Home / Jurnalisme Warga / Sepotong Kisah Delegasi Pontianak di Yogyakarta

Sepotong Kisah Delegasi Pontianak di Yogyakarta

Oleh Dina Apriana

MABMonline.org, Pontianak–Udara masih sangat dingin ketika kami tiba di Bandara Supadio Pontianak, pukul 5.30. Kami akan menembus langit Pontianak menuju Yogyakarta sebagai delegasi Universitas Tanjungpura untuk mengikuti kegiatan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) Yogyakarta. Menurut jadwal kami harus melakukan check in dua jam sebelum keberangkatan, yaitu pukul 5.00. Akan tetapi, loket check in ternyata masih belum dibuka hingga pukul 6.00. Tepat pukul 6.15 loket check in sebuah maskapai penerbangan yang kami tumpangi dibuka. Usai melakukan check in kami menuju ruang tunggu penumpang yang melalui sebuah loket dan pintu-pintu pemeriksaan.

Sebelumnya, ketika menunggu loket check in dibuka, sebuah keluarga mempercayakan kami untuk membantu ibunya selama dalam perjalanan. “Saya minta tolong ya, ibu saya baru pertama kali naik pesawat sendirian sehingga tidak terlalu mengerti.” Sang ibu mengaku selama ini ia selalu berpergian bersama suaminya. Namun, kali ini ia harus berangkat sendirian karena suaminya telah lebih dulu berangkat mengurusi pekerjaannya di Yogyakarta.

Usai menunggu keterlambatan check in selama satu jam ternyata penumpang masih harus menunggu dan memaklumi keterbatasan fasilitas yang telah dibayar mahal, delay. Penerbangan yang seharusnya dilakukan pukul 7.00 WIB terlambat selama dua jam. Mungkin kebiasaan seperti inilah yang sering menjadi bahan olokan orang ketika yang lain terlambat, “maklum Indonesia.”

Penerbangan dilakukan selama satu setengah jam dari Bandara Supadio Pontianak menuju Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Tepat pukul 10.30 kami tiba. Disambut dengan sapaan angin dan gerimis Kota Yogyakarta. Kami menuju ruang pengambilan bagasi dan penjemputan. Kami dijemput oleh dua orang panitia Gugur Gunung yang berasal dari Kamasutra (Keluarga Besar Mahasiswa Sastra) FIB UGM Yogyakarta. Uniknya penjemput tak memberitahu ciri-ciri mereka agar mudah dikenali, justru mereka menayakan ciri-ciri orang yang akan mereka jemput.

Bandara Adisutjipto Yogyakarta sangat kental dengan budaya Jawa. Memasuki ruang bandara Anda akan banyak menemukan motif batik, kerajinan khas Jawa khusuunya Yogyakarta, serta tulisan dan plang-plang di Bandara yang ditulis menggunakan huruf Jawa.

“Mbak dan Mas delegasi dari Pontianak ya?” tanya seorang perempuan yang memakai behel tersebut. “Saya Hany, selamat datang di Yogyakarta,” sambungnya setelah yakin bahwa yang disapa adalah orang yang tepat.

Pontianak-Yogyakarta, dua kota yang sungguh jauh berbeda. Kebudayaan, iklim, kondisi perkotaan, hingga sarana transportasi. Jika di Pontianak anda melihat kondisi lalu lintas yang lancar, Anda tidak akan menemukannya di Yogyakarta. Kondisi lalu lintas Yogyakarta sangat padat. Tata ruang kota di Yogyakarta pun sangat padat. Mungkin karena luas wilayah Yogyakarta berkali-kali lipat lebih sempit. Akan tetapi Anda tak perlu khawatir karena akan tetap menemukan ruang-ruang hijau di tengah kota dan fasilitas pejalan kaki yang sangat memadai. Perbedaan lain yang akan sangat jarang Anda temui di kota lain adalah becak dan delman yang beriringan dengan besi-besi bermesin di jalan raya. Sungguh mengagumkan.

Kurang lebih setengah jam kami telah tiba di sebuah hotel. Hotel yang lebih mirip seperti penginapan biasa atau wisma. Hotel Museum Batik. Dinamai begitu karena di dalam komplek hotel tersebut terdapat sebuah museum yang berisi batik. Hotel Museum Batik terbilang murah meriah. Biaya menginap satu malam dengan fasilitas kamar, yaitu empat tempat tidur, pendingin ruangan, televisi, lemari, dan kamar mandi serta sarapan dalam bentuk prasmanan hanya berkisar Rp 70.000. Akan tetapi, tak banyak yang mengetahui keberadaan hotel tersebut. Mungkin terkalahkan oleh banyaknya hotel di Kota Yogyakarta.

“Jika ada keperluan silakan menghubungi kami,” ucap Hany, gadis yang menjemput kami di Bandara seraya pamit.

Perut yang sejak pagi hanya diisi sepotong roti ternyata mulai meronta kelaparan dan tak mau diajak kompromi. Bermodal nekat karena lapar dan rasa ingin tahu tentang Yogyakarta kami yang sama sekali tak tahu-menahu jalan di Yogyakarta pergi mencari sebuah warung makan. Di sana kebutuhan untuk mengisi perut tak perlu Anda keluhkan karena harganya sangat murah.

23 November 2012

Pagi

Pagi yang cerah. Pagi pertama di Yogyakarta. Kami bersama delegasi lainnya dari Surakarta, Bandung, Solo, dan Semarang menuju bangunan utama hotel untuk sarapan bersama. Sebenarnya masih ada satu delegasi yang belum hadir, yaitu delegasi dari Bali karena masih dalam perjalanan. Usai sarapan, kami saling berkenalan antardelegasi dan panitia.

Hari ini adalah hari pertama kegiatan Gugur Gunung yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara (Kamasutra) dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) Yogyakarta . Kegiatan ini merupakan program kerja divisi Kamasutra sub-divisi Sosial Masyarakat yang berfokus pada implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi khususnya pada bidang pengabdian masyarakat melalui seni.

Pukul 9.00 kami harus berangkat menuju Auditorium FIB UGM Yogyakarta untuk mengikuti Seminar Nasional dengan tema “Akselerasi Nilai-Nilai Tradisional sebagai Penyelaras Masyarakat Global” yang khusus membahas tentang rekonstruksi pemahaman mantra sebagai media pembelajaran masyarakat. Seminar itu dihadiri oleh Suwardi Endraswara seorang penulis buku sastra yang banyak digunakan sebagai literatur sastra di berbagai universitas, para akademisi, praktisi budaya, dan peneliti.

Malam

Mendung masih menggelayuti langit Yogyakarta meski awan sudah banyak yang menjelma menjadi hujan sejak sore. Nampaknya masih banyak awan yang akan menjelmakan dirinya ke bumi.

Di temani rintik-rintik hujan yang lumayan deras rombongan delegasi yang merupakan peserta Gugur Gunung berangkat menuju Pendopo Ambarrukmo Yogyakarta untuk menyaksikan festival Tari Klasik Nusantara tepat pukul 20.00.

Pendopo Ambarrukmo merupakan bagian dari Hotel Ambarrukmo. Hotel termewah di Yogyakarta. Selain nama sebuah hotel, Ambarrukmo juga merupakan nama sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Yogyakarta. Tak hanya besar tetapi megah juga. Letaknya bersebrangan dengan Hotel Ambarrukmo.

Festival Tari Klasik Nusantara menampilkan banyak tari tradisional yang mengagumkan yang pesertanya merupakan penari-penari andal. Tarian yang ditampilkan di antaranya adalah Tari Gambyong Surakarta, Tari Oleg Tambulilingan (Bali), Tari Golek Ayun-Ayun (Yogyakarta), dan masih banyak tarian-tarian lainnya. Festival Tari Klasik Nusantara berkahir pukul 1.00 dini hari yang ditutup dengan pengumuman pemenang serta pesan dan kesan delegasi.

Para delegasi seperti tak bisa lelah, termasuk kami. Pukul satu dini hari rupanya tak menghalangi kami untuk mencicipi makanan yang disebut sebagai angkringan oleh masyarakat Yogyakarta yang juga sudah bisa Anda temui di Pontianak. Angkringan Petruk-Gareng Yogyakarta yang menjadi tempat persinggahan kami.

Angkringan merupakan makanan yang cara penyajiannya sangat khas. Semua lauknya ditusuk seperti sate, ada sosis, telur puyuh, daging ayam, jeroan, dan lain-lain. Pengunjung tinggal memilihnya sendiri dan penjual akan menghangatkannya dulu baru kemudian mengantarkannya. Juga nasi yang porsinya tidak terlalu banyak, orang biasa menyebutnya sebagai nasi kucing, yang juga memiliki berbagai campuran rasa.

24 November 2012

Pagi

Hari ini adalah hari terkahir berlangsungnya kegiatan Gugur Gunung. Seperti hari sebelumnya para delegasi menuju gedung utama hotel untuk sarapan. Usai sarapan para delegasi saling berguarau dan bercanda ria, diselingi tawa yang pecah di antara teriakan kecil suara peserta delegasi perempuan yang paling heboh, kawan sekamarku.

Pagi yang cerah. Penuh semangat. Kegiatan hari ini adalah mengunjungi Keraton Yogyakarta dan ke Pusat Oleh-Oleh Bakpia Pathok serta Malioboro.

Sepanjang perjalanan menuju keraton kami tak henti-hentinya melempar olokan yang diakhiri dengan pecahan tawa dan rajukan seorang delegasi yang menjadi “korban.” Sesampainya di wilayah keraton kami disambut dengan pemandangan menakjubkan yang membuat tangan terasa gatal untuk mengeluarkan uang dari tempatnya, berbelanja. Banyak sekali kerajinan tangan dan cendra mata. Namun, kami diimbau untuk segera memasuki keraton.

Kawasan keraton sangat luas. Di sana terdapat 63 batang pohon sawo yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun yang melambangkan usia Nabi Muhammad SAW. Selain itu terdapat dau buah patung naga di sebuah pintu gerbang yang konon apabila seseorang bisa menemukan perbedaannya maka apa  yang diinginkan bisa terwujud.

“Di sini terdapat upacara pembuatan teh setiap pukul 10.00 pagi dan sangat beruntung kalau adik-adik bisa melihatnya,” ujar seorang pemandu wisata di keraton.

Beruntungnya kami. Kami melihat iring-iringan laki-laki dan perempuan yang berpakaian khas keraton tanpa mengenakan alas kaki. Rupanya mereka adalah iring-iringan yang akan melakukan upacara pembuatan teh. Mereka memasuki sebuah gedung yang disebut sebagai dapur. Di gedung tersebut terdapat banyak peralatan dapur yang digunakan keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono dari masa ke masa.

Di gedung lain yang merupakan bagian dari keraton terdapat lukisan dan foto-foto keluarga keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono. Terdapat sebuah lukisan tiga dimensi yang dilukis oleh seorang pelukis Indonesia dan merupakan lukisan tiga dimensi pertama di dunia. Lukisan tersebut benar-benar tampak hidup. Arah bola mata dan beberapa bagian tubuhnya selalu berubah mengikuti dari arah mana kita melihatnya.

Tepat saat adzan Zuhur kami dan rombongan keluar dari wilayah keraton. Kami melakukan solat zuhur di sebuah masjid tak jauh dari keraton dan makan siang. Setelah itu kami menuju Malioboro dan Pusat Oleh-Oleh Bakpia Pathok. Kami berpencar menjadi beberapa kelompok yang dipimpin oleh soerang panitia. Rupanya ada trik yang harus dilakukan agar mendapatkan harga yang murah. Menggunakan bahasa Jawa. Kebetulan teman-teman delegasi dalam kelompok kami memang banyak yang berasal dari daerah Jawa. Akhirnya dengan bantuan mereka kami berhasil memboyong beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Pontianak.

Malam

Beruntung malam ini tak diguyur hujan seperti malam sebelumnya. Seperti yang tertera pada jadwal, malam ini kami akan menonton pertunjukan wayang kulit di Dusun Beluran, Desa Sidomoyo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Seperti sebuah pesta rakyat, kegiatan wayang kulit banyak dihadiri oleh masyarakat dusun tersebut. Kami disambut baik oleh kepala dusun. Dihidangkan makanan khas Yogyakarta, Gudeg.

Kegiatan Wayang Kulit tersebut menghadirkan Ki Mas Lurah Cermo Radya Harsono sebagai dalang dengan lakon Sekar Candra Basengkara. Kegiatan yang dilakukan semalam suntuk ini menggunakan disajikan menggunakan bahasa Jawa yang tingkatannya sangat halus sehingga para delegasi yang berasal dari Jawa pun sulit memahaminya.

Meski semalam suntuk, tetapi kami tak mengikutinya hingga selesai karena para delegasi sudah lelah. Akhirnya pukul 00.00 kami kembali pulang ke hotel. Menghabiskan malam terakhir di Yogyakarta dan bersiap untuk pulang ke tempat asal masing-masing besok pagi.

25 November 2012

Kepulangan

Pagi yang sedikit berbeda. Semua delegasi masih sibuk di kamar masing-masing. Semuanya berbenah, mengemasi barang-barang ke dalam tas dan koper masing-masing. Ketika waktu menunjukkan pukul 9.00, kami baru keluar kamar menuju gedung utama hotel. Sarapan bersama yang terakhir.

Sebelum pukul 12.00 akhirnya kami benar-benar berpencar, menuju perhentian terakhir di Yogyakarta untuk kembali pulang menuju daerah utusan masing-masing. Membawa dan meninggalkan banyak kenangan, Pontianak—Yogyakarta.

 

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *