Home / Jurnalisme Warga / San-Sam Tak Sehening Dulu

San-Sam Tak Sehening Dulu

Oleh Adrianus Andika R.

Asa’ dua’ taru apat lima’ anam jo’…
Ae’ Jubata Sabakal, Jubata Kayu, Jubata Sangkaro…

Tawar…tawar…tawar…

Suasana san-sam?

Aku ingat betul peristiwa itu. Waktu aku masih SD, lumayan untuk ingatan seorang anak seumur itu.

MABMonline.org, Pontianak–Suasana sekonyong-konyong sunyi di desa ku di kala sore menjelang petang. Tak seperti hari biasanya yang selalu ada hiburan dan teriakan anak-anak bermain di luar. Juga binatang-binatang yang kesehariannya selalu bersuara, tiba-tiba seperti di setel diam pada sore itu. Orang-orang yang berkerja pun harus pulang ke rumah masing-masing. Tidak boleh ada aktivitas di luar.

Dari kejauhan tampak seorang kakek hampir bungkuk yang membawa teko. Saya tahu persis di dalam teko itu berisi air tawar dan seonggok daung juang yang diikat. Air tawar yang berwarna putih.

Tibalah giliran kakek bungkuk itu di rumah kami. Saya, adik, abang, serta kedua orang tua langsung duduk mengambil posisi masing.

“Asa’ dua’ taru apat lima’ anam jo’…
Ae’ Jubata Sabakal, Jubata Kayu, Jubata Sangkaro…Tawar…tawar…tawar….”
kata-kata itulah yang keluar dari mulut kakek bungkuk sambil memercikkan kami air tawar dengan daun juang yang dibawanya. Kemudian memercikanya di dalam kamar, dan dapur. Selanjutnya kakek bungkuk membacakan mantra di depan sesajian yang telah kami sediakan. Setelah semuanya selesai kakek kembali melanjutkan pekerjaannya di rumah-rumah berikutnya. Kegiatan itu dilakukan saat sore dan pagi. Begitu seterusnya dilakukan kakek bungkuk. Kegiatan itu dilakukan selama dua hari. Itulah acara adat san-sam atau tutup tahun untuk memulai tahun yang baru.

Apa hakikat upacara san-sam itu?

Karena ada tugas mata kuliah Jurnalistik. Saya jadi teringat akan upacara adat san-sam di kampung. Langsung saya menelpon bapak di rumah, untuk menanyakan seputar masalah upacara adat san-sam. Kebetulan bapak adalah ketua RW di kampong kami dan sering membantu ketua adat saat proses upacara adat apapun yang dilakukan di kampung. Langsung ia bercerita kepadaku. “Menurut ketua adat di Desa Sebunga, Sama Uhek. San-sam adalah upacara adat tutup tahun. Artinya menutup tahun sebelumnya dengan cara bersyukur kepada Tuhan atau dalam bahasa Dayak Bakatik disebut Jabata. Tetapi istilah san-sam sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada upacara tutup tahun saja. istilah san-sam digunakan untuk menetralkan penyakit, hama, dan sesuatu yang buruk yang menimpa kampung. San-sam berarti memperbaiki keadaan sesuai dengan keadaan normal”. Ujar Bapak.

Karena hubungan bapak dengan ketua adat bisa dikatakan dekat, jadi bapak sering menanyakan hal-hal tentang adat Dayak di kampungku.

Asal mula upacara San-sam.

“Pada mulanya upacara san-sam dilakukan oleh nenek moyang orang Dayak Kecamatan Sajingan Besar. Menurut orang Dayak, Jubata sangkaro adalah pencipta alam semesta. Jadi manusia yang telah memanfaatkan alam semesta semestinya berterimakasih kepada penciptannya. Bentuk terimakasih itu berupa persembahan sesajian. Yang kelak disebut san-sam oleh masyarakat Dayak” jelas Bapak.

“Acara san-sam ini oleh orang jaman dahulu merupakan acara yang sakral. Apabila ada orang yang melanggar, maka akan dihukum secara adat. Bagi orang jaman dahulu, hukuman itu terbilang cukup berat. Si pelaku yang melanggar harus mempersiapkan seekor ayam, tempayan kecil, dan didoakan secara adat. Tetapi bukan itu yang menjadi hukuman itu ditakuti. Orang yang melanggar akan mengalami beban moral karena telah berbuat yang tidak baik. Iya akan menjadi bahan bicara masyarakat  setempat atas perbuatanya” tukas bapak menjelaskan dengan lancar.

Setelah itu saya berterimakasih kepada bapak karena telah memberi informasi kepadaku tentang adat san-sam. Kemudian menutup telepon. Saya mencoba dengan pengetahuan diintegrasikan dengan pengalamanku. Karena memang saya telah sering menyaksikan upacara itu dikampung. Jadi saya tahu betul apa bahan-bahan yang harus disediakan saat upacara san-sam.

Sesajian dalam upacara san-sam.

Sesajian ini sebagai simbol. Sesajian dalam upacara san-sam terdiri dari ayam kampung, tumpi’ gambung (cucur), lemang, ketupat, bendera kecil berwarna putih, kue (dibuat dari tepung gandum berbentuk angka 8,9, segi tiga, delima yang digoreng), beras hijau, beras kuning, minyak, beras pulut, beras biasa. telur, uang logam, buah pinang, daun sirih, kapur sirih. Semua sesajian itu dipersembahkan kepada Jubata dengan mantra-mantra yang diucapkan oleh ketua adat di tempat penyembahan. Oh ya, tempat penyembahan itu berupa rumah kecil yang dibuat dengan kayu besi (belian). Rumahnya sangat mungil, dengan atap kayu besi (belian) hanya memiliki satu tiang penyangga dari kayu besi juga. Di dalam rumah munggil tersebut ditempatkan sesajian yang telah disediakan. Dan rumah mungil tersebut juga dihiaskan dengan bendera kecil dengan kain putih.

Tetapi bagaimana san-sam sekarang?

Saya masih ingat bentul. Waktu saya masih SMA. Waktu itu upacara san-sam pun dilakukan seperti yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Orang tidak terlalu menggaap upacara itu sesuatu yang sakral. Tampak dari perbuatan mereka. Saat upacara san-sam mereka dengan bebas keluar rumah. Berkumpul di salah satu rumah atau warung. Lebih parahnya lagi mereka berjudi. Kesempatan upacara san-sam dimanfaatkan untuk berkumpul beramai-ramai disalah satu rumah. Karena disaat upacara san-sam orang tidak boleh bekerja. Misalnya menebang, berburu, bahkan menghidupkan api. Perbuatan itu tentu tidak sesuai dengan hakikat upacara san-sam sebenarnya yang telah diyakini oleh masyarakat dayak sejak jaman dahulu. Jika dahulu, saat upacara san-sam, orang tidak boleh keluar rumah, apalagi rebut-ribut.

Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Seiring perkembangan jaman. Manusia yang memiliki akal pikiran pun juga turut berkembang. Permasalahanya apakah pemikiran  manusia akan selalu berkembang pada hal yang positif? Tentu tidak seutuhnya demikian. Hal ini juga terjadi pada masyarakat dayak Desa Sebunga. Mereka menganggap upacara san-sam tidak terlalu penting. Sesuatu yang bersifat adat tidak terlalu diindahkan. Tampak dari perbuatan mereka. Saat upacara san-sam dilakukan mereka lebih suka berkumpul dirumah yang lain dan di warung kemudian berjudi. Mereka tidak takut akan hukuman adat yang ada. Mungkin bagi mereka hukuman tersebut tidak terlalu berat. Hanya membeli seekor ayam dan tempayan kecil. Siapa saja pasti mampu. Rasa malu mereka seakan tidak ada lagi bila telah melanggar hukum. Malah ada pada waktu itu terjadi penghukuman terhadap orang yang melanggar upacara san-sam secara beramai-rama. Waktu itu saya masih SMA. Selain itu mereka beranggapan jaman sekarang tidak akan mungkin mendapatnkan panen yang melimpah sementara tanah sudah tidak adat. Beras bisa diperoleh dengan cara membeli di pasar dengan harga yang terjangkau dan lebih instan. Lauk-pauk juga bisa dengan mudah diperoleh di pasar.

Eksistensi kebudayaan berupa uacara san-sam.

San-sam adalah upacara adat yang keberadaannya telah lama ada dalam kehidupan masyarakat Dayak khusunya adi kecamatan Sajingan Besar. Upacara adat tersebut diyakini dapat memberi berkah terhadap hasil panen tahun berikutnya. Pada jaman dahulu hal itu memang benar-menar nyata. Panen selalu melimpah setiap tahunnya. Lalu mengapa upacara yang bersifat positif itu ditinggalkan pada jaman sekarang? Eksistensi adat istiadat jaman dahulu yang berkaitan erat dengan kemakmuran kehidupan masyarakat dayak tidak diragukan lagi. Aku masih ingat, waktu dulu kami tidak pernah kekurangan beras, selalu melimpah hasil ladang kami. Begitu juga nenekku pernah bercerita padaku. Jaman ia dahulu juga begitu. Orang-orang kampung selalu panen melimpah, bahkan sampai dijual ke negara tetangga (Malaysia) padi dan hasil ladang lainya.

Bagaiman menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap upacara san-sam?

Eksistensi kebudayaan dayak jaman dahulu memang tidak dapat dipungkiri lagi. Tetapi apakah kebudayaan itu akan selalu eksis selama perkembangan jaman. Tentu kenyatanya tidak demikian yang terlihat. Faktor redupnya kebudayaan seperti upacara san-sam adalah akibat kesadaran masyarakat dayak yang kurang akan kebudayaannya. Tanggungjawabnya adalah kepada generasi penerus atau generasi muda. Mereka harusnya bangga akan kebudayaannya. Melestarikan apa yang telah diwariskan oleh generasi pendahulunya. Terkecuali kebudayaan itu besifat merugikan, maka tidak perlu dilestarikan, seperti hal mengayau orang dayak. Itu merupakan kebudayaan yang tidak baik sehinggaa harus dihapuskan. Tetapi upacara san-sam adalah kebudayaan yang positif maka wajib dilestarikan. Cara melestarikan kebudayaan khusunya upacara san-sam bisa dengan cara menghargai kebudayaan tersebut. Dalam arti saat dilakukan upacar tersebut maka benar-benarlah menjalaninya. Jangan sampai melanggar peraturan adat yang telah ada sebelumnya. Toh juga tidak menguranggi rezeki, malah memberi keuntungan.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *