Home / Sastra / Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

oleh Dedy Ari Asfar

ingat-ingat kau lalu-lalang
berlekas-lekas jangankan amang
Suluh Muhammad yugia kau pasang
supaya salim jalanmu datang

(Hamzah Fansuri)

Kita mafhum bahwa pembawa ajaran Islam tentunya orang luar (seperti Arab, Persia). Dakwah Islam oleh pendakwah tersebut tentu disampaikan secara lisan. Bahkan, ajaran tersebut diperkuat dengan unsur-unsur magis. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai (lihat Samad Ahmad 1986:54—57; Parnickel 1995:39).

Pedagang Arab dan Persia membawa Islam dan memengaruhi masyarakat dan kerajaan tempatan untuk memeluk agama Islam. Situasi ini kemudian berkembang dengan menjadikan kerajaan Islam sebagai salah satu institusi resmi yang memainkan peranan penting dan strategis dalam menyebarkan teologi dan filosofi Islam di kawasan pesisir Nusantara. Oleh karena itu, Islam diidentikkan dengan pesisir dan kesultanan Melayu. Hal ini pula yang menyebabkan ramai orang di pantai pesisir Nusantara masuk Islam dengan cepat.

Dalam perspektif barat, Islam menjadi diminati oleh masyarakat di kawasan Nusantara ini disebabkan oleh faktor batiniah dan duniawi. Secara batiniah Islam dapat diterima karena Islam tidak mengenal kasta dan kelas sosial yang sebelumnya dianut masyarakat Nusantara melalui agama Hindu dan Budha sehingga banyak terjadi ketimpangan sosial dan menjadi jurang pemisah karena pengaruh agama sebelumnya (lihat Parnickel 1995:36).

Secara duniawi, orang yang masuk Islam mendapat kemudahan karena jaringan perdagangan Nusantara dibanjiri para pedagang Islam. Orang yang masuk Islam dengan sendirinya menjadi anggota umat Islam internasional dan mendapat bantuan dari saudara seagama dalam pelayaran dan perdagangan di mana-mana. Begitu juga dengan sebuah kerajaan yang konversi kepada Islam akan dikunjungi oleh saudagar-saudagar Islam. Bahkan, raja dari kerajaan tersebut dianggap setaraf dengan raja-raja lain dari dunia Islam, seperti Sultan Mughal dari India Utara atau Sultan Rom yang makin hebat pengaruhnya di Timur Dekat, Mesir, dan Eropa Timur (lihat Parnickel 1995:36). Selain itu, hal ini mungkin terjadi karena hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan Laut Merah, dan polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya (lihat Reid 1999:91).

Pandangan tentang Islamisasi perspektif barat ini dibantah oleh Syed Naguib Al-Attas (1972) menurutnya pandangan barat tersebut hanya kesan/faktor ‘luar’ sejarah. Padahal, yang penting dalam menafsirkan sejarah Islamisasi di Kepulauan Nusantara lebih sahih dengan melihat kesan/faktor ‘dalam’ sejarah, yaitu melalui bahasa dan sastra masyarakat Melayu.

Meluasnya pengaruh ajaran Islam oleh para pendakwah Arab kepada masyarakat disebabkan karena para pendakwah memanfaatkan bahasa Melayu sebagai lingua franca dan bahasa dakwah di Kepulauan Nusantara ini. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar utama Islam di seluruh Kepulauan Nusantara sehingga pada abad keenam belas bahasa Melayu telah berjaya menjadi bahasa sastra dan agama yang luhur dan sanggup menggulingkan kedaulatan bahasa Jawa dalam bidang ini (lihat Syed Naguib Al-Attas 1972:41—42; bandingkan Collins 1998). Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar karena dianggap sesuai dan mampu menjelaskan konsep-konsep Islam dengan jelas dan mudah dibandingkan dengan bahasa Jawa.[1]

Bahasa Melayu melahirkan karya cipta sastra dakwah untuk masyarakat Nusantara. Hal ini memudahkan dalam menyebarkan dan mengenalkan khazanah kesusastraan dunia Islam di alam Nusantara. Misalnya, seni sastra Melayu lama tersebar dalam bentuk kitab dan hikayat. Sastra kitab memaparkan soal-soal ilmu kalam, fikih, dan tasawuf Nusantara yang rata-rata gubahan dari bahasa Arab dan Persia.

Sastra hikayat berupa gubahan dari cerita-cerita Islam berkenaan dengan nabi Muhammad saw. dan keluarganya, hikayat pahlawan-pahlawan Islam, dan sebagainya (bandingkan Syed Naguib Al-Attas 1969). Dua bentuk sastra ini disebarkan secara tulisan dan lisan. Bahkan, para pendakwah banyak menyampaikannya dengan cara lisan. Namun, secara pasti dapat dikatakan bahwa sastra kitab dan hikayat memainkan peran penting dalam proses membumikan ajaran Islam kepada masyarakat Nusantara. Kedua genre sastra ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyempurnakan manusia melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam teks tersebut (lihat Braginsky 1994a,b).  Selanjutnya …

Check Also

Memperkenalkan Upacara Adat Melayu dari Setiap Daerah di Ekshibisi Adat

mabmonline.org , Sekadau – Ekshibisi upacara adat Melayu yang diikuti enam kontingen telah terlaksana di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *