Home / Jurnalisme Warga / Upacara Balalak Suku Dayak Banyadu

Upacara Balalak Suku Dayak Banyadu

Oleh Teti Laila Adha

MABMonline.org, Pontianak–Suku Dayak Banyadu merupakan suku Dayak asli yang menempati Dusun Sedaya. Dusun ini terletak di Desa Suka Jaya, Kecamatan Ledo Kabupaten Bengkayang. Terdapat pula beberapa suku pendatang di dusun Sedaya, seperti suku Jawa, Sunda, Melayu, dan Batak.

Ada sekitar 120 kepala keluarga yang menempati Dusun Sedaya. Sebagian besar warga Dusun Sedaya adalah pemilik perkebunan sawit. Mata pencaharian sehari-hari mereka bekerja sebagai petani, pegawai negeri sipil, peternak, dan pedagang. Agama Islam menjadi agama mayoritas warga di Dusun Sedaya, serta sebagian kecil warga beragama Katolik dan Prostestan. Begitulah penuturan Roh Fadlilatun (22) tentang gambaran dusun tempat tinggalnya.

Suku Dayak Banyadu memiliki sebuah ritual khas yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Ritual itu adalah upacara Balalak yang memiliki arti sepi layaknya hari raya Nyepi umat Hindu. Prosesi pelaksanaan upacara Balalak dipimpin oleh Kepala Adat suku Dayak Banyadu. Upacara ini akan dilaksanakan bila kepala adat telah mendapat pertanda berupa suara kicauan burung. Selain itu, upacara Balalak harus dilaksanakan setelah malam bulan purnama.

“Upacara Balalak memiliki makna tersendiri bagi suku Dayak Banyadu. Upacara ini dilakukan dengan maksud untuk membersihkan kampung dari serangan hama pada lahan pertanian, menolak wabah penyakit, serta dijauhkan dari kerusuhan dan malapetaka,” tutur mahasiswa semester enam FKIP Untan ini.

Kepala Adat suku Dayak Banyadu akan mepersiapkan beberapa perlengkapan upacara sebelum pelaksanaan upacara Balalak. Seekor anjing bewarna hitam polos akan disembelih, lalu darah dan kepalanya diambil untuk dijadikan sesajen upacara Balalak.  Darah anjing sembelihan disimpan di dalam tempayan yang disangga dengan bambu yang telah dianyam sedemikian rupa agar dapat menjadi penyangga tempayan. Kepala anjing disimpan di atas piring yang diletakan di atas tempayan.

Setelah perlengkapan siap, kepala adat akan meletakkan sesajen yang telah diberi mantra di depan gerbang perbatasan desa yang bersebelahan dengan Desa Sejadis. Upacara ini berlangsung selama satu hari. Selama itu juga semua warga Dusun Sedaya tidak diperbolehkan keluar rumah serta membuat kegaduhan. Warga juga tidak boleh membuat perapian atau memasak. Semua pintu dan jendela rumah warga harus ditutup. Itulah beberapa pantangan yang harus dipatuhi warga Dusun Sedaya selama prosesi upacara berlangsung.

Pantangan upacara Balalak harus dipatuhi semua warga tak terkecuali suku pendatang yang menempati Dusun Sedaya. Bila ada warga yang melanggar pantangan upacara Balalak, seperti keluar rumah apalagi hingga melewati gerbang perbatasan antardesa, ia akan dikenai denda adat. Ia harus memberikan seekor babi berumur lebih dari tiga tahun. Warga Dusun Sedaya yang beragama Islam juga mematuhi pantangan upacara Balalak, tetapi tidak mengikuti prosesi persiapan dan akhir upacara Balalak.

Satu hari menjalani upacara Balalak, akhirnya tibalah masa untuk mengakhiri upacara dengan prosesi akhir upacara yang lagi dipimpin oleh Kepala Adat suku Dayak Banyadu. Semua warga suku Dayak Banyadu menyaksikan prosesi akhir upacara Balalak. Sesajen yang diletakkan dipintu gerbang akan diambil, lalu dihanyutkan ke Sungai Banah yang ada di Dusun Sedaya. Sesajen berupa kepala dan darah anjing dihanyutkan disertai air yang telah diberi mantra. Ayam berwarna hitam polos yang dipanggang tanpa diberi bumbu juga dihanyutkan ke sungai beserta sesajen. Semua sesajen ini dihanyutkan sebagai persembahan kepada Sang Jubata. Setelah itu, upacara pun selesai. Demikianlah penuturan gadis keturunan Jawa ini mengakhiri penjelasan mengenai upacara Balalak.

Check Also

Pantia FSBM IX Sediakan 7 Stan Keamanan dan Kesehatan

Oleh Mariyadi MABMonline.org, Pontianak—Panitia penyelenggara Festifal Seni dan Budaya Melayu (FSBM) IX dalam rangka ulang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *