Home / Jurnalisme Warga / Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Hari ini H-1 sebelum keberangkatan ke Penang. Kami menyempatkan diri untuk jalan ke Chow Kit untuk mencari tas. Tas gendong satu di antara dosen kami putus dan tak ada jalan lain selain menggantinya dengan yang baru. Mungkin di sana harganya murah makanya tempat itu direkomendasikan oleh satu di antara dosen kami. Dari apartemen, kami dan dua dosen saya menggunakan bus ke KL Sentral. Sesampainya di KL Sentral kami menggunakan Monorel untuk menuju Chow Kit. Dari dalam monorel tampak jelas pusat kota negeri Jiran ini. Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan aktivitas kendaraan dari bawah sangat jelas ketika kami berada di monorel ini. Jelas hal ini membuat mata yang tak henti-henti tertuju ke balik kaca monorel.

Kami pun sampai di Chow Kit. Daerah ini tampak sedikit kotor berbeda dengan pusat kota. Setidaknya sebersih-bersihnya pusat kota negeri Jiran ini masih ada sisi ‘kotornya’ yaitu di daerah Chow Kit. Selain mencari tas, di sini kami menyempat diri berbelanja sedikit sebelum kami berangkat ke Penang. Kami membeli beberapa coklat di satu di antara supermarket di sini. Harganya terbilang murah. Namun pemandangan tidak biasa aku temukan lagi di sini. Plastik yang biasa digunakan untuk memasukkan barang belanjaan ternyata berbayar. Memang harga 1 plastik itu tidak mahal kisaran harga 6 sampai 8 sen Malaysia tapi tetap saja tidak biasa. Bayangkan saja apabila belanjaan kita banyak tentu kita juga harus meronggok kocek yang lumayan besar untuk membayar plastik tipis itu. Apalagi kita biasa mendapatkan secara gratis plastik-plastik itu apabila setelah belanja di toko, hal ini tentu jadi hal yang baru bagi orang yang pertama keluar negeri seperti kami. Ya mungkin ini satu di antara cara pemerintah di sini untuk menekan tingginya peningkatan penggunaan sampah plastik. “Dan tidak jarang beberapa pembeli membawa plastik sendiri atau tas untuk menempatkan barang bawaannya,” ujar Ibu Endang saat ditanya mengenai fenomena ini.

Chow Kit tampak benar-benar mendung pagi itu. Hujan pun tak dapat dielakkan. Gemuruh petir menyambar-nyambar membuat terkejut orang di sekitarnya. Suara petir di Malaysia memang agak besar. Entahlah, mungkin Malaysia banyak menggunakan listrik pikiran polosku pun meraba-raba ketika hati bertanya tentang hal ini. Bunyinya benar-benar seakan ingin memakan orang-orang berada di dekatnya.  Setelah setengah hari menjelajahi Chow Kit dan menemukan barang yang dicari, kampung tengah mulai bernyanyi bahkan bukan dangdut atau keroncong lagi, mungkin telah berubah menjadi dendangan rocknya anak metal. Kampung tengah benar-benar meronta. Kami pun menyempatkan diri untuk mencicipi makanan di sini. Kami memasuki satu di antara rumah makan yang berjejer di tempat ini. Sepertinya rumah makan ini punya orang Jawa. Tulisannya saja restoran ‘sido mampir’. Penghuni Chow Kit memang kebanyakan yang berdomisili dari Indonesia jadi wajar ada restoran Jawa di sini. Namun menu makanan di sini tidak sepenuhnya khas Indonesia, banyak juga yang berasal dari Malaysia. Kami bertiga memesan nasi goreng Indonesia. Dasar orang Indonesia, pesanannya tidak jauh-jauh dari makanan sendiri, seharusnya kami memilih menu yang agak berbeda dari biasanya, ini malah pesan nasi goreng Indonesia. Hmmm, kami tidak mau bereksperimen dengan rasa yang aneh yang tentunya tidak cocok dengan lidah kami, dari pada merasakan hal yang aneh mending kami memilih cara aman dengan memesan nasi goreng Indonesia. Kalau dua dosen kami memesan nasi kampung, seharusnya kami mencontoh mereka tapi tidak apalah yang penting kampung tengah ini berhenti bernyanyi.

Nasi goreng Indonesia di MalaysiaSetelah makan kami pun meninggalkan Chow Kit dan beranjak pulang ke apartemen. Hari itu juga pukul 23.00 kami dan empat dosen kami pun berangkat menggunakan kereta api dari KL Sentral menuju ke stasiun Butterword sebelum akhirnya kami ke Penang. Suasana yang sangat dingin membuat gigil orang yang berada di dalam kereta ini. Gigi menggerutu. Entah berapa saja suhu AC di kereta ini aku pun tidak tahu tapi yang jelas jaket dan sehelai kain benar-benar tak cukup membuat tubuh menjadi hangat semalaman ini. Kereta pun berjalan mengikuti alunan malam itu, menelusuri sudut-sudut pusat kota sampai pada sudut pedesaan. Pemandangan sawah serta pegunungan akan selalu membuat hati damai ketika melihatnya dan pemandangan seperti inilah yang kami lihat ketika matahari mulai terbit saat masih berada di dalam kereta.

Tepat pukul 09.00 pagi kami pun tiba di stasiun Butterword. Tidak jauh dari stasiun Butterword sekitar 1 km merupakan tempat penyebarangan menuju Penang. Penang berada di pulau seberang Butterword. Kami menyempatkan diri untuk sarapan pagi itu sekadar untuk menambah tenaga di ‘tempat penjaja sementara MPSP’ yang tak jauh dari tempat penyeberang ke Penang. Setelah sarapan kami pun melanjutkan perjalanan menyeberang pulau dengan kapal feri menuju ke penang.

kapal feri menuju ke PenangSaat berada di dalam fery gedung-gedung tinggi pencakar langit tampak jelas membelah lautan Bayan Lepas di Pulau Penang dan Seberang Prai di daratan Malaysia. Kapal-kapal berseliweran di lautan yang membelah pulau Penang ini seakan tak mau kalah dengan aktivitas kendaraan yag berada di darat.

Sekitar 15 menit waktu penyeberangan, kami pun sampai di pulau seberang ini. Bangunan-bangunan di Pulau Penang berdiri kokoh mengitari pulau ini. Walaupun tampak tak sepadat pemandangan di Kuala Lumpur tapi bangunan-bangunan itu cukup menghiasi pemandangan sejauh mata kita memandang. Aku sempat berpikir dengan bangunan yang terlihat tak sepadat Kuala Lumpur pasti persentase penduduk di sini juga tidak terlalu banyak seperti halnya di Kuala Lumpur. Akan tetapi lagi-lagi apa yang tampak kadang tidak selalu benar dengan kenyataan sebenarnya. Hal ini dibuktikan dari data wikipedia bahwa Pulau Penang memang negara bagian Malaysia yang terkecil kedua, setelah Perlis. Namun dari segi kepadatan penduduk, Pulau Penang menduduki urutan pertama. Bayangkan saja negara bagian Malaysia yang terkecil kedua memiliki kepadatan penduduk dengan urutan pertama. Cukup membuat heran mungkin karena penghuninya kebanyakan etnis tionghoa. Maklum, etnis satu ini memang terkenal sering memiliki banyak anak. Itu satu di antara hasil spekulasi saya. Alasan yang benar-benar valid saya juga tidak tahu, entah mengapa Pulau Penang memiliki penduduk yang sangat padat. Selain itu, negeri ini juga memiliki persentase penduduk muslim dan Melayu yang terendah di antara negara-negara bagian di Malaysia, ya karena itu tadi, mungkin penghuninya kebanyakan etnis Tionghoa.

Perjalanan belum selesai, kami belum sampai di Pulau Jerejak tempat tujuan akhir kami. Tempat berhentinya fery tak jauh dari terminal bus. Kami pun naik bus lagi untuk menuju ke Jerejak Rain Forest Resort. Bus pun berjalan menelusuri Pulau Penang. Penang terlihat seperti kota tua. Ornamen-ornamen khas tionghoa terlihat di beberapa sudut kota. Gunung-gunung menjulang terlihat dari kejauhan. Apartemen-apartemen yang berdiri kokoh di sekitar kota ini juga tak mau kalah dengan kokohan gunung yang berdiri tegak di tepian langit.

Sepanjang perjalanan kami melihat pemandangan yang cukup membuat takjub. Sebelah kiri jalan ternyata merupakan jejeran lautan yang menghiasi bibir jalan raya. Belum lagi Penang Bridge atau jembatan Penang yang tampak jelas membelah lautan. Dari kejauhan kami tadi memang sempat melihat Penang Bridge di fery namun tak sejelas ketika kami berada di bus ini. Kami teringat akan Suramadunya Indonesia.

Gambar: Tampak dekat Penang BridgeJembatan yang melintasi Selat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia ini memiliki panjang 5.438 m, dan jembatan kesayangan kita ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Namun menurut data itu sayangnya jembatan Suramadu terkalahkan oleh jembatan yang ada di Pulau Penang. Menurut data Wikipedia, panjang keseluruhan jembatan Penang ini sekitar 13,5 km yang membuat jembatan ini menjadi satu di antara jembatan terpanjang di Asia Tenggara dan merupakan sebuah landmark nasional negeri Malaysia.

Hal inilah yang membuat mata tidak berkedip sekali pun. Mata seakan tidak mau melewatkan pemandangan ini. Bulir-bulir angin terlihat menyapih dedaunan disekitar bibir jalan raya. Walaupun tak dapat merasakan hembusan angin tersebut karena posisi sedang berada di dalam bus, namun melihat angin-angin yang tertiup saja hati pun terasa tenang seakan ada kedamaian dari semilir angin tersebut.

Kurang lebih 30 menit perjalanan ini. Akhirnya kami sampai juga pada destinasi akhir. Ya, Jerejak Rain Forest Resort. Tempat 3 mahasiswa dan 4 dosen ini untuk mengikuti RCLK atau regional conference on local knowledge, seminar internasional tahunan yang dilaksanakan tiap tahunnya oleh Universiti Sains Malaysia. Ternyata untuk ke resort ini kita harus menggunakan speedboat lagi. Tempat yang diberhentikan oleh bus ini hanya tempat perhentian awal sebelum pergi ke resort  yang sebenarnya. Kami pun menggunakan speedboat menuju resort. Sekitar 10 menit untuk menuju ke pulau Jerejak ini. Melewati lautan untuk menuju ke resort ini mengingatkan kita pada saat menelusuri Sungai Kapuas. Bagian lautan menuju ke Pulau Jerejak ini tidak terlalu lebar, ya sebelas dua belas, mirip dengan Sungai Kapuaslah. Namun yang membedakannya hanyalah warna airnya. Cukup tahulah warna Sungai Kapuas itu bagaimana. Sesampainya di sana kami diperlihatkan oleh pemandangan yang indah. Antara pantai dan hutan hujan tropis begitulah penggambaran tempat ini. Dari depan resort kita disuguhkan oleh pemandangan gedung-gedung dengan hiruk pikuk kota.

Memang sejarah resort ini agak sedikit suram. Namun pihak resort seakan menyulap pulau yang dulunya mantan penjara dan pembuangan orang yang memiliki penyakit kusta ini menjadi resort yang cukup menarik untuk dikunjungi oleh keluarga.

15 Oktober pun tiba.
RCLK dibuka di ruang angsana. Ruang yang cukup besar untuk event persidangan serantau ini.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *