Home / Jurnalisme Warga / Sampah Rakyat Rezekiku

Sampah Rakyat Rezekiku

Oleh Rita Indah Sari

Sampah Yang Sudah Terkumpul (Foto Gusti Iwan)
Sampah Plastik Siap Dijual
(Foto Gusti Iwan)

MABMonline.org, Pontianak — Basuki di usia senjanya yang hampir menginjak usia 70 tahun masih saja terlihat sesekali melintas di sepanjang Jalan Khatulistiwa.  Ia berjalan menggunakan kaki  yang terlihat masih kokoh.  Sehingga, tidak ada seorang pun yang menyangka usia bapak beranak 8 ini sudah serenta ini.  Setiap hari ia menggunakan pakaian yang sudah tidak jelas lagi warnanya.  Apa pun warna pakaian yang ia kenakan selalu terlihat berwarna coklat.  Warna pakaian dia sama gelapnya dengan kulitnya.  Jika menjelang malam atau pun malam hari, orang bisa saja tidak menyadari kehadirannya.  Ia menggunakan sepasang sandal Nippon yang bagian telapaknya sudah bolong karena aus di makan aspal.  Menggunakan celana pendek selutut dan baju kemeja lengan pendek.  Di bagian pipi sebelah kiri terlihat sebuah benjolan sebesar bola pingpong.  Namun benjolan itu tidak berhasil menutupi gambaran wajah kurusnya.

Pagi-pagi sekali setelah melaksanakan salat subuh, ia menyambar  beberapa karung bermuatan 40 kilogram dari samping rumahnya.  Sepertinya ia tengah bersiap memulai perjalanannya hari ini.  Setelah mengisi perutnya dengan satu buah roti yang berasal dari dagangan istrinya, ia pun beranjak dengan membawa karung-karung pergi bersamanya.  Rute perjalanannya kali ini masih sama dengan hari-hari kemarin.  Beranjak dari rumah menyusuri Jalan Gotong Royong menuju ruas Jalan Khatulistiwa.

Terkadang tak dirasanya sudah berada di daerah pantai Losari.  Hal ini karena ia hanya menyusuri jalan-jalan yang terlihat banyak sampah di sepanjang jalan dan di depan toko-toko yang berjejer rapi.
Matanya yang keruh sudah sangat peka dengan kehadiran sampah-sampah yang menjadi sahabatnya sejak ia muda. Seolah retinanya sudah sangat piawai memilah dan memilih lokasi tempat sampah berserakan. Setiap matanya bertatapan dengan sampah-sampah bekas kemasan minuman gelas atau pun botol, ia lantas berjongkok memungutnya. Dan, memasukkannya ke dalam karung yang dibawa.  Hal itu ia lakukan di sepanjang rute perjalanannya.  Sepertinya para pemilik toko itu sudah hafal dengan profesinya. Maka, tak jarang para pemilik toko itu memanggilnya dan menunjukkan tempat sampah yang harus ia kuras.  Ia menyisihkan bekas kemasan minuman yang ia perlukan dan menyisakan sampah yang tidak ia perlukan di tempat sampah.  Namun adakalanya juga ia digertak oleh pemilik toko yang tidak senang  melihatnya mengobrak-abrik sampah di depan tokonya.  Hal ini karena ketika ia mengeluarkan sampah dan menyisihkan sampah yang ia perlukan, bau tidak sedap akan memenuhi sekitar toko tersebut.

‘’Saya hanya sabar dan menguatkan hati jika ada perlakuan orang seperti ini. Saya tidak menyerah dan berlalu meninggalkan sampah itu,’’ ucapnya lirih saat ditemui.
Ketika rasa letih menyerang, ia bergegas mencari tempah teduh dan tentunya jauh dari kerumunan orang banyak.  Jika lapar menderanya, ia hanya berbekal roti yang dibawanya dari rumah.  Menjelang waktu magrib, Basuki harus pulang.  Sebelum tiba di rumah, ia menjual sampahnya kepada pengumpul sampah yang ada di sekitar rumahnya.  Setiap satu kilo sampah yang diperolehnya dihargai seribu rupiah.  Dalam satu hari ia hanya berhasil mengumpulkan satu atau dua karung sampah.  Bisa dipastikan penghasilan Rasuddin hanya berkisar sepuluh atau belasan ribu rupiah saja.  Dan hasil jerih payahnya harus dibagi dengan istri dan cucunya yang baru berumur satu tahun.

Basuki beserta keluarganya tinggal di daerah jalan Gotong Royong.  Rumahnya berdinding kayu dan beratap seng.  Dinding dan atapnya sudah tidak sempurna lagi, banyak lubang di sana-sini.  Dari luar terlihat rumah ini sudah menunggu ajalnya untuk roboh.  Jika  diterpa angin besar, bisa dipastikan rumah ini akan turut terbang dibawa angin.  Rumah mereka sangat kontras dengan rumah batu  yang berjejer rapi bertaman dan bercat indah di sekitarnya.

Basuki beserta keluarganya adalah satu contoh dari sebagian besar orang-orang pinggiran yang bisa kita temui di keseharian kita.  Mereka tidak bisa menikmati rezeki berupa materi yang cukup.  Namun mereka memiliki rezeki yang lebih mahal dari materi itu sendiri, yaitu kesehatan.  Di usia senjanya, fisik Basuki  masih terlihat kuat.  Tidak bisa dibayangkan jika Basuki jatuh sakit, siapa yang akan menggantikannya untuk mengais rezeki demi keluarganya dari tempat-tempat sampah itu.

Sampah yang bagi kita tidak berharga dan sering kita buang di sembarang tempat adalah barang yang berharga bagi Basuki beserta keluarganya.  Terkadang kita risih dengan sampah-sampah yang berserakan di halaman rumah kita, tetapi tidak bagi Basuki.  Halaman rumahnya justru ia tumpuk dengan sampah-sampah yang akan ia jual jika sudah terkumpul banyak. Semoga kita bisa lebih menghargai hidup dan apa yang kita miliki.

Dia harus menghidupi 8  mulut.  Namun 2 orang anaknya meninggal. Dan dari sisa enam orang anaknya hanya satu yang sempat mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah dasar.  Enam orang anaknya kini sudah pergi merantau untuk mencari peruntungannya masing-masing.  Sayangnya, tidak ada satu pun anaknya yang pernah menjenguknya.  Justru satu orang anak perempuannya hanya datang untuk menitipkan anaknya yang kini sudah berumur 1 tahun untuk diasuh oleh Basuki dan istrinya.
Sepeninggal Basuki untuk mencari nafkah di luar, istri Basuki yang juga sudah terlihat renta, mengasuh cucunya sembari menjaga warung.  Isi warungnya sudah bisa dipastikan hanya beberapa saja, dan jenisnya bisa dihitung dengan jari.

Saat ditanya penyebab anaknya meninggal, ia memalingkan wajahnya seakan enggan menjawab. Pandangannya menerawang ke suatu tempat kosong. Seperti ada sesuatu yang mengganjalnya untuk menjawab pertanyaan itu. Mungkin terasa berat dijawab atau ada sesuatu yang traumatis. Entahlah!

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *