Home / Sastra / Sastra Melayu Dalam Tinjauan Budaya

Sastra Melayu Dalam Tinjauan Budaya

 

Oleh Edi Sedyawati

MABMonline.org, Pontianak Sebelum membicarakan cakupan wilayah di mana didapati sastra Melayu, terlebih dahulu perlu ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan sastra adalah segala ungkapan yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tertulis. Dalam hal ini pengertian “sastra” diambil dalam arti yang luas, yang tidak terbatas pada susastra.

Wilayah penggunaan bahasa/sastra Melayu, atau dapat juga disebut dengan istilah “bentang lahan”-nya, ternyata amat luas namun sekaligus terpencar. Di Indonesia kebanyakan komuniti penutur bahasa Melayu, jadi yang merupakan produsen potensial dari sastra Melayu, mendiami kawasan pesisir di berbagai pulau. Namun sejumlah ‘pusat‘ penggunaan bahasa Melayu ada pula di pedalaman. Di luar Indonesia, sastra Melayu tumbuh atau pernah tumbuh juga di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, dan Filipina. Keluasan ‘daerah jelajah‘ itulah yang merangsang saya untuk mengajukan usulan kepada Pusat Bahasa untuk menyusun suatu himpunan fakta sastra yang bertajuk “Sastra Melayu Lintas Daerah” (yang oleh rekan-rekan di Pusat Bahasa dibuat akronim “Sasmelinda”), di mana “daerah” diambil dalam arti “area” dan bukan “daerah administrasi”. Gagasan itu diterima dan hasil penghimpunan itu telah diterbitkan oleh Pusat Bahasa pada tahun 2004. Bagian tertentu dari makalah ini adalah pungutan dari sejumlah kontribusi saya dalam Sasmelinda itu.

Daerah-daerah yang memiliki sastra Melayu di Indonesia dan negara-negara tetangga yang telah dihahas dalam Sasmelinda, dari barat sampai ke timur, adalah: Aceh, Patani, Malaka, Johor, Singapura, Trengganu, Deli-Serdang, Riau-Siak-Indragiri, Sumatra Barat, Kerinci, Palembang, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Betawi, Butun, Ternate, Bali, Lombok, dan Bima. Yang belum dapat dihahas karena keterbatasan data adalah sastra Melayu yang mestinya juga terdapat di Kutai, Nusa Tenggara Timur, serta yang ada pada orang-orang Bajau yang berpangkal-huni di berbagai kawasan kelautan yang tersebar di Indonesia.

Konteks dan Kategorisasi Sastra Melayu
Berbagai kerajaan atau satuan pemerintahan pada skala apapun pada masa lalu, di berhagai kawasan, telah berfungsi sebagai pusat perkembangan sastra Melayu. Kerajaan-kerajaan lama yang dapat disebutkan adalah antara lain; Samudra-Pasai, Pagarruyung, Melayu, sampai ke Aceh-Darussalam, Riau, dan Deli-Serdang, yang lebih dekat ke masa kini. Di samping itu terdapat koloni-koloni orang Melayu seperti yang di kerajaan Bima di pulau Sumbawa, yang mengembangkan sastra Melayunya tersendiri, dan turut memberi citra sastra bagi Kerajaan Bima. Adapun majunya kerajaan-kerajaan yang bercitra Melayu di kawasan Sumatra-Malaya khususnya, kiranya amat terkait dengan ramainya perniagaan dan pelayaran yang terjadi di sana sepanjang sejarah.

Sebagian dari masyarakat pendukung dan pengembang sastra Melayu di berbagai kawasan itu, yang kemudian menampilkan citra Islami yang cukup kuat, mewarisi juga ‘tinggalan‘ budaya dari masa sebelumnya, yaitu masa Hindu-Buddha. Khasanah Hindu-Buddha itulah diambil pokok-pokok cerita untuk dikembangkan dalam sastra Melayu, sehingga tertulislah karya-karya sastra Melayu seperti “Hikayat Seri Rama”, “Hikayat Pandawa Lima”, “Sang Boma”, dan lain-lain. Di samping pelanjutan pewarisan dari tahap budaya Hindu-Buddha itu, sastra Melayu menggarap pula tema-tema yang berasal dari sastra Parsi seperti pada “Taj-us-Salatin”, “Hikayat Amir Hamzah”, dan “Hikayat Burung Pingai”. Ada pula serapan dari sastra Cina yang dikembangkan dalam sastra Melayu, seperti yang terwujud ke dalam garapan cerita “Sam Pek – Eng Tay”, serta cerita-cerita sezaman yang ditulis oleh orang-orang Cina pada masa kolonial di Batavia.

Sastra Melayu bercitra ke-Islam-an sekaligus menampilkan wajahnya sebagai sastra tulis dengan diadopsinya sistem aksara Arab yang sedikit dimodifikasi menjadi sistem aksara Jawi. Di daerah budaya Jawa sistem aksara Arab juga diadopsi dengan modifikasi, dan disebut sistem aksara Pegon. Adapun di lingkungan budaya Bugis-Makassar adaptasi dari sistem aksara Arab itu disebut sistem aksara Serang. Demikianlah sebagai kelompok sistem-sistem aksara Jawi, Pegon, dan Serang itu dapat disebut kelompok sistem aksara Pasca-Arab.

Adapun pcnggolongan sastra Melayu dapat dibuat atas dasar beberapa penentu, seperti:

1. wujud ungkapnya: lisan atau tertulis;
2. gaya ungkapnya: prosa, puisi, atau bentuk-bentuk di antaranya atau perpaduannya;
3. tujuan pengungkapannya: hubungan sosial, berhibur, pemujaan,
4. temanya.

Di samping keempat dasar pembeda tersebut di atas, ungkapan sastra Melayu di berbagai daerah itu tentulah diperbedakan pula oleh variasi kebahasaan di antara mereka, baik pada pelafalan maupun pada kekhasan-kekhasan kosakata, yang kesemuanya itu disebabkan oleh ‘alas budaya‘ lokal di mana masing-masing varian Melayu itu tumbuh.

Riwayat Awal Bahasa Melayu
Sebelum munculnya karya-karya sastra tertulis berbahasa Melayu, yang pada umumnya menggunakan aksara Jawi (Arab-Melayu), dan isinya mempunyai kandungan konsep-konsep Islami atau yang terkait dengan itu, di kawasan “nusantara” diketahui adanya penggunaan bahasa Melayu (kuna) dalam sejumlah inskripsi, yang isinya mengacu ke konsep-konsep Hindu-Buddha atau lokal pra-Hindu-Buddha. Inskripsi-inskripsi tersebut ditulis dalam sistem-sistem aksara yang secara kelompok dapat disebut Pasca-Pallava. ‘Keturunan‘ dari sistem aksara Pallava dari India Selatan tersebut dipakai dalam pertulisan di berbagai daerah di Asia Tenggara, daratan maupun kepulauan. Inskripsi-inskripsi tersebut ditemukan di tempat-tempat tersebut di bawah ini:

1. Palembang – Bangka;
2. Jawa Tengah;
3. Bali;
4. Sumatera Barat;
5. Lampung.

Inskripsi-inskripsi yang ditemukan di daerah Palembang dan Bangka sekarang adalah pertulisan yang dikeluarkan pada masa dan dalam cakupan kewenangan kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasastinya dikenal sebagai prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur, Karang Brahi, dan Palas Pasemah (yang terakhir ini di Lampung), dan merujuk kepada abad ke-7 Masehi. Istilah-istilah tertentu di dalamnya menunjukkan pengenalan kosa kata Sanskerta dan mengisyaratkan penganutan agama Buddha, mungkin yang telah mengembangkan paham Tantrayana. Hal terakhir ini ditunjukkan oleh penyebutan istilah-istilah seperti: kalyānamitra, wajraśarīra, dan anuttarābhisamyaksamwodhi. Beberapa kutipan yang menunjukkan ke-Melayu-an bahasanya adalah:

… wulan waiśāhkha dapunta hiyang nāyik di sāmwau maŋalap siddhayātra… wulan jyestha dapunta hiyang marlapas dari mināāa tāmwan mamāwa yang wala dua laksa daŋan kośa dua ratus cāra di samwau daŋan jālan sariwu tle rātus sapulu dua wañakña dātang di matayap (Kedukan Bukit);

… punta hiyang sawañakña yang nitānang di sini niyur pinang hanāu rungwiya dŋan samiśrāña yang kāyu nimākan wûahña, tathāpi hāur wuluh pattung ityewam ādi… muah manghidupi paśuprakāra (Talang Tuwo).

Prasasti dari Jawa Tengah yang berbahasa Melayu adalah Prasasti Hyang Wintang Prasada yang ditemukan di desa Gandasuli, Temanggung. Prasasti ini diawali dengan seruan kepada dewa Siwa. Kutipan yang menunjukkan ke-Melayu-annya adalah:

… dang karayān partapān ratnamaheśwara sida busu mor namānda dang karayān lāki busu iti namānda dang karayān wini,… ayānda karayān lāki parpuan…

Prasasti-prasasti dari Bali yang memberikan indikasi bahasa Melayu adalah yang dikenal sebagai prasasti-prasasti “yumu pakatahu” (“hendaknya kauketahui”), yang angka-angka tahunnya menunjukkan akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10 Masehi.

Contoh teks dari prasasti-prasasti tersebut, khususnya bagian yang memuat kata-kata “Melayu” bersambung dengan kata-kata Bali adalah:

… mañuratang ājñā danañjaya, pircintayangku mān tua ulan di bukit cintamani mmal tanyada husir yya anak atar jalan kadahulu, tua hetu nuruhku senāpati danda kumpi marodaya me bhiksu śiwakangśita… (Sukawana Al).

Pada masa yang lebih muda daripada prasasti-prasasti Sriwijaya tersebut di atas, di Padangroco, Sumatra Barat ditemukan pula sebuah prasasti pada lapik sebuah area Amoghapāśa. Prasasti tersebut berangka tahun 1208 Śaka, dan bahasanya menunjukkan paduan Jawa Kuna dan Melayu. Petikannya antara lain:

2.b … tatkāla pāduka bharāla āryyāmoghapāśa lokeśwara, caturdaśātmikā saptaratna sahita, diāntuk

c dari bhūmi jāwa ka swarnnabhūmi dipratistha di dharmāśraya, akan

3.a punya śrī wiśwarūpa kumāra, prakāranang ditītah pāduka… (Hasan Djafar, 1992).

Contoh inskripsi dari daerah lain, yaitu Lampung, adalah yang ditemukan di desa Dadak, di kawasan pantai timur. Petikan inskripsi ini yang menunjukkan ke-Melayu-an bahasa dan ke-Hindu-an isi adalah:

… warta suratku datang-akĕn di si tapa unak matuha dari…

… malam batang bargahasa kayu … di jalma mana ya diya tutunu…

… makabar kirakira di śuratku datang-akĕn juga di si tapa anak matuha…

… saratus tahun lawasku minjam tanéh jaŋan ka-u gusar… jaŋan ka-u madataŋi lalu kulĕbur sanghyang pa(rti)bi lalu balik sanghyang akasa ujarna batara guru tuha sang kusika sang garĕga mitri kurussiya patanjala tanĕh bardatu ayer bardatu batu bardatu kayu bardatu partibi bardatu…..

(Informasi dan transkripsi dari Dr. Hasan Djafar, Jurusan Arkeologi, UI).

Kehadiran bahasa Melayu (Kuna) dalam berbagai varian, dalam bukti-bukti tertulis masa lalu itu, adalah suatu fakta yang perlu mendapat telaahan lebih lanjut. Kehadiran bahasa Melayu kuna pada inskripsi-inskripsi di Palembang-Bangka (abad ke-7 M.), di Jawa Tengah dan Bali (abad ke-9 M.), di Sumatera Barat (abad ke-13 akhir), dan di Lampung (abad ke-15 ?) itu tentulah membutuhkan penjelasan tersendiri. Hipotesis yang dapat diajukan adalah bahwa dari waktu ke waktu, sepanjang berabad-abad pergaulan antara bangsa di Nusantara, orang-orang yang berbahasa (dan berbudaya) Melayu, kemungkinan besar demi eksplorasi mata pencahariannya, berkoloni di berbagai daerah pantai pulau-pulau di Nusantara. Asimilasi, ataupun aliansi dan berbagai kesepakatan hidup berdampingan dengan masyarakat setempat dapat terjadi dari waktu ke waktu, dan pada situasi-situasi tertentu memerlukan peneguhan berupa penulisan prasasti.

Namun fakta bahwa sebagian dari inskripsi-inskripsi itu juga ditemukan di daerah pedalaman, artinya bukan di kawasan pantai, menggusur hipotesis koloni tersebut, atau harus menambahnya dengan keterangan bahwa koloni Melayu itu tidak perlu hanya terdapat di daerah pantai. Untuk daerah Palembang-Bangka dan Lampung bahkan hipotesis koloni mungkin dapat disingkirkan, dan diganti dengan pernyataan bahwa bahasa-bahasa setempat di situ adalah juga (varian) Bahasa Melayu.

Check Also

Seminar Tradisi dan Sejarah Melayu di Kubu Raya

Oleh Gusti Iwan MABMonline.org, Pontianak — Pagi ini bertempat di Balai Kerja Majelis Adat Budaya Melayu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *