Home / Kolom / Sotong Pangkong Melayu

Sotong Pangkong Melayu

oleh: Dedy Ari Asfar

Bau sotong pangkong menyeruak saat berada di Jalan Merdeka tepatnya mulai depan Masjid Sirajul Islam. Bau itu semakin kentara apabila bergerak maju menuju Jalan Merdeka ujung. Bunyi tok… tok… tok… sahut-menyahut terdengar menggema. Bunyi dari sebuah palu yang sedang memukul atau memangkong sotong panggang. Ritme itu begitu menghentak dan menjadikan suasana malam menjadi menggeliat.

Sepanjang jalan saya melihat pemandangan yang tidak lazim dijumpai pada malam bukan bulan Ramadan. Sekitar 62 gerobak penjual sotong pangkong mangkal di sisi kiri-kanan jalan. Ada pedagang yang memanfaatkan trotoar jalan, halaman ruko, dan di atas jembatan untuk melayani para penikmat sotong pangkong.

Gerobak-gerobak berukuran satu meter saling berdekatan. Saya mencoba singgah. Tidak ada saling rebut pembeli. Masing-masing pedagang duduk menunggu pembeli menghampiri. Saya memesan satu sotong pangkong kepada seorang perempuan beranak lima. Perempuan setengah baya ini menjadi pedagang musiman di bulan Ramadan. Konon, ia adalah seorang buruh cuci. Malam bulan Ramadan membawa berkah pada perempuan penjual sotong pangkong dan juga sang suami. Suaminya juga menghasilkan uang dengan menjadi tukang parkir. Perempuan ini dapat menghasilkan uang Rp 200.000 (dua ratus ribu) dalam satu malam. Modalnya hanya satu kilo sotong yang dibeli dengan harga 150 ribu. Satu kilo dapat dihabiskan selama tiga hari.

“Beli’ yang mane Bang?”

“Berape hargenye?”

“Yang kecik 5000, ini 7000, itu 10.000, yang paling besak 15.000,” jelas sang penjual. Saya memilih harga yang paling murah, yaitu Rp 5000.

“Silelah Bang dudok,” seru perempuan penjual sotong pangkong. Sotong pun dipanggang dan dipukul-pukul dengan palu pada sebuah kayu yang dibuat mirip kursi panjang persegi empat berukuran kecil. Tidak lama, pesanan pun datang.

Saya menghirup aroma sotong pangkong bakar. Tangan saya meraih sambal cair yang ada di atas meja. Ada dua pilihan sambal cair. Jenis pertama cabai dan ebi dengan rasa agak asam-asam manis. Jenis kedua cabai dan ulekan kacang dengan rasa asam-asam pedas. Tidak puas dengan satu sotong pangkong, saya menambah pesanan. Banyak muda-mudi dan rombongan keluarga yang menikmati jajanan khas Ramadan ini. Semakin malam, semakin ramai pengunjung yang datang. Tidak hanya sotong, jagung bakar pun tersedia. Walaupun, tidak semua penjual sotong pangkong menyediakan jajanan jagung bakar.

Penelusuran saya terhadap kuliner khas Pontianak ini tidak berhenti pada satu tempat. Saya beranjak ke tempat lain. Pilihan saya jatuh pada sebuah jembatan yang dijadikan lesehan dengan meja dilengkapi gelas berpelita. Malam remang-remang menjadi romantis dengan suasana candle light. Ada dua meja kosong, saya menempati meja paling belakang sehingga bisa mengawasi pasangan muda-mudi menikmati sotong di atas jembatan yang di bawahnya mengalir air. Tempat kedua ternyata teknik sajiannya berbeda. Sotong tidak dipangkong tetapi digiling. Saya mendapatkan pembenaran dari penjual yang menggunakan alat giling ini. “Kamek tadak pakai pangkong Bang, pakai alat gileng, bumbu lebeh meresap. Alat ni belik di Malaysia, tak ade jual di sinek,” ujar sang penjual berpromosi. Saya membeli sotong dengan ukuran yang sama dengan penjual pertama tetapi harga berbeda. Ukuran yang paling kecil dijual Rp8000, ada juga yang dijual seharga Rp10.000, Rp13.000, 15.000, 20.000, dan 25.000 bergantung ukuran besar-kecilnya sotong. Persis di seberang jalan depan Masjid Sirajul Islam, sotong juga disajikan dengan teknik sotong digiling. Harga paling murah yang ditawarkan Rp 20.000.

Menikmati sotong pangkong dan/atau sotong giling merupakan pengalaman yang mengesankan. Jajanan di sepanjang Jalan Merdeka merupakan satu apresiasi masyarakat lokal membuat festival makanan jalanan ala sotong bakar dengan berbagai variasi rasa dan teknik olahan. Jajanan khas Ramadan ini menjadikan Kota Pontianak sebagai kota Sotong Pangkong Melayu yang mungkin tidak akan ditemukan pada semua kota metropolitan di seluruh Indonesia.

Check Also

Peserta dan Pengunjung FSBM X Menikmati 1001 Lungkung Kerupuk Basah

Oleh Asmirizani MABMonline.org, Putussibau–Peserta dan pengunjung FSBM X menikmati kerupuk basah sebanyak 1001 lungkung seusai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *