OSO: Saatnya Umat Islam Bangkit!

Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Takbir tiga kali lantang keluar dari mulut H. Oesman Sapta Odang, tokoh asal Kalbar yang juga wakil ketua MPR RI. Berulang kali ia menegaskan kata “sinyal” dalam tuturan kalimatnya. Meski tak secara eksplisit, tapi ia berkali-kali mengingatkan agar Melayu bangkit. Umat Islam bangkit. Menjadi pemimpin di tengah masyarakat, seperti yang dicontohkan baginda Rasulullah Muhammad. “Asal bukan menjadi hantu bangkit,” OSO mengingatkan.

Pada puncak acara, Usman Boceng, sapaan karib OSO membakar semangat ormas Islam dan paguyuban masyarakat se-Kalbar untuk bersatu. Acara Halal Bi Halal pun tak ayal menjadi ajang kerinduan hadirnya tokoh umat yang mampu menjadi perekat dan penyatu.

suasana-halal bi halal-rumah melayu

Acara halal bi halal dimulai pukul 7 lewat, Jum’at (05/08). Usai salat Isya, Rumah Melayu perlahan dipenuhi ratusan tamu undangan. Sambil makan malam, hadirin disuguhi musik gambus yang rancak mendera telinga.

Satu persatu tokoh melangkah menuju kursi yang telah disiapkan. Tampak hadir Walikota Pontianak, Bupati Sambas-Kubu Raya-Kayong Utara-Mempawah, Anggota DPR, DPD RI dan DPRD Kota, juga jajaran muspida Kalbar.

Setelah pembacaan ayat suci Al quran, perwakilan paguyuban se-Kalbar tampil menyampaikan orasinya di depan khalayak. Hampir senada, semuanya menyuarakan perlunya tokoh Islam hadir untuk memperbaiki Kalimantan Barat. Dari Rusliansyah Tolove, M. Yusuf, Habib Iskandar hingga Pabali Musa mengungkapkan keresahannya akan kondisi Kalbar. Mereka rindu hadirnya pemimpin pemersatu umat.

Halal Bi Halal-OSO-MABM

Menginjak pukul 10 malam, acara pun usai. Para tokoh masyarakat maju ke depan guna jabat tangan ber-halal bi halal dengan tamu undangan perwakilan paguyuban se-Kalbar.

Halal bi halal ini seolah memberi sinyal, agar kelak hadir di Kalimantan Barat pemimpin yang mampu menyejahterakan seluruh masyarakat Kalbar, tanpa memandang etnis-suku-agama apa pun. Menjadi Rahmatan lil Alamin. Aamiin.

Jembatan Tayan, Primadona Wisata Anyar Kalimantan Barat

Oleh Okta Herningsih

selfie di jembatan TayanSejak dibangunnya Jembatan Tayan yang berada di Desa Pulau Tayan, lokasi tersebut berubah menjadi primadona wisata bagi warga setempat. Jembatan ini hampir setiap sore hari menjadi pusat keramaian, terutama di akhir pekan.

Beberapa waktu lalu saat liburan akhir tahun, saya dan teman-teman mudik ke Kecamatan Tayan Hilir dan mengunjungi jembatan yang kini tengah menjadi primadona masyarakat Kalimantan Barat, ikon yang menjadi kebanggaan bagi kami sebagai warga setempat. “Kita patut bangga sebagai warga asli Tayan memiliki ikon yang menjadi primadona masyarakat Kalimantan Barat yang megah nan cantik, selain itu perekonomian masyarakat setempat juga meningkat,” ujar Mila, salah satu pengunjung Jembatan Kapuas Tayan.

Sabtu sore kami berjalan-jalan menelusuri jembatan Tayan untuk sekedar menghabiskan waktu luang dan bersantai. Tak hanya berkunjung biasa, kami menyempatkan diri untuk berselfie-ria dengan latar Jembatan Tayan. Berbagai macam gaya kami ekspresikan di tengah keramaian.

Matahari terbenam adalah saat yang kami tunggu demi melihat pemandangan sunset dari atas jembatan yang tiada duanya. Sungguh indah ciptaan Tuhan membuat kami lupa akan waktu, awanpun berubah kelabu dan semakin gelap, waktunya kami untuk pulang ke rumah.

Masih belum puas, keesokan paginya kami kembali mengunjungi Jembatan Tayan untuk jogging, tak hanya berolahraga kami menyempatkan diri untuk bermain skateboard dan berfoto. Di pagi minggu Jembatan Tayan merupakan tempat pilihan warga setempat untuk berolahraga sambil menikmati keindahan jembatan dan mengabadikan momen bersama sahabat maupun keluarga.

Puncaknya, saat malam akhir tahun 2015, jembatan Tayan dipenuhi oleh warga setempat maupun luar Tayan untuk menyambut tahun baru bersama keluarga dan teman-teman, keindahan jembatan tampak dari berbagai sisi, dihiasi dengan lampu-lampu indah pada malam hari, dilengkapi dengan lampion yang diterbangkan serta kembang api yang tampak indah tepat di atas jembatan, tak mau kalah selesai makan-makan di rumah bersama keluarga dan teman-teman, kami segera meluncur menuju Jembatan Tayan untuk menyaksikan momen itu, betapa indahnya malam itu tepat pukul 00.00 WIB Jembatan Kapuas Tayan memancarkan pesonanya dengan lampu-lampu nan indah, lampion dan kembang api yang memberikan warna di awan gelap, membuat semua mata tertuju pada keindahan itu.

Tak bisa dipungkiri lagi jembatan terpanjang di Kalimantan ini memang memiliki daya tarik di kalangan masyarakat. Terbukti sejak beberapa bulan terakhir ribuan masyarakat yang berkunjung ke tempat itu. Jembatan Tayan yang kini menjadi ikon masyarakat Kalimantan Barat memang sudah lama dinantikan, jadi wajar jika masyarakat mengungkapkan kegembiraannya dengan cara mengunjunginya langsung meskipun harus menempuh perjalanan cukup jauh. Setidaknya bagi masyarakat luar Tayan mereka memiliki kenang-kenangan pernah mengunjungi jembatan tersebut secara langsung bukan hanya melihat gambar atau dengar cerita saja.

Jembatan Tayan adalah jembatan yang melintang di atas Sungai Kapuas, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.  Jembatan Tayan terbagi dalam dua bentangan. Bentangan pertama jembatan dari arah Kota Tayan menuju Pulau Tayan. Sedangkan bentangan kedua adalah jembatan dari arah Pulau Tayan menuju Desa Piasak.

Jembatan ini menjadi bagian dari Jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Kalimantan dan terpanjang kedua di Indonesia setelah jembatan Suramadu di Provinsi Jawa Timur.

Pesona Jembatan Kapuas Tayan ternyata tidak hanya menarik perhatian warga setempat, masyarakat luar Tayan juga terpikat dengan kecantikan jembatan yang memiliki panjang mencapai 1.440 meter.

Jadi, bagi anda yang belum pernah menikmati keindahan itu, pergilah ke Jembatan Kapuas Tayan untuk memanjakan mata melihat pesona jembatan sekaligus refreshing. Tidak hanya melihat keindahan dari atas jembatan, anda juga dapat mencarter speedboat yang berada di bawah jembatan dengan tarif 20 ribu/orang untuk mengelilingi Desa Pulau Tayan melihat keindahan jembatan dari sungai kapuas, selain itu anda juga dapat beristirahat di warung-warung bagian bawah jembatan sebelah kanan untuk minum maupun makan sekaligus menikmati pemandangan dari tepian sungai Kapuas.

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar

Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai Perancang Gambar Elang Rajawali Garuda Pancasila dilaksanakan di gedung DPR RI, diisi oleh tiga narasumber. Pertama pakar hukum pidana Prof Dr Andi Hamzah menjawab perihal tuduhan makar (APRA/Westerling) kepada Hamid, kedua peneliti sejarah hukum lambang negara Turiman Faturrachman Nur, SH, M.Hum mengulas sejarah panjang disahkannya Garuda Pancasila, dan ketiga Direktur Rumah Garuda Jogjakarta yang juga akademisi ISI: Nanang Rokhmad Hidayat, S.Si menguliti respon masyarakat Indonesia kepada Garuda Pancasila yang “tidak standar”.

seminar Sultan Hamid-sang perancang lambang negara
Pembicara pertama, guru besar dari Universitas Indonesia Prof. Andi Hamzah,  mengurai isi dakwaan kepada Hamid dengan ulasan pasal per pasal di mana kesimpulan beliau sebagai mantan jaksa bahwa semestinya putusan pada Hamid adalah bebas murni karena tidak terbukti makar! Hamid tidak terbukti menggerakkan pasukan, memberikan perlengkapan dst. Locus delicti Hamid juga sedang berada di Kota Pontianak bersama Muhammad Hatta. Prof Andi Hamzah juga menyarankan agar ahli waris melakukan Peninjauan Kembali alias PK kepada negara. Bukan untuk kepentingan Hamid karena beliau sudah meninggal dunia, namun untuk generasi muda Indonesia di hadapan hukum. Bahwa seseorang dihukum akibat perbuatannya, bukan pengadilan politik (politisasi) atau kriminalisasi sehingga terjadi penguburan masa depan seseorang. Pelurusan sejarah itu penting bagi masa depan Indonesia dalam berhukum.

Turiman Faturrachman Nur sebelum menyajikan makalahnya menampilkan film dokumenter Departemen Luar Negeri melalui Museum Konferensi Asia Afrika berdurasi 12 menit di hadapan 100 orang lebih peserta seminar. Di sana tampak peran Sultan Hamid II dalam merancang Lambang Negara dan diakui negara secara de-facto–hanya belum secara de-jure.

Turiman mendapat banyak applaus hadirin karena semangatnya. Salah satu applaus itu muncul ketika suaranya tercekat, “Mohon maaf saya gugup karena di sini bicara prihal pelurusan sejarah Lambang Negara namun di saat yang sama istri saya terbaring di rumah sakit. Namun begitulah perjuangan,” ungkapnya.

Nanang Hidayat dengan ulasan gaya “seniman” mengoreksi DPR/MPR. Bahwa sejak pertama masuk ke Senayan dia mendapati tiga “spesies” Garuda. Ada yang bahunya kotak, ada yang mengembang bagaikan ingin memeluk pahlawan revolusi di Lubang Buaya, dan ada yang standar. “Ini di rumah wakil rakyat, apalagi di tengah masyarakat! Ada ratusan spesies Garuda di tengah masyarakat kita. Kenapa? Karena lembaran negara tidak disebar sehingga orang tahu standar yang benar. Saya memotret hampir di setiap RT DIY ada Garuda yang kurus, gendut, bahkan loyo,” ujarnya disambut gelak tawa hadirin. Hal itu lanjutnya akibat Garuda Pancasila dikaburkan standarisasinya dalam struktur hukum tata negara. Padahal sebenarnya yang standar sudah ada tertuang di dalam lembaran negara ketika rancangan Hamid ditetapkan sebagai Lambang Negara oleh Presiden Soekarno. Yakni PP No 66. Akibat tak ada pakem standar, tak ayal sampai kini meruyaklah persoalan seperti Garuda Merah, kaos bola, bahkan sampai ke Zaskia Gotik maupun Teten Masduki.

Baca Juga: [PETISI] Perancang Lambang Negara Sultan Hamid II Sebagai Pahlawan Nasional

Seminar dilengkapi dengan testimoni peneliti perihal tuduhan pidana (Makar) kepada Hamid melalui Ketua Yayasan Sultan Hamid, Anshari Dimyati, SH, MH. Dia mengurai kronologi meluruskan sejarah siapa yang merancang gambar Garuda Pancasila, yakni dimulai pada penemuan disposisi Soekarno oleh tim reporter Mimbar Untan (1994), kemudian diteliti melalui tesis Turiman di UI, berlanjut ke seminar nasional bersama Ketua DPR RI Akbar Tandjung, pembuktian Hamid bebas dari tuduhan pidana melalui tesis Anshari Dimyati di bawah bimbingan Prof Andi Hamzah juga di UI, pameran Lambang Negara di Istana Negara dan berbagai daerah di Indonesia, peluncuran buku Biografi Politik Sultan Hamid II, serta akhirnya diterima Mensos Khofifah Indar Parawansa Jumat (15/4), di mana Khofifah setuju agar Sultan Hamid diusulkan sebagai PAHLAWAN NASIONAL karena jasa-jasanya yang luar biasa. Selain merancang lambang negara juga pengakuan kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. “Jika Hamid sebagai Ketua BFO tidak setuju dibentuknya RIS, maka pengakuan kedaulatan RI tak akan diperoleh,” tegasnya juga disambut tepuk riuh peserta. Hamid juga menjadi saksi saat Soekarno dilantik sebagai Presiden RIS di Keraton Sitinggil-Jogjakarta. Begitu nasionalismenya Hamid sehingga tidak perlu diragukan. Ia menjemput Soekarno dari penjara untuk kedaulatan Indonesia. Bahkan, traktat PBB membuktikan bahwa Daerah Istimewa Kalimantan Barat adalah entitas yang termuda bergabung ke NKRI. Di mana sebelumnya DIKB adalah negara merdeka yang setara dengan Negara Republik Indonesia sehingga dalam nomenklatur Perda di Kalbar semua berujung tahun termuda, yakni 1957. Jadi, Hamid membuktikan dirinya sangat nasionalis walaupun idenya memakmurkan Indonesia lewat pendekatan federalis. “Namun ide federalisme itu telah diserap lewat otonomi daerah era reformasi. Ini tanda bahwa pikiran Hamid sudah jauh melangkah ke depan melebihi zamannya. Ia diplomat cerdas dan menguasai 9 bahasa internasional,” tegas Turiman.

Selama seminar ada dua sesi dialog. Wakil rakyat dari DPR Fraksi Golkar, Ir Zulfadhli angkat bicara. Dia setuju Sultan Hamid dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dan sebagai anggota Komisi yang berhubungan dengan bidang pendidikan dia akan turut mengawal. Ia juga mengusulkan agar MPR RI melakukan seminar besar soal Lambang Negara agar menjadi daya dorong kuat penetapan Hamid sebagai Pahlawan Nasional dan tertuang dalam revisi UU No 24 Tahun 2009 soal Bahasa, Bendera dan Lambang Negara. “UU No 24 sebagai turunan dari amandemen UUD 1945 memang belum matang karena saat itu DPR kejar tayang menjelang akhir masa jabatan. Saya saat itu belum menjadi anggota di Senayan namun saya cari tahu, kalau penyebabnya adalah kejar tayang. Sebab adalah lebih baik diundangkan lebih dahulu sembari mematangkan yang belum sempurna. Toh di dalam UU tersebut juga banyak nilai-nilai utama dan positif.” Zulfadhli juga setuju agar ahli waris melakukan PK sebagaimana saran Prof Andi Hamzah. Ia menunjuk, “Mumpung saksi sejarah masih ada seperti Max Jusuf Alkadrie.” Yang ditunjuk pun manggut-manggut. Namun di Kalbar ada tokoh Dayak yang juga saksi sejarah serta masih hidup yakni Baroamas Djabang Balunus Massuka Djanting. Massuka Djanting bahkan ikut rapat di Hotel Des Indes ketika Lambang Garuda Pancasila sedang digambar/dirumuskan oleh Sultan Hamid sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio.

Sejumlah wakil rakyat dari Kalbar juga angkat bicara seperti Luthfi A Hadi, Firdaus Zar’in, senator Nurbaeti serta Dekan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Dr Hasyim Azizurrahman Alkadrie. Semua memberikan apresiasi dan kontribusi agar sejarah yang bengkok mesti diluruskan.

Acara seminar dibuka Sekretaris Fraksi Nasdem DPR RI, H Abdullah Alkadrie, SH, MH pada pukul 13.30 dan berakhir pada pukul 16.30 WIB. Saya yang turut mendengarkan seminar yakin, hakkul yakin, bahwa kebenaran pasti akan terungkap–sebab alam memang diciptakan Tuhan dengan sifat arif dan bijak. Apalagi coverage media nasional juga cukup paten. Selain ekspose detik.com, juga ada Metro-TV, Kompas, Jawa Pos dll…dan tentu viral Sosial Media. Selamat Hari Kartini… Habis gelap–terbitlah terang. Sejarah yang gelap pun jadi terang benderang…

Kashmir: Karakter Bangsa Harus Ditanamkan

Oleh Mariyadi

Sambutan Ketua Harian MABMKB  (Foto Gusti Iwan)
Sambutan Ketua Harian MABMKB
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontianak—
“Karakter bangsa bukan nasib, bukan takdir, bukan sesuatu yang tersedia dengan sendirinya.” Demikian ungkap Kashmir Bafiroes selaku Ketua Harian MABM KB dalam kata sambutannya pada pembukaan Malam Budaya yang diadakan Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABM KB) dengan difasilitasi Ditjen Nilai Sejarah dan Budaya-Pusat Pengembangan SDM Kemendikbud RI, di Rumah Adat Melayu, Jumat malam (6/12),

Menurut Kashmir, karakter bangsa harus ditanamkan di dalam diri anak bangsa. Ia adalah ikhtiar, tugas yang harus dijalankan bersama oleh seluruh elemen bangsa. Beliau juga mengatakan karakter bangsa harus diinternalisasi, dibangun dan dibentuk di dalam diri anak bangsa terutama nilai-nilai budaya.

Kashmir mengatakan, acara malam ini sesuai dengan visi dan misi MABM KB  untuk terus menggali, melestarikan dan mengembangkan budaya Melayu yang belakangan ini mulai tergerus oleh era modernisasi. “Seperti yang kita tahu masyarakat saat ini sepertinya kehilangan jati diri dan lupa dengan budaya bangsanya,” pungkas Kashmir.

Kashmir juga mengatakan bahwa dalam kesempatan yang berbahagia ini, MABM KB mengajak mulai dari sekarang dan untuk kita semua, mari kita junjung tinggi budaya kita, budaya Melayu, cintai dan hargai budaya kita.

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

oleh Dedy Ari Asfar

ingat-ingat kau lalu-lalang
berlekas-lekas jangankan amang
Suluh Muhammad yugia kau pasang
supaya salim jalanmu datang

(Hamzah Fansuri)

Kita mafhum bahwa pembawa ajaran Islam tentunya orang luar (seperti Arab, Persia). Dakwah Islam oleh pendakwah tersebut tentu disampaikan secara lisan. Bahkan, ajaran tersebut diperkuat dengan unsur-unsur magis. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (lihat Samad Ahmad 1986:54—57; Parnickel 1995:39).

Pedagang Arab dan Persia membawa Islam dan memengaruhi masyarakat dan kerajaan tempatan untuk memeluk agama Islam. Situasi ini kemudian berkembang dengan menjadikan kerajaan Islam sebagai salah satu institusi resmi yang memainkan peranan penting dan strategis dalam menyebarkan teologi dan filosofi Islam di kawasan pesisir Nusantara. Oleh karena itu, Islam diidentikkan dengan pesisir dan kesultanan Melayu. Hal ini pula yang menyebabkan ramai orang di pantai pesisir Nusantara masuk Islam dengan cepat.

Dalam perspektif barat, Islam menjadi diminati oleh masyarakat di kawasan Nusantara ini disebabkan oleh faktor batiniah dan duniawi. Secara batiniah Islam dapat diterima karena Islam tidak mengenal kasta dan kelas sosial yang sebelumnya dianut masyarakat Nusantara melalui agama Hindu dan Budha sehingga banyak terjadi ketimpangan sosial dan menjadi jurang pemisah karena pengaruh agama sebelumnya (lihat Parnickel 1995:36).

Secara duniawi, orang yang masuk Islam mendapat kemudahan karena jaringan perdagangan Nusantara dibanjiri para pedagang Islam. Orang yang masuk Islam dengan sendirinya menjadi anggota umat Islam internasional dan mendapat bantuan dari saudara seagama dalam pelayaran dan perdagangan di mana-mana. Begitu juga dengan sebuah kerajaan yang konversi kepada Islam akan dikunjungi oleh saudagar-saudagar Islam. Bahkan, raja dari kerajaan tersebut dianggap setaraf dengan raja-raja lain dari dunia Islam, seperti Sultan Mughal dari India Utara atau Sultan Rom yang makin hebat pengaruhnya di Timur Dekat, Mesir, dan Eropa Timur (lihat Parnickel 1995:36). Selain itu, hal ini mungkin terjadi karena hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan Laut Merah, dan polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya (lihat Reid 1999:91).

Pandangan tentang Islamisasi perspektif barat ini dibantah oleh Syed Naguib Al-Attas (1972) menurutnya pandangan barat tersebut hanya kesan/faktor ‘luar’ sejarah. Padahal, yang penting dalam menafsirkan sejarah Islamisasi di Kepulauan Nusantara lebih sahih dengan melihat kesan/faktor ‘dalam’ sejarah, yaitu melalui bahasa dan sastra masyarakat Melayu.

Meluasnya pengaruh ajaran Islam oleh para pendakwah Arab kepada masyarakat disebabkan karena para pendakwah memanfaatkan bahasa Melayu sebagai lingua franca dan bahasa dakwah di Kepulauan Nusantara ini. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar utama Islam di seluruh Kepulauan Nusantara sehingga pada abad keenam belas bahasa Melayu telah berjaya menjadi bahasa sastra dan agama yang luhur dan sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang ini (lihat Syed Naguib Al-Attas 1972:41—42; bandingkan Collins 1998). Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar karena dianggap sesuai dan mampu menjelaskan konsep-konsep Islam dengan jelas dan mudah dibandingkan dengan bahasa Jawa.[1]

Bahasa Melayu melahirkan karya cipta sastra dakwah untuk masyarakat Nusantara. Hal ini memudahkan dalam menyebarkan dan mengenalkan khazanah kesusastraan dunia Islam di alam Nusantara. Misalnya, seni sastra Melayu lama tersebar dalam bentuk kitab dan hikayat. Sastra kitab memaparkan soal-soal ilmu kalam, fikih, dan tasawuf Nusantara yang rata-rata gubahan dari bahasa Arab dan Persia.

Sastra hikayat berupa gubahan dari cerita-cerita Islam berkenaan dengan nabi Muhammad saw. dan keluarganya, hikayat pahlawan-pahlawan Islam, dan sebagainya (bandingkan Syed Naguib Al-Attas 1969). Dua bentuk sastra ini disebarkan secara tulisan dan lisan. Bahkan, para pendakwah banyak menyampaikannya dengan cara lisan. Namun, secara pasti dapat dikatakan bahwa sastra kitab dan hikayat memainkan peran penting dalam proses membumikan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Kedua genre sastra ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyempurnakan manusia melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam teks tersebut (lihat Braginsky 1994a,b).  Selanjutnya …

Biografi Harmi Cahyani, Penulis Muda Kalbar

Oleh Hesti Amanda

MABMonline.org, Pontianak — Harmi Cahyani, penulis muda yang berasal dari Kalimantan Barat. Ia lahir pada tanggal 1 Mei 1985 di Pontianak dari pasangan Drs. H. Asbani A. Rahman dan Hj. Junaidah MS.  Masa kecilnya ia habiskan di Pontianak. Ia hanya memiliki satu abang semata wayang bernama Fery Kurniadi, ST, M.Sc.
Harmi yang kerap dipanggil dengan panggilan Mimi ini menyenangi dunia tulis menulis sejak usia belia. Semua berawal saat ia berusia 8 tahun. Sang Ayah berlangganan majalah BOBO, salah satu majalah anak-anak yang sangat digemari di Indonesia. Dalam waktu 20 menit saja, satu majalah itu habis ia lalap dalam sekali duduk. Dari membaca majalah BOBO lah Mimi mengenal apa itu cerpen, cerbung, cergam dan lainnya. Iapun jadi senang membaca dan berimajinasi. Masa itu ia sangat menyenangi tulisan-tulisan Widya Suwarna dan Kemala P.

“Widya Suwarna dan Kemala P itu, punya sense unik dalam membangun imajinasi indera kita. Mereka pandai menceritakan kisah sehari-hari dengan dibubuhi keindahan-keindahan deskripsi. Misalnya jika menceritakan tokoh cerita yang sedang membeli sabun colek, minum es sirup, kepedesan saat makan rujak di siang bolong, dan sebagainya. Sungguh sedap untuk dibaca anak-anak. Belum lagi pesan moralnya sangat mudah dipahami oleh pembaca-pembaca seusia kami pada masa itu” papar Mimi.
Dimulai dari kecintaan membaca, Mimi kecil juga senang “membongkar” buku-buku bekas milik sepupunya. Ia senang sekali bisa menemukan majalah Ananda dan kisah-kisah rakyat dari koleksi buku milik sepupunya itu. Melihat kecintaan sang putri terhadap bacaan, sang ayah yang pada masa itu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendidikan dan kebudayaan, seringkali membawanya ke perpustakaan kantor dan membiarkannya memilih dan membaca buku-buku yang ada. Sebagian adalah buku-buku sastra. Salah satu yang paling sering ia baca adalah karya-karya sastra angkatan Balai Pustaka.
“Saya ingat dulu, waktu berkunjung ke rumah sepupu. Saya bongkar kardus bukunya. Ada buku yang udah lecek dan bertaburan rayap. Tetap saya baca. Padahal baunya itu lho, apek banget….” kenang Mimi.
Beranjak dari senang membaca, Mimi mulai mencoba untuk menulis. Sejak kelas 3 SD ia paling senang pelajaran mengarang dan menulis. Dan ia pun sering mendapat nilai yang bagus dari guru Bahasa Indonesianya.

Pada masa itu pulalah ia mulai menulis diary. Diary warna-warni yang ia beli dari uang jajannya itu, rutin ia isi setiap harinya. Isinya masih seputar tentang kronologi saat bangun pagi dan kejadian-kejadian di sekolah. Semuanya ia tulis dengan rapi dan dengan ragam bentuk tulisan yang berbeda-beda. Kebetulan Mimi memiliki kemampuan meniru bentuk tulisan orang lain. Sehingga setiap diary yang ia miliki, tertera beragam bentuk tulisan dengan bentuk yang berlainan.
“Saya itu suka niru tulisan orang. Yang bentuknya rangkai, lurus, bulat, besar. Semuanya saya coba ikuti. Makanya di diary saya, bentuk tulisan saya beragam” kata penggemar bakso ini sambil tertawa mengingat kebiasaan anehnya dulu.

Selain berisi kejadian harian, Diary yang Mimi miliki juga berisi tentang sinopsis film yang baru ia tonton. Dan sebagian besar adalah film action yang dibintangi oleh Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Jean Claude van Damme. Masa itu memang TV swasta di Indonesia sedang booming-nya menayangkan film 3 tokoh action ini. Dan dengan cukup detail (untuk anak seusianya), Mimi menuliskan kembali jalan cerita dari tiap-tiap film yang ia tonton dalam bentuk sebuah sinopsis.

“Kalau habis nonton film laga, saya langsung buka diary dan menuliskannya. Itu film biasanya selesai pukul 10 malam. Saya pun asyik di kamar menulis sampai berlembar-lembar jalan cerita dari film itu. Jika tidak selesai, akan saya lanjutkan besok.  Saya menuliskannya dengan cukup detail. Padahal masih kelas 4 SD masa itu” paparnya panjang lebar.

Seringkali ia juga menulis cerpen dengan tokoh anak-anak. Tapi ternyata seringkali terjadi tiap cerita tak selesai, karena ia sering kehilangan ide untuk menemukan ending dari ceritanya.
“Sudah setengah cerita. Akhirnya kandas karena ngga nemu ending. Itu writing block saya pada masa itu” tawanya mengenang masa kecilnya.

Memasuki Usia SMP, Mimi mulai menyukai bacaan-bacaan remaja. Dan ia sangat menyukai novel ber-genre horror. Buku-buku karya R.L Stine menjadi bagian dari bacaan yang kerap ia lalap pada masa itu. Goosebumps dan Fear Street menjadi bacaan yang paling ia cari. Buku-buku tersebut kebanyakan ia sewa di tempat penyewaan buku di dekat sekolahnya, Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak yang berlokasi di Jl. Alianyang Pontianak. Selain itu ia juga pemburu serial Lupus karya Hilman dan Boim Lebon.

“Dulu zaman SMP, hampir sebagian uang jajan saya, saya alokasikan buat nyewa novel. Lapar perut bisa ditahan. Tapi lapar untuk nemuin imajinasi baru dari bacaan, itu yang tak tertahankan. Kadang Ibu sampai marah kalau tau uang jajan saya terpakai untuk menyewa buku” tawanya. “Dulu belum sanggup untuk beli. Jadi bisanya yaa cuma nyewa..” lanjutnya lagi.

Saat akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Mimi memilih untuk lanjut ke SMU 1 Pontianak. Salah satu SMA favorit di kotanya. Iapun berhasil masuk kesana, dan berharap bisa menyesuaikan diri dengan masa remajanya yang akan ia mulai masa itu. Ternyata kehidupan remaja SMA yang dinamis dan serba baru, turut memberikan pengaruh padanya. Masa itu ia sangat berharap bisa bergabung dengan salah satu eskul yang ada di sekolahnya. Salah satu yang paling ia dambakan adalah KIR (Karya Ilmiah Remaja).
“Disana ada banyak pilihan Eskul. Ada Pecinta alam, PMR, Paskibra, Rohis, Pramuka, dan lain lain. Tapi karna saya sangat menyukai menulis, ya tentu saja saya memilih KIR. Besar harapan saya, saya bisa menemukan sesuatu yang bisa mengasah saya jika saya bergabung dengan senior-senior yang ada disana” kenangnya.

Dengan penuh keyakinan dan kemauan, iapun bergabung dan mengajukan formulir. Posisi yang ia pilih adalah wartawan. Serangkaian tes harus dijalani. Mulai dari tes menulis, wawancara, wawancara Bahasa Inggris dll. Berdasarkan info yang ia peroleh, ia mendapat nilai yang baik pada setiap sesi. Bahkan nilai menulisnya mendapat nilai 95.
Namun alangkah kecewanya ia, saat tahu ia sama sekali tak lolos sebagai anggota KIR. Ia pun berusaha mencari tau ke salah satu senior yang ada.
“Dan Out of record….Saya tak berhasil lolos dengan alasan dari sana, karena saya tak punya motor” katanya sambil tertawa. Ternyata posisi sebagai wartawan sekolah yang ia pilih, dirasa tak memungkinkan jika tak memiliki kendaraan, minimal motor.

Kesal, tentu saja. Ia jadikan itu sebagai dendam positif. Masa remaja merupakan masa penuh keinginan untuk mencari jati diri. Dan terkadang bercampur-campur dengan emosi. Melihat temannya yang ia pikir tak begitu bagus dalam kemampuan menulis namun berhasil lolos dalam posisi wartawan yang ia incar, Mimi marah dan sedih. Ia pun “banting stir”    dan mencoba jalur lain.
“Apapun yang terkait dunia menulis, saya coba” katanya.
Iapun mencoba bergabung di Rohis SMU 1 Pontianak yang bernama FDRM (Forum Dialog Remaja Muslim). Awalnya ia enggan untuk bergabung disana karena pada masa itu ia malah belum berjilbab. Kontras sekali dengan anggota rohis yang semuanya berjilbab bahkan lebar. Sempat tidak PD dengan lingkungan barunya, toh pada akhirnya ia bisa juga berbaur. Ia memilih bergabung disana karena Rohis memiliki wadah untuk menulis. Mulai dari Mading hingga Majalah. Mimi berharap ia bisa ikut serta untuk belajar menulis dan bisa menayangkan karyanya untuk dapat dinikmati orang banyak.

Ternyata seiring berjalannya waktu, Mimi senang dan produktif berada di forum ini. Beberapa karya puisi dan cerpen yang ia tulis mendapat respon yang positif dari mereka yang membacanya.
“Saya pikir, itulah batu loncatan pertama saya. Kali pertama saya bisa unjuk karya. Hal ini menjadikan saya yakin bahwa saya harus mengasah terus kemampuan menulis ini bersama komunitas yang memiliki visi yang serupa dengan saya” paparnya.

Lalu ia pun bergabung di majalah RIHLAH. Disana ia bertugas dibagian fiksi. Cerbungnya yang berjudul “Return to the Real Eternity”, diminati para pembaca.
“Cerbung itu bertemakan kejadian 11 September yang pada tahun itu sedang ramai diperbincangkan dan menjadi peristiwa internasional yang fenomenal. Sayapun membuat cerbungnya dalam beberapa episode cerita. Ngga nyangka, banyak yang suka dan menunggu-nunggu kelanjutan ceritanya” kenangnya.
Dari sanalah ia bertemu dengan banyak orang dengan minat membaca dan menulis yang sama. Dan semuanya menjadi batu loncatan bagi Mimi untuk lebih percaya diri dalam berkarya.

2006, Novel Pertama Terbit
Pada tahun 2006, saat ia berada di semester akhir di kampus Akademi Bahasa Asing Pontianak, Mimi mendapatkan kenangan yang tak terlupakan di hidupnya. Sepucuk surat dari salah satu penerbit besar di Bandung, memberitahukan bahwa naskah novelnya yang berjudul “Ashley : Somebody Help Me!” layak terbit. Bagai kejatuhan pelangi di siang bolong, Mimi bersyukur dengan kejutan yang ia dapatkan.
“Awalnya Dar! Mizan Bandung membuka sebuah sayembara dengan hadiah yang menggiurkan. Tapi saya ngga melihat juara nya. Yang ada di pikiran saya adalah, bagaimana naskah saya ini bisa lolos dan terbit. Itu saja. Jadi saya memilih genre yang kira-kira ngga pasaran. Horor. Kebetulan saya juga menggemari genre ini” paparnya lagi.

Dan ternyata impiannya terkabul. 2006, Novel perdananya terbit di seluruh nusantara. Ia pun memakai nama pena Mimi Catz. Yang di gubah oleh penerbit menjadi Mimi Chatz.
“Itu nama pena iseng aja,  nick name saya dulu waktu tahun 2002, saat chatting di MiRC . Chatting disana pakai nick atau nama chatting-an. Langsung deh keterusan sampe sekarang. Jadi terkadang, agak ngga PEDE juga kalau diundang jadi pembicara, panitia menggunakan nama pena saya “Mimi Catz”. Kesannya alay gitu..hehe” jelas Mimi yang juga pecinta kucing ini.

Novel “Ashley : Somebody Help Me” sendiri merupakan sebuah novel remaja yang mengusung tema horror. Mengisahkan tentang sang tokoh cerita, Ashley McGriffith, yang mengalami mimpi berantai sepanjang malam, sesaat setelah ia berjumpa dengan abang tertuanya yang terusir dari rumah, Jeff McGriffith.  Novel ini sedikit mengangkat tentang ragam dunia remaja dan kehidupan mereka yang penuh kekosongan dan tanpa arah, sehingga menjadikan manusia-manusia ini bergabung dengan perkumpulan pemuja setan seperti satanic dabblers.

Cita-cita terpendam
Kalau ditanya masalah cita-cita, sejak kecil Mimi ingin sekali bergelung di dunia jurnalis. Cita-citanya adalah menjadi seorang reporter berita. Ia waktu kecil sangat suka menonton acara berita. Masa itu ada penyiar berita bernama Desi Anwar, Dana Iswara dan Zsa Zsa Yusharyahya yang ia kagumi. Sayang, orang tua tidak mengizinkannya untuk kuliah di luar Kalimantan. Sang Ibu menginginkannya menjadi seorang tenaga pendidik, seorang guru sebagaimana pengabdian ibunya selama ini.

Walau demikian, keinginan terpendam itu coba ia lanjutkan. Pada tahun 2007 ia bergabung dengan PT. Swara Mas Mujahidin Madani. Melalui sebuah seleksi yang cukup ketat sebagai penyiar radio yang diikuti oleh 80-an orang, ia berhasil lolos. Ia pun bergabung di Radio Mujahidin FM. Sebuah radio yang pada awal berdirinya sudah cukup mendapat pengakuan dari masyarakat. Disinilah ia memulai dunia baru di bidang broadcasting. Berbagai kemampuanpun berkembang.

“Serunya jadi broadcaster atau penyiar itu, kita terasah dalam pengumpulan, pengeditan dan penulisan naskah. Benar-benar menyeimbangkan kemampuan tekstual dan oral. Banyak hal saya dapatkan dari dunia penyiaran..Belum lagi keharusan dalam mereportase sesuatu dalam setiap keadaan. Ini cocok dengan jiwa saya. Saya senang dengan dunia broadcasting ini,” ujarnya.

Tentu ada suka dan dukanya juga. Sebuah kisah lucu pernah terjadi.
“Pernah di suatu Sabtu, saya siaran duet, di sebuah program pagi. Entah mengapa pagi itu, teman duet saya membacakan naskah tentang ayam. Saya tertawa tiba-tiba waktu dengar kata “ayam”. Rekan saya pun akhirnya ikutan tertawa. Celakanya, tuh ketawa bener-bener ngga bisa berhenti, sampai operator pun kebingungan. Ngikik aja di belakang mik. Dengan harap-harap ngga ada pendengar yang denger. Padahal mana mungkin? Walhasil, Operator langsung menutup suara kami dengan memutarkan nasyid…Haduh….saat jeda, telpon kantor langsung bunyi dan kami berdua dapat teguran..hehehe.”

Dari sini juga ia dapat banyak sekali teman baru, termasuk pendengar setia. Salah satu program acara yang ia pegang adalah Pena Muda. Program seputar sastra dan dunia kepenulisan. Di program ini Mimi ber duet dengan penyiar cilik Filang Ridho Ananda.
Di tahun 2011 Mimi juga sempat bergabung dengan TVRI Kalimantan Barat dan sempat merasakan pengalaman sebagai penyiar berita dan presenter di beberapa acara.

“Saya pernah juga mengisi di TV lokal seperti KCTV dan KTV, sebagai bentuk kerjasama dengan Radio Mujahidin. Lalu di 2011 saya bergabung dengan TVRI Kalimantan Barat. Seru juga. Pengalaman penyiaran bertambah terus. Tapi sayangnya tidak terlalu lama, karena setelah menikah dan hamil, saya harus banyak istirahat dan men-stop segala kegiatan broadcasting saya itu” ceritanya lagi.

Mimi juga sempat bergabung dengan Lentera Community. Sebuah komunitas yang berisi penulis-penulis muda Kalimantan Barat. Pada 2009 mereka berhasil me-launching antalogi berjudul “Coretan di Langit Kapuas”. Buku ini di launching dengan menghadirkan Nur Iskandar (Pemred Borneo Tribune) dan Ferry Hadary (Penulis buku “Sapa Cinta dari Negeri Sakura”).
“Oh iya saya juga sempat menjadi Pembina KIR di MAN 2 Pontianak. Ternyata banyak juga adik-adik muda yang senang dan rutin menulis. Beberapa diantara mereka juga memiliki bakat yang baik di dunia menulis” ceritanya.

Selain aktif mengajar (guru Bahasa Inggris), dan siaran, Mimi juga kerap di undang di pelatihan atau workshop-workshop kepenulisan sebagai pembicara. Terkadang ia juga disandingkan dengan penulis-penulis lain. Pernah juga ia berkesempatan menjadi MC di acara launching buku rekan-rekannya. Antara lain buku “Sepok” milik Pay Jarot Sujarwo, yang merupakan buku berbahasa melayu yang mengangkat kisah saat sang penulis mengunjungi Bulgaria.
“Seringkali juga di undang to jadi MC di acara-acara luar kepenulisan. Biasanya di acara MUI, atau organisasi kemasyarakatan. Yang paling berkesan saat jadi MC untuk Zaskya Adya Mecca dan juga (almh) Ibu Yoyoh Yusroh, anggota DPR RI yang terkenal sangat produktif dalam beraktivitas dan luar biasa disiplin” paparnya.

Di tahun 2011, kembali ia gabung dengan teman-teman FLP Kalimantan Barat, menerbitkan sebuah buku antalogi berjudul “Mozaik Peradaban dari Khatulistiwa”. Launchingnya di buka langsung oleh penulis buku Ayat Ayat Cinta, Habiburrahman Elshirazy yang langsung datang ke Pontianak. Mimi bertugas pula sebagai MC pada acara launching tersebut.

Mereka yang menginspirasi
Berbicara tentang mereka yang menginspirasi, Mimi merasa terlalu banyak orang yang turut andil baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hidupnya.
“Orang tua, tentu saja. Karena merekalah skup terdekat dalam keseharian.”
Dalam hal kepenulisan sendiri, Mimi saat duduk di bangku kuliah mulai menyukai karya sastra berupa puisi.

“Ibnu Hazm Elandalusy salah satu yang sangat saya sukai,” katanya. Puisi-puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda juga menjadi yang ia cermati.  “ Saat saya pertama kali memiliki blog pada tahun 2006, karya-karya mereka turut andil dalam inspirasi saya menuliskan puisi dan tulisan.”
Pada tahun 2008, Mimi juga sangat bersyukur dapat bertemu dengan sastrawan Indonesia, Habiburrahman Elshirazy dan Anif Sirsaeba saat mengikti serangkaian karantina di Depok.
“Dulu kan Ayat-Ayat Cinta lagi booming yah..Alhamdulillah saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan dua penulis kakak beradik ini. Saya cermati, saya amati mereka. Termasuk saat Kang Abik membacakan puisi tentang Palestina dengan penuh kharisma. Dan saya amati juga public speaking beliau. Dari situ saya banyak belajar” ceritanya lagi.

“Selain itu, saya juga sangat menggandrungi Asma Nadia. Mungkin karena tema yang di usung Asma Nadia itu lincah dan tidak membosankan. Baik karya fiksi dan non-fiksinya. Apalagi saat sekarang saya sudah berumah tangga. Sungguh terasa semakin dekat dan nyambung dengan karya-karya beliau…” ujarnya.
“Karya luar juga tentu suka. Novel-novel remaja populer pun masih saya baca. Mulai dari novelnya Dan Brown, JK Rowling, Stephanie Meyer. Harry Potter itu justru sebagai pil perangsang saya untuk menyelesaikan novel “Ashley: Somebody Help Me” saya dahulu. Saya ingat betul, saat stuck ngetik naskah, saya langsung lalap Harry Potter. Dan ide saya langsung bermunculan. Aneh ya. Tapi yah begitulah keadaannya…” kenangnya lagi.
“Yang lucu itu waktu pengalaman saya hamil kemarin. Tiba-tiba saya ngidamnya pengen baca karya-karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Ngga pernah-pernah suka baca buku detektif. Akhirnya dibeliin juga sama suami..hehe” katanya sambil tertawa.

Suka horor
Mimi sangat menyukai menonton film horror. Saat menikah di tahun 2011, sang suami yang tidak suka film genre horror ataupun thriller terpaksa mengikuti hobi istrinya ini. Salah satu film yang paling berkesan buat Mimi adalah The Last Exorcism yang dibintangi oleh Patrick Fabian. Terkadang terpikir di benaknya untuk kembali menerbitkan sebuah novel dengan tema exorcism atau pengusiran setan. Tapi mungkin belum saatnya.

“Sukanya nonton film horror. Padahal aslinya malah penakut” katanya sambil tertawa. Tapi begitulah kenyataannya. Salah satu kebiasaan yang ia lakukan sebelum tidur biasanya nonton film. Kalau suami membawakan film bergenre horror thriller, senangnya bukan main.
“Lewat film kita juga bisa eksplore cerita. Ini juga membantu kita lho, dalam proses menulis..” kata lulusan FKIP Bahasa Inggris Universitas Tanjungpura Pontianak ini.

Menulis itu merancang skenario dengan cara yang menyenangkan
Tentang menulis, Mimi sangat yakin bahwa setiap orang adalah makhluk penulis.
“Yang membedakan hanyalah, orang biasa hanya bisa menulis. Tapi seorang penulis, dia menulis dengan seni,” katanya.
Diperlukan latihan secara rutin dan gemar akan membaca. Apa yang kita baca, itulah yang akan kita tulis.
“Kalau seneng fiksi, biasanya senengnya juga nulis fiksi. Kalau bacaanya buku motivasi, tulisannya ya ngga jauh-jauh juga dari motivasi. Suka baca puisi, tulisannya juga kebanyakan bentuk puisi. Yang jelas, apapun itu, terus saja membaca. Nanti “hormon menulis” akan datang dengan sendirinya..” papar Mimi mantap.

“Dan yang terpenting adalah, terus berkarya. Jangan jatuh karena kritikan. Dan jangan jatuh pula karena pujian. Menulis itu proses panjang dan menyenangkan. Jadi nikmati saja. Prinsip saya, kritikan itu adalah vitamin. Sedangkan pujian itu adalah cemilan. Jadi, porsikan mereka sebaik-baiknya….” Lanjutnya lagi.
“Meminjam istilah Putu Wijaya, ‘Lapar menulis’. Kalau sudah ada sense ini, wah bakal luar biasanya produktivitas seorang penulis. Kalau ngga nulis, dia tersiksa” jelasnya.

Jadi bagi Mimi, menulis itu ibarat kita merancang sebuah skenario sendiri. Semakin baik wawasan, maka skenario yang di buat juga akan semakin indah dan bagus. Penulis bak sutradara yang bebas mengarahkan dan memaparkan imajinasinya dalam tulisan yang ia buat. Ia merancang, membuat tulisan menari dan meliuk-liuk diatas kertas. Penulis memoles dan me-make over setiap kalimat, sehingga deretan kata tadi tumbuh subur dengan cantik dan sedap dibaca. Sungguh menyenangkan aktivitas menulis itu.

Istri dari Muhammad Zuhri ST ini juga menjelaskan bahwasanya banyak orang mengatakan menulis itu susah. Padahal jika sudah ada kemauan, maka muncul kemampuan.
“Kemauan itu sanggup mengalahkan ketidak mampuan, lho” tegasnya. “Menulis itu hanya butuh kemauan, lalu lalukan. Apa yang kita rasa, tulis. Apa yang kita lihat, tulis. Ibarat pena kita itu sebagai “capture” dari sebuah kejadian. Saya ingat waktu saya keguguran Oktober 2011 kemarin, saya sedih. Janin saya dalam kandungan yang berusia 4 bulan harus di evakuasi. Saat proses itu selesai, dan saya kehilangan anak laki-laki saya, saya tulis surat untuk anak saya yang berada di Syurga. Saya jabarkan perasaan saya, penyesalan saya, kerinduan saya. Hingga jadilah beberapa tulisan dalam bentuk bererapa pucuk surat. Yah begitulah. Menulis terkadang butuh emosi-emosi tertentu yang menjadikan tangan ini terus bergerak. Asal ada kemauan saja, itu sudah jadi modal awal yang bagus” beber wanita berjilbab ini.
“Apalagi sekarang media untuk menulis sangat banyak. Bahkan dengan mengirim sms sekalipun, kita bisa berlatih mengasah keindahan menulis. Update status facebook juga merupakan wadah paling mudah dan sederhana untuk latihan merangkai kalimat per kalimat. Jadi rasanya susah untuk mengatakan kita malas untuk menulis,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Mimi memiliki harapan kelak ia bisa kembali menerbitkan sebuah buku. Lebih produktif dan lebih banyak memiliki teman dan kolega dalam minat serupa.
“Pengennya sih punya karya best seller. Dan impian saya dari dulu, punya keluarga penulis. Bisa duet menulis dengan suami seperti Gola Gong dan Tyas Tatanka. Atau memiliki anak-anak yang jago menulis buku dan karya sebagaimana  Putra putrinya Asma Nadia ; Cha Cha dan Adam. Atau Abdurrahman Faiz, anak dari Helvy Tiana Rossa. Semoga Allah kabulkan…” tutup Mimi sebagai harapannya di masa mendatang.