Upacara Setelah Melahirkan, Tradisi Keraton Mempawah

Oleh Rommi

MABMonline.org, Mempawah — Mempawah, merupakan sebuah kota kecil yang memiliki sejarah yang panjang dan nilai-nilai kebudayaan yang melimpah. Sekarang, peninggalan pada masa lampau masih dapat ditemui di kawasan keraton Mempawah, yaitu keraton Amantubillah. Di sana, tradisi-tradisi yang mulai terlupakan masih dijaga. Salah satunya, upacara setelah melahirkan.

Saya tertarik untuk menelusuri, bagaimana tradisi itu dijalani, saya pun bergegas pergi ke kota Mempawah. Menurut cerita tradisi itu sampai sekarang masih dijalani oleh masyarakat setempat dan menjadi hal yang wajib dilakukan oleh masyarakat setempat.

Saya pun melakukan perjalanan menuju kota Mempawah dengan mengendarai sepeda motor bersama teman saya. Sesampainya di kota Mempawah saya pun langsung menuju suatu desa yaitu Desa Antibar, di sana telah menunggu satu keluarga yang melakukan proses tradisi upacara setelah melahirkan.

Pak Dullah nama keluarga tersebut. Kami datang di saat yang tepat, karena acara buang-buangnya baru akan dimulai besok pagi. Kami pun beristirahat terlebih dahulu di rumah Pak Dullah.

Tibalah keesokan harinya, matahari bersinar dengan teriknya di awal hari, namun tidak membuat kami surut niat dalam meliput upacara setelah melahirkan ini. Pak Dullah menjelaskan bagaimana proses upacara setelah melahirkan ini. Dalam penentuan waktu upacara yang dilakukan melalui kesepakatan bersama keluarga besar karena waktu tertentu dihitung menurut penanggalan kepercayaan masyarakat. Pada penyelenggaraan upacara, tempat dibuat secara bersamaan karena sangat erat berkaitan antara satu proses kegiatan dengan kegiatan yang lainnya. Untuk proses upacara adat dibagi dengan beberapa tahap.

Pada hari pertama pagi hari pemasangan Bendera atau simbol tertentu dimulai jam 08.00 wib dipasang di depan rumah sampai sesudah kegiatan acara selesai, kedua acara Buang-buang pada jam 10.00 wib di sungai yang airnya mengalir kemuara laut, ketiga acara Tepung tawar, keempat Naik Ayun, kelima Gunting rambut, dan keenam Pembacaan doa Rasul. Semua prosesi dilaksanakan di rumah yang mempunyai hajatan tersebut.

Berkenaan dengan prosesi Adat Buang-buang, bagi keluarga keturunan Keraton Amantubillah maupun yang bukan keturunan keraton merupakan suatu rangkaian kegiatan yang berhubungan erat dengan keberadaan saudara-saudaranya di alam gaib. Prosesi dilakukan untuk mengawali pelaksanaan kegiatan adat yang dibudayakan oleh keluarga keraton Amantubillah, seperti adat kelahiran, adat khitanan, adat perkawinan, dan kegiatan adat yang lain.

Prosesi berfungsi sebagai wahana komunikasi antara anggota keluarga Panembahan Kodung yang tinggal di alam nyata dan yang tinggal di alam ghaib. Perlengkapan prosesi ini terdiri dari antara lain:
1. Sebutir telur ayam kampung yang masih mentah (umumnya ayam yang berwarna hitam atau disebut ayam selase)
2. Sebutir buah pinang yang sudah masak menguning
3. Lima lembar daun sirih bertemu urat
4. Sirih Rekok (kapur,gambir,pinang)
5. Rokok daun
6. Sebotol minyak bau disebut minyak Bugis
7. Sebatang lilin kuning (lilin wanyi)
8. Setumpuk berteh (terbuat dari padi yang digongseng)
9. Beras kuning
10. Sebentuk cicin yang diikat dengan benang kuning
11. Sebuah piring mangkok berwarna putih polos.

Kesemua alat perlengkapan tersebut diletakkan di atas sebuah nampan perak yang dilapisi kain kuning. Setelah kesemua alat perlengkapan tersedia, pelaksanaan acara adat Buang-buang dapat dilaksanakan. Pelaksanaan acara adat ini adalah seorang dukun atau pawang yang berpakaian hitam-hitam, dua orang pengawal yang membawa payung dan sebilah pedang, dan anggota keluarga yang mempunyai hajat. Semua pelaksanaan acara ini duduk berhadapan, kecuali pengawal yang duduk dibelakang anggota keluarga yang berhajat; mengitari alat perlengkapan yang telah disediakan.

Pelaksanaan acara adat ini dimulai dengan seulas ungkapan sembahan dari sang dukun kepada tuan rumah, yang dilanjutkan dengan pembacaaan Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah saw, Syech Abdul Kadir Jaelani, Panembahan Kodung, Opu Daeng Manambon dan seluruh leluhur raja-raja Mempawah.

Setelah, sang dukun membaca beberapa mantera dan dilanjutkan dengan memoleskan minyak Bugis ke kening, telinga, hidung, kedua telapak tangan dan ujung kaki tuan rumah menyapukan telur ayam kampung dan pinang kebagian tubuh yang telah diolesi Minyak bau (Bugis) tadi secara berurutan, yang kemudian diakhiri dengan penaburan berteh dan beras kuning sebanyak tiga kali keseluruh badan tuan rumah yang mempunyai hajat. Penaburan berteh dan beras kuning ini menandai berakhirnya proses tahap pertama dari prosesi adat ini.

Tahap kedua dimulai dari turunnya sang dukun menuju sungai atau anak sungai Mempawah yang dikawal oleh dua orang pengawal istana. Sesampainya di pinggir sungai, dukun mengucapkan salam kepada seluruh penghuni sungai dengan maksud memberitahukan kedatangan mereka untuk melaksanakan acara adat buang-buang. Setelah tiba dan mengucapkan mantera tertentu, beberapa butir berteh dan beras kuning telur dan pinang tua tadi dilemparkan ke sungai. Selanjutnya mangkok putih diisikan air sungai sebanyak 2/3 bagian, kemudian lilin wanyi’ dinyalakan dan ditempelkan kesalah satu sisi mangkok. Sedangkan seulas sirih ditempatkan menutupi permukaan mangkok. Dengan demikian, berakhirlah pelaksaan prosesi kedua dari acara adat Buang-buang.

Pada tahap terakhir, setibanya dukun ditempat kediaman yang mempunyai hajat, ia lebih dulu menyampaikan ucapan ‘assalamualaikum’ kepada tuan rumah, dan tuan rumah mempersilahkan dukun melanjutkan tugas adat ini hingga selesai. Setelah duduk lilin wanyi’ yang masih menyala dipadamkan, dan arangnya dioleskan ke kening dan kedua belah telinga tuan rumah. Dukun kemudian mempersilahkan tuan rumah untuk untuk meminum seteguk air yang telah dicampuri arang dari liln wanyi’. Setelah itu mangkok putih berisi air sungai diminumkan sedikit ke mulut tuan rumah, yang kemudian diikuti dengan gerakan mendorong mangkok menjauhi dirinya. Gerakan mendorong ini menandai berakhirnya tahap terakhir dari seluruh prosesi acara adat Buang-buang yang telah dilaksanakan. Dukun kemudian menutup acara ini dengan membaca doa selamat, memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa, agar memberikan keselamatan kepada kita semua.

Itulah gambaran proses dari upacara setelah melahirkan, kami pun sangat menikmati proses upacara tersebut. Bangsa kita memiliki berbagai kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi budaya. Budaya-budaya seperti ini patut untuk dilestarikan atau tetap dilaksanakan. Walaupun sekarang zaman sudah mulai maju, namun kebudayaan tetap dijunjung. Dan kami berdua pulang ke kota Pontianak keesokan harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *