Home / Opini / Solidaritas dan Ketahanan Hidup

Solidaritas dan Ketahanan Hidup

Oleh: Ismail Ruslan

MABMonline–Solidaritas merupakan ikatan persaudaraan yang terbentuk atas dasar kesamaan budaya, kebiasaan dan norma serta agama yang disepakati dan ditaati sebagai pedoman hidup bersama. Bagi sebagian orang, rasa kebersamaan merupakan modal sosial yang dapat mempererat solidaritas yang didasarkan pada argumentasi bahwa anggota masyarakat lebih baik melakukan kerjasama dengan anggota masyarakat lainnya, karena modal sosial tersebut dapat memecahkan masalah yang dihadapi bersama dengan lebih mudah (Gede, 2009).

Nilai-nilai yang bersumber dari keagamaan dan tradisi merupakan modal sosial yang dimiliki dan menjadi perekat dan memperkuat solidaritas, termasuk di dalam ekonomi. Solidaritas yang kokoh terbangun selalu didasarkan atas persamaan dan kesetaraan, mengutip istilah Durkheim solidaritas seperti ini disebut solidaritas mekanik yang selalu dijumpai pada masyarakat yang masih sederhana yang dinamakan masyarakat segmental.

Pada masyarakat mekanik belum terdapat pembagian kerja yang spesifik. Dengan demikian tidak terdapat saling ketergantungan antara kelompok berbeda, karena masing-masing kelompok dapat memenuhi kebutuhanya sendiri dan masing-masing kelompok pun terpisah satu dengan yang lain.

Tipe solidaritas yang didasarkan atas kepercayaan dan setiakawan ini diikat oleh apa yang oleh Durkheim dinamakan conscience collective yaitu suatu sistem kepercayaan dan perasaan yang menyebar merata pada semua anggota masyarakat. Pembagian kerja pada kelompok masyarakat dapat berkembang dari solidaritas mekanik berubah menjadi solidaritas organik (Paul, 1994). Solidaritas mekanik akan tetap ada dan  kuat terjalin diwujudkan dengan selalu mempertahankan tradisi, kepercayaan sebagai modal sosial dan kebiasaan yang hidup hingga saat ini. Misalnya, upacara adat budaya yang masih hidup pada masyarakat.

Misalnya, upacara Menyambut kelahiran anak. Upacara ini dilaksanakan oleh dalam rangka menyambut anak yang akan lahir yang dilaksanakan dalam bentuk perayaan bersama keluarga besar dari kedua orang tuanya dan mengundang tetangga dan handai tolan. Dalam masyarakat ini  perayaan dilaksanakan pada waktu usia kandungan 7 bulan yang diiringi dengan do’a selamat dari pemuka agama atau masyarakat.

Contoh lainnya, upacara memotong rambut bayi. Upacara ini dilaksanakan setelah bayi dilahirkan dengan tidak ditentukan waktunya (usia bayinya). Aktivitasnya  selalu dirangkaikan dengan aqiqah yaiatu perintah agama Islam terhadap orang tua untuk menyembelih 2 ekor kambing bagi anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan.

Upacara Khitanan. Khitanan adalah memotong kulit yang memotong kepala penis bagi anak laki-laki yang tidak dibatasi waktunya. Dalam tradisi masyarakat biasanya dilaksanakan pada rentang usia anak 10-12 tahun (sejak masuk hingga tamat Sekolah Dasar).

Perkawinan adat. Dalam perkawinan adat dikenal rumit karena banyaknya tahapan yang akan dilalui. Kerumitan itu muncul karena perkawinan dipandangan harus mendapatkan restu kedua orang tua serta harus mendapatkan pengakuan resmi dari masyarakat. Meski tidak termasuk dalam rukun pernikahan, upacara-upacara yang berhubungan dengan aspek sosial-kemasyarakatan menjadi penting karena di dalamnya juga terkandung makna bagaimana mewartakan berita perkawinan tersebut kepada khalayak ramai. Dalam adat perkawinan, rangkaian upacara perkawinan secara rinci dan tersusun rapi. Hanya saja memang ada sejumlah tradisi atau upacara yang dipraktikkan secara berbeda-beda di sejumlah daerah dalam wilayah geo-budaya (http://id.wikipedia.org, 28/6/2007).

Upacara Kematian. Peristiwa kematian adalah proses perpindahan seseorang dari alam dunia ke alam barzah (akhirat).  Wajib bagi kaum muslimin yang ditinggal untuk mengurus jenazah almarhum seperti memandikan, mengkafani, mensholatkan dan memakamkan. Setelah proses itu selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengirim do’a kepada almarhum dalam bentuk aktivitas tahlilan dalam waktu yang ditentukan 1-3, 7, 14, 40 dan 100 hari  serta 1 tahunan. Maksud dan tujuan dari upacara tahlil ini adalah memohon kepada Allah agar dapat meringankan siksaan terhadap hambanya yang baru saja meninggal khususnya, semua umat Islam umumnya.  Namun dalam masyarakat terdapat perbedaan pendapat dalam perayaan ini, ada yang menilai ini sunnah dilaksanakan dan ada juga yang melarangnya karena dinilai bid’ah (aktivitas ibadah yang tidak pernah diperintahkan oleh nabi Muhammad saw).

Dalam kontek sosial, perayaan-perayaan keagamaan yang tetap dipertahankan oleh sebagian masyarakat di nusantara termasuk di Kota Pontianak dapat dimaknai tidak hanya sebagai  ketundukan dan keinginan untuk menjalankan “tradisi Islam”.
Lebih dari itu, pengakuan dan konsistensi dalam menjalankan tradisi tersebut merupakan wujud kuatnya ikatan, kebersamaan sesama kelompok. Semakin rutin pelaksanaan tradisi di dalam masyarakat menunjukkan eksistensi dan kuatnya solidaritas di dalam masyarakat tersebut.

Praktek “budaya Islam” yang dilakukan masyarakat merupakan wujud sistem terintegrasi di masyarakat yang berkaitan dengan nilai, kepercayaan, prilaku dan artefak. Dalam perjalanan sejarah manusia, kebudayaan inilah yang membedakan antara manusia dengan komunitas yang satu dengan yang lainnya.

Kebudayaan yang masih hidup dan selalu dilestarikan tersebut menunjukkan bahwa setiap masyarakat pasti memiliki pandangan hidupnya sendiri-sendiri. Pandangan hidup adalah konsep atau cara pandang manusia yang bersifat mendasar tentang diri dan dunianya yang menjadi panduan untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna. Wallahu A’lam.

Check Also

Membaca Harus Jadi Kebutuhan Utama

Penulis Sabhan Rasyid MABMonline.org, Pontianak– Pada hakikatnya manusia diciptakan Tuhan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Pemerolehan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *