’ hilang berganti
Monumen Makam Juang tegak berdiri

Tak hadir kami di masa
Ajarkan kami sebagai generasi
Pada tanah

Yang kami kandung bersama

Batu Tungau, Petikah, Kapuas Hulu. 11.10

Adakah sama gambar,
Dari sang mata-mata
Akan serakah sumber daya
Membawa para romusha
Menggali isi kandungan bumi
Lalu mengganti dengan raga

Pontianak, 19 Desember 1941

Bersinggah di Sarawak, memulai terbang dari Dawau
Sembilan pesawat AA-MG2G meraung di atas langit Pontianak
Memuntah timah sebesar paha
Tak mengena lapangan Sudirman
Membabi buta Kampung Bali

Pasar Mawar, Pontianak, 6 desember, 20.15

“jawi keh ne bang?!!”
“bukan! Tapi jamin manislah”
“berape sebuti?!”
“empat, dua puloh ribu jak!”
“da e, Mahalnye!. Ndak bise kurang lagi keh?!!”
“Berape!”
“Macam semalam jak! Boleh!”

Durian pun di buka.
“Cari kan yang jawi bang! Belah jak di sini!”

Esok paginya, membaca berita
Tentang kerepotannya pemerintah kota,
bila musim durian tiba
Bagaimana mestinya sisa kulit durian diolah

Selimpai, Sambas, 21.20

Menunggu bulan sedepa surau
Keluar dari peraduan
Menunggu penyu
Melangkah dari lautan

Karena, aku punya satu pertanyaan

Bagaimana engkau berbicara pada Tuhan
Akan kala
Pada masa
Tentang rasa syukur, niqmat dan keberagaman

Comments are closed.