Home / Beranda / Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Oleh Dedy Ari Asfar

MAMBonline.org, Pontianak–Mungkin sudah tidak asing bagi siapa saja yang berangkat ke Jakarta melalui bandara Supadio akan melihat pemandangan menakjubkan indahnya bumi Kalimantan Barat dari atas udara. Apanya yang menakjubkan? Lihat saja Sungai Kapuas yang meliuk-liuk bak ular Sawa’ (pyton) raksasa yang sedang berjalan menuju ke timur (hulu). Dalam mitos Iban bak Ular Nabau yang berjalan menyusuri rawa-rawa hutan Kalimantan. Dari Hilir Kapuas ada dua cabang yang bermuara langsung ke laut. Itu terlihat dengan jelas dari udara. Pertemuan dua sungai Kapuas yang dipisahkan oleh delta Kapuas ini dari udara seakan-akan menyandingkan dua pasangan yang sudah lama saling merindukan, bak Adam dan Hawa ketika bertemu pertama kali di bumi. Mereka bertemu dan menyatu, lalu hanyut bersama mengarungi bahtera menuju ”istana” kehidupan demi kebahagian makhluk hidup di sisi mereka.

Sungai Kapuas mengalir demi menyenangkan ekosistem Lembah Kapuas dan pihak-pihak yang membutuhkan pertolongan dan kedermawanannya dalam kehidupan sehari-hari. Air sangat penting bagi makhluk  hidup. Kalau tidak ada air pasti tidak ada yang mampu bertahan di muka bumi. Bukankah karena air pula yang menyebabkan Planet Bumi paling layak ditempati oleh manusia? Sungai Kapuas mengalirkan air untuk kebutuhan tubuh, pertanian, perikanan, dll. Sayangnya, manusia sering alpa hal yang satu ini sehingga air Kapuas mulai dicemari dengan berbagai sampah dan bahan kimia, seperti mercuri. Padahal, air Kapuas merupakan urat nadi bagi masyarakat di tebing atau tepian Lembah Kapuas mulai dari hilir sampai ke hulu. Bahkan, air PAM yang sehari-hari mengalir sampai ke kran-kran rumah penduduk Kota Pontianak bersumber dari Sungai Kapuas.

Tanggal 30 November 2008 suatu pagi di Bandara Supadio.

”Sebelah sini Pak!”

”Tit tit tit…” Sesuatu berbunyi saat aku melewati gerbang pemindai bandara.

”HPnya Pak. Tolong letakkan ditempatnya,” seru seorang petugas.

Itulah kasak-kusuk penumpang dan petugas bandara saat berjumpa di gerbang pemindai barang dan penumpang saat akan chek in. Aku bergegas mengantri di konter Sriwijaya. Saat mengantri terdengar suara penumpang berkata pada temannya.

Delay

”Apanya delay?

”Pesawat kita”

Dari percakapan dua calon penumpang didepanku, pesawat Sriwijaya yang kutumpangi mengalami masalah besar di Bandara Supadio Pontianak. Pesawat yang seyogianya berangkat pukul 07.55 WIB harus delay.

”Bapak mau ke Jakarta ya, maaf Pak pesawat kita delay sampai pukul 10.00,” kata seorang perempuan di konter itu kepadaku.

”Wah, saya harus dapat penerbangan pagi ini juga, sebab saya harus langsung sambung ke penerbangan berikutnya menuju Kendari,” kataku.

”Baik Bapak, kita uruskan. Bapak ikut Bapak ini,” kata perempuan tersebut sembari menyerahkan tiketku kepada seorang lelaki berpakaian bercirikan Sriwijaya Air.

Aku pun mengikuti lelaki tersebut menuju kantor Sriwijaya di dalam Bandara Supadio Pontianak. Di ruangan yang luasnya sekitar 4X4 M aku dihadapkan dengan seorang pria yang tampak gagah dan berwibawa, sepertinya orang yang paling bertanggung jawab di ruangan itu.

”Bapak mau ke mana?” pria itu membuka pembicaraan.

”Saya mau ke Kendari,” cukup tegas suaraku menjawab pertanyaan pria gagah tersebut.

”Maaf Pak, boleh saya lihat tiketnya,” kata si pria.

Ia memeriksa tiketku dengan teliti lalu berkata ”Kami mengalami penundaan penerbangan tetapi Bapak jangan khawatir akan kita pindahkan ke pesawat lain,” kata pria tersebut.

”Ya, jangan sampai saya tidak terbang pagi ini karena saya harus bergabung dengan rombongan di Jakarta menuju Kendari dengan pesawat Sriwijaya pukul 11.00 WIB, kalau berangkat pukul 10.00 pasti tidak akan bertemu dengan rombongan” seruku dengan suara yang dibuat agak diberat-beratkan agar tampak berwibawa.

”Sebentar ya Pak, kami akan uruskan,” seru pria berseragam merah bertuliskan Sriwijaya Air tersebut berusaha ramah.

”Ton, Ton, Toni kamu di mana?” kata pria tersebut memanggil-manggil seseorang melalui alat talky-talky yang selalu dipegangnya. Sekejap sang lelaki yang dipanggil muncul.

”Ini satu lagi, tolong minta kursi lagi ke Batavia. Cepat ya,” seru si pria berseragam merah kepada orang yang dipanggil Toni tersebut.

Sepertinya, aku tidak sendirian yang meminta transfer pesawat agar tidak ketinggalan dengan penerbangan berikutnya. Penumpang lain juga menjadikan Jakarta (Soekarno-Hatta) hanya jadi tempat transit bukan tujuan sebenarnya. Takkurang dari lima menit, muncul seorang pria yang kemudian kuketahui bernama Pak Gunawan. Dia pun mengadukan hal serupa.

”Tolong carikan saya pesawat agar dapat terbang pagi ini, saya hanya transit ke Jakarta dan harus ke Batam,” katanya.

”Boleh saya lihat tiketnya Pak?” kata pria berseragam merah.

”Wah, Bapak tidak pakai Sriwijaya ya dari Jakarta ke Batam,” kata petugas Sriwijaya.

”Iya, saya pakai Lion,” kata Pak Gunawan.

”Ini akan kita uruskan tapi Bapak dikenakan biaya selisih dengan harga tiket pesawat yang baru,” kata si petugas.

”Tidak apa, saya bayar, yang penting saya terbang pagi ini. Uruskan sekalian tiketnya,” kata Pak Gunawan dengan nada sedikit keras dan ekspresi wajah menunjukkan kekesalan.

Di luar ruangan tersebut terdengar salah satu penumpang berceletuk.

”Agak ngaco juga delay Sriwijaya ini ya, delay kok sampai beberapa jam”.

Seorang perempuan yang bertugas melayani jual-beli tiket di dalam ruangan itu pun merespon dengan menjelaskan bahwa ”Sebenarnya, pesawat kami mengalami gangguan dan harus menunggu pesawat lain dari Solo (?) karena itu, agak lama delaynya,” seru si perempuan.

Tiba-tiba ruangan kecil ini mulai didatangi beberapa penumpang yang bertanya dan mengeluh penundaan keberangkatan Sriwijaya.

”Anton mana, Anton?” kata pria berbaju merah agak sedikit marah bertanya kepada petugas perempuan yang ada di ruangan itu.

Tetapi, tidak direspon karena sang perempuan juga sibuk melayani konsumen.

”Ton, Ton, carikan Anton, suruh ke sini. Ke mana aja si Anton ini” pria berbaju merah ini menggerutu kepada Toni melalui talky-talkynya.

Tidak beberapa lama, muncul seorang pria berseragam merah. Pria tersebut berperawakan tinggi putih dengan raut muka mirip orang Cina. ”Kemana aja kamu, dicari-cari dari tadi malah menghilang. Urus tiket Ibu itu!” perintah si pria berbaju merah kepada pria yang ditenggarai bernama Anton tersebut.

”Saya ngurus orang chek in Pak,” kata Anton berusaha membela diri.

”Sudah, jangan kemana-mana, di sini aja,” seru si pria dengan nada kesal.

Urusan chek in dan transfer ke Batavia sudah selesai. Aku lalu menuju ruang tunggu keberangkatan. Lihat kanan-kiri tampak kursi yang disediakan cukup penuh, ada dua tiga kursi yang masih kosong. Orang sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang berbicara dengan orang disebelahnya; ada yang membaca koran; ada yang asyik dengan telepon genggamnya; ada yang makan roti, dan sebagainya. Tidak beberapa lama duduk di ruang tunggu tersebut, panggilan keberangkatan pesawat Batavia pun terdengar, kulihat waktu menunjukkan pukul 07.55 WIB.

Tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 09.30 WIB, aku langsung menuju tempat transit. Setelah chek in aku pun beranjak menuju ruang tunggu dalam bandara. Melewati meja petugas pajak bandara, lalu membayar sebesar Rp 30.000,00. Sebelum masuk ke ruang tunggu keberangkatan aku singgah di sebuah kafe untuk makan sambil mengamati dan menunggu siapa tahu ada rombongan orang dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta yang aku kenal melintas.

Sambil makan dan minum mataku terus mengawasi lalu lintas orang yang masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan tetapi tidak satupun yang dikenal. Aku sangat khawatir karena kontak dengan rombongan ATL hanya dilakukan Dr. Chairil Effendy selaku Ketua ATL Kalbar. Beliaulah yang mengutusku (selaku sekretaris ATL) untuk berpartisipasi dalam kegiatan Lisan VI yang diselenggarakan oleh ATL dengan tema Oral Tradition as Cultural Strength to Build Civilization. Aku diminta beliau untuk membentangkan makalah dalam acara tersebut. Kebetulan aku dan Dr. Chairil Effendy menulis bersama makalah yang akan disampaikan dalam Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara di Wakatobi. Oleh karena kesibukan beliau sebagai Rektor Universitas Tanjungpura dan berbagai kegiatan lainnya di Jakarta, beliau tidak bisa mengikuti kegiatan seminar di Wakatobi yang kebetulan dilaksanakan pada tanggal 1—3 Desember 2008. Oleh karena itu, aku pun menjadi penggantinya dalam acara tersebut.

Mujur sekali aku dapat kepercayaan penuh Dr. Chairil Effendy untuk mengikuti kegiatan di Wakatobi dan beliau mempersiapkan anggaran keberangkatan ke sana sehingga tidak merepotkanku dari segi keuangan. Bahkan, informasi keberangkatan rombongan ATL Jakarta ke Wakatobi melalui Sriwijaya pada hari ini (Minggu, 30 November 2008) Dr. Chairil Effendy yang menginformasikannya kepadaku sebab beliau dapat kontak langsung dari Dr. Pudentia selaku Ketua ATL Pusat, Jakarta.

”Nanti, Dedy cari saja rombongan ATL Jakarta yang menuju ke Kendari pakai Sriwijaya karena hanya satu-satunya penerbangan Sriwijaya yang berangkat pukul 11.00 ke sana,” kata Dr. Chairil Effendy berbicara kepadaku dua hari sebelum keberangkatan.

10.00 WIB Soekarno Hatta

Setelah menyelesaikan sarapan di kafe dalam bandara, aku pun beranjak masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan. Kulihat masih belum ramai orang yang duduk di ruang tunggu. Sekitar 4 orang calon penumpang yang ada dalam ruangan tersebut. Aku berjalan di sekitar ruangan sambil menikmati pemandangan hijau di balik kaca ruang tunggu. Tampak tanaman hijau menghiasi bandara, ada beberapa jenis bunga dan pohon Ketapang menghiasi taman dalam bandara Soekarno-Hatta. Sekali-kali mataku melihat orang yang masuk ke dalam ruang tunggu, dengan harap-harap cemas siapa tahu ada rombongan ATL yang teridentifikasi. Benar juga selang beberapa menit berdiri di ruang tunggu keberangkatan tampak rombongan orang masuk ke dalam ruang tunggu. ”Gaya mereka menunjukkan kalau rombongan ini adalah rombongan ATL Pusat, Jakarta,” aku membatin sendiri.

Kulihat ada beberapa bule yang turut dalam kelompok ini. Aku mencoba mendekati seorang lelaki dan perempuan yang duduk di ruangan itu. Aku pun duduk di samping mereka. Kucoba memberanikan diri menyapa dan beramah-tamah.

”Bapak mau ke mana?” kataku pada seorang lelaki sambil tersenyum ramah.

”Oh, mau ke Wakatobi,” katanya.

Mendengar jawaban lelaki ini, perasaan lega luar biasa lepas dari dadaku. Aku pun mengenalkan diri kepada pria dan wanita di sebelahnya. Yang pria bernama Samuel seorang desainer dari Jakarta yang sengaja diundang oleh Dr. Pudentia (Bu Teti) untuk ikut dalam rombongan ke Wakatobi dan yang perempuan adalah Bu Ratna yang kemudian kuketahui berperan sebagai moderator dalam acara seminar dan istri dari Pak N. Riantiarno seorang sutradara dan penulis skenario dunia teater Indonesia yang ternama.

Kami berbincang-bincang sebentar selang beberapa menit muncul lagi seorang pria menggunakan kaos Melayu Online. Bu Ratna memperkenalkan orang tersebut kepadaku. ”Ini orang Kalimantan,” ujar Bu Ratna.

”Kenedi,” katanya memperkenalkan diri.

”Dedy dari Pontianak,” sahutku.

”Oh dari Pontianak, pukul berapa sampai?” tanyanya.

”Pukul 09.30 sudah mendarat,” kataku.

”Wah langsung masuk ya ke sini, nggak keluar bandara lagi,” tegas Mas Kenedi yang kemudian kuketahui adalah seorang wartawan senior yang sudah 20 tahun di Kompas.

Kami berbicara cukup lama dan akrab juga. Beliau menceritakan pengalamannya naik pesawat dari Pontianak—Kuching, bertanya tentang perbatasan, dan sebagainya. Kulihat ada juga dua orang yang tidak asing bagiku di ruang tunggu itu. Ada dua orang dari Melayu Online, Pak Mahyudin Almudra (bos Melayu Online) dan Mas Hadi Kuriawan wakilnya yang kukenal saat kunjungan mereka ke Majelis Adat dan Budaya Melayu (MABM) Kalbar. Rupa-rupanya mereka juga turut dalam rombongan ke Wakatobi. Mas Kenedi menyapa mereka terlebih dahulu kemudian aku pun beranjak dari tempat duduk mendekati mereka. Kami juga larut dalam perbincangan, sekali-kali Mas Kenedi dari Kompas membuat guyonan.

Sekitar pukul 11.00 WIB kami sudah di dalam pesawat. Di dalam pesawat orang sudah pada duduk termasuk aku. Orang terakhir yang masuk pesawat adalah Bu Teti,Ketua ATL Pusat, Jakarta. Perempuan ini kukenali wajahnya karena beliau juga sebagai pemakalah dalam Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta yang kebetulan aku hadiri. Ia menyapa semua penumpang di pesawat termasuk aku. Aku malah sempat berbicara sembari mengenalkan diri dan menyampaikan salam dari Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak yang juga Ketua ATL Kalbar Dr. Chairil Effendy. Kukatakan Pak Chairil tidak sempat hadir karena beliau sedang sibuk dan ada beberapa kegiatan yang tidak bisa beliau tinggalkan, sehingga beliau mengutus saya untuk ikut dalam kegiatan ini.

”Oh wakil Pak Chairil,” katanya.

”Iya,” sahutku singkat.

”Ada bawa barang di bagasi?” tanyanya.

”Tidak ada,” kataku.

”Bagus karena kita akan langsung pindah pesawat setibanya di Makassar,” jelas Bu Teti. Aku sempat tertegun mendengar penjelasan Bu Teti. Pikirku, bukankah pesawat Sriwijaya ini akan terbang ke Kendari dan hanya transit di Makassar. ”Ah, sudahlah, ikuti saja ke mana rombongan ATL ini,” aku membatin. Setelah berbicara denganku, ia terus berlalu ke kursi belakang. Beberapa menit kemudian, pesawat pun lepas landas.

Aku duduk tepat di sisi kaca pesawat, nomor kursi 6 A. Di sebelahku duduk seorang ibu dan anaknya yang kira-kira berumur dua atau tiga tahun. Sepanjang perjalanan, anak tersebut bernyanyi terus. Mengingatkan pada anak perempuanku Daffa di rumah. Perjalanan pesawat dari Jakarta—Makassar didukung dengan cuaca yang sangat cerah. Tanpa terasa, 10 menit sudah berlalu. Aku berpikir mungkin pesawat masih di pinggir Jakarta karena mulai dari lepas landas, pemandangan rumah penduduk dan pulau tampak jelas terlihat tidak berhenti. Mungkin sekitar kepulauan seribu pikirku.

Tampak lautan biru membentang, sesekali terlewati pulau yang berpenghuni dan tidak berpenghuni. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Namun, kemudian aku sempat terlelap sekitar 1 jam perjalanan. Lalu terbangun, kulihat pulau-pulau indah yang dikelilingi laut biru. Anehnya, air laut di sisi atau pinggiran pulau tampak menghijau. Aku bertanya pada diri sendiri, ”Mengapa bisa begitu ya?” Mungkin karena air tepian pantai pulau tersebut agak dangkal sehingga tampaklah keindahan karang dan ekosistem hijau bawah lautnya. Aku juga berpikir ini mungkin sudah masuk perairan Laut Sulawesi yang terkenal dengan biota bawah lautnya yang indah dan menawan.

Sesekali pesawat yang kutumpangi melewati kumpulan awan yang agak mendung. Mungkin awan ini yang dapat menjadi hujan karena proses penguapan dari air laut yang kemudian membentuk awan hitam. Ada juga pergerakan gerombolan awan putih yang kami lalui, bergeraknya awan-awan putih tersebut seperti gerombolan makhluk gaib yang serbaputih berjalan-jalan di angkasa, terbayangkan tidak? Kalau susah jangan dipikirkan karena imaji khayalku yang mengada-ada saja. Entah sudah berapa lama aku menikmati pemandangan menakjubkan bukti kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa ini. Aku terus mengagumi dan mensyukuri kekuasaan-Nya itu. Tiba-tiba terdengar suara pramugari berkata.

”Beberapa menit lagi kita akan sampai di Makassar. Terdapat perbedaan waktu 1 jam antara Makassar dan Jakarta.”

Sembari mendengar perkataan dari pramugari, mataku terus melihat pemandangan di balik kaca. Dari tempat dudukku jelas terlihat beberapa kapal dan perahu tradisional yang bergerak mengarungi Lautan Sulawesi, entah ke mana tujuan mereka. Akhirnya tepat pukul 14.20 waktu Indonesia bagian tengah kami mendarat di Bandara Sultan Hasanudin Makassar.

Selanjutnya di…
Surga Nyata Bawah Laut Wakatobi

Check Also

14 Hari Melang-lang Buana di Kota Pendidikan

Oleh Rianti Pratiwi MABMonnline.org, Pontianak–Tepat 28 Januari 2013, 10 menit lebih awal dari temanku Gina, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *