Home / Jurnalisme Warga / Tradisi Gawai Dayak di Dusun Ensali

Tradisi Gawai Dayak di Dusun Ensali

Oleh Ria Lestari

MABMonline.org, Pontianak–Pada umumnya setelah berhasil melakukan sesuatu orang-orang akan mengadakan selamatan atau syukuran untuk itu. Namun, hal itu sedikit berbeda dengan masyarakat Dayak pada umumnya. Dalam kebudayaan suku Dayak ada suatu tradisi yang mereka lakukan atas perayaan terhadap hasil panen padi mereka, yaitu gawai. Gawai adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat suku Dayak dimanapun mereka berada untuk merayakan keberhasilan panen. Gawai ini biasanya dilaksanakan dalam rentang waktu dari bulan Mei sampai dengan bulan Juli pada tanggal yang berbeda-beda oleh masyarakat dayak di berbagai tempat.

Gawai adalah tradisi yang merupakan warisan dari nenek moyang suku dayak atau pendahulunya. Hal yang harus ada dalam tradisi gawai ini biasanya lauk dan tuak karena pada hakikatnya gawai ini adalah wadah untuk makan bersama. “yang harus ada pada saat gawai ya lauk dan tuak saja setahuku,” papar Lena dalam bahasa Dayak Ketungau Sesat dengan logat yang khas. Selain itu, dalam tradisi gawai ini juga digunakan oleh masyarakat Dayak untuk ngumpan benih atau meberikan penaraok atau sejenis sesajen kepada benih padi yang disimpan dan kelak akan ditanam. Panaraok ini terdiri atas cuilan bagian-bagain daging, hati, kaki, kepala ayam yang telah dimasak lalu dimasukan kedalam mangkok dan dicampur dengan sedikit tuak.

Satu diantara masyarakat dayak yang merayakan gawai adalah masyarakat dayak di Dusun Ensali. Dusun Ensali terletak di Desa peniti, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Masyarakat Dusun Ensali  mayoritas merupakan suku Dayak Ketungau Sesat dan berkerja sebagai petani, baik petani padi, petani sawit dan karet. Gawai di Dusun Ensali ini berlangsung pada tanggal 25 Mei. Pelaksanaan gawai di dusun ensali ini bersamaan dengan gawai di beberapa tempat yang ada di Sekadau, di antaranya Dusun Selalong 3, dan  Desa Amak yang juga melaksanakan perayaan gawai pada tanggal itu.

Gawai pada hakikatnya bukan hanya untuk memperingati atau merayakan keberhasilan panen padi bagai masyarakat dayak. Gawai pada hakikatnya adalah suatu acara yang dilakukan agar semua masyarakat dapat terus menjaga rasa kekeluargaan satu sama lain dan berkumpul dengan keluarga yang tinggal di daerah lain. “Gawai itu diadakan sebenarnya agar kita bisa berkumpul dengan keluarga-keluarga. Terutama keluarga yang jauh yang jarang pulang. Gawai yang diadakan satu tahun sekali inilah sebagai kesempatan untuk keluarga dapat berkumpul beristirahat dari segala rutinitas kerja, berkumpul dan makan bersama-sama,” tutur Minui dengan bahasa Dayak yang kental.

Pada saat gawai seperti ini banyak tamu-tamu atau lebih tepatnya keluarga yang berada di luar datang. Ada yang berasal dari desa tetangga ataupun dari daerah yang jauh. Semua asal itu bergabung menjadi satu dalam gawai ini. Biasanya tamu-tamu ini datang dua atau satu hari sebelum hari H pelaksanan gawai. Pada saat gawai seperti ini suasana kekeluargaan sangat terasa. Masyarakat yang pada hari biasanya sibuk dengan rutinitas kerja masing-masing dapat berkumpul dan makan bersama keluarga yang dari jauh. Pada gawai ini semuanya bisa  bertemu, berkumpul bersama dan berbagi cerita bersama.

Gawai ini merupakan satu sarana untuk menyatukan rasa kebersamaan dan kekeluargaan masyarakat suku dayak, khususnya yang ada di dusun ensali. Pemandangan yang tampak menjelang gawai adalah tuan-tuan rumah yang sibuk menyiapkan lauk-pauk dan sajian untuk perayaan dan para tamu yang berdatangan baik sendiri maupun berombong lalu lalang.

Ayu (14 tahun), tamu yang berasal dari desa Sedoya Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau misalnya. Ia datang ke Ensali  bersama bibinya untuk bertamu, berkumpul bersama keluarga yang ada di Ensali. Mereka mengunjungi keluarga (ibu mertua bibinya dan keluarga) yang kini menjadi keluarga mereka juga. Selain itu ada juga MoMo (18 tahun) yang juga berasal dari daerah bersama yang datang untuk berkunjung dan berkumpul bersama dengan keluarga sekaligus mencari cewek. “ Aku datang gawai ke Ensali ini mengunjungi nenek, sekaligus cari cewek juga,” papar anak muda ini sambil tertawa.

Satu hari sebelum hari H dari Gawai merupakan waktu bepasah bagi masyarakat yang akan mengadakan gawai. Bepasah atau mempersiapkan hidangan baik berupa lauk, minuman, maupun makanan ringan.

Lauk yang biasa digunakan oleh masyarakat ensali pada umumnya adalah babi. Babi yang disembelih untuk lauk pada saat gawai ini biasanya merupakan ternak yang memang telah dipelihara jauh-jauh hari khusus dipersiapkan untuk gawai. Namun, bisa juga babi yang dibeli dengan patungan. Daging yang dibeli dengan patungan  maksudnya adalah daging yang dibeli secara bersama (patungan) beberapa orang kepada orang yang meneyembelih babi tersebut.

Selain daging babi, lauk yang biasa menjadi andalan masyarakat setempat adalah anjing, sapi, ayam, dan ikan. Lauk-lauk ini ada yang merupakan hasil peliharaan dan ada juga yang dibeli di pasar, atau dibeli secara patungan seperti penjelasan di atas.

Pemotongan babi di tempat ini dilakukan secara tradisional. Pertama-tama babi ditangkap dari kandang, di ikat kaki, tangan, serta mulutnya. Hal itu dilakukan agar babi tidak melawan atau memeberontak ketika disembelih. Setelah diikat tangan, kaki dan mulutnya lalu babi sembelih tepat di leher tepat pada tenggorokan dan kerongkongan menggunakan pisau kecil yang telah di asah hingga tajam. Bagian yang dipotong harus dilakukan dengan benar-benar, dan cepat hingga putus agar hewan tidak merasakan penderitaan yang berkepanjangan. Ketika bagian kerongkongan dan tenggorokannya telah putus darah yang mulai mengucur di tadah dalam wadah, berupa baskom ataupun peralatan lain. Setelah disembelih, hewan yang telah mati dibiarkan beberapa saat di tempat yang beralas agar bagian yang telah terbuka tidak terkena pasir atau tanah.

Setelah melalui proses itu, babi yang telah mati dibuka ikatan kaki, tangan, dan mulutnya. Lalu untuk membersihkan bulunya masyarakat setempat membakar secara merata permukaan badan babi tersebut lalu di angakat dan dikikis bulunya menggunakan pisau kecil. Kegiatan ini dilakuakan berulang-ulang hingga bulunya bersih.

Setelah permukaan tubuh babi bersih dari bulu-bulu, proses pemasahan ini lanjut pada tahap berikutnya yaitu pemisahan isi perut, dan daging serta kepala. Babi yang telah dibersihkan dari bulu di bawa ke sungai dicucui dengan bersih. Setelah bersih, babi mulai dipotong perbagian, kepala dipisahkan dari daging, dan organ-organ dalam babi.

Setelah dipisahkan bagian-bagaian itu dibersihkan dengan saksama. Kepala babi di bersihkan dengan membersihkan bagian mulut, telinga, dll. Sebelum dibersihkan, organ-organ perut dipisahkan organ yang bersih seperti hati, jantung dan ginjalnya dari usus-usus yang berisi makanan. Perut (usus) yang berisi makanan yang telah diolah oleh babi ketika masih hidup dibersihkan dengan benar. Pertama-tama ususnya tersebut dibelah atau ditusuk menggunakan kayu atau pipihan bambu yang tajam, lalu dicuci dengan air hingga benar-benar bersih. Khusus untuk bagian perut ini sebelum dimasak harus disiram menggunakan air panas terlebih dahulu agar cacing pita, atau bakteri lain yang ada di dalamnya lumpuh.

Bagaian badannya dipotong atau dalam bahasa dayak setempat lebih dikenal dengan ditetak . bagian badan ini ditetak sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Jika daging ingin dipanggang maka daging itu dipotong besar-besar. Namun, jika ingin dimasak biasa maka harus dipotong lebih halus.

Daging, dan bagian lain yang telah bersih siap untuk diolah, dimasak kecap, dimasak kuah, dipanggang, maupun di buat pekasam. Bumbu-bumbu yang biasa digunakan biasanya adalah merica, lengkuas, kunyit, dll. sesuai dengan selera dan resep yang digunakan. Pekasam babi adalah lemak babi yang telah dipotong-potong halus dicampur garam dan nasi secukupnya  lalu dimasukan ke dalam bambu dan disumpal rapat menggunakan pelastik atau daun.

Selain penyedian lauk, pada saat gawai tidak sah kalau tidak ada lemang atau di ensali lebih dikenal sebagai ajan. Ajan atau lemang adalah beras pulut (ketan) yang dicampur santan dan dimasak menggunakan bamboo yang telah dilapis daun pisang.

Proses pembuatan lemang ini sangat sederhana. Pertama yang perlu dipersiapkan adalah bahan-bahannya. Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah beras ketan, santan, garam. Beras pulut yang di ambil lalu dibersihkan dengan direndam lalu ditiriskan airnya. Lalu diberi garam secukupnya lalu dimasukan kedalam bamboo yang telah dilapis daun pisang. Untuk penyedian wadahnya pertama-tama bambu yang telah di ambil dihutan di potong berdasarkan ruas-ruasnya. Bambu yang biasa digunakan untuk memasak lemang ini adalah bambu dengan ukuran sedang berdiameter sekitar 5-7 cm dengan panjang setengah meter dan usianya masih muda.

Tesktur bambu yang digunakan tidak terlalu tua dan keras karena bambu yang seperti itu akan mempersulit proses pematangan lemang yang dimasak. Bambu yang telah dipotong secara beruas-ruas itu dibersihkan miangnya menggunakan kain atau daun ilalang sekaligus dicuci di sungai. Serta perlu diperhatikan mulut bambu harus dibuat rata dan tumpul agar tidak melukai tangan ketika memasukan beras ketan. Setelah dibersihkan bambu tersebut ditiriskan.

Selain bambu perlu juga disiapkan daun pisang sebagai pelapis didalam bambu. Pelapis daun pisang ini bertujuan agar ketan yang telah masak nanti tidak lengket dengan bambu yang ditempatinya sehingga mudah di ambil isinya. Daun pisang yang sudah diambil dari pohonnya dibuang ruasnnya lalu di jemur. Setelah agak melemah dan lebih liat daunnya diangkat.

Setelah semuanya siap, daun di potong sesuai ukuran bambu lalu dibentuk bulatan dan dijepit dengan pelepah pisang lalu dimasukan ke dalam bambu dengan hati-hati agar letaknya rapi dan tidak bertimpa-timpa.  Proses itu biasa disebut nyalut. Setelah disalut, lalu bambu diisi dengan beras ketan yang telah diracik sedemikian rupa dan ditambahkan air santan sesuai dengan beras yang ada. Air santan tidak boleh terlalu sedikit atau banyak karena akan membuat lemangnya mentah atau terlalu lembek.

Setelah siap untuk dimasak lemang di masak di tempat perapian yang telah dibuat sedemikian rupa untuk memasak lemang atau lebih dikenal sebagai entayan di daerah setempat.  Lemang dimasak selama beberapa jam bergantung pada panasnya bara api yang digunakan. Memasak lemang sebaiknya tidak menggunakan bara api yang terlalu menyala apinya karena akan membuat lemang gosong. Oleh karena itu, selama proses pemasakan lemang harus ditunggu dan dijaga dengan baik.

Lauk dan lemang telah selesai. Selanjutnya yang perlu dipersiapkan adalah tuak. Tuak adalah minuman yang dibuat dari tapai ubi atau beras pulut. Tuak ini dibuat dengan memberikan kiping atau lebih dikenal sebagai ragi. Kipping ini dibuat dari beras dicampur sahang yang ditumbuk atau dihaluskan hingga jadi tepung. Tepung itu lalu diberi air secukupnya lalu dibentuk seperti bulatan menggunakan tangan.

Setelah ubi atau beras pulut direbus lalu diletakan di kerampan atau tikar kecil yang dianyam dari daun perupuk . Setelah dingin ubi atau ketan yang telah direbus diberikan ragi secara merata. Pemeberian ragi ini menggunakan pemarut khusus ragi agar ragi halus dan tidak menggumpal.

Setelah ragi tertabur merata, bahan tapai itu lalu dibungkus dengan rapi dengan cara menyatukan sudut-sudut tikar dengan sedemikian rupa hingga terbungkus rapi. Hal yang diperhatikan adalah jangan sampai bahan tapai terbuka. Agar tidak terbuka di atas lipatan pembungkus diberi pemberat yang bisa berupa batu, katu,dll. yang bersih.

Setelah beberapa hari tapai tersebut dicek sudah berair atau belum. Jika tapai sudah berair akan tampak pada lantainya yang basah karena air dan uap tapai. Setelah berair, tapai dimasukan dalam ember besar yang bertutup dan dimasukan air yang cukup agar tuak yang dihasilkan enak. Selama penyimpanan, tuak harus diperhatikan dengan benar tidak boleh sembarangan dijamah. Selain itu tidak diperkenankan  meletakan buah yang masam disekitarnya karena akan membuat masam tuak. Tuak yang masam tidak enak untuk diminum. Tuak yang masam ini sangat sayang untuk dibuang. Oleh karena itu, masyarakat menanaknya menjadi arak.

Setelah menghasilkan tuak yang nyaman, air tuak dipisahkan dengan tapainya dan disaring agar air tuak yang dihasilkan tidak ada rampang (serpihan-serpihan tapai). Air tuak yang telah siap untuk diminum itu disimpan di dalam botol dan ditutup rapat agar tidak tumpah dan lebih aman.

Setelah sore hari menjelang malam, di rumah-rumah orang tampak sibuk menyiapkan hidangan. Ibu-ibu yang memasak lauk, bapak-bapak yang mengangkat ajan yang telah masak dan anak-anak serta tamu yang juga ikut berbaur membantu. Setelah malam hari, semuanya makan bersama melantai beralaskan tikar anyaman di rumah. Semua lauk yang ada dihidangkan. Semuanya makan dengan lahap dan puas. Setelah makan, orang tua-orang tua biasanya melanjutkan dengan minum tuak dengan tabas atau lauk yang ada. Sambil minum orang tua saling berbagi cerita dan pengalaman masing-masing dengan tamu atau pengunjung yang datang ke rumah. Sedangkan Anak-anak bermain atau menonton televisi di ruang nonton.

Pada pagi hari di hari gawai, kesibukan mulai tampak lagi di tiap-tiap rumah. Ibu-ibu memasak atau memanaskan lauk, memasak nasi, dibantu oleh bapak-bapak yang mengupas lemang dan menyiapkan tuak untuk gawai hari ini. Setelah semuanya berbenah dan siap semuanya makan bersama terlebih dahulu. Setelah makan barulah semuanya siap untuk bergawai.

Bergawai dilakukan masyarakat dengan minum secara berkelompok. Kelompok minum harus minum ke tiap-tiap rumah yang ada dalam kelompok. Setiap rumah yang menjadi tuan rumah menyediakan tuak dan tabas untuk tamu-tamunya. Semuanya minum sambil berbincang-bincang, ada juga yang berpantun, dll.  Semuanya tampak bahagia dalam rasa kebersamaan. Suasana di kampung ini benar-benar menjadi ramai. Agar tidak terlalu berat, di setiap rumah orang-orang biasanya hanya minum satu cangkir kecil. Setelah rumah per rumah dari kelompok dinaiki barulah semuanya berpencar kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Gawai ini bisa berlangsung sampai seminggu. Hari pertama dan kedua dilakukan penuh dari pagi sampai sore. Namun, setelah hari ketiga dan seterusnya kegiatan gawai dilakukan setelah pulang menoreh. Gawai tetap berlangsung meriah dihari berikutnya.

Gawai pada hari pertama dan kedua tuan rumah biasanya lebih mengutamakan tamunya. Tamu dibawa berkunjung ke rumah-rumah keluarga yang lain yang ada di kampung. Setelah hari ketiga biasanya tamu telah kembali ke tempat asalnya. Jika tamu pulang, tuan rumah biasanya membekalinya lemang dan lauk. Lemang dan lauk ini maksudnya ditujukan kepada keluarga yang tidak ikut bergawai. Walaupun tidak ikut gawai, setidaknya dia ikut merasakan suasana gawai tersebut. Begitulah tradisi gawai di Dusun Ensali yang masih terjaga hingga saat ini.

 

Check Also

Pantia FSBM IX Sediakan 7 Stan Keamanan dan Kesehatan

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Pontianak—Panitia penyelenggara Festifal Seni dan Budaya Melayu (FSBM) IX dalam rangka ulang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *