Home / Beranda / Sejarah Singkat Masjid Al-Jihad

Sejarah Singkat Masjid Al-Jihad

Masjid Al-Jihad Pontianak (sumber: scyscapercity.com)
Masjid Al-Jihad Pontianak (sumber: scyscapercity.com)

 

oleh Adi Supriadi

MABMonline.org–Berbicara masalah masjid adalah hal yang saya sukai karena masjid adalah tempat ibadah yang Allah senangi dan masjid juga biasa saya gunakan sebagai tempat beristrirahat sejenak ketika badan terlalu letih menjalani aktivitas seharian sekaligus salat jika sudah masuk waktu salat. Ibarat kata sambil menyelam minum air. Jadi, saya bisa mendapatkan dua keutamaan, yaitu melakukan shalat dan badan menjadi lebih segar.

Seperti biasa ketika saya pulang kuliah dan belum melaksanakan shalat zuhur, saya singgah di sebuah masjid, yaitu masjid Al-jihad. Bangunan masjidnya unik karena bangunannya dominan menggunakan kayu. Akhirnya, saya mencoba mencari siapa orang yang banyak mengetahui bagaimana sejarah masjid yang bangunannya didominasi dengan menggunakan bahan-bahan kayu. Setelah mencoba bertanya kepada orang-orang yang berada tidak jauh dari masjid. Saya bertemu dengan Pak Juju, yaitu orang yang biasa mengurusi masjid Al-jihad ini selama puluhan tahun karena usia Pak Juju sendiri adalah 73 tahun. Kemudian saya banyak bertanya kepada Pak Juju.

“Bagaimana sejarah masjid Al-jihad ini pak?” tanya saya.

Masjid Al-Jihad adalah satu di antara masjid yang bercorak Melayu yang terdapat di Kota Pontianak. Masjid ini terletak di sudut pertemuan Jalan Sultan Abdurahman dan Jalan Sumatra yang sekarang nama jalannya adalah Jalan Gusti Johan Idris. Sejarah Masjid Al- jihad dimulai pada tanggal 12 maret 1964 dan diresmikan/pertama kali untuk shalat jumat pada tanggal 29 oktober 1964 . Pendiri awal atau sebagai ketua umum yang bertanggung jawab pada pembangunan masjid Al-jihad ini adalah Bapak Drs. Ahmad Din. Pada tahun 1965an dengan bertambahnya jamaah masjid Jihad diperluas dengan memanfaatkan halaman yang masih kosong. Perluasan yang dilakukan mengakibatkan masjid yang bentuk asalnya tidak tampak lagi. Dalam kurun waktu 25 tahun usianya, keadaan masjid sudah tidak memadai lagi ditinjau dari sudut kondisi bangunan maupun daya tampungnya. Maka pengurus masjid Jihad pada tahun 80an yang di ketuai oleh H Eddy Mangkuprawira, S.H. memutuskan untuk merombak bangunan lama dan mendirikan bangunan baru. Berkat bantuan berupa hibah tanah dari saudara Baromas Jabang Balunus ( non islam ) dan Wan Ali warga setempat luas tanah menjadi 850 m2.

Desain bangunan maupun arsiteknya sengaja dipilih bercirikan kebudayaan Kalimantan Barat. Keunikan masjid ini dibangun dengan memadukan tiga unsur budaya, yaitu Melayu, Dayak dan juga Jawa. Dari segi bangunan, masjid Jihad merupakan representasi bangunan Melayu, tetapi di ujung-ujung atap masjid terdapat ukiran-ukiran khas dayak dan tiang-tiangnya dibumbui ukiran-ukiran khas dari budaya jawa.

“Apa saja fasilitas yang terdapat di masjid ini?”

Di samping ruang shalat, masjid inipun dilengkapi pula dengan ruang tunggu khotib dan imam, ruang sound sistem, ruang kantor dan perpustakaan. Tersedia juga kamar mandi dan WC serta tempat wudhu tertutup asing-masing untuk pria dan wanita. Terdapat juga tempat wudhu terbuka pada dua tempat sekaligus bisa digunakan oleh 12 orang jama’ah.

“Apa saja fungsi dari masjid ini?” lanjut saya menggali informasi.

Fungsi masjid Al-jihad tidak hanya terbatas untuk shalat lima waktu dan shalat jum’at saja. Melainkan berfungsi pula sebagai sarana pendidikan TPA (Taman Pendidikan Al-qur’an), perpustakaan, tempat upacara pengislaman, akad nikah dan walimahan, merayakan hari besar islam dan untuk kegiatan IRMA (Ikatan Remaja Masjid).

“Apa harapan Bapak untuk masjid Al-jihad kedepannya?” tanya saya menutup wawancara singkat.

Harapannya karena masjid ini terbuat dari kayu maka biaya perawatannnya lebih besar daripada masjid-masjid yang  terbuat dari dinding semen. Diharapkan kepada para dermawan atau para donatur lebih memperhatikan masjid ini. Alasannya, karena masjid ini adalah satu diantara kecintaan kita terhadap kebudayaan tradisional Indonesia. Diantaranya masjid ini adalah perpaduan budaya Dayak, Melayu dan Jawa. Diharapkan masjid ini akan tampil memukau dan dapat bertahan sepanjang masa.

 

 

Check Also

Tarian Tanda’ Sambas Wajib Dilestarikan Oleh Pemuda

Oleh Asmirizani MABMonline.org, Sambas— Workshop tarian Tanda’ Sambas dilaksanakan di pentas kantor Bupati Sambas pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *