Home / FSBM IX / Upacara Adat Melayu; Dari Lahir hingga Pelaminan

Upacara Adat Melayu; Dari Lahir hingga Pelaminan

Oleh: Gusti Iwan

MABMonline.org, Sambas — Dimulai pukul 9 pagi, Selasa (27/08), di dalam aula kantor bupati Sambas diadakan Gelar Upacara Adat (GUA). Semula acara hendak dilaksanakan di panggung utama dekat stand pameran, namun dengan pertimbangan untuk kenyamanan peserta, acara tersebut dipindahkan. Acara ini turut dihadiri oleh DPP MABM Kalimantan Barat, Dewan Pemangku Adat MABM Sambas, pengamat dan pemerhati seni budaya, serta warga setempat.

Peserta yang tampil dalam gelar upacara adat kali ini ada 3 kontingen, yaitu dari Kabupaten Sambas, Kabupaten Ketapang dan Kota Pontianak.

upacara adatKabupaten Sambas yang mendapat nomor undian pertama kali ini, menampilkan adat  Tepung Tawar Bidan dan Gunting Rambut. Tepung tawar ini dilakukan oleh masyarakat Sambas dengan maksud dan tujuan sebagai rangkaian tanda syukur atas keadaan yang dialami karena terhindar dari musibah, berakhirnya masa-masa sulit atau karena mendapatkan keselamatan, kebahagiaan, dan kebaikan. Selain itu masyarakat Pantai Utara Sambas juga melakukan Tepung Tawar pada saat pindahan rumah, khitanan, 7 dan 9 bulanan, mandi pengantin dan lain-lain.

Selanjutnya, Kabupaten Ketapang menampilkan adat yang diberi judul Upacara Adat Mandi 3 Malam dan Betumbang Apam. Mandi ini dilakukan 3 malam setelah akad nikah berlangsung, pengantin baru tidak diperkenankan tidur bersama sebelum Upacara Mandi 3 Malam dilakukan. Upacara ini memiliki makna pertanda kita perlu memiliki kesabaran dalam hidup. Tradisi ini tidak pernah ditinggalkan masyarakat Ketapang karena dianggap memberikan berkah dan keselamatan dalam hidup berumah tangga.

Prosesi Mandi 3 Malam, Kabupaten Ketapang (Foto Iwan)
Prosesi Mandi 3 Malam, Kabupaten Ketapang (Foto Gusti Iwan)

Kota Pontianak sebagai peserta dengan nomor undian 3 menyajikan Upacara Adat Budaya Merias Calon Penganten Sebelum Akad Nikah.

Menurut Arsula dari kontingen Kota Pontianak, “adat kite makin hari semakin bagus, dulunye adat kite berkurang karena kite lebih sering memakai adat orang lain. Sekarang ini saye sedang berusaha dan terus menggali adat budaya yang masih belum banyak tergali. Masih puluhan adat yang ada, yang kite punye,” paparnya.

Melalui acara pagelaran seperti ini lah, kite menunjukkan bahwa masih ade adat budaye yang terus kite lestarikan keberadaannye,” tambah H. Baswedan dari kontingen Kabupaten Ketapang.

“Tak kan hilang Melayu ditelan zaman,” ucap H. Sataruddin Ramli dari DPP MABM Kalimantan Barat setelah memberikan pemaparan tentang kriteria penilaian Gelar Upacara Adat. Meski tidak ditetapkan pemenang, tapi peserta mendapatkan tambahan 3 poin yang sama, yang akan diperhitungkan sebagai nilai tambahan pada saat penghitungan nilai untuk juara umum. Selain itu masing-masing kontingen yang tampil juga mendapatkan uang pembinaan sebesar 1,5 juta rupiah.

“Saye ucapkan tahniah kepade tuan-tuan dan puan-puan dari kabupaten/kota yang sudah mengirim utusan dalam Gelar Upacara Adat kali ini. Karena kite sudah sepakat akan melestarikan adat budaya kite, budaye adalah khasanah kite yang tak akan luntur ditelan zaman. Kite mengukir sejarah dalam melestarikan dan menurunkan ke generasi berikutnye,” ucap Karman, Ketua Panitia FSBM IX dalam sambutannya.

Prosesi Rias Pengantin, Kota Pontianak (Foto Iwan)
Prosesi Rias Pengantin, Kota Pontianak (Foto Gusti Iwan)

Check Also

Karman: Kita Merasa Sangat Puas dengan Kinerja Dewan Juri

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Sambas—Karman, ketua panitia Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) ke-IX, merasa puas dengan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *