Home / Jurnalisme Warga / Sejarah Asal Usul Nanga Bunut

Sejarah Asal Usul Nanga Bunut

Oleh Rianti Pratiwi

MABMonline.org, Kapuas Hulu — Bermula dari tempat perencanaan, mula-mula alkisah berasal dari Batang Suruk di pedalaman perairan Batang Bunut yang bertempat tinggal di sekitar daratan Gunung Lohot, Sunan dan hampir mendekati bukit tekalong, bagi suku ini yang berada di sekitar perairan Sungai Kapuas dan Sungai Bunut bergabung menjadi satu didalam satu kerajaan, kendatipun suku ini berbeda-beda. Adapun sungai yang dilalui atau dimasuki mereka yaitu:
a.    Suku yang berada di sungai Embaloh dengan gelar Suku Embaloh.
b.    Suku yang berada di sungai Batang palin dan Batang lauk dengan nama gelar Suku Palin.
c.    Suku yang berada di sungai Kapuas terkenal dengan nama gelarnya Suku Taman Tapah
d.    Sedangkan sebagian ada yang menetap di sungai Gulung dengan nama gelarnya Embaloh Gulung.

Orang-orang yang menetap dan bertempat tinggal di daerah tersebut yang cukup dikenal adalah Kiyai Adi Pati Ajan bersama keluarga dan anaknya Kiyai Adi Pati Turan. Diperkirakan sekitar pada abad ke-15 dan ke-16 Kiyai Adi Pati Turan dan Kiyai Adi Pati Ajan sementara menetap di daerah Ulak Alai, mereka mengadakan rencana pertama untuk membuat kampung yang baik untuk mengatasi kalau ada serangan musuh, selanjutnya mereka pindah ke Kirin Temiang sekarang disebut dengan Sungai Sunjung, karena mereka selalu dihantui rasa cemas dan takut terhadap hal-hal yang mungkin bisa terjadi maka segala harta benda yang berguna itu disimpan di dalam  tanah yang ditanam dengan tanaman yang disebut Bambu Temiang karena bambu yang ditaman itu selalu mati pucuknya. Lalu mereka sebut daerah itu dengan sebutan Kirin Temiang Mati Pucuk.

Lalu Kiyai Adi Pati Turan mengadakan mufakat dengan kawan-kawannya yang lain untuk membuat kampung Nanga Lipat. Hal itu disetujui oleh kawan-kawannya, setelah kampung Nanga Lipat berdiri, lanjut kemudian mereka mengadakan musyawarah lagi untuk membuat sebuah kampung  di Nanga Pilin atas nama Kiyai Adi Pati Turan bersama dengan Raden Kasuma Abang Manduh dengan tujuan membangun kampung di Nanga Pilin ini sebagai pertahanan dari serangan-serangan dari pihak musuh.

Kemudian lahirlah seorang putra, di dalam keluarga Kiyai Adi Pati Turan lahirlah dari seorang ibu (istri dari Kiyai Adi Pati Turan) seorang anak laki-laki atau seorang putra yang selalu didambakan oleh Kiyai Adi Pati Turan dan siang malam doa Kiyai Adi Pati Turan anak yang lahir nanti bisa seorang putra dan tidak lupa Kiyai Adi Pati Turan berdoa agar anak kandung istrinya lahir dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, doa tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Suatu malam lahir anak tersebut, sesuai dengan doa Kiyai Adi Pati Turan yang langsung sekaligus diberi nama Abang Berita yang diberi gelar Kiyai Adi Pati Jaya.

Dengan cepatnya pertumbuhan Abang Berita, anak itu memiliki daya ingat dan daya fikir yang hebat dan ketangguhan hati dalam mengerjakan sesuatu dan akhlaknya terpuji dikalangan keluarga dan sahabatnya.

Pada suatu hari Abang Berita mengadakan musyawarah dan mufakat dengan kedua orang tuanya dan dihadiri oleh Abang Mandoh dan Abang Ubal serta kawan-kawan dan sahabatnya, untuk membuat dan mendirikan kerajaan disekitar daerah Ulak Mahkota Raja, ulak ini merupakan ulak yang terbesar.

Ketika mereka hendak membuat atau mendirikan sebuah kampung (kerajaan) pertama-tama kayu yang mereka cari dan ditebang itu adalah Kayu Bunut, adapun alat-alat yang dipakai untuk menebang Kayu Bunut ialah Beliung yang terbuat dari timah dengan berat beling timah 3,5 kati, tangkai beliung timah kayu berusu, sedangkan tempat pemegangnya atau ulu beliung timah tersebut di buat dari Kayu Lempung yaitu Kayu Pelai.

Konon kisahnya sebelum kayu Bunut itu ditebang dengan beliung timah, untuk pertama kali menebang memakai beliung biasa terbuat dari besi, tetapi tangkai beliungnya selalu patah  dan tangkai yang patah di buang disekitar pohon itu juga dan kayu yang ditebang itu tidak ada perubahan konon ditebang siang hari, malamnya sudah seperti biasa, pohon tersebut tidaka da cacat sedikitpun.

Alkisah melalui mimpi sang raja kayu Bunut tersebut harus ditebang menggunakan Beliong Timah. Disekitar pohon (Bunut) pohon itu terdapat sebuah sungai kecil yang disebut dengan sungai Perodah yang kononnya nama Perodah diambil dari nama tangkai beliong (Perodah).

Setelah menebang memakai tangkai perodah beliong timah baru lah kayu Bunut tersebut tumbang , karena kayu itulah di daerah ulak mahkota raja didirikan sebuah kerajaan yang disebut Nanga Bunut gelarnya. Tempat kejadian dan kenyataannya sekarang Kayu Bunut dan Sungai Perodah terletak di Dusun Perodah, Desa Bunut Hulu, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Kenyataannya kayu Bunut itu tumbang kesungai besar yang anak sungainya adalah sungai Perodah dan sungai itu di beri nama sungai bunut yang terletak sungai bunut pada dua buah sungai yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Bunut maka kampung bunut terletak pada Kuala masuk kedua sungai maka kampung tersebut disebut Nanga Bunut.

Sesuai yang diinformasikan oleh Rustam Usman, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kecatamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu  menerangkan lebih lanjut lagi keterangan tentang berdirinya Kampung Nanga Bunut, yang berdiri pada tanggal 29 Januari 1877 dengan surat asisten residen Sintang nomor 91 tahun 1877 tanggal 29 Januari 1877 menyatakan Negeri Nanga Bunut telah berdiri 64 tahun dengan jumlah penduduk kurang lebih 1000 jiwa. Selanjutnya nama-nama pendiri nanga bunut ialah Raden Setia Abang Berita Kiyai Adi Pati Jaya, Raden Suma Abang Mandoh dan Kiyai Mangku Abang Ubal.

Check Also

Jembatan Tayan, Primadona Wisata Anyar Kalimantan Barat

Oleh Okta Herningsih Sejak dibangunnya Jembatan Tayan yang berada di Desa Pulau Tayan, lokasi tersebut …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *