Home / Beranda / Tanjidor; Bunyinya Tak Senyaring Dulu (2)

Tanjidor; Bunyinya Tak Senyaring Dulu (2)

tanjidor, musik khas melayu

Oleh: Nabu

Sambas- Hujan gerimis berjatuhan, awan hitam menyelimuti langit-langit yang tadinya biru. Hawa sejuk mulai terasa sangat menyentuh di kulit. Penulis memaksakan diri untuk turun dari rumah menuju tempat bapak Ali (73), ketua GrupTanjidor Genta Perba yang berdiri pada tahun 1962 ini.

Untuk kedua kalinya, pengurus menemui pak Ali untuk mendengarkan kisahnya mempertahankan tanjidor Sambas sebagai hiburan rakyat dari serbuan musik modern.

Tidak sampai satu jam penulis bermotor melewati rintik gerimis. Akhirnya sampai di sebuah toko sederhana, yaitu hanya satu tingkat itu, berdinding papan, tiang kayu serta atap dan (daun sagu). Isi toko pun sangat sederhana, menjual sayur mayur, rempah-rempah, sembako dan makanan ringan.

Setiba di depan tokonya, pak Ali terlihat sangat sibuk melayani pembeli yang mulai ramai. Dia pun sempat melihat ke arah penulis sambil melambaikan tangan dan tersenyum kecil. Saya membalas lambaian dan senyuman itu.

Saya duduk di depan toko menunggu bapak Ali selesai melayani pembeli. Tidak lama berselang dia pun datang menghampri sambil mengacungkan tangan, aku pun menyambutnya dengan erat. “Ade hajat ape kesitok agek?” Katanya dengan logat Sambas yang kental.

“Oh ndak ape-ape pak, cume mau tanyak jak tentang sejarah Tanjidor Genta Perba dan sejarah bapak yang memperjuangkan Genta Perba ini? Saya membuka pertanyaan sambil mempersiapkan pertanyaan berikutnya yang sudah ditulis di kertas tadi sebelum berangkat dari rumah.

Bagaimana Tanjidor Genta Perba terwujud?
Terwujudnya atau terciptanya Grup Genta Perba ini, berkat ayah kami dulu. Di mana mereka meminta kepada masyarakat desa untuk melakukan patungan (persatuan) sekampung. Jadi, duit yang terkumpul dibelikan alat musik. Setelah itu membentuk kelompok latihan, yang kami lakukan setiap malam. Waktu itu saya dipercaya sebagai ketua. Soal nama Tanjidor ini masih belum kami beri nama.

Setelah itu kami bersepakat untuk memberi nama musik ini dengan Grup Musik Genta Perba yang kami bentuk pada tahun 1962 dengan personil 12 orang. Genta Perba ini juga terbentuk berkat masyarakat setempat yang selalu mendukung kami, serta semangat kami untuk mewujudkan hal yang baik.

Seperti apa anda dan lainnya menggambarkan tugas dari Tanjidor Genta Perba ini?
Menjadi pemusik harus siap bila diperlukan. Harus siap meninggalkan keluarga dalam waktu yang agak lama dan harus siap mengorbankan waktu dan tenaga. Tapi di sinilah letak pengorbanan kami yang bergabung di Grup Genta Perba ini. Kadang kami sebulan sekali pulang rumah. Itu pun hanya satu hari, karena  jaman dulu permintaan orang pernikahan masih banyak.

Anda dan Genta Perba sebagai musik satu-satunya di daerah ini waktu dulu, benarkan?
Ya, benar  dulu Genta Perba hanya satu-satunya musik untuk di daerah Paloh. Jadi, kami pun kadang-kadang kewalahan menerima order manggung atau main musik. Kami pun dikenal sebagai grup musik terbaik di daerah kami.

Tantangan apa yang anda dan teman-teman anda alami?
Menjadi pemain musik ini bukanlah hal yang mudah selain keluarga yang kami tinggalkan, seorang pemain musik harus siap dipanggil untuk main di acara pernikahan, walaupun badan tidak terlalu sehat atau sakit. Biasanya kami jalan kaki untuk menuju tempat main, yang biasanya puluhan kilo meter jaraknya. Karena jalan tidak memungkinkan bila naik sepeda.

Anda kini berkerja sebagai penjaga toko dan menjual sayur-sayuran, lalu seperti apa kerja anda?
Kalau sekarang saya hanya berkerja sebagai penjaga toko sembako dan sayur-sayuran yang sudah dari dulu dibangun. Dari sini lah penghasilan kami untuk menghidupi keluarga. Kalau untuk mengharapkan pendapatan dari main musik hanya gitu-gitu lagi. Tetapi sekarang saya juga masih menjadi ketua dan koordinator Grup Genta Perba. Tetapi lebih sering di toko yang ditemani oleh anak saya.

Suka duka apa yang anda rasakan dengan profesi menjadi pemusik?
Puluhan tahun bukanlah waktu singkat untuk mengecap manis-pahitnya sebuah profesi. Panjangnya perjalanan ini membuat saya menjadi semakin mencintai profesi pemain musik ini. Dari desa ke desa, kampung ke kampung, Alhamdulilah semakin banyak pengalaman dan ilmu berharga yang saya dapatkan. Saya menyadari bahwa saya dan rekan-rekan saya tidak lagi muda dan berjiwa baja seperti dulu. Tugas kami adalah memberikan pelayanan dan kepuasan bagi pelanggan kami.

Apa obsesi Anda kedepannya?
Sebagai seorang pemusik, saya berharap kian tumbuh kesadaran masyarakat khususnya para pemuda untuk melanjutkan perjuangan kami, untuk mempertahankan budaya yang ada. Saya juga ingin pemerintah lebih memperhatikan hal ini, karena kalau tidak, budaya musik tanjidor ini bisa hilang ditelan jaman modern yang mengandalkan Band. Bagi saya pribadi, membuat budaya musik tanjidor ini bisa bertahan sampai anak cucu menjadi kebanggaan tersendiri.

Check Also

Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara yang Terlupakan

Oleh: Nur Iskandar Tepat di hari Kartini, (21/4), Seminar Nasional Meluruskan Sejarah Sultan Hamid Sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *