Home / Opini / Sepak Bola Dalam Cultural Studies

Sepak Bola Dalam Cultural Studies

Oleh Amad Asma dz

Kaos berwarna putih dengan tiga garis hitam di pundak. Masih terlihat baru kaos itu. Dikenakan oleh seorang pemuda kira-kira berusia 20-an tahun. Ia dan beberapa kawannya duduk melingkari meja di sebuah warung kopi di bilangan Gajah Mada, Pontianak. Salah seorang di antaranya mengenakan kaos putih yang sama. Seorang lainnya mengenakan kaos tim Spanyol berwarna merah. Ada juga lainnya mengenakan kaos tim Barca yang berwarna biru-merah.

Ketika kickoff dimulai, perhatian dunia seolah akan dipetakan dalam sepetak lapangan hijau berukuran 120 x 75 meter. Dan kita disuguhkan serangkaian drama pertandingan olahraga bernama sepak bola. Sepasang mata dari berjuta kepala akan tertuju pada perebutan kulit bundar oleh dua team dari masing-masing sebelas orang selama 90 menit. Untuk satu tujuan, membuat gol.

Dan siapa yang mengira, dari zaman dulo-dulo’, ketika buntalan dari kain linen berbentuk bulat yang ditendang oleh masyarakat Mesir Kuno kini menjadi olahraga yang begitu di gandrungi. Bill Muray, seorang sejarahwan sepakbola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer , mengatakan, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen itu.

Dalam sejarah lain tercatat, olahraga sepak bola dimulai sejak abad ke-2 dan -3 sebelum masehi pada masa dinasti Han di Cina. Dimana masyarakat menggiring bola kulit dengan menendangnya ke jaring kecil. Di Jepang, masyarakat juga memainkannya, mereka menyebutnya Kemari. Di belahan Eropa olahraga ini juga di gemari dan kemudian berkembang menjadi sepak bola modern. Bahkan tahun 1365, olahraga ini pernah dilarang oleh Raja Edward III karena menimbulkan banyak kekerasan selama pertandingan.

Revolusi kelahiran sepak bola modern sendiri tak bisa terlepas dari Freemasons Tavern, suatu wilayah di daratan Inggris. Ketika pada tahun 1863, 11 sekolah dan klub berkumpul, merumuskan aturan baku untuk permainan tersebut. Aturan baku dan segala yang berkenaan dengannya itulah yang kemudian terus berkembang hingga kini. Dan kita menyebutnya sekarang sebagai Fair Play. Antonio Gramsci, seorang filsuf asal Sardinia, Italia pernah mengatakan, sepak bola merupakan model masyarakat individualistik yang membutuhkan prakarsa, kompetisi, dan konflik. Tetapi, segalanya diatur oleh peraturan yaitu.

Sekarang, 12 tahun sudah memasuki abad ke-21, olahraga ini telah dimainkan oleh lebih dari 250 juta orang di lebih dari 200 negara. Sepak bola telah massif ditahbiskan sebagai olahraga paling populer di dunia dan paling banyak di pertandingan.
Seiring perjalanan waktu, sepak bola bukan lagi sekadar olahraga. Semangatnya telah melampaui sepetak lapangan hijau bahkan gemanya telah melampaui dinding stadion, negara bahkan geografis. Sepak bola sekarang ini sudah menjelma menjadi sebuah fenomena yang kompleks. Sudah menjadi ‘sebuah ritual’ kata Claude Levi Strauss, “religion global” kata Sepak Bola dan Kajian Budaya (Cultural Studies)

Sepak bola dan cultural studies merupakan dua hal yang berbeda. Sepak bola adalah olahraga permainan yang menggunakan bola dan dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sebelas orang. Dimainkan dalam lapangan yang berbentuk persegi panjang, di atas rumput selama 90 menit.

Sedangkan Kajian Budaya (Cultural Studies) adalah menyajikan bentuk kritis atas definisi budaya yang mengarah pada proses kehidupan sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir. “the complex everyday world we all encounter and through which all move” kata Edgar (1999).

Sasarannya bukan sekedar mengacu ada realitas yang tampak saja, melainkan juga mengacu pada pemahaman ’vestehen’. Di mana sesuatu yang biasa (keseharian) diungkap, diteliti, ditulis ulang dalam relasi sosial politik dan benturan kultural. Meminjam istilah dari Bennet, culture disini dapat digunakan sebagai payung istilah (umbrella term) yang merujuk pada semua aktivitas dan praktek-praktek yang menghasilkan pemahaman (sense) atau makna (meaning). Sampai pada bagian inilah perbincangan sepak bola menjadi menarik. Untuk melihat bagaimana relasi-relasi dan kajian budaya itu sampai pada sepak bola sebagai olahraga yang berkembang dan menjadi fenomena realitas. Tak terkecuali di Pontianak.

Ada beberapa point menarik terkait dengan sepak bola dan cultural studies dalam lingkup ini: Pertama, sepak bola bukan lagi sekadar olahraga permainan. Melainkan telah menjadi sebuah dunia unik yang memiliki sejarah, hukum, aturan dan budaya. Karena itu, ia sudah menjadi subyek bukan lagi sekedar obyek kajian yang bisa disentuh dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu, kajian dengan berbagai perspektif serta pendekatan. Kedua, sepak bola sebagai permainan populer dan budaya populer. Ketiga, sepak bola telah menjadi kekuatan global. Dalam bukunya How Soccer Explains the World: An UnLikely Theory of Globalization (2004), Franklin Poer salah satunya mengatakan bahwa sepak bola yang mencerminkan kekuatan global, politik dan juga budaya. Meski tak sepenuhnya mewakili kehidupan nyata, tetapi dunia secara sederhana bisa disimpulkan serupa lapangan bola.

Memahami Dunia Lewat Sepak Bola, seakan-akan, “dunia” ini memang mirip dengan lapangan sepak bola katanya. Di tengah lapangan, siapa yang tidak mematuhi hukum serta aturan, pastilah akan dikenai “sanksi”. Ada nilai, moral dan hukum yang mengikat untuk dipatuhi setiap pemain, pelatih, penggemar dan negara peserta.

Sepak bola, Bisnis dan Globalisasi
Walaupun pada ujungnya permainan sepak bola itu perihal tim mana yang paling banyak membuat gol, soal kalah dan menang. Eduardo Galeano, seorang jurnalis sepakbola pernah menyebut bahwa “football is a working class sport”. Tak berlebihan jika kemudian sepak bola sebagai olahraga populer juga merupakan salah satu bentuk budaya populer. Pengistilah “populer” mengacu pada permainan yang “produced by the people, returns to the people, like ‘folk music’, in the form of spectacles produced for the people” (Bourdieu, 1993).

Karakter di atas membuat sepakbola sebagai tontonan yang menampilkan sesuatu untuk menarik massa sebanyak-banyaknya. Pertandingan sepakbola bukan lagi sekedar hanya permainan, tetapi juga sekumpulan aspek-aspek yang menjadikannya seperti sebuah drama. Emosi penonton, pendukung tidak hanya dibangun dengan kesamaan geografis dan keterikatan asal tetapi juga faktor-faktor lain. Semisal pencitraan akan pemain, gaya bermain, sebelum-sesudah bermain, apa yang di pakai, juga cara bermain. Latar belakang pembentukkan pemain, tim, hingga filosofi bermain seolah menjadi satu kesatuan komoditas.

Sepakbola modern akhirnya erat dengan aspek-aspek politik, ekonomi, budaya yang menyertainya. Ini tak lagi terbantahkan. Mengapa demikian? Jumlah keterlibatan pihak yang begitu banyak membuat sepakbola sekarang ini tidak bisa lepas dari aspek ekonomi (baca bisnis_red). Setidaknya kita dapat melihat beberapa kriteria yang sekarang melekat di sepak bola akan hal ini. Pertama, populer; kedua, pangsa pasar yang jelas dan besar. ketiga, pertumbuhan kelas menengah yang memiliki waktu, uang, transportasi dan koneksi media; keempat, dekat dengan masyarakat yang mengikuti gaya hidup yang mengutamakan konsumsi dan simbol status materi.(Jay Coakley, 2001, Sport in Society: Issues and Controversies). Kecerdikan para pebisnis dan kemajuan teknologilah kemudian disatu sisi yang membawa sepak bola ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan meresap sampai ke Pontianak.

Mungkin benar adanya pendapat, dunia tidak akan seru jika tak ada sepak bola. Perhelatan Piala Eropa 8 juni sampai 1 juli tahun lalu dan kini semifinal Liga Champions Eropa menjadi penguatan sintesa akan hal itu. Ia hadir di hadapan kita melalui siaran TV. Dan sebagian dari kita menyaksikannya dengan penuh semangat, bareng-bareng nonton di ruang bersama, dengan atribut yang sama. Seolah kita bagian dari mereka, dengan menampilkan membagi antusias, semangat dan bahkan gaya yang sama. Mendukung tim kesayangan, menggunakan kaos, atribut tim sebagai penanda (identitas). Dukungan nonton bareng di ruang-ruang bersama selain sebagai penyaluran adrenalin menyaksikan pertandingan. Juga seolah sebagai justifikasi bahwa kita adalah juga seperti mereka. Datang ke stadion atau datang ke pub-café-warung kopi-tempat nonton bareng dengan atribut sepak bola. Untuk menjadi seperti kebanyakan warga dunia yang sedang menikmati pesta dari sebuah nama ‘SEPAK BOLA’. Sepertinya juga kita tidak harus jadi penggemar sepakbola untuk ikut pesta ini . Yang penting semangatnya.

Tulisan ini mungkin akan sedikit tidak biasa dalam konstruksi tulisan olahraga maupun sosial. Namun, setidaknya memberikan satu sisi lain bahwa sepak bola ternyata tidak hanya seputar lapangan, pemain, suporter dll. Tapi lebih jauh, bahwa ia bisa dilihat dari sudut pandang ekonomi, ras, budaya, gaya hidup (life style), nasionalisme, bahkan Filsafat. Dan empat anak muda di warung kopi dibilangan jalan gajah mada diatas semoga sebagai sebuah manifestasi identitas yang akan positif. Bahwa suatu saat kaos timnas sepakbola yang dikenakannya akan ada merah putihnya. Mudah-mudahan tidak berlebihan, jika nampaknya kita semua rindu ‘lagi’ untuk sebuah moment menggenakan kaos bola dengan lambang garuda di dada. Sambil menyaksikan timnas kita berlaga, untuk menang dan menjadi bangga. Bukan sebaliknya. Semoga’

[ahmad s dz. sewaktu aktif bermain sepak bola menempati posisi sayap/gelandang kiri. Pernah menjadi angggota PS FISIP Untan]

Check Also

CSR Bukan Sekedar Sedekah

Oleh: Ismail Ruslan Pada tulisan terdahulu, saya sudah mengdeskripsikan pentingnya Perda tentang CSR (Corporate Social …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *