Home / Budaya / Tradisi Pinjam Barang Menjelang Pernikahan di Teluk Batang

Tradisi Pinjam Barang Menjelang Pernikahan di Teluk Batang

Oleh Marwan

Teluk Batang–Menikah  merupakan kebutuhan setiap orang yang sudah siap untuk berkeluarga, dalam prosesnya ada beberapa hal atau tradisi yang dilakukan sebelum akad nikah atau prosesi pernikahan itu dilakukan, misalnya tradisi pernikahan  yang dilakukan oleh masyarakat Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara.

Di daerah ini sebelum acara pernikahan dimulai, mereka mengenal istilah gotong royong, gotong royong ini bertujuan untuk mengumpulkan pihak keluarga yang akan mengadakan akad pernikahan, misalnya pernikahan yang baru saja dilakukan oleh Muhammad Iwan. Iwan  mengatakan, bahwa di kampung ini memang seperti inilah. Ketika ada keluarga yang mau menikahkan anaknya mereka akan berkumpul bersama untuk bekerja membantu apa saja yang dibutuhkan oleh keluarga tersebut.  Selain bertujuan mengumpulkan keluarga  juga untuk mempererat tali silaturahmi para tetangga yang yang berada di sekitar  tempat acara pernikahan tersebut, gotong royong yang dilakukan bisa berupa mendirikan tenda, menghias rumah, dan lain-lain. Dengan demikian tidak perlu membayar orang untuk membangun tempat pernikahan tersebut karenal hal itu sudah dikerjakan oleh keluarga maupun para tetangga yang berada di sekitar tempat pernikahan tersebut. Bagi anggota keluarga yang ikut gotong royong  mereka sudah berada di tempat acara tersebut 4 hingga 5 hari sebelum acara pernikahan itu digelar.

Iwan menambahkan, selain gotong royong ada tradisi yang disebut dengan istilah pinjam barang, pinjam barang yang dimaksud di sini adalah proses meminjam barang-barang pecah belah baik itu piring, mangkok, gelas dan lain sebagainya, tempat peminjamannya sudah ditetapkan sebelumnya. Jika tempat peminjaman barang tersebut agak jauh, bisa  menggunakan alat transportasi misalnya motor atau mobil. Tetapi disarankan peminjaman ini dilakukan dengan berjalan kaki agar tetap menjaga semangat gotong royong yang menjadi dasar dari tradisi ini. Iwan mengatakan tradisi ini memang sudah ada sejak dulu, mayoritas penduduk yang kurang mamapu membuat hal ini tetap bertahan hingga sekarang.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *