Home / Jurnalisme Warga / Tradisi Timbang Anak yang Lahir di Bulan Safar

Tradisi Timbang Anak yang Lahir di Bulan Safar

Oleh: Taazimiyah

Kapuas Hulu— Hiruk-pikuk terdengar dari dalam rumah. Ibu-ibu sibuk membuat apam—sejenis kue tradisional dan ditaruh di atas Talam (wadah yang terbuat dari besi). Ternyata keluarga ini tengah sibuk mempersiapkan acara timbang untuk anak mereka. Tradisi turun temurun yang menjadi ritual rutin. Tak peduli dengan modernitas dan perubahan gaya hidup, tradisi tetap lestari dijalankan oleh mereka yang mempercayai.

Tradisi timbang apam ini konon menjadi ritual khas warga. Tradisi ini digelar untuk anak yang lahir di Bulan Safar pada kalender Hijriah. Keluarga Along dan Ri di kawasan Desa Kelakar, Kapuas Hulu merupakan satu di antara beberapa keluarga yang menjalankan tradisi tersebut.

Tulisan lainnya tentang Kapuas Hulu: Asal Usul Kota Putussibau

Anak semata wayang mereka, Mohammad Virlo lahir tepat di Bulan Safar. Keduanya menggelar upacara timbang apam. Apam diikat dan disusun tujuh tingkat pada kayu-kayu yang sudah disediakan. Tinggi apam harus sama tingginya dengan anak yang akan ditimbang. Apam dibuat berwarna merah muda dan dibuat relatif banyak, karena selain diikat apam juga akan ditimbang bersama dengan sang anak.

Dua buah kotak kayu terdapat di dekat apam yang sudah disediakan. Satu kotak kayu nantinya diisi dengan apam dan satu kotak lagi sebagai tempat balita yang akan menjalani ritual timbang apam. Khusus kotak tempat balita, dilapisi oleh tujuh lembar sarung. Dalam kerumunan seluruh sanak keluarga, Virlo panggilan akrab si balita didudukkan dalam kotak kayu. Sementara di sisi kanannya ada satu kotak lagi berisi apam dan kitab suci Al Quran yang dibungkus kain putih. Di antara kotak yang diduduki Virlo dengan kotak yang berisi apam, dihubungkan oleh sebatang kayu. Di ujung kayu sudah disangkutkan seutas tali untuk mengangkat kotak apam maupun kotak yang menjadi tempat duduk Virlo.

Didahului kalimat shalawat nabi dan aba-aba dari Mak Yak Anim, sesepuh keluarga, kayu penyangga diangkat ke atas. Berat tubuh balita berusia dua tahun ini pun diseimbangkan dengan apam di sampingnya. Kalau kurang, apam akan ditambah lagi sehingga bobot Virlo dan apam benar-benar seimbang. Butiran beras kuning dilempar ke udara. Penimbangan semacam ini diulang sampai empat kali dan apam yang tersedia habis. Setelah selesai menimbang para kerabat yang datang membaca surah Yasin kemudian pada setiap ayat yang berakhir mubin apam yang diikat pada kayu tadi akan ditumbangkan sebanyak tujuh kali. “Tradisi ini dilakukan sejak Virlo lahir. Saat ini sudah kali ketiga dan terakhir. Karena memang hanya tiga kali saja dilaksanakan. Saat lahir, saat berusia satu tahun dan kini saat berusia dua tahun,” ungkap Ri, sang ibu.

Tradisi tersebut, menurut Ri merupakan tradisi keluarga yang sudah turun temurun. Khusus untuk anak-anak yang lahir di bulan Safar saja. “Sesuai kepercayaan, anak yang lahir di bulan Safar akan banyak menemui kesulitan atau kendala dalam hidupnya. Sehingga dilakukanlah upacara timbang apam. Dengan harapan, si anak kelak bisa melalui segala kesulitan yang dihadapi,” pungkas Ri.

Check Also

Pantia FSBM IX Sediakan 7 Stan Keamanan dan Kesehatan

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Pontianak—Panitia penyelenggara Festifal Seni dan Budaya Melayu (FSBM) IX dalam rangka ulang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *