Home / Jurnalisme Warga / Stain Press Luncurkan “Kalbar Berimajinasi”

Stain Press Luncurkan “Kalbar Berimajinasi”

Oleh Siti Munawwarah

MABMonline.org, Pontianak — Klub menulis Stain mengadakan peluncuran sekaligus
bedah buku “Kalbar Berimajinasi” di toko buku Kharisma komplek A. Yani
Mega Mall Pontianak. Acara ini dihadiri langsung oleh beberapa sastrawan
Kalimantan Barat yang juga ikut terlibat dalam proses kreatif lahirnya “Kalbar
Berimajinasi”. Acara peluncuran sekaligus bedah buku ini disambut antusias para
penulis Kalbar dan beberapa mahasiswa yang tertarik dengan dunia kepenulisan.

Lahirnya “Kalbar Berimajinasi” berdasarkan diskusi penulis klub menulis Stain
yang ingin membuat sebuah buku yang mengangkat kontruksi ruang lokal dalam
konteks global” ujar Yusriadi. Dalam pemaparannya Yusriadi mengungkapkan
bahwa tujuan diadakannya bedah buku “Kalbar Berimajinasi” ini ialah untuk
mengangkat karya sastra di depan umum, karya sastra yang menceritakan budaya
sendiri dan kearifan lokal Kalimantan Barat.

“Kalbar Berimajinasi” merupakan kumpulan cerpen dari beberapa penulis
Kalbar baik penulis-penulis yang sudah dikenal seperti Saifun Arif Kojeh,
Pradono, Wayz Ibn Senentang, Dedy Ari Asfar dan beberapa penulis muda
lainnya. Antologi cerpen ini mengangkat tema lokalitas sebagai daya tarik
tersendiri yang mencerminkan budaya khas kehidupan para penulisnya. Khairul
Fuad mengungkapkan dalam wawancaranya bersama Nano L Basuki, bahwa
antologi ini muncul menjadi suatu bagian geliat pergerakan sastra Kalimantan Barat.

Karya sastra tidak terlepas dari imajinasi, imajinasi yang dibangun dari
intelektualitas. Walapun imajinasinya bermacam-macam tetap saja imajinasi yang
dimunculkan dalam “Kalbar Berimajinasi” merupakan imajinasi tentang alam,
budaya dan adat khas Kalimantan Barat yang dikemas menarik dalam gaya
bahasa masing-masing penulisnya.

Melihat pada proses kreatifnya “Sebagian besar proses editing dalam buku
ini tidak begitu berat kecuali untuk penulis pemula”, ungkap Yusriadi. Dalam
buku “Kalbar Berimajinasi” ini terbagi atas beberapa bagian yang dikelompokan
berdasar genre cerita yang ada yakni imaji budaya, imaji cinta, dan imaji sosial.

Pertimbangan dari pengklasifikasian cerpen dalam “Kalbar Berimajinasi” ini
sebenarnya hanya untuk membuat kemasan antologi ini menjadi menarik.
“Kurang menarik jika hanya disusun berdasarkan urutan masuk cerpennya,
sekaligus untuk memperlihatkan bahwa buku ini telah melalui proses editing”,
sambung Yusriadi.

Melihat tema yang diangkat dalam antologi cerpen ini timbul pertanyaan apa sebenarnya yang membedakan isi cerita dalam antologi cerpen ini dengan daerah lain yang memiliki karakteristik yang sama seperti budaya Melayu yang juga terdapat di daerah Riau.
Menanggapi hal tersebut Dedy Ari Asfar memaparkan bahwa “walaupun pada umumnya sama, pasti memiliki perbedaan karena kearifan lokal suatu daerah pasti memiliki perbedaan”.
Terkait pemilihan tema kenapa lokal? “Karena keorisinalan mengenai cerita bercorak lokal dan tema
lokal juga belum pernah ditulis,”, ujar Yusriadi.
Melihat perkembangan dunia kepenulisan Yusriadi menyampaikan harapannya bahwa “Saya yakin Kalbar lima tahun atau sepuluh tahun kedepan akan mengalami loncatan dalam dunia kepenulisan”. Sepertinya harapan ini tidak berlebihan melihat faktanya bahwa banyak penulis-penulis muda Kalbar yang berpotensi menjadi penulis besar.

Melihat antusias pengunjung, Yusriadi selaku editor dalam klub menulis Stain menantang pengunjung untuk membuat cerpen dengan tema lokal yang sama sehingga tibul wacana “Kalbar Berimajinasi Jilid 2”.
Akan tetapi hal tersebut bukan hanya rencana, Yusriadi langsung mendeklarasikan bahwa “Kalbar Berimajinasi Jilid 2″ akan dirilis dengan mengundang lebih banyak penulis-penulis muda yang berminat. Tenggat waktu pengumpulan cerpen melalui email sampai akhir Mei, sambung Yusriadi pada
pengunjung acara bedah buku tersebut.

Melihat acara yang berjalan cukup sukses, Marsita selaku anggota klub
menulis Stain mengaku cukup senang. Menurutnya, dalam dunia menulis yang
penting adalah berlatih dan displin menulis. “Beranilah untuk menulis, jangan
bicara kualitas, kualitas akan datang dengan sendirinya”, ujar mahasiswa jurusan
tarbiyah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri ini.

Sependapat dengan pernyataan ini, penulis sekaligus dosen Dedy Ari Asfar mengungkapkan bahwa
“berkarya bukan masalah dipasarkan atau tidak, berkarya yang penting memiliki manfaat atau ma’rifat untuk orang banyak”. Sastrawan sekaligus seniman Kalbar Pradono mengatakan bahwa dalam kepenulisan yang penting adalah ekstensi dalam menulis, jangan bermimpi macam-macam jika belum memulai. Menurut Pradono menulis itu tentang rasa, yang diungkapkan adalah rasa segala sesuatunya tentang rasa. Terkait inspirasi, “apa saja bisa jadi inspirasi, kita bisa menulis saat inspirasi itu datang, tulislah di mana saja di kertas, hp, atau gadget canggih lainnya semuanya bisa dimanfaatkan”, sambung Pradono saat diwawancarai setelah usai acara.

Check Also

Asal Mula Nama Teluk Keramat

Oleh Roslina MABMonline.org, Sambas — Teluk Keramat adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Sambas. Kecamatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *