Home / Jurnalisme Warga / Tumpi’ Tipe’ Sampai ke Negara Tetangga

Tumpi’ Tipe’ Sampai ke Negara Tetangga

Oleh Adrianus Andika R

tumpi' tipe'MABMonline.org, Sambas — Eva bersama beberapa tetangganya sedang sibuk membuat sesuatu. Ya, sesuatu yang bisa dimakan, berbentuk setengah lingkaran dan seperti jala-jala. Namanya Tumpi’ Tipe’ (dalam bahasa Dayak Bakati).

Tumpi’ tipe’ adalah salah satu kue  tradisional Masyarakat Dayak Bakati di Desa Sebunga Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas. Kue unik yang hampir berbentuk setengah lingkaran tersebut sangat digemari oleh masyarakat Dayak Bakati Desa Sebung karena rasanya yang enak dan gurih, dan dijadikan makanan tradisional oleh masyarakat di kala pesta.

“Orang selalu menyajikan kue tersebut di kala pesta Padi Baru, pesta Gawai Dayak, Pesta Pernikahan, Pesta Sunatan, tapi bisa juga dibuat pada hari-hari biasa kalau kita ingin sekali merasakannya”, kata Eva sembari sibuk mengoreng kue unik itu.

Saya pun dipersilahkan untuk mencicipi tumpi’ tipe’. Bila ditanya mengenai kelezatanya, kue ini tidak kalah enaknya dengan kue-kue modern, seperti bolu dan kue-kue yang dijual di mal-mal. Tumpi tipe’ tersebut terbuat dari bahan-bahan yang sederhana. Tumpi’ tipe’ terbuat dari  tepung beras, tepung gandum, gula merah, air, dan minyak goreng yang digunakan untuk mengoreng kelak adonan yang dibuat.

Cara pembuatanyanya dimulai dengan menghancurkan gula merah dengan cara diiris kemudian di cairkan dengan air. Setelah itu, memasukan tepung gandum dan tepung beras dalam wadah. mengenai perbandingan tepung gandung dan tepung beras, apabila tepung beras yang digunakan 1 kg, maka tepung gandumnya cukup 2 ons. Kemudian dicampur 1 liter air dan gula merah yang telah disiapkan sebelumya, bila menginginkan kuenya nanti lebih manis, maka kita hanya perlu menambah gula lebih banyak, sebaliknya bila tidak ingin terlalu manis, maka gula yang diberikan sedikit saja. Langkah seterusnya adalah campuran tersebut harus diadon dengan rata, sampai seperti merata dan lengket. Langkah seterusnya adalah mengoreng adonannya.

Tetapi untuk membuat kuenya berbentuk seperti jala, maka diperlukan cetakan berupa kaleng atau tempurung kelapa yang bagian bawahnya dibuat lobangkan-lobang kecil. Tujuannya supaya adonan yang dimasukan dalam cetakan bisa terus keluar dari lobang tersebut. Setelah adonan sudah dimasukan dalam cetakan, kemudian arahkan cetakan tepat di atas kuali yang berisi minyak panas. Ganggang cetakan kemudian dipukul-pukul (jangan terlalu kuat) supaya adonannya turun ke dalam kuali. Dibuat seperti bentuk jala yang bulat yang kemudian harus dilipat dalam keadaan panas (masih dalam kuali). Begitu seterusnya sampai adonannya habis digoreng. Setelah semuanya selesai, tumpi’ tipe’ siap disantap.

Selain menonjolkan keunikan dan bahan yang sederhana, kue ini juga telah banyak dipelajari oleh orang yang berada di Negara tetangga kita. Mereka adalah orang Malaysia, yang berada di perbatasan. Mereka belajar membuat kue ini dari orang Indonesia yang berada di perbatasan, perbatasan antara Desa Sebunga-Indonesia dengan Biawak-Malaysia.

“Dulu, yang pertama kali membuat kue ini adalah orang sini. tetapi orang Malaysia yang sering datang ke sini dan pernah merasakan keenakan tumpi’ tipe’ ini mereka jadi ingin belajar membuatnya”, kata Gandut, Kepala Dusun Aping Desa Sebunga yang kebetulan bertamu di rumah Ibu Eva.
Alangkah ironisnya bila kue unik yang menjadi kue tradisional orang Indonesia yang tinggal di perbatasan, bila dicaplok negara Malaysia sebagai miliknya. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi. Pemerintah seharusnya lebih membuka matanya melihat kekayaan budaya bangsanya yang begitu beragam.

“Tumpi ini lebih dikenal oleh kebanyakan orang Malaysia yang tinggal diperbatasan dari pada orang kita, misalnya Desa Salako yang berbatasan dengan Desa Sebunga saja tidak tahu bagaimana membuat kue ini, mereka hanya tahu makan saja”, tukas Gandut.

Bila pemerintah ingin kekayaan budayanya menjadi aset yang sangat berharga. Maka langkah tepatnya adalah segera mempatenkan kebudayaannya, salah satunya tumpi’ tipe’, supaya keberadaanya tetap terlindungi.

Check Also

Titik Nol Kilometer Indonesia: Pulau Weh?

Oleh Edi Yanto MABMonline.org, NAD —Dengan potensi bahari yang maha indah, Pulau Weh juga menarik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *