Sejarah Pal Sembilan

Oleh Ria Snaux

Pal sembilan adalah desa yang berada di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia. Tidak banyak orang mengetahui sejarah berdirinya Desa Pal Sembilan. Menurut H. Burhani Baltan (73 tahun) pria kelahiran Desa Pal Sembilan, 1 April 1943 ini menjelaskan bahwa penduduk yang mula-mula mendiami kawasan Pal Sembilan adalah orang Bugis.

Kawasan ini dinamakan Pal Sembilan karena berkenaan dengan nomenklatur yang diberikan oleh Belanda sejak tahun 1928. Pal dalam bahasa Belanda berarti kilometer. Kawasan ini berada dalam jarak 9 kilometer dari Pontianak menuju ke kawasan Kakap. Oleh karena itu, kawasan ini disebut Pal Sembilan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh H. Burhan Baltan tokoh masyarakat Pal Sembilan, “Jumlah kilometer keseluruhan Pal Sembilan 20 kilometer dari Pontianak ke Kakap. Untuk mengambil wilayah sebagai pusat pembatas, diambil 9 km dari Kakap dan 9 km dari Pontianak. Pertengahannya ini disebut Pal Sembilan.”

Menurut H. Burhani Baltan wilayah ini pada awalnya merupakan kawasan yang dipenuhi dengan semak belukar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Adapun penduduk yang pertama kali mendiami Pal Sembilan adalah orang-orang dari Sulawesi Selatan yang bersuku Bugis. Mereka yang pertama kali melakukan penebangan hutan, mencangkul, membuat saluran air (paret kongsi dalam bahasa Melayu) secara gotong-royong. Saluran air ini tembus sampai ke parit yang lebih besar yang disebut Parit Kongsi. Parit ini merupakan jalur air dari Kakap dan Pontianak. Bahkan, daerah Pal Sembilan terdapat Paret Wak Haruna dan Paret Wak Gattak yang juga dibuat oleh orang dari Sulawesi Selatan yang mula-mula membuka kawasan Pal Sembilan.

Pal Sembilan kemudian berkembang menjadi desa yang ramai ditempati penduduk. Masyarakat Pal Sembilan pun membentuk desa baru berdasarkan anggota masyarakat yang berdiam di sana. Selanjutnya, mereka menjadikan bercocok tanam sebagai mata pencarian kehidupan sehari-hari. Dengan mimik serius H. Burhani Baltan melanjutkan cerita tentang Pal Sembilan. Ia pun mengenang aktivitas masyarakat Pal Sembilan dahulu yang menggunakan sampan (perahu kayu) sebagai alat transportasi. Hal ini dikarenakan jalan pada masa itu belum ada untuk menghubungkan satu wilayah ke wilayah lainnya.

Beberapa puluh tahun kemudian baru berdatangan orang-orang yang mencari kerja untuk tinggal di wilayah ini. Ada orang Dayak, Madura, Sambas, Jawa, Cina, dan Arab. Beragamnya suku yang mendiami wilayah Pal Sembilan ini membuat banyak generasi penerusnya terlahir dari masyarakat multietnik. Menurut H. Burhani Baltan ada yang lahir dari pasangan suku yang sama di wilayah ini dan ada yang berlainan suku pula. Meskipun demikian, suku yang mendominasi wilayah ini adalah suku Bugis dan Melayu. Lebih lanjut tokoh masyarakat Pal Sembilan ini mengungkapkan bahwa kehidupan di wilayah ini dipengaruhi agama mayoritas penduduknya, yaitu Islam. Tidak mengherankan banyak didirikan masjid di berbagai lokasi di sekitar kawasan Pal Sembilan.

pal sembilan
Sekarang, sudah banyak perubahan di wilayah ini. Bangunan semakin banyak. Kegiatan ekonomi semakin maju. Pekerjaan warganya beragam. Ada bertani atau bercocok tanam, berkebun, dan sebagainya. Pendidikan di wilayah ini juga semakin maju. Banyak dari warga Pal Sembilan lulusan dari perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Jumlah penduduknya pun semakin banyak. Menurut H. Burhani Baltan adat istiadat masih dijunjung tinggi. Unsur-unsur budaya yang ada pada awal berdirinya Pal Sembilan ini masih dapat dirasakan anak cucu. Ini terbukti dengan adanya “tolak bale” (adat membaca doa bersama) dan “penok-penok” yang dilakukan masyarakat Bugis Pal Sembilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *