Home / Jurnalisme Warga / Saigon; Nama Asing di Timur Pontianak

Saigon; Nama Asing di Timur Pontianak

New Picture (1)Oleh Lia Nalita

Pontianak–Saigon, sekilas terdengar seperti salah satu nama daerah di negara Jepang. Siapa sangka nama daerah di negara Jepang ini ternyata juga terdapat di wilayah Pontianak, khususnya Pontianak Timur. Tapi, anda pastinya tak akan menemukan orang-orang yang mahir berbahasa Jepang. Tidak juga dengan bentuk mata yang sipit serta kulit yang putih.

Kelurahan Saigon merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Pontianak Timur. Saigon memiliki luas wilayah 2,80 km2. Jumlah penduduk sekitar 10.775.

Dari manakah sebenarnya asal nama daerah ini? Sebuah penelusuran pun kulalui untuk menghilangkan sejuta tanya yang telah lama ku pendam. Beberapa warga yang berada di sekitaran tempat tinggalku pun menjadi sasaran untuk kuminta informasinya. Tapi, tak satu pun orang yang kutemui dapat memberikan informasi mengenai nama kelurahan Saigon ini.

Penat memang, tapi demi satu jawaban yang telah lama ku cari, cepat-cepat aku lemparkan jauh-jauh agar tak mengalahkan kemauan kuatku ini. Aku pun kembali melangkahkan kaki sambil mencari-cari kiranya siapa yang dapat membantuku dalam membongkar asal muasal nama Saigon ini. “Aha….jodoh memang tak lari kemana!” teriakku dalam hati. Kulihat di depanku ada seseorang yang sudah lama tak pernah kujumpai. Tapi, aku tak begitu yakin apakah orang itu dapat memberiku informasi yang banyak mengenai hal yang akan kutanyai padanya. Atau ia sama saja seperti orang-orang yang telah banyak kutemui tadi.

Ternyata ketidakyakinanku membawa aku pada orang yang kulihat tadi. Ia merupakan nenekku yang tinggal di daerah Kampung Kapur yang juga bertetangga dengan kelurahan Saigon. Kuucapkan salam padanya terlebih dahulu sembari mengambil salah satu tangannya untuk kuciumi. Sebagai tanda hormatku padanya. Mukanya tampak bingung, setelah ia menjawab salam ku. “Nek Teh…ni saye Lia, anak Mak Nah, maseh ingat ndak?” ucapku padanya. Maklum karena umurnya yang sudah senja, otomatis ingatannya pun sudah pasti menurun. “Ooo…kau rupenye, masoklah…” jawabnya tak lama kemudian.

Setelah lama berbasa-basi, aku pun mulai mengeluarkan jurusku. Dari hal-hal yang umum kemudian beralih ke lebih dalam lagi. Aku pun mulai bertanya mengenai asal muasal nama daerah itu padanya. Dengan sedikit mengingat-ingat dan terkadang terdiam kemudian diselingi candaan serta tawa, ia pun bercerita panjang lebar mengenai sejarah nama Kelurahan Saigon. Untuk menyempurnakan cerita sejarah ini, aku pun juga menambahkan dari berbagai informasi lain yang dapat memaksimalkan kisah ini hingga akhirnya menjadi suatu cerita yang utuh.

Cerita ini pun bermula dari seorang anak dari Mufti Jamaluddin bin Muhammad Arsyad al-Banjari, yakni Muhammad Thasin al-Banjari. Beliau mengembara ke beberapa negara karena menyebarkan agama Islam terutama dalam bidang ilmu tajwid. Waktu beliau merantau ke Brunai, ia pun kawin di sana, mempunyai anak bernama Ramli. Banyak cerita mengatakan bahwa keturunannya banyak tinggal di Brunei dan Sabah. Muhammad Thasin al-Banjari kemudian  meneruskan perantauannya ke Pontianak, Kalimantan Barat dan memperoleh tiga orang anak lelaki, yaitu Muhammad Yusuf, Muhammad Arsyad dan Abdur Rahman.

Diceritakan, bahwa Muhammad Yusuf bin Haji M.Thasin setelah belajar ilmu-ilmu keislaman secara mendalam, beliau meneruskan usaha yang akhirnya menjadi saudagar intan. Muhammad Yusuf juga merantau ke seluruh tanah  di Kalimantan. Selanjutnya Muhammad Yusuf merantau ke Sumatera, hingga beliau meneruskan perantauannya ke luar negeri, yaitu ke Saigon dan Kamboja. Saigon adalah nama populer dari “Ho Chi Minh City” ibukota Vietnam. Di negeri yang pernah berkecamuk perang beberapa tahun tersebut, Yusuf kemudian hidup berniaga. Dengan menggunakan kapal yang ditumpanginya, kehidupan dengan berdagang di atas sungai pun dijalaninya. Bertahun-tahun hidup di negara orang, Yusuf  pun menemukan tambatan hati seorang gadis Saigon yang bernama Niah. Gadis tersebut kemudian dipersunting dan resmi menjadi istrinya.

Setelah melangsungkan perkawinan, beberapa tahun kemudian Yusuf memboyong istrinya untuk kembali melakukan pengembaraan. Kali ini bukannya pengembaraan ke kampung halaman yang ditempuhnya. Yusuf memilih untuk menyinggahi Kesultanan Pontianak, daerah bandar perdagangan yang begitu terkemuka pada saat itu. Kepandaian Yusuf ternyata menarik hati Sultan Pontianak Syarif Muhammad bin Syarif Yusuf Alkadrie (1895—1944). Bahkan Sultan menghargai Yusuf dengan memberikannya sebuah tempat atau kawasan untuk dibangun serta dimukiminya. Pemberian tersebut bermula dari permintaan sang ulama untuk diberikan tempat agar bisa menetap dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Hal yang sama dilakukan Yusuf ketika masih menetap di Saigon. Gayung bersambut, bukan hanya pemukiman yang dihadiahkan kepada Yusuf, Sultan juga menitahkan kepada sebagian masyarakat Pontianak pada saat itu untuk menjadikan Yusuf sebagai panutan dan berguru kepadanya. Titah tersebut menjadikan Yusuf sangat bersemangat membangun perkampungan baru yang kini terletak di sepanjang Jalan Tanjung Raya II. Masyarakat yang dititahkan ikut bersamanya kemudian membantu Yusuf membuka tiga buah perkampungan.

Di Pontianak, Muhammad Yusuf membuka tanah perkebunan Karet/Getah yang sangat luas. Setelah usahanya berhasil, diberinya nama kampung itu sebagai “Kampung Saigon”.Keputusan tersebut diterbitkan Sultan dalam prakiraan tahun 1926. Akhirnya beliau sendiri terkenal dengan panggilan Yusuf Saigon dan hilanglah nama Banjarnya. Banyak orang menyangka Muhammad Yusuf adalah orang Saigon bukan orang Banjar. Muhammad Yusuf memiliki empat orang anak (1 perempuan dan 3 laki-laki). Dikatakan bahwa asal muasal penamaan Kampong Saigon, bersumber  dari  asal daerah istri beliau, yakni Saigon, satu tempat yang sekarang masuk dalam negara Vietnam.

Kedua anak Muhammad Thasin al-Banjari yang tersebut di atas, yaitu Muhammad Yusuf dan Muhammad Arsyad Pontianak, setelah mereka melihat kesuburan pohon-pohon Karet/getah hasil usaha gigih dan susah payah mereka sendiri, bangkitlah kembali cita-cita untuk meneruskan perjuangan moyang mereka, iaitu Syeikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari yang sangat masyhur itu. Selain mengembangkan usaha perkebunan dan perniagaan. HM Yusuf Saigon bersama dengan para saudara dan keluarga besarnya juga kemudian mendirikan sebuah madrasah, berbentuk semacam pondok pesantren. Madrasah ini diberi nama Saigoniyah. Di perkampungan ini pun berkembang  menjadi salah satu pusat pembelajaran agama Islam saat itu.

Dalam usaha mengembangkan madrasah ini. Diantara kedua bersaudara ini pun berbagi peran. Untuk urusan mencari dana, ditangani oleh HM Yusuf. Hingga semua santri ditanggung biaya pendidikan dan biaya hidupnya selama belajar. Sedangkan untuk pengajaran dan dakwah dilakukan oleh saudaranya, HM Arsyad.  Pada tahun 1925 M, datang seorang  alim ulama dari Ketapang bernama H Abdus Shamad yang baru kembali dari mengenyam pendidikan di Madrasah Shaulatiyah, Mekkah. Beliau inilah yang kemudian membantu pengajaran di madrasah.

HM Yusuf Saigon meninggal pada bulan Desember 1942 dalam usia ke-103 tahun. Makamnya berada di areal pemakaman keluarga H Muhammad Yusuf Saigon  yang terdapat di jalan Yusuf Karim. Kampong Saigon sekarang ini menjadi nama kelurahan dengan nama yang sama yakni Kelurahan Saigon. Tidak ada tapal batas yang jelas, dimana batas wilayah dulunya dan peninggalan yang dapat mengidentifikasi penamaan kampong Saigon ini. Semisal rumah yang dulu di tinggali oleh HM Yusuf Saigon. Hanya satu areal pemakaman keluarga H Muhammad Yusuf Saigon  yang terdapat di jalan Yusuf Karim. Untuk batas wilayah administratif  kelurahan Saigon kini, disebelah Utara sampai pada kompleks perum 4. Di Selatan jalan Tanjung Raya 2. Sedang pada sisi sebelah Timur sampai dengan patok Kelurahan Parit Mayor  dan di sebelah Barat sampai pada jalan Panglima Aim.

Setelah mendengar sederetan tuturan dari Nek Teh beserta informasi yang aku temukan lainnya, aku pun baru mengetahui sejarah penamaan Saigon ini. Banyak hal yang telah aku dapatkan dari penelusuran cerita ini. Kini cerita mengenai sejarah penamaan Saigon dapat aku turunkan pada anak-anakku agar mereka tak sekedar menyebut tapi tidak tahu bagaimana asal nama itu tercetus. Kini Kelurahan Saigon semakin ramai penduduknya. Semua ini berkat HM Yusuf Saigon yang telah banyak membawa perubahan serta kemakmuran bagi masyarakat setempat.

Check Also

Jembatan Tayan, Primadona Wisata Anyar Kalimantan Barat

Oleh Okta Herningsih Sejak dibangunnya Jembatan Tayan yang berada di Desa Pulau Tayan, lokasi tersebut …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *