Home / Jurnalisme Warga / Tradisi Makan Saprahan; Tiap Daerah Beda Penyajiannya

Tradisi Makan Saprahan; Tiap Daerah Beda Penyajiannya

makan-saprahan
Oleh Rita Indah Sari

MABMonline.org, Sambas — Anda tentu sudah pernah makan beramai-ramai dalam sebuah acara. Tapi berapa banyak orang yang makan bersama Anda? Di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, ada tradisi makan bersama yang disebut Saprahan yang diikuti hingga ribuan orang.

Pada tanggal 27 April, saya mewawancarai ibu Melda yang bertempat tinggal di Singkawang. Saya mewawancarainya tentang tradisi makan saprahan. “Tradisi saprahan dalam suatu upacara perkawinan khas masyarakat Melayu Sambas biasanya dibuka dengan lagu-lagu ceria yang diiringi alat musik tanjidor. Saprahan berasal dari kata saf atau berjajar. Untuk saprahan ini para tamu duduk di kayu panjang yang disebut tarop. Namun duduk di tarop ada aturannya. Tamu yang boleh duduk di barisan atau saf paling atas hanya mereka yang sudah bergelar haji, hajjah, atau orang yang berilmu,” tutur Melda.

Tak hanya itu, pakaian dalam saprahan juga sudah ditentukan. Tiap tamu laki-laki wajib berbusana khas Melayu Telok Belanga, sedangkan tamu perempuan berbaju kurung. Makanan disantap secara berkelompok yang terdiri dari enam orang. Kelompok ini disebut saprah.

Menurut Melda, biasanya menunya adalah masakan khas Melayu Sambas seperti daging masak kecap, sambal udang, selada, atau ayam masak putih. “Selain di Sambas, tradisi Saprahan juga dikenal di wilayah Kalbar lainnya, seperti di Pontianak, Mempawah, dan Ketapang. Namun, di tiap-tiap daerah cara penyajian serta jenis makanannya berbeda. Khusus di Pontianak, makan saprahan hanya digelar untuk perjamuan para kerabat keraton,” pungkas Melda.

Check Also

Antar Ajung, Antara Tradisi dan Wisata

Oleh Nabu Sambas—Terdengar gendang rabana dan ratib. Lantunan nama-nama Allah disertai doa selamat dan doa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *