Home / Ekonomi / Toke Melayu

Toke Melayu

Saya berjumpa dengan seorang teman lama. Lama tidak ada kabar tak dinyana saya diundang menghadiri  selamatan rumah baru. Rumah baru hasil kerja keras. Saya dan Yusriadi sebagai sahabat menghadiri undangan makan malam gratis malam itu. Nama sahabat kami itu adalah Hadi Kifli. “Paginya bepapas rumah,” cerita Hadi Kifli. Kami datang ke rumah baru langsung dipersilakan makan.

Lelaki asal Sambas ini terbilang sukses. Dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun dia berhasil membangun kerajaan untuk istri dan anak-anaknya.

Saya mengenalnya 10 tahun lalu sebagai rekan yang sama-sama bergelut dengan dunia kepenelitian. Awalnya, dia tidak ada apa-apa. Dengan modal nekat, ia membeli sekapling tanah di kawasan Kota Baru pada tahun 2002. Membangun rumah kecil-kecilan sembari membuka warung ala kadarnya. Ia bukan satu-satunya pewarung di kampung itu. Ia harus bersaing dengan beberapa pewarung yang sudah terlebih dahulu eksis. Walaupun, hanya buka warung kecil-kecilan, Hadi Kifli mampu mengambil hati pembeli sekitar tempat tinggalnya. Warung boleh kecil tetapi Hadi Kifli mampu mengembangkan bisnisnya. Dalam satu tahun awal sebagai pewarung, Hadi Kifli berkembang dengan pesat. Prinsipnya waktu itu, biar kecil yang penting segala yang dicari orang kampung serbaada. “Untung tak perlu besak, tapi perputaran cepat,” cerita Hadi Kifli.

Prinsip ini mengantarkan Hadi Kifli berhasil memperluas rumah kecilnya menjadi warung yang lumayan besar. Usaha warung rumahan ini memasok keperluan sehari-hari warga, seperti beras, gula, minyak, sayur-mayur, lauk-pauk, sabun, jajanan, dan keperluan rumah tangga lainnya. Pembeli tambah ramai, sekarang Hadi Kifli memiliki pelangan tetap yang militan. Saya menggelarnya toke Melayu. Buah kesuksesan itu semakin tampak tatkala ia membangun kembali rumah warungnya menjadi rumah permanen bertingkat. Kesuksesannya bisa diukur dengan metamorfosis mobil yang dimilikinya. Ia sudah berganti mobil empat kali dalam jangka waktu kurang dari 10 tahun.

Kisah Hadi Kifli ini patut menjadi inspirasi. Hadi Kifli tidak berpendidikan tinggi. Ia benar-benar mengandalkan kerja keras dan keramahtamahan. “Pembeli itu raje,” kata Hadi Kifli dengan logat Sambasnya. Dengan memperlakukan pembeli sebagai raja, ia membangun citra warungnya. Pembeli pun menjadi senang. Apabila modal sudah balik dan untung sedikit sudah didapat Hadi Kifli kerap melego barang dagangannya dengan harga agak miring dan melebihkan timbangan kepada pelanggan setia warungnya, terutama sayur-mayur dan ikan-ikanan segar. Hadi Kifli benar-benar menjadi toke Melayu sejati dalam melayani pelanggan.

Saya teringat dengan petuah orang tua dahulu, kalau mau kaya dan berhasil jadilah pedagang yang baik dan jujur.  Pintu rejeki bagi orang Melayu itu kalau mengikuti ajaran Nabi Muhammad sesungguhnya 99% melalui jalur perdagangan. Selama berjualan dengan jujur, adil, dan tidak curang pasti keberkahan dan kekayaan akan diperoleh. Zaman sekarang tidak jarang kita jumpai pedagang yang memanfaatkan situasi dengan menaikan harga secara berlebihan dan mengurangi takaran demi keuntungan. Mungkin ia bisa kaya dengan cara begitu tetapi di akhirat ia bisa sangat merugi karena perkara demikian sangat dilaknat oleh Allah, “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” (Al-Muthaffifin 1—3).

(Dedy Ari Asfar, peneliti Melayu)

Check Also

Patron Klien Dalam Ekonomi (Edisi 1)

Oleh: Ismail Ruslan Patron klien tumbuh subur pada masyarakat yang memiliki persoalan sosial, dan ekonomi …

One comment

  1. Dalam banyak2 hal .. saya paling suka hal nie…
    terima kasih kerana bangkitkan kenangan silam dengan post nih.
    .. setiap penulisan ada ceritanya.. tahniah awak.
    . 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *