Home / Jurnalisme Warga / Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Gambar: dalam bandara Kuching Internasional AirportAku pun lupa tepatnya pukul berapa kami sampai, kalau tidak salah tepat pukul 23.00 waktu setempat kami sampai di LCCT atau low cost carrier terminal, Kuala Lumpur. Bandaranya tidak sebersih Kuching Internasional Airport. Jelas saja LCCT dibangun khusus untuk memenuhi meningkatnya jumlah penumpang untuk maskapai penerbangan berbiaya rendah, khususnya dari Malaysia ‘tanpa embel-embel’ maskapai penerbangan Air Asia. Jadi wajar kalau ada sisi yang kurang bersih di bandara ini. Dari LCCT kami menggunakan bus menuju KL Sentral. Aku pikir perjalanan hanya sebentar. Ternyata 1 jam bus itu melakukan perjalanan menuju KL Sentral. Jadi wajar kami membayar RM18 kala itu. Sesampainya di KL Sentral ternyata perjalanan belum selesai. Kami menggunakan taksi lagi untuk sampai ke apartemen tempat bernaung para dosen yang berkuliah di sana. Sampai juga ucapku sambil menghela nafas panjang. Akhirnya kami bisa beristirahat panjang dari perjalanan panjang itu.

Keesokan harinya tepat pada tanggal 12 Oktober  2012,  kami diajak oleh dosen kami untuk pergi ke Akademi Pengkajian Melayu, University of Malaya. Sebelum menuju UM, begitulah akronim dari universitas ini, kami sarapan terlebih dahulu tepat di depan plat. Ini kali keduanya kami makan di negeri Jiran ini. Bingung mau makan apa, itulah yang mungkin ada di benakku. Nasi lemak! Ya hanya itulah yang ada di pikiran saya dan makanan yang saya kenal pertama kali adalah nasi lemak. Kebetulan nasi lemak sudah terbungkus rapi di depan meja dengan daun pisangnya. Tiba-tiba pelayan bertanya mau minum apa. Sontak dari kami satu persatu menjawab dengan “air putih”. Pelayan itu tiba-tiba berwajah agak sedikit bingung karena tidak paham air putih itu apa. “Air Suam, air suam,” ucap satu di antara dosen kami mengisyaratkan ke kami.  “Air mati,” ucap Dede dengan lantang. “Air suam, air mati?” tanya lagi pelayan itu. “Air mati” ucapku dengan agak sedikit ragu. Dan benar. Air mati itu ternyata air dingin dengan banyak tumpukan es di dalamnya dan air suam adalah air hangat. Salah pesan! Padahal yang aku inginkan air yang tidak dingin juga tidak panas tapi yang didapatkan malah air yang dingin, apa boleh buat sudah terlanjur basah. Hari ini mau tidak mau menikmati air dingin di pagi hari. Selesai sarapan dengan menggunakan bus kami pun langsung menuju KL Sentral untuk memesan tiket kereta menuju ke Penang. Cukup dengan 1 ringgit kami pun sampai di KL Sentral.

KL Sentral merupakan sentral dari segala jenis angkutan bedanya dengan Kuching Sentral ialah apabila jasa angkutan di Kuching Sentral hanya berbatas bus antar lintas negara dan taksi saja, KL Sentral lebih kompleks dari itu. Mulai dari taksi, bus, monorel, sampai pada kereta api belum lagi di dalamnya terdapat pusat perbelanjaan. Namun sayangnya KL Sentral kala itu masih dalam tahap renovasi meskipun demikian aktivitas di tempat tersebut tetap padat merayap. Berbagai manusia dari berbagai negara banyak sekali di sini. Terutama orang India, orang India banyak sekali bermukim di Malaysia. Bahkan ada satu di antara kawasan yang tidak jauh dari KL Sentral bernama “Little India”, tempat dimana komunitas orang India berdagang. “Orang India yang bermukim di sini sekitar 30%, 40 % nya Melayu, dan sisanya campuran,” ujar Endang Susilawati, dosen bahasa Inggris FKIP Untan yang sedang berbicara bersama kami.

Gambar: Alun-alun “Little India” Little India benar-benar disulap seperti India kecil di negara Melayu ini. Desain kawasan ini penuh lekukan-lekukan arsitektur khas India. Mata kita benar-benar dimanjakan dengan kopian negara India. Sayangnya di daerah ini kita tidak menggunakan mata uang rupee tetapi mata unag ringgit. Di sepanjang jalan pun setiap bertemu dengan orang India tidak sedikit dari mereka yang menggunakan bahasa India. Di negara ini otak benar-benar bercampur karena mendengarkan banyak bahasa asing. Walaupun yang mendominasi di sini adalah bahasa Melayu yang sangat kental.

Tiket kereta api tujuan Butterword pun kami dapatkan. Setelah mendapatkan tiket tersebut, perjalanan saya, dua teman saya, dan 4 dosen saya berlanjut menuju UM. UM sering disebut-sebut universitas nomer satu Malaysia. UM merupakan universitas tertua di Malaysia, luas UM berukuran 309 hektare. Cukup besar bahkan besar sekali untuk ukuran satu universitas. Di area sekitar komplek universitas ini bagaikan jalan raya, bahkan traffic light banyak sekali menghiasi sudut komplek universitas yang berada di pinggiran kota Kuala Lumpur ini. Komplek UM yang hijau karena dirimbuni banyak pohon menambah sejuk suasana di sana. Universitas yang tetap mempertahankan keindahan alam dan berada di dekat perbukitan ini cukup dinilai wajar apabila dikatakan universitas nomor satu di Malaysia.

Sesampainya di APM, saya dan dua teman saya langsung menuju perpustakaan APM, melihat-lihat perpustakaan dari kampusnya para dosen FKIP Untan yang melanjutkan S3 di sini. APM memang gudangnya dari segala pengkajian mengenai ‘onak-anik’ sastra, linguistik, dan hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan.

Jadi wajar para dosen jurusan PBS banyak yang memilih APM sebagai tempat mereka melanjutkan gelar Phd nya.

Di APM kami juga sempat berbincang-bincang dengan Prof. Mokhtar satu di antara dosen senior APM. Prof Mokhtar ini merupakan pembimbing dari ketua prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yakni ibu Sesilia Seli. Sosok yang ramah dan bersahabat. Itulah yang ada di benak kami. Bahkan beliau tidak ragunya melayani kami dengan mengambilkan bubur jagung dan beberapa gorengan di kantin APM hanya untuk sekadar menjamu kami. Kebaikan hati yang patut dicontoh.

 13 Oktober 2012
Hari ini H-1 sebelum keberangkatan ke Penang….

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *