Home / Jurnalisme Warga / Syair Masa Muda dan Masa Tuaku

Syair Masa Muda dan Masa Tuaku

Oleh Jumiatin Asri Rahmadhanti

MABMonline.org, Pontianak — Aku seorang lelaki penyiar radio dangdut yang cukup terkenal di Pontianak. Tubuhku sudah renta, perwatakanku menunjukkan umur yang tak muda. Umurku sekitar 82 tahun, tapi semangatku dalam bersyair tak pernah padam dan kutunjukkan dengan prestasi dan pengelamanku saat bersyair.

Suatu siang ada empat wanita menghampiriku. Empat orang wanita ini adalah mahasiswa di Universitas terkemuka di Kota Pontianak. Mahasiswa tersebut dari FKIP jurusan Bahasa dan sastra Indonesia. Kedatangan mereka dengan maksud untuk mewawancaraiku tentang syair. Aku sangat antusias menyambut kedatangan mereka. Keempat wanita ini memanggilku dengan sebutan Abah Meng.

“Abah, pandai bersyair diajarkan oleh orang tua atau belajar sendiri?” tanya seorang wanita berkerudung hijau.
“Saya belajar sendiri” ujarku. Aku pun melanjutkan cerita.
Untuk mengenang zaman dulu adat istiadat Melayu syair dan pantun digunakan untuk adat perkawinan, pertemuan pimpinan, acara-acara istimewa. Pantun dan syair diperdengarkan pada zaman dulu. Bukan itu saja untuk menidurkan anak pun orang tua zaman dulu menggunakan syair. Aku pun bercerita bahwa dalam menciptakan syair hasil karyaku sendiri.
“Bah, dulu syair ditulis pakai huruf apa?” tanya wanita berkerudung hijau.
“Dulu syair ditulis menggunakan huruf Arab, dari zaman Rasulullah syair itu sudah ada atau sudah tercipta” ujarku.
Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kedua orang wanita itu pun memandang handphoneku yang berbunyi. Kemudian aku mematikan telepon yang berbunyi tadi dan aku melanjutkan cerita yang sempat terputus tadi. Aku pun tak sungkan untuk mengeluarkan unek-unek ku untuk jiwa muda.
“Saya harapkan supaya syair-syair ini seluruh anak di Indonesia bisa tahu apa itu syair atau macam-macam syair”.
Aku pun mulai bersyair, syair Siti Zubaidah
“Dengan Bismillah……… Ibunda ucapkan…….”
Tiba-tiba tubuhku merinding, bulu kuduk ku berdiri ketika membacakan syair.
“Kok merinding Bah?” tanya seorang wanita berkerudung volkadot.
“Kalau masuk ke dalam Syehnya syair orang tidak bisa ngomong” ujarku yang hampir meneteskan air mata.
Dan ternyata keempat orang wanita tersebut pun merasakan hal yang sama.
“Sekarang saya sedang mencari orang-orang yang ingin bersyair. Di tempat saya bekerja menyiapkan wadah untuk bersyair tiap malam Jumat” ujarku.
Aku pun tak sungkan menunjukkan cucuku yang pandai beryair. Betapa bangganya aku menjadi seorang kakek. Cucuku bertanding di Yogjakarta  dan menjadi juara. Ternyata ada juga keturunanku yang mewarisi bakat syairku, bahkan dapat menjadi juara.
Kemudian aku membawa keempat orang wanita tersebut ke dalam ruang kerjaku. Aku dan istriku menunjukkan foto-foto yang ada dinding. Aku dan istri pun bercerita tentang foto-foto tersebut. Ada foto sama sultan, berlomba pantun, foto sama walikota dan gambar silsilah keluarga sultan.
Kami pun kembali ke ruang tengah. Aku pun mulai berpantun.
Buah kurma si buah durian
Ikan patin dimasak semur
Kami semue doekan
Semoge pengantin panjang umur
“Pantun digunakan orang Sambas ketika perkawinan pihak laki-lai datang ke pihak perempuan. Sebelum masuk ke rumah pantun dulu” tegasku.
Ketika aku ingin melajutkan cerita pantun. Ada seorang anak Cina yang menganggu wawancara kami. Anak Cina itu adalah tetanggaku. Anak Cina tersebut gila dan menganggu proses wawancara. Aku pun berkata dalam bahasa Cina untuk tidak mengganggu kami dan mengusir anak Cina tersebut.
Aku pun menunjukan kertas dan buku syair dan pantun hasil tulisanku dengan berbagai macam tema. Aku pun memberikan empat buah syair kepada mereka. Tak hanya itu saja, aku juga menunjukan video ketika teman-temanku beryair dalam suatu acara yang diselenggarakan oleh kantorku.
Kemudian adik iparku ku suruh untuk bersyair di depan keempat orang wanita tersebut. Adik iparku pun mulai melantunkan syair ciptaanku yaitu syair cakap Pontianak. Dengan lantunan yang indah sperti orang mengaji itulah syair. Kempat wanita tersebut pun tidak lupa menanyakan arti yang tulisan syairku.
Aku sangat senang bisa memperkenalkan syair dengan kaum muda. Aku ingin syair selalu dilestarikan. Syair adalah bagian kehidupanku, masa muda hingga masa tuaku selalu beryair.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *