Home / Jurnalisme Warga / Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

Napak Tilas “My Trip”; Pontianak-Kuching-Kuala Lumpur-Penang

RCLK dibuka di ruang angsana. Ruang yang cukup besar untuk event persidangan serantau ini. Ruangan dipadati para petinggi-petinggi USM begitulah akronim Universiti Sains Malaysia. Para pemakalah dari dalam dan luar negeri juga ikut turut andil dalam memadati ruangan Angsana ini. Bunyi gong pertanda dibukanya acaranya ini sudah dilaksanakan. Tarian-tarian khas Melayu serentak menyambut bunyian gong itu. ‘Puisi Rejang sebagai Manipestasi Ilmu Astrologi Melayu Tradisional’ oleh Dr. Harun Mat Piah membuka presentasi pertama kala itu dan hal ini dilanjutkan dengan presentasi pemakalah-pemakalah lainnya. Hari ini kami belum presentasi karena kebetulan jadwal presentasi kami pada tanggal 16 Oktober.

Gambar: Saat berada di ruang angsana Malamnya pihak RCLK mengadakan perjamuan makan malam. Seperti lumrahnya perjamuan makan malam, pihak RCLK membungkusnya dengan beberapa atraksi dan tarian khas Melayu. Musik khas Melayu mengalun-alun malam itu. Kami hanya melihat atraksi dan tarian-tarian itu sebentar saja. Setelah makan kami langsung pulang ke kamar karena besok presentasi dan ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan terutama power point.

16 Oktober tiba. Perasaan tidak karuan kala itu. Aku dan temanku Dede tidak terjadwal di ruang angsana. Namun di ruangan sebelahnya. Siska barusan saja tampil bersama satu di antara dosen kami dan mereka presentasi dengan ‘jayanya’, Begitulah kata-kata orang Malaysia menyebutnya.

Mengangkat masalah mengenai “Kearifan Pemikiran Tempatan dalam Ungkapan Tradisional Masyarakat Dayak Suhaid”, Siska memang tampil apik  begitu orang Jawa menyebutnya  bersama dosen kami ini. Waktu itu pun tiba. Untunglah pada saat presentasi rasa gugup itu hilang. Dengan tema makalah “Nilai-nilai Syair Melayu di Ketapang” aku mantap mempresentasikannya bersama Dede Melda. Isu yang baru dikenal di Malaysia ini cukup dinilai menarik oleh pihak-pihak yang melihat presentasi ini. Hal ini pun banyak mengundang pertanyaan. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh beberapa Doktor maupun Profesor.

Namun hal ini tentu tak membuat kami ciut untuk menjawab beberapa pertanyaan itu. Presentasi selesai. Kami juga tak kalah ‘jayanya’ dengan Siska yang berkolaborasi dengan dosen kami. Gemuruh tepuk tangan pun menggelora di ruangan itu.

Penang merupakan destinasi terakhir perjalanan ini. Penang memang memiliki bekas di hati 3 mahasiswa perempuan ini kalau tidak karena keberuntungan, mungkin kami tidak akan menjejakkan kaki di negerinya etnis Tionghoa di Malaysia ini. Sekilas kisah ini menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Menjadi pemakalah di luar negeri mungkin adalah hal yang biasa bagi setiap orang yang sering melaksanakannya. Namun tidak untuk kami. Tapak tilas ini mungkin akan selalu terukir sebagai sepercik kisah yang pernah terukir menghiasi ornamen-ornamen kecil di hati 3 mahasiswa perempuan ini.

Saat di Twin Tower, Kuala Lumpur Malaysia

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *