Home / Jurnalisme Warga / Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

 Oleh Mellisa Jupitasari

MABMonline.org, Pontianak– Bus tujuan Kuching, Malaysia melaju kencang melewati jalan di antara lembah-lembah hutan Kalimantan. Jalan-jalan trans-Kalimantan terlihat tidak terlalu besar. Begitu pula dengan rumah-rumah di sepanjang jalan menuju Entikong. Tidak ada kesan mewah di antara rumah-rumah itu. Semua terlihat biasa. Rimbunan pohon-pohon sawit juga terlihat kontras di beberapa titik-titik tempat tertentu, bahkan bukit-bukit pun terlihat ditanami pohon sawit.

Perjalanan ini benar-benar menjadi perjalanan yang cukup berharga. Jelas saja, melalui perjalanan ini, 3 orang mahasiswi ini dapat melihat sisi lain sudut-sudut pedalaman Kalimantan sebelum akhirnya sampai di negeri jiran itu. Jalan yang menanjak, tikungan tajamnya, beserta jurang-jurang yang tampaknya akan selalu ada di tepi tikungan jalan trans—Kalimantan. Jalanan yang dilewati tidaklah selalu mulus, ada beberapa jalan yang belum diperbaiki, hal ini sangat terasa. Mobil sebesar SJS saja masih bergoyang-goyang ketika melewati jalan di daerah sekitar Tayan dan Sosok. “Jalan di sekitaran situ Tayan dan Sosok masih rusak,” ucap Dede Melda, satu di antara mahasiswa yang mengikuti perjalanan itu. Tapi tentunya tak menyulutkan semangat 3 mahasiswi itu untuk melanjutkan perjalanan bersama dua dosennya ini.

Bus tiba-tiba berhenti di depan rumah makan Padang. Tepatnya di Sosok, Kabupaten Sanggau. Tampaknya bus-bus ini memang menjadikan rumah makan Padang ini sebagai tempat perhentiannya guna untuk beristirahat maupun untuk mengisi kampung tengah. Betapa kagetnya kami. Waktu turun dari bus beberapa calo mengeluarkan uang ringgit untuk dijual kepadad setiap penumpang bus yang akan menuju ke negeri sebelah. Kami hanya diam saja dan tidak memperdulikan. Sesampainya di Entikong, pihak imigrasi dari Indonesia mengecek kelengkapan administrasi. Antrian cukup panjang kala itu. Lagi-lagi kami disuguhkan dengan pemandangan yang sama ketika di rumah makan itu yakni  ditawarkan ringgit sama beberapa calo. Heran. Itulah yang ada di benak kami. Begitulah mungkin satu di antara cara orang perbatasan mengais rezeki.

Setelah kami menyelesaikan administrasi mulai dari pengecekan paspor dan pengecekan barang bawaaan, baik di kantor imigrasi Indonesia maupun di kantor imigrasi Malaysia kami pun melanjutkan perjalanan. Kami diperlihatkan dengan pemandangan bukit-bukit yang indah. Lekuk-lekuk bukit menjulang seakan menunjukkan kegagahannya menyambut setiap pengguna jalan yang selalu melewati kawasannya. Rintik-rintik langit pun tak mau kalah dengan julangan bukit yang memamerkan keindahan lekuk-lekuknya.

Segenap rintik-rintik langit itu turun dengan derasnya. Kedatangan kami benar-benar disambut oleh rintikkan hujan kala itu. Sejenak dendangan Chrisye dibus ini seakan bersahut-sahutan juga dengan hujan yang turun waktu itu. Alunan syahdunya mengalun-alun seakan menari bersama rintik hujan yang jatuh kala itu. Suasana syahdu pecah.  Tiba-tiba di tengah perjalanan kami diberhentikan oleh beberapa polisi.

Mungkin itu polisi yang bertugas di daerah yang tak jauh dari perbatasan untuk mengecek kelengkapan paspor dan mengecek barang bawaan. Lagi-lagi begini. Setelah selesai bus pun terus melaju. Pada saat di perjalanan lagi-lagi bus berhenti. Mata tertuju pada SPBU yang ada di negeri tetangga ini. Tidak satu orang pun yang menjaga tempat pengisian bahan bakar minyak ini. Pembeli benar-benar melayani dirinya sendiri. Ini sangat kontras sekali dengan pemandangan di negeri sendiri.


Bus pun melanjutkan perjalanannya lagi. Waktu lebih cepat satu jam dari biasanya. Jelas saja negara ini memiliki waktu lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat. Jadi kami harus membiasakan diri dan menyesuaikan diri dengan waktu yang lebih cepat ini. Kami pun sampai di Kuching. Ya, tepatnya di Kuching Sentral. Penglihatan masih meraba-meraba apakah ini pusat perbelanjaan atau terminal. Ternyata tempat ini merupakan tempat perhentian bus dan taksi yang dilengkapi pusat perbelanjaan di dalamnya yang menjadi sebuah sentral. Ya cukup menarik dan menginspirasi.

Bus ini pun memberhentikan penumpang di terminal sentral ini. “Perbedaan terminal kita dengan mereka jauh sekali,” lanjut Dede Melda. Jelas saja terminal di Kuching Sentral ini lebih tertata daripada terminal sendiri.

Dua dosen laki-laki dan tiga mahasiswa perempuan ini berhenti sejenak di sentral tersebut setelah setengah hari melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, sebelum melanjutkan perjalanan lagi ke bandara Kuching Internasional Airport. Setelah rehat sejenak, perjalanan pun dilanjutkan. Kami menggunakan taksi dan membayar RM 20 atau sekitar Rp. 60.000. Perjalanan ternyata kurang lebih 5 menit dan ternyata jarak antara Kuching Sentral dengan bandara tersebut tidak terlalu jauh.  Agak Mahal. Tapi wajarlah fenomena ini juga sering kita temukan di negara sendiri. Pengais rezeki kadang-kadang memanfaatkan lahan yang ada untuk meraup rezeki sebanyak-banyaknya apalagi di tempat-tepat seperti itu. Hal ini tentu akan menjadi lahan basah pengais rezeki untuk menuai pundi-pundi yang ada.

Waktu keberangkatan menuju Kuala Lumpur masih lama sekitar 3 jam lagi. Kampung tengah mulai berdendang, bernyanyi-nyanyi riang. Entah apa yang dinyanyikannya, alunan nadanya pun tak jelas, entah dangdut entah keroncong. Tak ada yang bisa menghentikannya selain mengganjalnya dengan sesuap nasi. Perbedaan kultur mulai tampak dari makanan negara ini. KFC yang biasanya dengan nasi putih di negara sendiri sekarang disulap dengan nasi lemak. Nasi yang berempah yang sangat terasa lemak.  “Kalau ayamnya di negara kita lebih besar dari dari negara mereka,” ucap Dede Melda anak bungsu dari 2 bersaudara itu. “Ayam kita juga lebih krispy dari ayam mereka,” lanjut Siska. Hal ini dinilai sangat wajar, jangankan makanan lintas negara. Makanan di lintas propinsi saja antara Jawa dan Kalimantan misalnya sangat terasa bedanya. Ya kadang kultur turut andil dalam perbedaan ini, kecil perbedaannya namun kontras terasa.

Beberapa jam setelah makan, kami pun berangkat menggunakan pesawat Air Asia. Perjalanan menuju Kuala Lumpur 1 jam 45 menit, cukup lama dibandingkan Jakarta-Pontianak yang hanya berjarak 1 jam saja apabila menggunakan pesawat. Kadang yang membuat lamanya bukan dalam perjalanannya namun menunggu pesawatnya karena pesawat di Indonesia seringkali delay.

Aku pun lupa tepatnya pukul berapa kami sampai, selanjutnya …

Check Also

Karman: Kita Merasa Sangat Puas dengan Kinerja Dewan Juri

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Sambas—Karman, ketua panitia Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX, merasa puas dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *