Home / Budaya / Tari Jepin Sengarong Dari Masa Ke Masa

Tari Jepin Sengarong Dari Masa Ke Masa

Oleh Abang Yuda Saputra

Tari Jepin Sengarong
Tari Jepin Sengarong

Mabmonline.org, Sanggau — Lantunan khas alat musik gambus dan hentakkan kaki penari mewarnai malam yang berembun setelah turun hujan. Sang pelatih sekaligus pemain musik alat musik gambus menggeleng-gelengkan kepalanya serambi memetik gambus yang khas dengan musik Melayu. Abang Saka(63) bersama pemain musik lainnya seakan berlomba-lomba melantunkan alat musik mereka masing-masing. Ada yang bermain rebana, bermain kecrek, ada yang bermain jimbe, dan tentunya ada penyanyi yang melantunkan syair-syair yang bernuansa islami.

Tarian Jepin Senggarong merupakan pengaruh dari kebudayaan awal. Namun, tidak ada yang tahu kapan tepatnya tari ini masuk ke Kabupaten Sanggau. Diperkirakan Jepin Senggarong mulai dikenal pada tahun 1798 pada saat masa pemerintahan Gusti Muhamad Tahir I. Di sebut Jepin Sengarong karena gerakan tarian ini menggambarkan seseorang yang sedang berlayar mengarungi samudra. Gerakan tarian ini menggambarkan orang yang sedang mengayuh sampan dan meliuk-liuk seperti gelombang air.
“Mengapa disebut tari Sengarong? Karena memang tariannya seperti orang yang sedang mendayung sambil meliuk-liuk seperti ombak di sungai. Bahasa Indonesianya Senggarong, karena kita sesuaikan dengan bahasa Sanggau, jadilah Sengarong,” ujar Abang Saka (63)
Pada tahun 1970 tari Jepin mulai berkembang di Kabupaten Sanggau. Ade Ibrahim dan Saleh yang mengajarkan tari JepinSengarong ini. Hal inilah yang membuat tarian ini terkenal di Kabupaten Sanggau. Beliau mengajarkan tarianjepin tersebut dari Desa Kantu hingga desa-desa yang lain. Pada tahun 1972 Ade Ibrahim mengajarkan Jepin ini ke Desa Sami. Abang Saka merupakan murid dari Ade Ibrahim yang mempelajari tari Jepin Sengarong pada masa itu.

Pada tahun 1970 hingga 1980an merupakan masa kejayaan tari Jepin Sengarong di Kabupaten Sanggau. Karena pada saat itu banyak berdiri sanggar-sanggar etnis. Satu di antaranya adalah Sanggar Ratu Ayu yang didirikan oleh Ade Ibrahim. Sanggar ini terletak di Desa Kantu tepatnya di rumah Ade Ibrahim yang tidak jauh dari Keraton Surya Negara Kabupaten Sanggau. Pada masa itu Sanggar Ratu Ayu sering diminta untuk pertunjukkan pada acara keraton ataupun acara pernikahan.
Tari jepin pada masa itu merupakan tari pergaulan antara muda-mudi sebagai tari hiburan pada saat resepsi pernikahan ataupun acara besar lainnya. Satu di antara kesuksesan yang dialami seniman tarian ini adalah mendapatkan pujian dari Satarudin Ramli seorang seniman Pontianak yang pada waktu itu Sanggar Ratu Ayu menampilkan tarian Jepin Sengarong di Pontianak.
“Dulu yang memperkenalkan tarian ini adalah Ade Ibrahim. Beliau merupakan guru saya. Waktu itu tahun 72 saya masih tinggal di Sami. Pas pindah ke Sanggau, beliau buat sanggar, namanya Sanggar Ratu Ayu. Saya diajak masuk sanggar oleh beliau,” tambahnya.

Perkembangan yang semakin modern membuat tari tradisional mulai menghilang. Sanggar-sanggar tradisional sudah mulai tidak terdengar lagi namanya. Begitu pula yang terjadi pada Sanggar Ratu Ayu yang dipimpin oleh Ade Ibrahim. Pada tahun 2000-an seni tari tradisional mulai mengalami kemunduran. Hal ini tampak tidak adanya penampilan tari tradisional pada acara-acara besar karena kemunculan tari kreasi. Selain itu adanya pengaruh budaya asing menambah kurangnya minat masyarakat Sanggau akan tari tradisional.

Pada tahun 2004 Abang Saka pindah ke Desa Sungai Bungkok. Pada tahun 2007 beliau memilih bergabung bersama Sanggar Nurul Huda yang ada di Desa Sungai Bungkok. Di sanggar tersebut awalnya hanya ada kesenian hadrah. Atas perintah dari ketua sanggar, Abang Saka diminta untuk melatih Jepin Sengarong ini. Akhirnya Abang Saka yang bergabung di sanggar ini mengajarkan remaja-remaja yang bergabung dengan sanggar ini untuk menjadi pelatih tari Jepin Sengarong.

Latihan zapin ini dilakukan seminggu sekali di Sanggar Seni Melayu Nurul Huda Kabupaten Sanggau (tepatnya di Desa Sungai Bungkok kelurahan Tanjung Kapuas Kecamatan). Selain sebagai penyalur hobi serta untuk latihan pementasan, tari Jepin Sengarong ini juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya lokal.Usia yang sudah tidak muda lagi tidak menyurutkan semangat bapak 3 orang anak ini. Tidak heran memang, karena Abang Saka inilah yang memperkenalkan Jepin Sengarong ini di Sanggar Nurul Huda sejak 2007 hingga sekarang.
“Sudah lama memang saya menjadi pelatih di sini (Sanggar Nurul Huda), sejak 2007 dulu, waktu saya pindah ke Sungai Bungkok ini. Saya langsung disuruh melatih jepin sama ketua sanggar,” ujarnya.

Abang Saka selaku pelatih dan pemusik yang ada di Sanggar Nurul Huda ini tidak mendapat bayaran sepeser pun. Begitu pun dengan pelatih dan pemusik yang lainnya. Hobi dan tekad untuk melestarikan budayalah yang membuat Abang Saka tetap bertahan dan dengan sukarela mengajarkan tari jepin kepada remaja-remaja yang tergabung di Sangar Nurul Huda ini. Uang yang didapat hanya pada saat pementasan saja. Namun bagi Abang Saka menjadi pelatih bukanlah untuk mencari uang, melainkan untuk berbagi pengalaman dan melestarikan budaya tradisional agar tidak hanya menjadi sejarah saja.
“Saya tidak dibayar di sini. Saya juga memang tidak minta bayaran. Saya hanya menyalurkan hobi serta melestarikan budaya tradisional yang sudah ada. selain itu kan kita juga berbagi pengalaman. Tiap tahun kita sering mentas di luar Sanggau, biasanya acara FSBMKB dan FBBK. Dari situlah kita berbagi pengalaman dengan yang muda-muda ini,” tambahnya.

Check Also

Sigondah: Meriam Dahsyat Peninggalan Kerajaan Mempawah

Oleh Kinanti Wulandari Hijau dan damai, kata yang dapat mewakili suasana di tempat ini. Suara burung-burung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *