Home / Jurnalisme Warga / Tradisi Cin Mera dan Cin Pote

Tradisi Cin Mera dan Cin Pote

Oleh  Halipah

Sejarah Tacin Mera

 MABMonline.org, Pontianak–Di daerah Dharma Putra ujung, antara Dharma Putra 14-24, Siantan Hilir, Pontianak Utara, terdapat banyak orang Madura yang setiap bulan Safar mengadakan sebuah tradisi memasak bubur merah dan bubur putih. Pada bulan ini akan dijumpai di rumah-rumah orang Madura itu kesibukan dalam membuat bubur ini. Simai, 45 tahun keturunan asli Madura yang sudah menetap di daerah Dharma Putra itu selama 11 tahun rutin mengadakannya setiap tahun pada bulan Safar.

 Tacin mera  dan tacin pote  atau bubur merah dan bubur putih adalah makanan tradisional orang Madura. Tacin mera dan tacin pote ini lebih dikenal dengan sebutan cin mera saja. Tradisi pembuatan cin mera dan cin pote ini dimaksudkan untuk mengadakan selamatan pada bulan Safar. Orang Madura memang sering mengadakan selamatan yang berbeda setiap bulannya seperti pada bulan Muharram akan diadakan selamatan dengan membuat cin pettis. Cin pettis yaitu bubur yang terbuat dari beras yang dimasak kental dengan menggunakan banyak bahan lain seperti kacang-kacangan, sayur-mayur (wortel, kentang, ketela, ubi) yang dilengkapi dengan ikan teri, irisan telur, bawang goreng, dan kerupuk.

cin mera dan cin pote ini merupakan nama untuk pengganti bulan Safar sehingga orang Madura lebih mengenal bulan Safar dengan sebutan cin mera. Demikian juga untuk bulan-bulan lainnya. Bulan Muharram lebih dikenal dengan cin pettis. Bulan Ramadhan dikenal dengan sebutan pasah (puasa). “Orang Madura memang suka mengubah-ngubah” Jawab Maimunah saat ditanya asal mula cin mera ini. Penamaan setiap bulan oleh orang Madura selalu memiliki bentuk tradisi atau perayaan masing-masing. Cin mera dengan makanannya cin mera dan cin pote. Bulan Syawal atau Idul Fitri yang lebih dikenal dengan tong areh atau tujuh hari karena lebaran itu selama tujuh hari. “lebarankan bulan Syawal ya, tapi kita nyebutnya tong areh” ucap Maimunah.

Pembuatan cin mera dan cin pote yang berdasarkan bulan ini membuat makanan ini tidak akan pernah ditemui dalam bulan-bulan lain. Tradisi cin mera dan cin pote ini dilaksanakan selama awal-akhir bulan Safar. Setiap kepala keluarga hanya melakukannya satu kali. Bisa dilakukan bersama dengan beberapa orang keluarga yang berbeda atau dilakukan sendiri. Seperti Simai yang memiliki anak yang sudah berkeluarga Maimunah dan Kakak perempuannya Supina akan membuat cin mera dan cin pote ini bersama. Orang Madura lebih sering melaksanakannya bersama-sama secara besar dengan keluarganya yang lain. Namun tidak pernah dilakukan secara bersama dalam satu kampung atau gang.

Proses pembuatan

Cin mera dan cin pote terbuat dari tepung beras. Beras yang sudah dibersihkan kemudian direndam sekitar 1 jam. Namun ada juga sebagian orang yang tidak merendam berasnya dan hanya mencucinya untuk menghemat waktu. “Ngerendamnya sejam nda direndam pun nda ape. Cukup dicuci” ucap Simai Ibu Maimunah, orang yeng lebih berpengalaman dalam hal ini. Kemudian beras tersebut ditiriskan dan setelah sedikit kering beras digiling. Pembuatan cin mera dan cin pote ini umumnya memang menggunakan tepung beras yang dibuat sendiri dan tidak menggunakan tepung beras yang dijual di pasar atau toko. Hal ini dikarenakan pembuatan tepung beras sendiri dianggap membuat bubur lebih terasa enak.

Proses pembuatannya selain menggunakan tepung beras, juga menggunakan santan, gula merah, air dan garam. Daun pandan juga digunakan untuk menambah aroma harum pada bubur. Bahan-bahan tersebut digunakan berdasarkan perbandingan, jika menggunakan 3 kg beras, gula dan santan yang digunakan sebanyak  2 kg. Garam yang digunakan hanya sedikit, sekitar 1etengah sendok makan. Garam bisa menambah rasa gurih pada bubur. Memasak cin mera dan cin pote bisa menggunakan dandang besar belanga sesuai dengan banyaknya bahan yang akan dimasak.

Proses pemasakan sekitar 1 jam. Selama prosesnya harus dilakukan pengadukan sampai matang agar tidak terjadi kegosongan pada bagian yang paling bawah. Prosesnya pembuatan cin mera yakni santan di masak sampai mengeluarkan minyak kemudian masukkan gula, setelah setengah jam kemudian masukkan tepung dan aduk hingga masak. “Kalau mau lebih cepat, santan dan gulanya dimasak sama” ujar Simai. Proses pembuatan Cin pote juga sama dengan cin mera, bedanya cin pote tidak menggunakan gula. Beberapa orang membuat cin mera dan cin pote ini sampai kental, tetapi ada juga yang membuatnya lebih encer atau cair.

Setelah cin mera dan cin pote itu matang maka dengan menggunakan sendok nasi diambillah dari tempat dandang besar atau belanga tempat memasaknya tadi dan diletakkan di piring-piring yang sudah dialasi dengan daun pisang. Cin mera dan cin pote diletakkan dalam satu piring. Porsi standar cin mera dan cin pote ini yakni satu sendok nasi cin mera dan satu sendok nasi cin pote disandingkan manis di atas piring. Akan tetapi, perlakuan berbeda ditujukan untuk keluarga yang memiliki anggota keluarga lebih banyak. Meraka akan diberikan porsi yang lebih juga dari porsi standarnya. Sehingga cin mera dan cin pote cukup untuk satu keluarga.

Kebiasaan orang Madura setiap mengadakan selamatan adalah makanan yang sudah masak tidak boleh dimakan terlebih dahulu  jika sebelumnya belum mengambil untuk dibacakan doa. Setelah mengambil satu piring untuk didoakan, sebelum mengantarkannya ke para tetangga, seisi rumah dan orang-orang yang membantu pun memakannya terlebih dahulu. Cin mera dan cin pote kemudian diantarkan ke rumah-rumah tetangga atau keluarga dengan menggunakan talam atau piring besar yang kemudian dijunjung.

Perubahan Tampilan

 Cin mera dan cin pote yang ada sekarang ini pada mulanya hanya tacin yang dibuat seperti bubur bayi atau koleh menurut orang Madura. Perbedaannya hanya terletak pada cin mera yang menggunakan gula merah, sedangkan cin pote tidak menggunakannya. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu terdapat modifikasi pada makanan ini. Cin mera tidak lagi hanya seperti koleh tetapi tepungnya kemudian dipilin seperti cendol kemudian dimasak dengan gula merah. Ada juga yang membuat cin mera ini dengan menggunakan tepung yang dibulat-bulatkan dengan bentuk-bentuk lebih kecil seperti mutiara yang kemudian disirami saos gula yang diberi pewarna makanan berwarna merah. Cin pote juga tidak lepas dari modifikasi ini, cin pote oleh sebagian orang Madura kemudian diganti dengan menggunakan ketan putih.

Modifikasi yang dilakukan pada makanan tradisional ini dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, Menggunakan ketan putih pada tacin pote dianggap lebih mudah dalam proses pembuatannya karena ketan hanya perlu dikukus dengan santan dan tidak perlu diaduk terlalu lama atau sering. Kedua, menggunakan mutiara yang disirami saos gula merah di atasnya akan lebih menarik. Ketiga, ketan putih pada tacin pote akan membuat adanya perbedaan rasa pada kedua tacin  ini karena tacin mera-nya menggunakan tepung beras.

Check Also

Tugu Khatulistiwa, ikon wisata kota Pontianak

Oleh Fransiskus Ningkan MABMonline.org, Pontianak —Tugu ini terletak di Kota Pontianak, tepatnya di pinggir Jalan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *