Semarak Hari Raya Idul Fitri di Facebook

Hampir seminggu hari raya idul fitri berlalu. Namun bagi warga Pontianak, masih ada waktu 3 minggu lagi untuk merayakannya. Unik memang. Tak seperti daerah lainnya yang menganggap idul fitri berakhir seiring fenomena arus balik dimulai.

Menarik bila kita mengamati semarak idul fitri lewat sosial media, terutama Facebook. Kali ini, dengan fitur search Facebook, kami menelusuri dinamika idul fitri di Kalimantan Barat, terutama di Pontianak. Berikut penampakannya:

1. Film Pendek Idul Fitri
Semakin bergairahnya dunia perfilman, tak ayal menyebabkan munculnya sineas lokal yang potensial. Menyambut momen idul fitri, sineas lokal tak luput memamerkan karyanya lewat Youtube:

2. Meriam Karbit
Perayaan idul fitri di Pontianak selalu diwarnai dengan dentuman meriam karbit. Ratusan meriam karbit berjejer di pinggir Sungai Kapuas. Wakil Walikota Edi Kamtono pun turut menjadi bagian dalam kemeriahan tersebut.

wawako pontianak edi kamtono

3. Jualan Kue
Sebulan penuh perayaan idul fitri di Pontianak, so pasti makin meriah dengan ditemani kue khas raye, baik kering maupun basah. Para penjual kue bertaburan menjajakan dagangannya di berbagai grup Facebook.

kue lebaran

4. Ucapan Maaf
Yang tak pernah hilang di hari raya lebaran adalah ucap maaf. Kalau dulu lewat kartu, sekarang jaman telah berganti. Dengan sekali pencet, ucapan maaf menyebar ke seluruh kontak, yang ada di hp atau pertemanan Facebook.

ucapan maaf idul fitri

Masih beraneka rupa lagi bentuk antusiasme warga menyemarakkan hari raya Idul Fitri. Anda ada tambahan lainnya?

Sertifikat Gratis, Upaya Mengenalkan Tugu Khatulistiwa Hingga ke Mancanegara

oleh Anggun Pertiwi

sertifikat_tugu-khatulistiwa
Kurang lengkap rasanya jika wisatawan yang sudah mampir ke kota Pontianak namun tidak menyambangi tugu Khatulistiwa. Bangga rasanya kala mendapat sertifikat sebagai bukti telah melintasi garis khatulistiwa. “Sertifikat gratis, tanpa dipungut biaya malah sudah ada tanda tangan Walikota Pontianak,” ujar Kasnawi, operator pelayanan sertifikat sedikit berpromosi.

Sudah sekitar tiga puluh tahun pemberian sertifikat pelintas khatulistiwa ini diberikan secara gratis. “Dulu sertifikat ini masih ditulis dengan mesin ketik, sekarang tidak perlu repot lagi dan takut salah menulis nama orang karena sudah menggunakan komputer,” ungkap Kasnawi saat ditemui Senin, 21 Maret 2016.

Sertifikat ini hanya diberikan untuk wisatawan dari luar kota Pontianak untuk memperkenalkan objek wisata Tugu Khatulistiwa kepada masyarakat dari luar Pontianak hingga mancanegara.

Piagam Perlintasan Khatulistiwa atau Certificate of Equator Crossing memuat nama pengunjung, dan waktu mengunjungi tugu khatulistiwa, dan pernyataan bahwa telah melintasi Khatulistiwa di kota Pontianak, dan tidak lupa juga terdapat tanda tangan dan cap asli dari Walikota Pontianak. Selain mendapatkan sertifikat gratis, wisatawan akan mendapatkan banyak informasi mengenai monumen yang bersejarah ini.

Garis ekuator atau yang biasa disebut dengan garis khatulistiwa adalah garis yang membagi bumi menjadi dua bagian yaitu belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Garis khatulistiwa juga merupakan poros rotasi bumi. Garis khatulistiwa hanya melintasi daratan atau wilayah perairan di 14 negara, satu di antaranya adalah kota Pontianak.

Pontianak adalah salah satu kota yang dilintasi oleh garis ekuator dan memiliki monumen yang kini menjadi objek wisata. “Sekitar 30 tahun sertifikat ini sudah diterapkan, sertifikat ini diberikan gratis untuk turis asing sebagai upaya memperkenalkan kota Pontianak ke mancanegara,” pungkas Kasnawi.

Perpustakaan Kota Pontianak, Berbenah Menjaring Pencinta Ilmu

Oleh Febi Purwanto

pencinta ilmu

Akhir-akhir ini pengelola dan pengunjung merasa betah ketika berada di Perpustakaan Kota Pontianak. Pasalnya, mereka tidak lagi kepanasan, jenuh dan bosan saat berada di ruang perpustakaan. Kenyamanan ini dikarenakan perpustakaan yang terletak di jalan Alianyang ini telah melakukan perbaikan dan penambahan pendingin ruangan (AC) serta beberapa fasilitas lainnya. Hal ini dilakukan guna menimbulkan rasa nyaman dan dapat memberikan pelayanan secara maksimal kepada pengunjung, para pencinta ilmu.

Saat ini jumlah pengunjung di Perpustakan Kota Pontianak sudah meningkat. “Jumlah pengunjung per bulan mencapai 1202 pengunjung, jika dirata-ratakan jumlah pengunjung perhari mencapai 40 orang,” ujar Dwi Suryanto, Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Kota Pontianak, ketika ditemui belum lama ini.

Dwi juga menambahkan bahwa peningkatan pengunjung terjadi lantaran fasilitas yang ada sudah memadai. “Pendingin ruangan yang besar itu dari tahun 2008 tidak pernah menyala dan baru sekarang menyala,” ungkap mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Pontianak ini.

Dwi berharap jajarannya mampu memberikan pelayanan dengan sepenuh hati. “Harapan saya bisa melayani masyarakat dengan lebih optimal serta dapat membuat kondisi Perpustakaan Kota Pontianak lebih baik lagi.”

Tersedianya area hotspot menjadikan pengunjung makin betah berlama-lama. Ya, perpustakaan Kota menyediakan fasilitas internet dengan kecepatan yang cukup baik. “Koneksi internet di sini lancar dan tidak bermasalah,” ujar Sekar (23), salah satu pengunjung  setia.

Selain fasilitas yang memadai, Sekar menambahkan bahwa pelayanan di Perpustakaan Kota Pontianak juga cukup baik. “Bila dibandingkan dengan Perpustakaan Provinsi, pelayanan di Perpustakaan Kota lebih mudah dan ramah,” ungkapnya.

Ada banyak harapan yang dikemukakan pengunjung untuk  Perpustakaan Kota Pontianak. Di antaranya, mereka menginginkan pelayanan yang optimal dan persediaan buku yang lebih lengkap.  “Harapan saya lainnya, jumlah meja untuk diskusi serta terminal untuk listrik juga ditambah lagi,” pungkas Sekar dengan mantapnya.

Pasca Pembunuhan, Tetangga Korban Masih Shock

 

TKP pembunuhan pengasuh bayi di Kompleks Bali Mas 3 (foto: Sabhan)
TKP pembunuhan pengasuh bayi di Kompleks Bali Mas 3 (foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Pasca pembunuhan yang menimpa seorang pengasuh bayi di Kompleks Bali Mas 3, tempat kejadian masih digaris polisi. Rumah bernomor  B 12 di Kompleks pada penduduk tersebut merupakan tempat pelaku melakukan aksi bejat menghabisi korban. Masih belum jelas apa motif pelaku melakukan pembunuhan terhadap korban.

Tetangga korban yang sehari-hari melihat korban bekerja dan mengasuh anak majikannya merasa kaget dan belum percaya akan kejadian tersebut. Mereka saat ini masih antusias melihat lokasi kejadian yang berada tepat di dekat kediaman mereka. “ Saya masih sangat kaget, tadi malam saya sampai tidak berani tidur di rumah, saya numpang tidur di rumah abang di seberang,” ungkap Mariam tetangga korban.

Mariam yang kediamannya tepat di samping rumah korban mengaku mengenal Sukarni–pengasuh bayi yang menjadi korban pembunuhan. “Kita kenal dengan suster itu, hari-hari keluar masuk rumah, kadang-kadang dia memberikan makan anak majikannya di luar rumah,” ungkap Mariam kepada wartawan MABM.

Mariam menyatakan pada saat kejadian ia sedang berada di rumah. Rumahnya berdempetan dengan rumah korban, tetapi ia mengaku tidak menaruh curiga apapun terhadap kejadian di dalam rumah tetangganya.” Saya jam 1 ke atas ada di rumah, tidak ada curiga sama sekali, sama seperti biasanya,” tambah Mariam.

Kejadian yang tidak disangka-sangka tersebut membuat tetangga dan warga sekitar menjadi heran dan sangat kaget. Berdasarkan pantauan redaksi MABMonline, hingga hari ini masih ramai warga yang berhenti melihat-lihat lokasi kejadian pembunuhan tersebut.

Jenazah korban yang berasal dari Tulung Agung tersebut sudah dikemasi pihak kepolisian dan rumah sakit. Pihak keluarga korban juga sudah diinformasikan keluarga terkait kejadian tersebut. Rencananya pihak keluarga akan membawa jenazah ke kampung halamannya di Tulung Agung sore ini. “Jam 3 sore ini kita akan berangkat membawa Sus ke Tulung Agung,” ungkap Yanti selaku majikan korban.

Polisi Temukan Barang Bukti Tambahan di TKP

Polisi menunjukkan barang bukti baru dari lokasi kejadian (foto: Sabhan)
Polisi menunjukkan barang bukti baru dari lokasi kejadian (foto: Sabhan)

Oleh Sabhan Rasyid

MABMonline.org, Pontianak—Kejadian pembunuhan pengasuh bayi di Kompleks Bali Mas 3 Jalan Parit Haji Husein 2 terus dikembangkan penyelidikannya. Hari ini (19/9) polisi melakukan oleh TKP lanjutan terkait pengusutan kasus pembunuhan yang terjadi kemarin siang. Keluarga korban serta tetangga juga masih antusias memantau rumah yang dijadikan pelaku sebagai tempat menghabisi korban.

Pagi ini penyidik dari Poltabes masih menurunkan beberapa anggota untuk memperdalam kasus dan mencari barang bukti tambahan di lokasi kejadian. Polisi kembali menemukan barang bukti berupa sebuah telepon genggam milik korban yang diduga dibuang pelaku di bak mandi. “Ini hape yang baru kita temukan, masih basah karena ada di bak air,” ungkap Agung seorang polisi yang melakukan olah TKP.

Penemuan telepon genggam tersebut merupakan hasil lanjutan dari temuan barang bukti kemarin. Polisi kemarin telah menemukan beberapa barang bukti yang ada di sekitar korban. “Kemarin kita temukan tutup HP bagian belakang, baterai HP, dan sarung pisau yang terbuat dari kertas kalender yang digulung-gulung serta diikat dengan karet,” papar Agung.

Barang bukti berupa telepon genggam tanpa baterai dan penutup tersebut diduga akan digunakan korban untuk menelepon majikan saat kejadian berlangsung. Dugaan lain bahwa HP tersebut dibuang pelaku untuk menghilangkan dan mengaburkan jejak. “Kita duga HP ini ingin digunakan korban untuk menelepon, tetapi tidak sempat dan dibuang pelaku ke bak air,” tambah Agung.

Hingga saat ini polisi terus mengembangkan penyelidikan dan memperdalam kasus pembunuhan tersebut. Sudah ada beberapa orang yang diperiksa terkait kejadian ini. Pihak kepolisian juga tampak masih melakukan penyelidikan di lokasi kejadian.

 

 

Disdikbud Gelar FLS2N se-Kalbar

Oleh Gusti Iwan

Mabmonline.org, Pontianak — Pada hari Senin (28/4) kemarin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar menggelar Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kalbar di Rumah Radakng Jl. St. Syahrir Pontianak.

(foto Gusti Iwan)
(foto Gusti Iwan)

Kegiatan ini baru pertama kali digelar dengan melibatkan 13 sekolah perwakilan kabupaten/kota se-Kalbar. Kegiatan yang diadakan antara lain pameran dan berbagai perlombaan, di antaranya lomba menari, lomba tari berpasangan dan festival drum band.

(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa (29/4) kemarin, para finalis drum band kembali bertanding untuk memperebutkan gelar juara. Finalis drum band yang bertanding berasal dari utusan SMK SMTI Pontianak, MA Darussalam Sengkubang, SMA Mujahidin Pontianak, SMA Bina Mulia, dan SMA Negeri 7 Pontianak.

(foto Gusti Iwan)
(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

Penonton yang menyaksikan pertandingan final terlihat sangat antusias, mereka yang datang terlihat kagum atas penampilan para finalis, dan diantara penonton juga tampak para pendukung masing-masing sekolah bersemangat bersorak memberikan dukungannya.

(foto Gusti Iwan)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mustarudin selaku Ketua Panitia yang juga menjabat Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdik Kalbar menyatakan bahwa kegiatan ini sebagai ajang atau kesempatan bagi siswa untuk berkompetisi dan menjadi langkah pembentukan karakter pelajar.

(foto Gusti Iwan)

Upacara Adat Tepong Tawar Melayu Pontianak

MABMonline.org,

 

Sinopsis :
Ta
ta Laksana Upacara Adat Tepong Tawar Melayu Pontianak
GUNTING RAMBUT”

Assalamu’alaikum hadirin hadirat sekalian,
Puji syukur kehadirat Khalikulrahman,
Shalawat dan salam selalu kita sampaikan,
Keharibaan Baginda Rasul Akhirruzzaman.

Masjid Sultan awalnya kota,
Terletak di tepi sungai bercabang tiga,
Izinkan kami berucap kata,
Amanah diberikan MABM kota.

Intan Permata menghiasi puadai,
Diikat emas pula suasa,
Bukan kami cerdik dan pandai,
Hasrat mengangkat Budaya Bangsa.

Banyak kayu perkara kayu,
Kayu Eru ditepi bukit,
Tidakkan hilang Adat melayu,
Sebelum tertangkup bumi dan langit.

Corak insang beragam warna,
Tenunan asli kita lestarikan,
Ingin mengangkat budaya bangsa,
Upacara adat tepung tawar kami tampilkan.

Tepung tawar diatas dulang,
Resam adat suku melayu,
Seni cemerlang, melayu gemilang,
Tema: Festival Seni Budaya Melayu.

  • Tepung tawar adalah salah satu kebiasaan adat yang paling utama didalam masyarakat (puak) melayu, dipergunakan hampir didalam semua upacara baik perkawinan, khitanan, gunting rambut. upah-upah (orang yang selamat dari marabahaya atau perjalanan), maupun pindah rumah atau menempati rumah baru.
  • Upacara adat tepung tawar yang hendak diketengahkan ini ialah adat tepung tawar Gunting Rambut, menurut adat istiadat masyarakat budaya melayu khusus kota Pontianak. Yang dikatakan orang melayu itu indah. Mereka yang beragama islam, yang berbahasa sehari-harinya bahasa melayu dan yang melaksanakan adat istiadat budaya melayu.
  • Pada lazimnya pelaksanaan upacara GUNTING RAMBUT ini dilakukan apabila seorang anak (Putra atau putri) belum sampai berumur 40 hari. Bagi orang tua yang akan melaksanakan upacara gunting rambut selalu memilih bulan tahun hijriah seperti bulan rabiul awal (maulud) yang disebut masyarakat melayu bulan empat sename.
  • Gunting rambut merupakan acara tunggal yang tidak ada tahap-tahapnya. Upacara inii dapat diselenggarakan secara khusus. Namun dewasa ini upacara gunting rambut biasanya diikuti (ditumpangkan) pada upacara tradisional yang lain terutama pada acara pernikahan.
  • Adapun upacara gunting rambut ini diselenggarakan untuk mengikuti sunah nabi Muhammad SAW. Sunah merupakan perkataan atau perbuatan Baginda Rasul SAW. Siapa yang mengikuti sunah ini mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak mendapat dosa.
  • Upacara dimulai dengan pembacaan Al-Barzanji. Isi dari pada bacaan AI-Barzanji adalah Riwayat atau sejarah Baginda Nabi Muhammad SAW. Kalimat dalam kitab Al-Barzanji ini tersusun indah dan bersifat puitis.
  • System pembacaannya dibagi atas dua bagian yaitu Bagian As-Salam Yang dibacakan sambil duduk dan bagian Asyrakal yang dibaca sambil berdiri, dan diiringi dengan pukulan Tar (Rebana) atau tampa bunyi-bunyian.
  • Pada pembacaan AsyrakaI. semua hadirin berdiri dan ketika itu pula putra atau Putri yang akan digunting rambutnya digendong keluar oleh Ibu(bapaknya), diringi dua orang perempuan (laki-laki) membawa talam (baki) yang berisi perlengkapan (kahlatan) upacara.
  • Penguntingan rambut dimulai oleh tetua (tamu-tamu) yang dipandang paling terhormat kemudian diikuti oleh tamu-tamu lain di datangi (didekati) oleh pengendong anak itu berganti-ganti kesebelah kiri kanan dari yang mengunting pertama sampai diperoleh jumlah yang dikehendaki dengan hitungan ganjil. Kemudian daripada itu setiap yang mengunting mendapatkan setangkai pokok telur sebagai tanda ingat dari pemangku adat.

Adapun kahlatan (peralatan) dan perlengkapan Tepong Tawar Upacara Gunting Rambut terdiri dari:

  1. 1 (satu) buah Ceper/Talam yang berisikan
  2. Minyak Bau yakni sejenis wewangian yang diolah dari minyak kelapa dan rempah-rempah campurannya.
  3. Bereteh (Bertik) berupa padi yang digoreng tanpa minyak sehingga berwarna putih.
  4. Beras Kuning yaitu Beras diramas dengan kunyit hingga berwarna kuning.
  5. Tepong tawar adalah tepong yang terbuat dan beras yang digiling halus dan dicampur sedikit kunyit (sebagai pewarna) serta thaduk hingga berwama kuning, kemudian ditempatkan di dalam bokor. Disebut tawar, karena sebagai penepok atau penepasnya yang terdini dan daun-daunan sebanyak T-iga, lima atau Tujuh jenis daun yang disebut PENAWAR (TAWAR). Lazimnya daun-daunan yang digunakan terdini dan lima jenis daun karena mudah didapat dan rnakna atau tamsilnya ialah:
  • Daun SENTAWAR ditamsilkan sebagai penawar segala yang berbisa atau yang beracun (Pengobat bias racun sembilu)
  • Daun SEDINGIN bermakna sebagai penyejuk hati (agar penyakit segera berlalu/sembuh).
  • Daun GANDARUSA penolak segala penyakit dari luar buatan orang atau pengusir setan tembalang.
  • Daun ATI-ATI bermakna atau melambangkan bersikap hati-hati, cermat dan teliti dalam segala hal.
  • Daun AKAR RIBU-RIBU, akarnya liut kuat tertambat, tumbuhnya menjalar (merambat) ditamsilkan apabila putra atau putri menginjak dewasa akan bersikap tawakal menghadapi cobaan dengan tekad yang kuat.

Kelima daun tersebut diikat menjadi satu dengan kain kuning, yang digunakan sebagai penepong (penepas) tawar.

B.    1 (satu) buah Ceper/Talam berisikan : sebuah gunting dan sebuah Kelapa Muda yang tampoknya diukir bintang dan air kelapanya dibuang, diganti dengan air bunga tujuh atau lima jenis yang beraroma wangi-wangian. Serta sebatang lilin kuning yang dinyalakan. ini ditamsilkan bahwa kelak meningkat dewasa/remaja putra atau putri yang digunting rambutnya senantiasa terang hatinya dalam mengikuti pendidikan dan berbudi pekerti yang berlandaskan iman dan taqwa.

Adapun tata-laksana GUNTING RAMBUT dimulai:

  1. Minyak bau dioleskan pada kening (Jidat). dibalik telinga kanan maupun kiri dan dileher dengan maksud agar terhindar dari perbuatan jahat atau gangguan syaitan jembalang.
  2. Menepung (menepas) Tawar dikepala dengan maksud agar segala niat jahat maupun rasa hasat dan dengki yang tersirat dihati, apa bila kelak putra putri telah dewasa tidak akan terlaksana, sebagai mana jenis daun-daun yang digunakan menepas atau menepung tawar.
  3. Penguntingan ujung rambut yang kemudian dibuang atau dimasukan kedalam mangkok kelapa yang telah diisi air bunga tujuh atau lima jenis, sebagai tamsil agar kelak putra putri yang digunting rambutnya disenangi oIeh masyarakat didalam pergaulan.
  4. Dilanjutkan dengan menabur Berteh (bertik) dan beras kuning pada tubuh sang anak yang pertanda isyarat agar dilindungi dari perbuatan jahat dari orang dengan memohon perlindungan kepada ALLAH Azawajalah.

Pada hakekatnya upacara GUNTING RAMBUT selain merupakan Sunattul Rasul, juga mengingatkan kita supaya selalu mentaati atau mematuhi segala perbuatan yang dilaksanakan oleh tetua leluhur turun temurun untuk mendapatkan keridhaan serta keselamatan putra-putri yang digunting rambutnya.

Demikian sekelumit penjelasan tata-laksana kahlatan (peralatan) dan makna (tamsil) dari upacara adat TEPONG TAWAR dalam prosesi upacara GUNTING RAMBUT ini ditampilkan sebagaimana yang didapat dari tetuah-tetuah adat istiadat melayu terdahulu, dan sehingga kini masih lazim dilaksanakan oleh masyarakat Melayu Pontianak.

Semoga penjelasan ini dapat menjadikan acuan dalam pelaksanaan pagelaran ADAT MELAYU PONTIANAK yang sudah tentu merupakan salah satu upaya kita untuk melestarikan adat tradisi dan budaya bangsa dengan maksud meningkatkan pembinaan, sadar serta cinta akan budaya bangsa khususnya daerah, selain mungkin dapat mengenalkan dalam meningkatkan promosi dan pemasaran pariwisata dengan keaneka ragaman budava.

Pada akhirnya :

Patah tidak dirangka tumbuh
Rupa bertunas dibalik dahan
Adat disukat hendaklah penuh
Kalau terkhilaf mohon dimaafkan

Bang taufik membeli kopiah
Untuk dipakai sembahyang waktu
Billahitaufik walhidayah
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Pontianak, Shafar 1434 H / Desember 2012

Dokumentasi Festival Seni Budava Melavu VIII Tahun 2012
Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat Pontianak.

Perempuan Melayu Persiapkan Rapat Kerja Pusat

Oleh Gusti Iwan

Rapat DPP Perempuan Melayu Kalbar  (Foto Gusti Iwan)
DPP Perempuan Melayu Kalbar
(Foto Gusti Iwan)


MABMonline.org, Pontianak
— Dalam rangka mempersiapkan Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Melayu Kalimantan Barat (DPP PMKB) hari ini mengadakan Rapat Kerja Pengurus. Bertempat di ruang rapat Balai Kerja MABM Kalimantan Barat, rapat ini dimulai sekitar pukul 13.00 – 15.00 Wib.

Rapat kali ini turut dihadiri oleh Ketua Umum DPP PMKB Hj. Hairiah, S.H., M.H., Ketua Harian Shinta Dian P., Dewan Pakar Ema Rahmaniah dan Istiqamah, serta pengurus harian lainnya.

Menurut Ketua Umum, DPP PMKB hari ini perlu melakukan koordinasi untuk membahas agenda penyusunan program kerja bidang-bidang, penetapan koordinator bidang, serta mengadakan koordinasi dengan para ketua bidang dan anggota dlm penyusunan program kerja.

“Sebelum dilaksanakannya Rakerpus bulan November nanti, Perempuan Melayu perlu untuk melakukan rapat pleno pengesahan program kerja, merevisi AD/ART yang dianggap perlu untuk direvisi, dan menyusun rencana konsolidasi ke daerah kabupaten/kota tentang keberadaan organisasi Perempuan Melayu di wilayah kabupaten /kota,” papar Hairiah.

“Sehingga nantinya Perempuan Melayu bukan hanya bergerak sendiri, namun mampu bergerak sebagai motor pendorong terhadap organisasi-organisasi perempuan lainnya untuk secara bersama-sama berkerja dan diharapkan akan mampu memberikan peran yang positif bagi kemajuan dan kesejahteraan kaum perempuan di Kalimantan Barat,” tambah Hairiah.

KSR PMI Unit Untan Adakan Acara Youth Volunter Camp Se-Kalimantan Barat

Gambar : Tampak tenda  yang di dalmnya ada beberapa pesetra yang sedang istirahat
Gambar : Tampak tenda yang di dalmnya ada beberapa pesetra yang sedang istirahat

Oleh Mariyadi

MABMonline.org, Pontianak–Korps Suka Rela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unit Untan, Kamis (27/6), mengadakan Acara Youth Volunter Camp Se-Kalimantan Barat. Acara tersebut Adalah sebagai peringatan Hari Kesehatan dan Palang Merah Sedunia.

“Kegiatan ini sudah tiap tahun kita adakan,” Rozi memulai.

Acara ini adalah sebagai peringatan Hari Kesehatan dan Palang Merah Sedunia (HKPMS) yang tiap tahun kami adakan dan tahun ini sudah yang ke-13 kalinya.

“Acara ini bertema Mewujudkan Relawan yang Berperan Aktif Berinisiatif Tinggi dan Berjiwa Sosial Kemanusiaan,” ungkap Muhammad Rozzi  Hambali selaku ketua panitia.

Acara  yang diadakan selama satu minggu, dimulai pada 23 Juni s/d 28 Juni ini, bertemakan Mewujudkan Relawan yang Berperan Aktif Berinisiatif Tinggi dan Berjiwa Sosial Kemanusiaan  dan bertujuan  untuk mempertemukan para anggota PMR, dan meningkatkan solidaritas anggota PMR khusunya di Kalimantan Barat ini.

“Pesertanya sekitar 300 orang,” ungkap Rozi.

Menurut Rozi jumlah peserta semuanya terdiri dari 15 sekolah yang ikut dalam acara ini. pesertanya kita bagi dengan tim putra dan tim putri. Dihitung rata-rata sekitar 300  peserta dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Se-Kalimantan Barat meskipun ada juga yang tidak mengirim pesertanya yaitu dari Sintang dan Ngabang.

“Kegiatanya ada lomba dan non lomba,” tambah Rozi

Menurut rozzi, kegiatan ini terbagi atas dua kegiatan, ada yang berbentuk lomba dan ada pula yang berbentuk non lomba. Acara lomba diantaranya lomba Pertolongan Pertama, Lomba Pembuatan Tandu, Lomba Melewati Halang Rintang, Lomba Asah Terampil seputar PMI, Lomba Pentas Seni, Desain Poster, Lomba Hasta Karya, dan  Pemilihan Duta PMI putra dan putri yang di isi dengan tanya jawab seputar PMI.

“Kita juga adakan Aksi Donor Darah,” ujar Rozi.

Rozi mengatakan acara non lomba di isi dengan acara Aksi Donor Darah, Perkemahan, Upacara Seremonial untuk memperingati hari palang merah, ada upacara penutupan sekaligus pembagian hadia pada para pemenang lomba, acara sosial yaitu mengadakan aksi sanitasi lingkungan di jalan media  yang juga dibantu oleh warga setempat.

“Untuk saat ini, kendalanya hanya kebersihan,” kata Rozi.

Rozzi menambahkan, air minum dan air bersih untuk mandi dan minum. Karena memang untuk dilapangan dan musim panas ini memang masalah air menjadi hal yang sangat wajar. Namun, kami selaku pantia selalu berusaha untuk mengurangi kendala tersebut.

Biografi Harmi Cahyani, Penulis Muda Kalbar

Oleh Hesti Amanda

MABMonline.org, Pontianak — Harmi Cahyani, penulis muda yang berasal dari Kalimantan Barat. Ia lahir pada tanggal 1 Mei 1985 di Pontianak dari pasangan Drs. H. Asbani A. Rahman dan Hj. Junaidah MS.  Masa kecilnya ia habiskan di Pontianak. Ia hanya memiliki satu abang semata wayang bernama Fery Kurniadi, ST, M.Sc.
Harmi yang kerap dipanggil dengan panggilan Mimi ini menyenangi dunia tulis menulis sejak usia belia. Semua berawal saat ia berusia 8 tahun. Sang Ayah berlangganan majalah BOBO, salah satu majalah anak-anak yang sangat digemari di Indonesia. Dalam waktu 20 menit saja, satu majalah itu habis ia lalap dalam sekali duduk. Dari membaca majalah BOBO lah Mimi mengenal apa itu cerpen, cerbung, cergam dan lainnya. Iapun jadi senang membaca dan berimajinasi. Masa itu ia sangat menyenangi tulisan-tulisan Widya Suwarna dan Kemala P.

“Widya Suwarna dan Kemala P itu, punya sense unik dalam membangun imajinasi indera kita. Mereka pandai menceritakan kisah sehari-hari dengan dibubuhi keindahan-keindahan deskripsi. Misalnya jika menceritakan tokoh cerita yang sedang membeli sabun colek, minum es sirup, kepedesan saat makan rujak di siang bolong, dan sebagainya. Sungguh sedap untuk dibaca anak-anak. Belum lagi pesan moralnya sangat mudah dipahami oleh pembaca-pembaca seusia kami pada masa itu” papar Mimi.
Dimulai dari kecintaan membaca, Mimi kecil juga senang “membongkar” buku-buku bekas milik sepupunya. Ia senang sekali bisa menemukan majalah Ananda dan kisah-kisah rakyat dari koleksi buku milik sepupunya itu. Melihat kecintaan sang putri terhadap bacaan, sang ayah yang pada masa itu bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Pendidikan dan kebudayaan, seringkali membawanya ke perpustakaan kantor dan membiarkannya memilih dan membaca buku-buku yang ada. Sebagian adalah buku-buku sastra. Salah satu yang paling sering ia baca adalah karya-karya sastra angkatan Balai Pustaka.
“Saya ingat dulu, waktu berkunjung ke rumah sepupu. Saya bongkar kardus bukunya. Ada buku yang udah lecek dan bertaburan rayap. Tetap saya baca. Padahal baunya itu lho, apek banget….” kenang Mimi.
Beranjak dari senang membaca, Mimi mulai mencoba untuk menulis. Sejak kelas 3 SD ia paling senang pelajaran mengarang dan menulis. Dan ia pun sering mendapat nilai yang bagus dari guru Bahasa Indonesianya.

Pada masa itu pulalah ia mulai menulis diary. Diary warna-warni yang ia beli dari uang jajannya itu, rutin ia isi setiap harinya. Isinya masih seputar tentang kronologi saat bangun pagi dan kejadian-kejadian di sekolah. Semuanya ia tulis dengan rapi dan dengan ragam bentuk tulisan yang berbeda-beda. Kebetulan Mimi memiliki kemampuan meniru bentuk tulisan orang lain. Sehingga setiap diary yang ia miliki, tertera beragam bentuk tulisan dengan bentuk yang berlainan.
“Saya itu suka niru tulisan orang. Yang bentuknya rangkai, lurus, bulat, besar. Semuanya saya coba ikuti. Makanya di diary saya, bentuk tulisan saya beragam” kata penggemar bakso ini sambil tertawa mengingat kebiasaan anehnya dulu.

Selain berisi kejadian harian, Diary yang Mimi miliki juga berisi tentang sinopsis film yang baru ia tonton. Dan sebagian besar adalah film action yang dibintangi oleh Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger dan Jean Claude van Damme. Masa itu memang TV swasta di Indonesia sedang booming-nya menayangkan film 3 tokoh action ini. Dan dengan cukup detail (untuk anak seusianya), Mimi menuliskan kembali jalan cerita dari tiap-tiap film yang ia tonton dalam bentuk sebuah sinopsis.

“Kalau habis nonton film laga, saya langsung buka diary dan menuliskannya. Itu film biasanya selesai pukul 10 malam. Saya pun asyik di kamar menulis sampai berlembar-lembar jalan cerita dari film itu. Jika tidak selesai, akan saya lanjutkan besok.  Saya menuliskannya dengan cukup detail. Padahal masih kelas 4 SD masa itu” paparnya panjang lebar.

Seringkali ia juga menulis cerpen dengan tokoh anak-anak. Tapi ternyata seringkali terjadi tiap cerita tak selesai, karena ia sering kehilangan ide untuk menemukan ending dari ceritanya.
“Sudah setengah cerita. Akhirnya kandas karena ngga nemu ending. Itu writing block saya pada masa itu” tawanya mengenang masa kecilnya.

Memasuki Usia SMP, Mimi mulai menyukai bacaan-bacaan remaja. Dan ia sangat menyukai novel ber-genre horror. Buku-buku karya R.L Stine menjadi bagian dari bacaan yang kerap ia lalap pada masa itu. Goosebumps dan Fear Street menjadi bacaan yang paling ia cari. Buku-buku tersebut kebanyakan ia sewa di tempat penyewaan buku di dekat sekolahnya, Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak yang berlokasi di Jl. Alianyang Pontianak. Selain itu ia juga pemburu serial Lupus karya Hilman dan Boim Lebon.

“Dulu zaman SMP, hampir sebagian uang jajan saya, saya alokasikan buat nyewa novel. Lapar perut bisa ditahan. Tapi lapar untuk nemuin imajinasi baru dari bacaan, itu yang tak tertahankan. Kadang Ibu sampai marah kalau tau uang jajan saya terpakai untuk menyewa buku” tawanya. “Dulu belum sanggup untuk beli. Jadi bisanya yaa cuma nyewa..” lanjutnya lagi.

Saat akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Mimi memilih untuk lanjut ke SMU 1 Pontianak. Salah satu SMA favorit di kotanya. Iapun berhasil masuk kesana, dan berharap bisa menyesuaikan diri dengan masa remajanya yang akan ia mulai masa itu. Ternyata kehidupan remaja SMA yang dinamis dan serba baru, turut memberikan pengaruh padanya. Masa itu ia sangat berharap bisa bergabung dengan salah satu eskul yang ada di sekolahnya. Salah satu yang paling ia dambakan adalah KIR (Karya Ilmiah Remaja).
“Disana ada banyak pilihan Eskul. Ada Pecinta alam, PMR, Paskibra, Rohis, Pramuka, dan lain lain. Tapi karna saya sangat menyukai menulis, ya tentu saja saya memilih KIR. Besar harapan saya, saya bisa menemukan sesuatu yang bisa mengasah saya jika saya bergabung dengan senior-senior yang ada disana” kenangnya.

Dengan penuh keyakinan dan kemauan, iapun bergabung dan mengajukan formulir. Posisi yang ia pilih adalah wartawan. Serangkaian tes harus dijalani. Mulai dari tes menulis, wawancara, wawancara Bahasa Inggris dll. Berdasarkan info yang ia peroleh, ia mendapat nilai yang baik pada setiap sesi. Bahkan nilai menulisnya mendapat nilai 95.
Namun alangkah kecewanya ia, saat tahu ia sama sekali tak lolos sebagai anggota KIR. Ia pun berusaha mencari tau ke salah satu senior yang ada.
“Dan Out of record….Saya tak berhasil lolos dengan alasan dari sana, karena saya tak punya motor” katanya sambil tertawa. Ternyata posisi sebagai wartawan sekolah yang ia pilih, dirasa tak memungkinkan jika tak memiliki kendaraan, minimal motor.

Kesal, tentu saja. Ia jadikan itu sebagai dendam positif. Masa remaja merupakan masa penuh keinginan untuk mencari jati diri. Dan terkadang bercampur-campur dengan emosi. Melihat temannya yang ia pikir tak begitu bagus dalam kemampuan menulis namun berhasil lolos dalam posisi wartawan yang ia incar, Mimi marah dan sedih. Ia pun “banting stir”    dan mencoba jalur lain.
“Apapun yang terkait dunia menulis, saya coba” katanya.
Iapun mencoba bergabung di Rohis SMU 1 Pontianak yang bernama FDRM (Forum Dialog Remaja Muslim). Awalnya ia enggan untuk bergabung disana karena pada masa itu ia malah belum berjilbab. Kontras sekali dengan anggota rohis yang semuanya berjilbab bahkan lebar. Sempat tidak PD dengan lingkungan barunya, toh pada akhirnya ia bisa juga berbaur. Ia memilih bergabung disana karena Rohis memiliki wadah untuk menulis. Mulai dari Mading hingga Majalah. Mimi berharap ia bisa ikut serta untuk belajar menulis dan bisa menayangkan karyanya untuk dapat dinikmati orang banyak.

Ternyata seiring berjalannya waktu, Mimi senang dan produktif berada di forum ini. Beberapa karya puisi dan cerpen yang ia tulis mendapat respon yang positif dari mereka yang membacanya.
“Saya pikir, itulah batu loncatan pertama saya. Kali pertama saya bisa unjuk karya. Hal ini menjadikan saya yakin bahwa saya harus mengasah terus kemampuan menulis ini bersama komunitas yang memiliki visi yang serupa dengan saya” paparnya.

Lalu ia pun bergabung di majalah RIHLAH. Disana ia bertugas dibagian fiksi. Cerbungnya yang berjudul “Return to the Real Eternity”, diminati para pembaca.
“Cerbung itu bertemakan kejadian 11 September yang pada tahun itu sedang ramai diperbincangkan dan menjadi peristiwa internasional yang fenomenal. Sayapun membuat cerbungnya dalam beberapa episode cerita. Ngga nyangka, banyak yang suka dan menunggu-nunggu kelanjutan ceritanya” kenangnya.
Dari sanalah ia bertemu dengan banyak orang dengan minat membaca dan menulis yang sama. Dan semuanya menjadi batu loncatan bagi Mimi untuk lebih percaya diri dalam berkarya.

2006, Novel Pertama Terbit
Pada tahun 2006, saat ia berada di semester akhir di kampus Akademi Bahasa Asing Pontianak, Mimi mendapatkan kenangan yang tak terlupakan di hidupnya. Sepucuk surat dari salah satu penerbit besar di Bandung, memberitahukan bahwa naskah novelnya yang berjudul “Ashley : Somebody Help Me!” layak terbit. Bagai kejatuhan pelangi di siang bolong, Mimi bersyukur dengan kejutan yang ia dapatkan.
“Awalnya Dar! Mizan Bandung membuka sebuah sayembara dengan hadiah yang menggiurkan. Tapi saya ngga melihat juara nya. Yang ada di pikiran saya adalah, bagaimana naskah saya ini bisa lolos dan terbit. Itu saja. Jadi saya memilih genre yang kira-kira ngga pasaran. Horor. Kebetulan saya juga menggemari genre ini” paparnya lagi.

Dan ternyata impiannya terkabul. 2006, Novel perdananya terbit di seluruh nusantara. Ia pun memakai nama pena Mimi Catz. Yang di gubah oleh penerbit menjadi Mimi Chatz.
“Itu nama pena iseng aja,  nick name saya dulu waktu tahun 2002, saat chatting di MiRC . Chatting disana pakai nick atau nama chatting-an. Langsung deh keterusan sampe sekarang. Jadi terkadang, agak ngga PEDE juga kalau diundang jadi pembicara, panitia menggunakan nama pena saya “Mimi Catz”. Kesannya alay gitu..hehe” jelas Mimi yang juga pecinta kucing ini.

Novel “Ashley : Somebody Help Me” sendiri merupakan sebuah novel remaja yang mengusung tema horror. Mengisahkan tentang sang tokoh cerita, Ashley McGriffith, yang mengalami mimpi berantai sepanjang malam, sesaat setelah ia berjumpa dengan abang tertuanya yang terusir dari rumah, Jeff McGriffith.  Novel ini sedikit mengangkat tentang ragam dunia remaja dan kehidupan mereka yang penuh kekosongan dan tanpa arah, sehingga menjadikan manusia-manusia ini bergabung dengan perkumpulan pemuja setan seperti satanic dabblers.

Cita-cita terpendam
Kalau ditanya masalah cita-cita, sejak kecil Mimi ingin sekali bergelung di dunia jurnalis. Cita-citanya adalah menjadi seorang reporter berita. Ia waktu kecil sangat suka menonton acara berita. Masa itu ada penyiar berita bernama Desi Anwar, Dana Iswara dan Zsa Zsa Yusharyahya yang ia kagumi. Sayang, orang tua tidak mengizinkannya untuk kuliah di luar Kalimantan. Sang Ibu menginginkannya menjadi seorang tenaga pendidik, seorang guru sebagaimana pengabdian ibunya selama ini.

Walau demikian, keinginan terpendam itu coba ia lanjutkan. Pada tahun 2007 ia bergabung dengan PT. Swara Mas Mujahidin Madani. Melalui sebuah seleksi yang cukup ketat sebagai penyiar radio yang diikuti oleh 80-an orang, ia berhasil lolos. Ia pun bergabung di Radio Mujahidin FM. Sebuah radio yang pada awal berdirinya sudah cukup mendapat pengakuan dari masyarakat. Disinilah ia memulai dunia baru di bidang broadcasting. Berbagai kemampuanpun berkembang.

“Serunya jadi broadcaster atau penyiar itu, kita terasah dalam pengumpulan, pengeditan dan penulisan naskah. Benar-benar menyeimbangkan kemampuan tekstual dan oral. Banyak hal saya dapatkan dari dunia penyiaran..Belum lagi keharusan dalam mereportase sesuatu dalam setiap keadaan. Ini cocok dengan jiwa saya. Saya senang dengan dunia broadcasting ini,” ujarnya.

Tentu ada suka dan dukanya juga. Sebuah kisah lucu pernah terjadi.
“Pernah di suatu Sabtu, saya siaran duet, di sebuah program pagi. Entah mengapa pagi itu, teman duet saya membacakan naskah tentang ayam. Saya tertawa tiba-tiba waktu dengar kata “ayam”. Rekan saya pun akhirnya ikutan tertawa. Celakanya, tuh ketawa bener-bener ngga bisa berhenti, sampai operator pun kebingungan. Ngikik aja di belakang mik. Dengan harap-harap ngga ada pendengar yang denger. Padahal mana mungkin? Walhasil, Operator langsung menutup suara kami dengan memutarkan nasyid…Haduh….saat jeda, telpon kantor langsung bunyi dan kami berdua dapat teguran..hehehe.”

Dari sini juga ia dapat banyak sekali teman baru, termasuk pendengar setia. Salah satu program acara yang ia pegang adalah Pena Muda. Program seputar sastra dan dunia kepenulisan. Di program ini Mimi ber duet dengan penyiar cilik Filang Ridho Ananda.
Di tahun 2011 Mimi juga sempat bergabung dengan TVRI Kalimantan Barat dan sempat merasakan pengalaman sebagai penyiar berita dan presenter di beberapa acara.

“Saya pernah juga mengisi di TV lokal seperti KCTV dan KTV, sebagai bentuk kerjasama dengan Radio Mujahidin. Lalu di 2011 saya bergabung dengan TVRI Kalimantan Barat. Seru juga. Pengalaman penyiaran bertambah terus. Tapi sayangnya tidak terlalu lama, karena setelah menikah dan hamil, saya harus banyak istirahat dan men-stop segala kegiatan broadcasting saya itu” ceritanya lagi.

Mimi juga sempat bergabung dengan Lentera Community. Sebuah komunitas yang berisi penulis-penulis muda Kalimantan Barat. Pada 2009 mereka berhasil me-launching antalogi berjudul “Coretan di Langit Kapuas”. Buku ini di launching dengan menghadirkan Nur Iskandar (Pemred Borneo Tribune) dan Ferry Hadary (Penulis buku “Sapa Cinta dari Negeri Sakura”).
“Oh iya saya juga sempat menjadi Pembina KIR di MAN 2 Pontianak. Ternyata banyak juga adik-adik muda yang senang dan rutin menulis. Beberapa diantara mereka juga memiliki bakat yang baik di dunia menulis” ceritanya.

Selain aktif mengajar (guru Bahasa Inggris), dan siaran, Mimi juga kerap di undang di pelatihan atau workshop-workshop kepenulisan sebagai pembicara. Terkadang ia juga disandingkan dengan penulis-penulis lain. Pernah juga ia berkesempatan menjadi MC di acara launching buku rekan-rekannya. Antara lain buku “Sepok” milik Pay Jarot Sujarwo, yang merupakan buku berbahasa melayu yang mengangkat kisah saat sang penulis mengunjungi Bulgaria.
“Seringkali juga di undang to jadi MC di acara-acara luar kepenulisan. Biasanya di acara MUI, atau organisasi kemasyarakatan. Yang paling berkesan saat jadi MC untuk Zaskya Adya Mecca dan juga (almh) Ibu Yoyoh Yusroh, anggota DPR RI yang terkenal sangat produktif dalam beraktivitas dan luar biasa disiplin” paparnya.

Di tahun 2011, kembali ia gabung dengan teman-teman FLP Kalimantan Barat, menerbitkan sebuah buku antalogi berjudul “Mozaik Peradaban dari Khatulistiwa”. Launchingnya di buka langsung oleh penulis buku Ayat Ayat Cinta, Habiburrahman Elshirazy yang langsung datang ke Pontianak. Mimi bertugas pula sebagai MC pada acara launching tersebut.

Mereka yang menginspirasi
Berbicara tentang mereka yang menginspirasi, Mimi merasa terlalu banyak orang yang turut andil baik secara langsung maupun tidak langsung dalam hidupnya.
“Orang tua, tentu saja. Karena merekalah skup terdekat dalam keseharian.”
Dalam hal kepenulisan sendiri, Mimi saat duduk di bangku kuliah mulai menyukai karya sastra berupa puisi.

“Ibnu Hazm Elandalusy salah satu yang sangat saya sukai,” katanya. Puisi-puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda juga menjadi yang ia cermati.  “ Saat saya pertama kali memiliki blog pada tahun 2006, karya-karya mereka turut andil dalam inspirasi saya menuliskan puisi dan tulisan.”
Pada tahun 2008, Mimi juga sangat bersyukur dapat bertemu dengan sastrawan Indonesia, Habiburrahman Elshirazy dan Anif Sirsaeba saat mengikti serangkaian karantina di Depok.
“Dulu kan Ayat-Ayat Cinta lagi booming yah..Alhamdulillah saya berkesempatan untuk bertemu langsung dengan dua penulis kakak beradik ini. Saya cermati, saya amati mereka. Termasuk saat Kang Abik membacakan puisi tentang Palestina dengan penuh kharisma. Dan saya amati juga public speaking beliau. Dari situ saya banyak belajar” ceritanya lagi.

“Selain itu, saya juga sangat menggandrungi Asma Nadia. Mungkin karena tema yang di usung Asma Nadia itu lincah dan tidak membosankan. Baik karya fiksi dan non-fiksinya. Apalagi saat sekarang saya sudah berumah tangga. Sungguh terasa semakin dekat dan nyambung dengan karya-karya beliau…” ujarnya.
“Karya luar juga tentu suka. Novel-novel remaja populer pun masih saya baca. Mulai dari novelnya Dan Brown, JK Rowling, Stephanie Meyer. Harry Potter itu justru sebagai pil perangsang saya untuk menyelesaikan novel “Ashley: Somebody Help Me” saya dahulu. Saya ingat betul, saat stuck ngetik naskah, saya langsung lalap Harry Potter. Dan ide saya langsung bermunculan. Aneh ya. Tapi yah begitulah keadaannya…” kenangnya lagi.
“Yang lucu itu waktu pengalaman saya hamil kemarin. Tiba-tiba saya ngidamnya pengen baca karya-karyanya Sir Arthur Conan Doyle. Ngga pernah-pernah suka baca buku detektif. Akhirnya dibeliin juga sama suami..hehe” katanya sambil tertawa.

Suka horor
Mimi sangat menyukai menonton film horror. Saat menikah di tahun 2011, sang suami yang tidak suka film genre horror ataupun thriller terpaksa mengikuti hobi istrinya ini. Salah satu film yang paling berkesan buat Mimi adalah The Last Exorcism yang dibintangi oleh Patrick Fabian. Terkadang terpikir di benaknya untuk kembali menerbitkan sebuah novel dengan tema exorcism atau pengusiran setan. Tapi mungkin belum saatnya.

“Sukanya nonton film horror. Padahal aslinya malah penakut” katanya sambil tertawa. Tapi begitulah kenyataannya. Salah satu kebiasaan yang ia lakukan sebelum tidur biasanya nonton film. Kalau suami membawakan film bergenre horror thriller, senangnya bukan main.
“Lewat film kita juga bisa eksplore cerita. Ini juga membantu kita lho, dalam proses menulis..” kata lulusan FKIP Bahasa Inggris Universitas Tanjungpura Pontianak ini.

Menulis itu merancang skenario dengan cara yang menyenangkan
Tentang menulis, Mimi sangat yakin bahwa setiap orang adalah makhluk penulis.
“Yang membedakan hanyalah, orang biasa hanya bisa menulis. Tapi seorang penulis, dia menulis dengan seni,” katanya.
Diperlukan latihan secara rutin dan gemar akan membaca. Apa yang kita baca, itulah yang akan kita tulis.
“Kalau seneng fiksi, biasanya senengnya juga nulis fiksi. Kalau bacaanya buku motivasi, tulisannya ya ngga jauh-jauh juga dari motivasi. Suka baca puisi, tulisannya juga kebanyakan bentuk puisi. Yang jelas, apapun itu, terus saja membaca. Nanti “hormon menulis” akan datang dengan sendirinya..” papar Mimi mantap.

“Dan yang terpenting adalah, terus berkarya. Jangan jatuh karena kritikan. Dan jangan jatuh pula karena pujian. Menulis itu proses panjang dan menyenangkan. Jadi nikmati saja. Prinsip saya, kritikan itu adalah vitamin. Sedangkan pujian itu adalah cemilan. Jadi, porsikan mereka sebaik-baiknya….” Lanjutnya lagi.
“Meminjam istilah Putu Wijaya, ‘Lapar menulis’. Kalau sudah ada sense ini, wah bakal luar biasanya produktivitas seorang penulis. Kalau ngga nulis, dia tersiksa” jelasnya.

Jadi bagi Mimi, menulis itu ibarat kita merancang sebuah skenario sendiri. Semakin baik wawasan, maka skenario yang di buat juga akan semakin indah dan bagus. Penulis bak sutradara yang bebas mengarahkan dan memaparkan imajinasinya dalam tulisan yang ia buat. Ia merancang, membuat tulisan menari dan meliuk-liuk diatas kertas. Penulis memoles dan me-make over setiap kalimat, sehingga deretan kata tadi tumbuh subur dengan cantik dan sedap dibaca. Sungguh menyenangkan aktivitas menulis itu.

Istri dari Muhammad Zuhri ST ini juga menjelaskan bahwasanya banyak orang mengatakan menulis itu susah. Padahal jika sudah ada kemauan, maka muncul kemampuan.
“Kemauan itu sanggup mengalahkan ketidak mampuan, lho” tegasnya. “Menulis itu hanya butuh kemauan, lalu lalukan. Apa yang kita rasa, tulis. Apa yang kita lihat, tulis. Ibarat pena kita itu sebagai “capture” dari sebuah kejadian. Saya ingat waktu saya keguguran Oktober 2011 kemarin, saya sedih. Janin saya dalam kandungan yang berusia 4 bulan harus di evakuasi. Saat proses itu selesai, dan saya kehilangan anak laki-laki saya, saya tulis surat untuk anak saya yang berada di Syurga. Saya jabarkan perasaan saya, penyesalan saya, kerinduan saya. Hingga jadilah beberapa tulisan dalam bentuk bererapa pucuk surat. Yah begitulah. Menulis terkadang butuh emosi-emosi tertentu yang menjadikan tangan ini terus bergerak. Asal ada kemauan saja, itu sudah jadi modal awal yang bagus” beber wanita berjilbab ini.
“Apalagi sekarang media untuk menulis sangat banyak. Bahkan dengan mengirim sms sekalipun, kita bisa berlatih mengasah keindahan menulis. Update status facebook juga merupakan wadah paling mudah dan sederhana untuk latihan merangkai kalimat per kalimat. Jadi rasanya susah untuk mengatakan kita malas untuk menulis,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Mimi memiliki harapan kelak ia bisa kembali menerbitkan sebuah buku. Lebih produktif dan lebih banyak memiliki teman dan kolega dalam minat serupa.
“Pengennya sih punya karya best seller. Dan impian saya dari dulu, punya keluarga penulis. Bisa duet menulis dengan suami seperti Gola Gong dan Tyas Tatanka. Atau memiliki anak-anak yang jago menulis buku dan karya sebagaimana  Putra putrinya Asma Nadia ; Cha Cha dan Adam. Atau Abdurrahman Faiz, anak dari Helvy Tiana Rossa. Semoga Allah kabulkan…” tutup Mimi sebagai harapannya di masa mendatang.