Home / Beranda / Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Sesampainya kami di Bandara Sultan Hasanudin Makassar, tidak ada waktu rehat makan atau minum kopi. Kami langsung dikumpulkan dan digiring menuju pintu gerbang keberangkatan ke Wakatobi dengan menggunakan pesawat perintis Merpati Airlines. Kami masuk ruang tunggu keberangkatan sambil menunggu para awak pesawat mengurus bagasi dan administrasi keberangkatan. Pesawat ini berukuran kecil dibandingkan dengan pesawat yang mengangkut kami dari Jakarta—Makassar, kapasitasnya hanya 56 orang penumpang.

Aku sempat menikmati keindahan bandara baru Sultan Hasanudin Makassar yang belum lama ini diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla. Bandara baru ini sepertinya berkonsepkan one stop service seperti kebanyakan bandara-bandara di luar negeri, tidak seperti Bandara Soekarno-Hatta yang kelihatan ”feodalnya”, yang menunjukkan tempat dan suasana penerbangan luar negeri berbeda dengan dalam negeri. Ternyata sebagai anak negeri, kita selalu dinomorduakan! Padahal, kitalah pemilik bandara tersebut! Bahkan, bandara internasional di Jakarta itu tidak ada ruang lobby yang nyaman dan aman untuk penumpang dan pengantar/penjumput yang bisa ditempati. Kalau jadwal berangkat kita belum siap chek in maka harus menunggu di selasar luar bandara. Belum lagi, jarak yang cukup jauh dan menggunakan bus untuk mencapai masing-masing terminal. Namun, di Bandara Sultan Hasanudin Makassar banyak lapak-lapak yang belum terisi dan masih dalam pengerjaan. Di gedung sisi kanan dari lapangan bandara terdapat pengerjaan bangunan-bangunan yang masih belum rampung.

Kami menuju lapangan tempat parkirnya Merpati Airlines. Pesawat ini khusus dicarter oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi untuk menjemput dan membawa kami ke daerah  Wakatobi. Sekitar pukul 15.15 waktu Makassar (Wita) kami lepas landas. Pesawat menuju Bandara Maranggo, yaitu salah satu daerah yang masuk wilayah Kecamatan Tomia Timur dan terletak di Pulau Tomia. Saat sudah terbang di udara, seorang pramugari menginformasikan bahwa lama perjalanan yang ditempuh sekitar 1 Jam 15 menit. Selama perjalanan ke Maranggo aku coba untuk tidak tertidur karena ingin menikmati semua keindahan Laut Sulawesi dari atas udara, tetapi mataku tetap tidak bisa diajak kompromi, ada saja terlelapnya. Namun, saat aku terbangun tampak deretan pulau di lautan biru yang luas. Kelompok pulau itu membentuk kawah atau danau yang airnya mengalir dan bermuara ke laut. Sungguh pemandangan yang menakjubkan! Entah ini masuk wilayah Wakatobi atau di mana. Aku pun tak sempat bertanya kepada orang-orang di pasawat, tadinya kupikir semuanya adalah pengunjung yang juga masih awam dengan Wakatobi.

Benar juga kata pramugari pesawat Merpati Airlines, perjalanan hanya menghabiskan waktu 1 jam 15 menit. Kami mendarat di Maranggo sekitar pukul 16.30 Wita. Namun, sebelum mendarat di bandara Maranggo pesawat sempat mengitari pulau-pulau yang ada di sekitar Tomia. Di atas pesawat aku bisa menyaksikan dari kejauhan Pulau Binongko. Hal itu aku ketahui dari seorang Bapak yang duduk di kursi belakang. Cukup indah juga pemandangan di bawah sana, lautan dan deretan pulau di sekitar Tomia tampak hijau dan memukau. Pulau Tomia dari udara seperti sedang berlomba dengan pulau yang di sebelahnya sungguh bentuk jajar dua pulau yang bersanding apik.

Kami mendarat dan turun, rupa-rupanya kami sudah ditunggu oleh para pejabat daerah setempat. Kedatangan kami pun di sambut cukup meriah, mobil-mobil jemputan juga sudah siap. Semua mobil berflat merah, agaknya mobil milik pemerintah ini yang menjadi alat transportasi yang bakal membawa kami menuju pelabuhan Pulau Tomia. Bupati Kabupaten Buton yang turut dalam rombongan kami turun terlebih dahulu dan disambut dengan pelukan sebagai tanda selamat datang oleh para penyambut. Aku sempat bertanya-tanya juga dalam hati mengapa Bupati Buton datang ke Wakatobi sedangkan Bupati lainnya tidak ada.

Usut punya usut, wilayah Wakatobi sebenarnya daerah pemekaran baru yang sebelumnya menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Buton dan Bupati Buton inilah kononnya sang penggagas dalam memekarkan wilayah Wakatobi sebagai sebuah kabupaten baru. Pantas saja ketika di atas pesawat sang bupati berseru seraya berkata.

”Wah, sudah banyak perubahannya Tomia ini. Sudah banyak pembangunan yang telah dilakukan di sana-sini. Zaman saya belum ada bangunan-bangunan itu,” kata Bupati Buton memberi komentar melihat keadaan Pulau Tomia dari atas pesawat.

Aku pun menuruni tangga pesawat dan disambut dengan salaman selamat datang. Kulihat penduduk pulau juga banyak melihat-lihat kedatangan kami. Ada anak-anak yang sampai memanjat pagar Bandara Maranggo. Suasana sore nan cerah dan teduh membuat lapangan Maranggo begitu bersahabat tidak hanya kepada penduduk lokal tetapi juga kepada kami sang pendatang.

Kulihat bendera Merah Putih masih berkibar dengan gagahnya di timur Indonesia ini. ”Wah tidak ada sinyal,” kata Mas Kenedi.

”Mas Ken pakai Telkomsel kali ya. Punyaku ada sinyalnya, pakai IM3 Indosat,” kataku kepada Mas Kenedi.

Bukan bermaksud berpromosi soal operator seluler, memang hanya Indosat yang ada sinyal di Pulau Tomia, setidaknya di lapangan Maranggo ini. Aku tidak ingin mengatakan Indosat terbaik sebab Indosat di Pontianak sering eror, payah nyambungnya, dan mesti berkali-kali memanggil baru tersambung ke nomor telepon genggam teman saat menelepon di Pontianak. Pak Chairil rupanya berusaha menelepon dan menanyakan posisi saat aku mengaktifkan ponsel di Bandara Maranggo. Aku pun menelepon dan menceritakan perjalananku bersama rombongan dan menceritakan posisi sekarang serta tujuan ke daerah berikutnya kepada beliau. Ada juga telepon masuk dari Sriwijaya Airlines yang menanyakanku di mana sebab mereka merasa kehilangan satu penumpang menuju Kendari. Aku katakan saja tiket ke Kendari hangus tidak perlu diurus lagi sebab sudah terbang ke Maranggo. Aku minta maaf kepada mereka karena tidak sempat melapor. Mereka maklum. Setelah berbicara melalui ponsel dengan Pak Charil dan petugas dari Sriwijaya Airlines di Maranggo aku pun beranjak meninggalkan bandara kecil di Pulau Tomia ini.

Kami pun lalu diangkut ke Pelabuhan Tomia untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Wangi-Wangi ibukota Kabupaten Wakatobi. Semua barang bawaan yang berat-berat atau bagasi ditumpuk dalam satu mobil, yaitu mobil ambulance. Sepertinya, tas-tas kami sudah menjadi pasien yang siap dibawa ke tempat tujuan yang akan merawat dan menampung mereka. Setibanya di pelabuhan ada tiga kapal boat bermesin dua dengan kekuatan tiai-tiap mesin adalah 300 PK merek Suzuki yang sudah menunggu di pelabuhan. Dua kapal yang ukurannya lumayan besar dan satu kapal yang berukuran kecil. Kapal-kapal ini dilengkapi dengan sistem navigasi yang memanfaatkan global positioning system (GPS). Kalau kapal sesat pasti akan ditemukan atau tahu arah untuk pulang karena GPS memang dirancang sebagai alat bantu untuk mengetahui posisi kapal dan panduan bagi arah yang akan dituju. Aku memilih kapal yang kecil, kebetulan tasku juga diletakkan di kapal tersebut. Tadinya aku mau ikut kapal yang agak besar supaya bisa bersantai dipinggiran kiri atau kanan kapal sebab di kapal kecil ini tidak ada tempat untuk bersantai kecuali di buntut kapal dekat mesin, yang beraroma bahan bakar. Minyaknya lumayan menyengat. Aku jadi tergoda untuk memakai kapal kecil ini karena konon bisa cepat sampai.

”Ikut ini saja, lebih laju dan kita cepat sampai. Kalau yang itu dua jam. Yang ini satu jam,” kata Wadin salah satu awak kapal kepadaku.

Mendengar perkataan Wadin aku jadi tergoda, cepat sampai cepat istitahat, pikirku. Bahkan, aku jadi mempromosikan kapal kecil ini kepada yang lainnya. “Ayo siapa yang mau ikut kapal cepat dan siap bergoyang dangdut ikut kapal ini,” seruku kepada Bapak-Bapak yang turut dalam rombongan ke Pulau Wangi-Wangi.

Bapak-Bapak nyengir juga mendengar kata-kataku. Tidak lama, Roger Tol Direktur KITLV Belanda di Jakarta menaiki kapal kecil ini dan melihat situasi di dalamnya ”Wah, this is VIP boat. Ada meja dan kursi untuk tiap-tiap penumpang. Disediakan air minumnya juga,” kata Pak Rogie. Tidak beberapa lama naik Bapak-Bapak yang lain, ada Al-Azhar (Riau), Pak Santoso, Gilles Massot (orang Prancis), Rosdeen (Malaysia), satu orang Polisi, dan seorang PNS Kecamatan Tomia Timur yang kemudian kuketahui dia pernah bertugas di Binongko. Kapal kecil ini tempat duduknya hanya berkapasitas enam penumpang.

Aku berbicara dengan Wadin, salah satu awak kapal. Ia seorang tenaga honor di Kantor Catatan Sipil Pemkab Wakatobi. Dengan ramahnya, ia menjelaskan bahwa Wakatobi itu terkenal dengan keindahan bawah lautnya. ”Itu pulau yang di depan kita adalah Pulau Onemoba’a, tempat diving yang sangat terkenal di sini. Pulau itu ramai orang asing,” katanya.

”Pulau itu dikelola oleh seorang warga negara Australia sejak tahun 1997, namanya Mr.Loren. Tapi dia sudah datang sejak tahun 1996, jaringan Mr.Loren yang datang ke Pulau Onemoba’a ini orang-orang high class,” terang Wadin kepadaku.

”Oh ya?” seruku.

”Ya, tempat itu juga agak diisolasi oleh warga Tomia karena pulau tersebut dikuasai oleh orang asing. Orang sini tidak boleh masuk dengan bebas ke pulau itu,” jelas Wadin.

Aku pun mengangguk-angguk mendengar penjelasan Wadin. Aku jadi teringat seorang bule yang sakit sedang ditandu dan diangkut ke dalam Merpati Airlines saat di Maranggo, konon akan diterbangkan ke Bali untuk berobat. Kutanyakan juga kepada Wadin siapa bule itu. Katanya, ia merupakan salah satu turis yang mengunjungi Pulau Onemoba’a yang terkena sakit usus buntu.

”Pria bule bertopi dan ada tas dipinggangnya itulah Mr. Loren,” kata Wadin. Aku mengerti pria yang dimaksud oleh Wadin karena aku melihatnya sewaktu di Maranggo. Aku jadi berpikir, mungkin Pulau Onemoba’a ini yang aku lihat dalam internet saat mengunduh informasi tentang Wakatobi sebelum keberangkatan.

Benar juga, saat kami melewati Pulau Onemoba’a, tampaklah resort-resort yang berdiri di dekat pantai, memang lokasi yang bagus, entah bagaimana keadaan di bawah laut pulau ini. Dugaanku, pasti bagus karena kalau tidak bagus mana mungkin orang-orang asing mau bayar mahal untuk datang ke pulau ini.

Menurut Wadin, pesawat mengangkut turis asing rutin tiga kali dalam sebulan mendarat di Bandara Maranggo demi mengunjungi Pulau Onemoba’a. Pesawat itu terbang dari Bali ke Bandara Maranggo, Tomia. Selain itu, ada juga pulau lain yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, yaitu Pulau Hoga. Menurut keterangan Wadin, pulau ini biasa dijadikan lokasi penelitian oleh orang-orang asing dan orang Indonesia sendiri. Konon, sebelumnya Pulau Hoga juga dikuasai oleh seorang warga negara asing dari Inggris yang bernama Julien. Namun, sekarang Pemkab Wakatobi telah mengambil alih pengelolaan Pulau Hoga dan menjadikannya kawasan taman nasional.

Perjalanan ke Pulau Wangi-Wangi awalnya cukup mengasyikkan, cuaca yang cerah dan air laut yang tenang membuat suasana perjalanan berlalu dengan nyaman. Pemandangan lautan luas nan biru dan pulau-pulau kecil yang takb erpenghuni semakin membuat mata menjadi segar. Rasa lapar yang menyerang karena perut belum terisi sejak tadi siang hilang karena keindahan perairan Wakatobi ini. Sekali-kali kami berpapasan dengan perahu nelayan. Hal itu tidak mengherankan karena Wakatobi merupakan daerah yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup dari mencari ikan. Mungkin ini yang ada dibenak Gilles Massot, warga negara Perancis yang menjadi staf pengajar di salah satu universitas di Singapura ini saat berada di kapal. Sejak berangkat dari pelabuhan ia begitu betahnya menikmati hembusan angin laut di buntut kapal sambil berdiri, mungkin sekitar 45 menit baru masuk dan duduk di dalam kapal. Pemandangan lautan luas dengan pulau-pulaunya dihuni penduduk Wakatobi yang mayoritas beragama Islam.

Satu jam sudah berlalu, hari sudah gelap. Belum ada tanda-tanda akan sampai ke tempat tujuan. Suasana malam tiba-tiba berubah menjadi mengerikan, kami diombang-ambing oleh ombak yang cukup mengerikan. Kecepatan kapal tiba-tiba menjadi perlahan, aku merasakan seperti kapal tidak bergerak, kalaupun bergerak sungguh seperti tengkuyung yang berjalan, pelan sekali! Pelan, pelan, dan sangat pelan!

Kami terus dilambung ombak. ”Wah, bisa tenggelam ini,” khayalku.

Aku jadi teringat dengan kisah pelarian seorang warga negara Malaysia dan anaknya yang masih balita dari Australia yang melewati Laut Arafuru dengan menggunakan kapal kecil yang katanya diombang-ambing ombak ganas. Aku membayangkan mungkin ini yang terjadi pada ayah dan anaknya yang dilambung ombak Arafuru.

Dalam ketegangan dilambung ombak, terdengar dua orang awak mengontak-kontak kapal lain yang tadi berangkat sama-sama dari Pelabuhan Tomia. Dua kepal tersebut juga sudah terpisah jauh dengan kapal kami. Entah siapa yang mendahului, katanya kapal-kapal yang lain melewati jalur perairan yang berbeda dengan kami. Salah satu anggota PNS Tomia Timur yang ada dalam kapal mengatakan ”Kita agak tersesat dan terseret arus-ombak laut yang sedang tidak bersahabat,” jelasnya.

”Kita berjalan perlahan di lautan ini karena suasana malam yang gelap membuat pengemudi takbegitu terang penglihatannya dan di bawah kita adalah karang-karang laut dangkal yang agak membahayakan. Kalau kita laju, takut kita kandas dan ada masalah,” kata Bapak itu berusaha menjelaskan situasi kepadaku.

Mendengar ini, aku hanya bisa berdoa dan menyerahkan keselamatanku kepada Yang Mahakuasa.

Kudengar, Pak Rogie berbicara dengan Gilles Massot dalam bahasa Inggris yang kalau diterjemahkan adalah ”Oh perjalanan yang mengerikan, mengapa kita harus melewati laut malam-malam begini. Sungguh kurang beruntungnya kita kalau saja perjalanan ini ada apa-apanya,” seru Pak Rogie dengan nada khawatir.

”Ya, sungguh malang,” sahut Gilles Massot.

Aku tersenyum mendengar percakapan mereka. Sepertinya, aku sedang ditunjukkan dengan salah satu kebesaran Tuhan bahwa kalau saja yang di atas berkehendak kapal ini tenggelam maka dengan sangat mudah Sang Khalik pun menenggelamkannya semudah kita membalikkan telapak tangan. Sungguh Allah Maha Besar dan Maha Perkasa!

Aku tetap tenang dan tetap tidak terpengaruh hingar-bingar kapal yang diombang-ambing ombak. Perutku sudah mual dan mau muntah. Aku tetap bertahan, caranya aku bawa tidur saja walaupun susah untuk memejamkan mata.

Drama percakapan antara ombak perairan Wakatobi dan kapal yang kami tumpangi mulai reda. Aku pun jadi tenang, tapi kami masih berjalan perlahan-lahan.

”Kita sudah kembali pada jalur yang benar menuju Wanci,” kata seorang polisi yang turut dalam rombongan.

”Syukurlah,” kataku dalam hati. Mungkin ada sekitar 45 menit kami dilambung-lambung ombak.

Sekitar pukul 20.44 kami tiba di Wanci (nama lain dari Pulau Wangi-Wangi). Perjalanan dari Tomia ke Wanci ”memakan” waktu 3 jam bukan 1 jam seperti yang dipromosikan Wadin! Di dermaga sudah merapat salah satu kapal yang sama-sama berangkat dari Tomia.

”Wah, kapal kecil ini tidak lebih cepat dari kapal besar. Perkiraan yang meleset,” kataku dalam hati. Di pelabuhan, kami sudah ditunggu para penjemput.

Kami disambut dengan tari-tarian dan dikalungkan selendang khas Wakatobi oleh seorang perempuan muda yang mengenakan pakaian adat Wakatobi. Wah, jadi tersanjung juga, seumur hidup tidak pernah aku disambut dengan seremonial seperti ini. Agaknya, aku bersama rombongan VIP ATL Pusat, Jakarta sehingga bisa merasakan sambutan bak pejabat yang mengunjungi suatu daerah. Kulihat, Pak Mahyudin Almudra mengabadikan momentum sambutan ini dengan berfoto bersama pria dan wanita muda berpakaian adat khas Wakatobi tersebut. Melihat dan merasakan sambutan hangat dari masyarakat Wakatobi, sedikit mengurangi rasa lapar dan kantukku, mataku kembali segar, sesegar cahaya lampu yang menerangi pelabuhan Wanci saat menyambut kedatangan kami. Kami lalu dibawa ke rumah dinas Bupati Wakatobi untuk menikmati kue dan minuman hangat. Sekitar 15 menit kami di rumah jabatan bupati, kami kemudian langsung dibawa ke Kampung Lia untuk menghadiri jamuan selamat datang dan pementasan seni oleh Pemkab Wakatobi.

Kampung Lia merupakan salah satu pusat kerajaan yang pernah ada di daerah Wakatobi. Pentas seni dan jamuan dilakukan di tanah lapang sekitar Benteng Lia. Ramai sekali penduduk yang menghadiri pementasan seni dalam rangka menyambut pembicara, peserta, dan pengurus ATL dalam Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara yang dilakukan oleh Pemkab Wakatobi, sungguh sambutan yang luar biasa. Kebetulan aku duduk semeja dengan Gilles Massot dan Charles Juergens. Kami mengobrol tentang fokus penelitian dan latar belakang keahlian. Gilles Massot adalah dosen yang mengajar tentang fotografi di Singapura yang kebetulan memiliki penelitian tentang mitos dan legenda Gunung Bintan di Kepulauan Riau. Charles Juergens merupakan seorang Profesor dari Belanda yang pakar tentang sejarah dan benda-benda kuno. Kami menikmati tarian persembahan dari masyarakat Wakatobi.

Pada saat acara sedang berlangsung, tiba-tiba listrik padam.

”Habis bensin,” kata Gilles Massot berseru.

Aku sampai tertawa melihat ulah orang Prancis nan lucu ini karena ia mengucapkan dan mengekspresikan geraman yang khas saat listrik padam dan mengingatkanku pada seorang teman asing lain yang kukenal. Kepalanya nan pelontos dan cara berpakaiannya yang sangat santai—hanya menggunakan celana pendek dan baju lengan pendek yang kancingnya dibuka. Ia juga menggenakan sandal gunung.

Setelah tarian persembahan, ada laporan dari ketua panitia yang diketuai oleh Wakil Bupati Wakatobi. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Bupati Wakatobi Ir. Hugua. Mendengar sambutan Bupati Wakatobi, aku seperti mendengar kampanye politik.

Sang Bupati menjelaskan bahwa ”Kita patut bersyukur atas karunia Allah Swt. karena posisi geostrategis Wakatobi yang terletak di jantung segitiga karang dunia (coral triangle center) yang mempunyai keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Dari tiga pusat penyelaman kelas dunia, diketahui bahwa dari 850 jenis karang dunia, sekitar 90% ditemukan di Wakatobi yakni 750 jenis ada di sini, Karibia hanya memiliki 50 jenis karang dan Laut Merah Mesir hanya 300 jenis” Lebih lanjut sang Bupati lalu berujar ”Menyadari pentingnya posisi tersebut maka pemerintah Kabupaten Wakatobi berusaha mewujudkan visi Wakatobi yakni ’Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia’. Untuk mewujudkan visi tersebut maka terdapat filosofi 3 proses, yaitu bagaimana surga bawah laut mampu menciptakan surga di pulau (daratan Wakatobi); bagaimana surga di pulau mampu menciptakan surga masyarakat (ekonomi); dan bagaimana surga masyarakat mampu mewujudkan masyarakat masuk surga (religius),” seru sang Bupati.

”Perlu diketahui jantung segitiga karang dunia adalah segitiga terumbu karang dunia yang meliputi 6 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Pulau Solomon, dan Timor Leste. Wakatobi terletak pada titik pusat (inti) segitiga karang dunia tersebut. Oleh karena itulah, Wakatobi merupakan surga nyata bawah laut,” jelas sang Bupati dengan berapi-api.

”Wakatobi akan menjadikan perikanan, kelautan, dan pariwisata sebagai sektor andalan dalam rangka mewujudkan Wakatobi yang bermoral, beradat, dan bermartabat tinggi sesuai dengan tema acara kita hari ini, yakni Tradisi Lisan sebagai Kekuatan Budaya dalam Membangun Peradaban,” orasi sang Bupati semakin bersemangat.

”Kami ucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dan pembicara Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara di Wakatobi. Kami ucapkan selamat menikmati hotel bintang 7 yang lebih hebat dari hotel bintang 5 di Wakatobi ini karena hotel bintang 7 merupakan wujud keramahan dan kebudayaan masyarakat Wakatobi yang baik-baik. Oleh karena hotel dan penginapan di Wakatobi sangat terbatas maka kami menempatkan Bapak-Ibu di rumah-rumah penduduk (hotel bintang 7!) supaya bisa lebih mengenal kebudayaan Wakatobi,” kata sang Bupati sambil tersenyum sumringah dan disambut tawa dari para pendengar.

Tepuk tangan meriah pun bergemuruh saat sang Bupati Wakatobi ini mengakhiri sambutannya. Selanjutnya, sambutan dari Bupati Buton sebagai salah satu pejabat yang diundang khusus dalam acara ini, ”Saya mengucapkan banyak terima kasih atas sambutan yang ramah masyarakat Wakatobi walaupun saya sudah lama tidak datang ke sini. Orang masih mengenal dan bersalaman dengan saya. Saya lihat banyak kemajuan yang telah terjadi di Wakatobi. Ini berarti rakyat tidak salah memilih Pak Hugua dan Pak Ediarto sebagai Bupati dan Wakil Bupati,” katanya.

Lebih lanjut sang bupati berujar, ”Kalau rakyat Wakatobi ada masalah, nenek moyang kita mengajarkan kepada kita untuk berkumpul. Di Parugah inilah tempat kita bermusyawarah, menyelesaikan masalah, dan menjalin silahturahmi,” seru sang bupati sambil menunjuk Parugah (rumah adat Wakatobi) yang berada di belakang beliau. Sambutan Bupati Buton pun diakhiri dengan ucapan terima kasih dari sang bupati.

Selanjutnya, kami dipersilakan menikmati makan malam dengan aroma bumbu khas Wakatobi, ada ikan bakar, daging ayam, nasi, kue-kue tradisional, ubi, keladi, ubi-ubian kukus yang dibungkus daun, dan sebagainya, sebut saja, misalnya soami, yaitu sejenis kue yang terbuat dari ubi kayu yang diparut dan dikukus. Sambil menikmati makan malam, kami terus dihibur dengan kesenian tradisional Wakatobi.

Ada hiburan gambus dari Wakatobi yang dipimpin oleh La Ode Kamaludin. Persembahan gambus ini mampu membuat suasana menjadi tambah riuh. Bahkan, Bupati Buton naik pentas untuk menari-nari dengan perempuan penari yang mengiringi musik gambus. Penonton yang sudah cukup akrab dengan pejabat yang terlihat ramah ini pun bersorak-sorai dan bertepuk tangan riuh. Tidak beberapa lama para tokoh ATL Pusat, Jakarta juga ikut berjoget-joget bersama sehingga membuat penduduk lokal yang menyaksikan pertunjukkan ini pun tertawa dan riuh sekali. Selanjutnya, kami disuguhkan dengan pertunjukkan makan kulit Kima (Karengke), yaitu sejenis kerang yang diambil dari perairan Wakatobi. Pertunjukkan ini dilakukan oleh seorang kakek tua yang masih sangat bersemangat. Sebelum beraksi, sang kakek berucap lantang ”Apa yang saya lakukan ini merupakan warisan orangtua dahulu. Kemampuan ini menunjukkan bahwa orang Wakatobi kuat. Ilmu ini adalah syariat dari ajaran Islam yang menjadi keyakinan kami. Tidak ada yang tidak bisa kalau kita yakin bisa. Apa saja yang kita lakukan kalau disertai dengan syariat Islam, pasti mudah untuk dilakukan” kira-kira begitulah sang kakek berorasi.

Orasi beliau mampu memukau penonton dan mengalahkan pidato tokoh-tokoh politik yang sudah berpidato sebelumnya, sungguh pidato yang sangat kharismatik dan berwibawa. Bahkan, masyarakat yang menonton secara spontan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Setelah pertunjukan dari sang kakek pemakan kulit Kima ini, acara sambutan dari Pemkab Wakatobi dan masyarakat pun selesai. Kami lalu bergegas ke mobil jemputan masing-masing yang telah menanti untuk membawa kami ke tempat penginapan.

Aku menginap di Hotel Lina sekamar dengan seorang tokoh reformis dari Riau yang sangat kesohor namanya. Cukup lama aku mendengar kiprah dan sepak terjang pria Melayu Riau ini. Aku pernah bertemu dengan beliau di Institut Alam dan Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) saat acara penganugrahan doktor honoris causa (kehormatan) dari UKM kepada Bapak Tenas Effendi. Pria yang masih sangat segar dan tampak muda ini adalah Al-Azhar, salah satu dedengkot Riau Merdeka. Pria berewok ini ternyata sangat ramah dan asyik diajak bicara.

”Kita orang Melayu ini harus pandai berpolitik dan berdiplomasi dengan orang-orang pusat (Jakarta),” katanya.

”Riau itu, kalau tidak merajuk, mengarut, dan mengamuk, mungkin tidak pernah diberikan seperti yang telah tampak sekarang ini. Ini salah satu filosofi Melayu dahulu,” seru Al-Azhar.

”Wah filosofi dahsyat Melayu membuahkan hasil juga,” kataku sembari tersenyum.

”Ya, dalam hikayat-hikayat Melayu filosofi merajuk, mengarut, dan mengamuk juga diperlihatkan tokoh Melayu ketika keinginan rakyat banyak tertindas oleh penguasa,” kata Al-Azhar berusaha membuka pikiranku.

Kami juga berbicara masalah kebudayaan Melayu saat ini sehingga muncullah pernyataan Bang Al yang cukup mengesankanku. ”Tapi, sekarang ini terjadi krisis kebudayaan dalam masyarakat, apalagi orang Melayu. Pola hidup dan gaya hidup masyarakat kita sekarang ini sangat konsumtif dan hedonis. Filosofi dan budaya Melayu sudah mulai ditinggalkan sekarang ini,” jelas Al-Azhar. ”Bayangin aja Ded, tradisi makan saprahan dan dikerjakan secara bergotong-royong hilang sudah digantikan dengan katering. Krisis kebudayaan Melayu ini mungkin tidak hanya terjadi di Riau, mungkin Pontianak juga kan,” terang Al-Azhar.

Aku mengangguk-anggukan kepala membenarkan ucapan Kakanda Al-Azhar. Aku tahu di Pontianak tradisi saprahan dan saling bergotong royong dalam acara masak-memasak sudah jarang dipraktikkan dan yang menggunakan katering pun tidak sedikit. Malam sudah semakin larut, aku dan Bang Al sudah mengantuk. Kami pun menempati kasur empuk yang minta segera ditiduri. Tetapi, sebelum berangkat tidur aku melihat secarik kertas yang diletakkan di meja kamar bertuliskan bait-bait puisi (pantun) dari panitia yang berisikan ungkapan selamat datang.

Sentuhasumai merentas lautan
Berlayar jauh melintas negeri
Maaf atas layanan dan fasilitas yang diberikan
Pasti tersua hal yang kurang berkenan hati

Sengatan matahari memanglah perih
Perih nian hingga ke mata
Niat hati sangat ingin memberi lebih
Sudah bergiat baru ini yang ada

Tiada kata yang paling indah Saudaraku
Selamat datang dan mari menyelam di Wakatobi

Pemda Wakatobi dan ATL

Pagi pukul 06.00 Wita, tanggal 1 Desember 2008 siap-siap untuk pergi ke tempat acara. Aku dan Bang Al jalan kaki ke Kantor Bupati Wakatobi yang menjadi tempat berlangsungnya acara seminar. Kebetulan lokasi penginapan kami dengan kantor bupati cukup dekat, mungkin sekitar 200 meter. Di depan kantor bupati terdapat lapangan yang lumayan luas, lapangan tersebut disebut sebagai Lapangan Merdeka Wakatobi. Di lapangan inilah yang menjadi acara puncak pembukaan Seminar dan Festival Tradisi Lisan Nusantara. Seluruh peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini dipersilakan untuk menikmati sarapan yang telah disediakan panitia di Lobi Kantor Bupati Wakatobi. Setelah menikmati sarapan, kami pun dipersilakan untuk ke Lapangan Merdeka agar mengikuti acara pembukaan.

Kulihat ada pameran dari dinas-dinas di lingkungan Pemkab Wakatobi. Gerai-gerai pameran, rata-rata perwakilan dari pemerintah daerah yang ada di Wakatobi. Aku melihat dan mencari tahu hal-hal yang berkenaan dengan Wakatobi. Dari gerai-gerai inilah kudapatkan informasi mengenai Wakatobi. Secara geografis, Wakatobi terletak di bagian selatan garis Khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan antara 5.00° sampai dengan 6,25° Lintang Selatan, sepanjang 160 km dan membentang dari Barat ke Timur, antara 123, 34° sampai dengan 124,64° Bujur Timur, sepanjang 120 km.

Batas-batas wilayah Wakatobi adalah di sebelah barat berbatasan dengan Buton, di selatan dengan Laut Flores, di timur dengan Laut Banda, dan di utara dengan Kabupaten Muna dan Buton. Secara administratif, Pemkab Wakatobi merupakan bagian dari wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Wakatobi memiliki luas wilayah sekitar 55.954 km yang telah menjadi taman nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 393 tahun 1996. Dari luas wilayah yang dimiliki Wakatobi, 93% wilayahnya merupakan laut dan 7% merupakan daratan. Oleh karena itu, laut menjadi sektor andalan dalam kehidupan hari-hari masyarakat Wakatobi, ada yang menjadi pedagang antarpulau, nelayan, penambang batu karang, dan penambang pasir. Untuk mengamankan perahu, kapal, dan fasilitas rumah di tepi pantai dari terjangan ombak ganas lautan Sulawesi, masyarakat Wakatobi membuat talut sebagai penghalang atau pemecah ombak. Talut terbuat dari batu karang yang dibuat sekitar 200 meter dari tepi pantai. Wakatobi memiliki pantai sepanjang 315 km. Banyak pantai-pantai di Wakatobi menjadi rusak karena penambangan batu karang dan pasir yang taklestari. Bahkan, kerusakan pantai menyebabkan juga rusaknya terumbu karang di Wakatobi, sekitar 60% dari 64.333 hektar luas terumbu karang rusak akibat eksploitasi yang berlebihan untuk pembangunan.

Secara administratif, Kabupaten Wakatobi terbagi atas 7 kecamatan, 16 kelurahan, dan 48 desa. Kecamatan yang terluas adalah Kecamatan Wangi-Wangi dengan luas 241,98 km atau 29,40% dari total luas Kabupaten Wakatobi. Dahulu, jauh sebelum Wakatobi menjadi kabupaten, gugusan pulau yang terhampar membentang di perairan Laut Banda ini di kenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi karena rata-rata penduduk Wakatobi memang ahli dalam menempa dan memproduksi senjata yang terbuat dari besi. Dalam sumber Belanda, gugusan pulau ini disebut The Tukang Besi Island. Kesohoran Kepulauan Tukang Besi sesungguhnya sangat melekat pada masyarakat Pulau Binongko karena di pulau inilah sumber produksi dan ahli besi (tukang besi) di kawasan Wakatobi. Wakatobi resmi menjadi kabupaten pada tanggal 18 Desember 2003 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Buton. Istilah Wakatobi merupakan akronim dari empat pulau utama yang berpenduduk ramai di kabupaten ini, yaitu Wangi-Wangi (Wanci), Kaledupa, Tomia, dan Binongko (Wakatobi).

Eksplorasi Adat Wakatobi dalam Pembukaan Kegiatan Lisan VI

Pemkab Wakatobi membiayai semua festival dan seminar tradisi lisan Nusantara ke-6 dengan dana APBD, sebuah keberanian yang luar biasa. Dengar-dengar 2 milyar lebih mereka gelontorkan untuk menyelenggarakan seminar dan festival tradisi lisan Nusantara ini, sebuah angka yang cukup fantastis dan berani dari para pemegang kebijakan dan pemilik kepentingan di Wakatobi. Mereka berharap orang luar mengenal potensi ekowisata yang dimiliki Wakatobi dan menyebarkan kekayaan wisata laut yang mereka miliki ke belahan bumi lain. Pemkab ingin menjadikan wisata sebagai sebuah industri. Untuk itu, melalui kegiatan seminar dan festival tradisi lisan Nusantara inilah mereka mempromosikan dan mengenalkan potensi wisata yang mereka miliki.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta dimanjakan dengan fasilitas gratis mau ke mana saja. Ada motor ojek dan mobil antarjemput yang siap mengantar para peserta untuk mengunjungi dan memasuki seluk-beluk Kepulauan Wangi-Wangi. Mereka juga menyiapkan kapal untuk berwisata ke pulau-pulau yang ada di Wakatobi sesuai dengan jadwal yang mereka tetapkan dalam kegiatan ini. Namun, satu hal yang masih belum disiapkan oleh Pemkab Wakatobi dalam menjadikan Kepulauan Tukang Besi ini sebagai industri wisata adalah masih belum ada suvenir dan cinderamata khas Wakatobi yang diproduksi secara massal untuk diperjual-belikan, seperti kaos, gantungan kunci, kerajinan tangan hasil-hasil laut, dan lain-lain.

Kembali ke cerita acara pembukaan di Lapangan Merdeka, aku duduk di panggung bersama para penghulu dan sebuah Lappa-Lappa (kue tradisional yang membentuk diameter sebagai sebuah adat yang terbuat dari beras pulut). Di sampingku duduk seorang penghulu dari Kelurahan Wandoka Utara yang bernama  La Samma. Tokoh masyarakat ini sungguh baik dalam membagikan pengetahuan mengenai adat lokal Wakatobi. Ia menceritakan tradisi adat berbentuk Lappa-Lappa.

Lappa-Lappa harus ada dalam acara pernikahan karena merupakan salah satu syarat adat utama masyarakat Wakatobi,” kata Pak La Samma.

”Pada saat acara kariya (khitanan), bagi keluarga yang mampu juga mempersiapkan Lappa-Lappa untuk melengkapkan syarat adat,” jelas Pak La Samma lagi kepadaku.

Matahari sudah mulai meninggi dan menyinari panggung tempat kami duduk. Acara belum juga dimulai. Kulihat para penari sudah siap di lapangan, ada juga wanita yang masih belia duduk di atas tandu dengan mengenakan pakaian adat dan dipikul oleh 12 orang lelaki yang tampak kelelahan. Entah apa maknanya adat yang satu ini, aku berbicara sendiri. Rupa-rupanya Pak La Samma mengerti kalau aku sedang bingung sehingga ia pun menjelaskan kepadaku

”Inilah yang disebut adat kariya, dibersihkannya kelamin perempuan dengan alat tertentu (pisau khusus) dan mencukur alis dan rambut di dahi kiri dan kanan yang disebut hekire,” kata Pak La Samma.

”Biasanya perempuan yang dikariya akan ditandu (dilemba) dengan Kansoda (alat tandu khusus) sedangkan lelaki yang akan dikariya berjalan sendiri tidak ditandu. Mereka ini diarak keliling lapangan sebelum dikhitan” jelas Pak La Samma. ”Masih banyak orang sini pakai tradisi lama, jangan kita hilangkan tradisi lama” seru Pak La Samma. Mendengar penjelasan Pak La Samma aku pun memotret tradisi kariya ini.

”Para penghulu dikepalanya menggunakan kampurru (ikat kepala) yang dianggap sebagai kopiah, ini juga adat orang Wakatobi,” ujar Pak La Samma.

Pak La Samma ini pernah berdagang kopra pada tahun 1960-an dengan menggunakan perahu layar ke Maluku, Malaysia, dan Singapura.

”Pada tahun itu, kalau di negara Malaysia atau Singapura Bapak tidak ditangkapkah?” tanyaku kepada Pak La Samma saat bercerita tentang perdagangan antarpulau yang dilakoninya.

”Kalau ketahuan bisa kena tangkap,” katanya.

”Bapak pernah ditangkap?”

”Alhamdulillan belum pernah,” ujar Pak La Samma.

”Oh ya Pak, saya lihat orang-orang sini banyak menggunakan nama yang diawali dengan La dan Wa, misal La Ode, Wa Ode, La Niampe, dan Bapak sendiri, apakah itu harus?” aku bertanya kepada Pak La Samma.

”Tidak juga, La memang nama khas masyarakat Wakatobi dan Buton. Ini hanya tanda kalau yang menggunakan La itu keturunan bangsawan Buton,” jelas Pak La Samma. ”Bagaimana dengan bahasa orang-orang di Wakatobi ini, setahu Bapak ada berapa bahasa?”

”Kalau dilihat dari logat dan nada, ada beberapa yang agak lain, ada bahasa Bajo, Lia, Kapotta, Mandati, dan Wanci,” kata Pak La Samma. Aku memang sedang tidak meneliti bahasa jadi tidak terlalu mendalam untuk melihat apakah ini memang beda bahasa atau hanya dialek. Yang pasti keterangan Pak La Samma merupakan penamaan lokal penduduk Wakatobi dalam mengidentifikasi bahasa yang ada di daerah ini. Ini kerjaan peneliti bahasa di Sulawesi Tenggara untuk membuat klasifikasi bahasa-bahasa di Wakatobi!

Matahari sudah meninggi, suasana di Lapangan Merdeka Wakatobi juga sudah ramai oleh para duta dari berbagai kecamatan yang ada di wilayah Wakatobi yang akan mempersembahkan berbagai tarian dan kesenian tradisional untuk memeriahkan acara pembukaan seminar dan festival tradisi lisan Nusantara ini. Acara dibuka dengan laporan dari ketua panitia (Wakil Bupati) yang samar-samar terdengar uacapan ”Peserta dari luar Sulawesi yang mengikuti kegiatan Seminar dan Festival Tradisi Lisan Nusantara di Wakatobi ini sebanyak 187 orang sedangkan peserta dari dalam sekitar 113 orang”. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan pidato pembukaan di pentas sebelah timur tempat kami duduk karena asyik berbicara dengan Pak La Samma.

Kemudian acara pembukaan dilanjutkan dengan sambutan dari Bupati Wakatobi sekaligus membuka acara ini. Di sisi kiri dan kanan lapangan, masyarakat Wakatobi sangat antusias untuk larut dalam acara pembukaan ini. Mungkin acara seperti ini merupakan suatu pertunjukkan sepektakuler yang jarang terjadi di daerah ini. Padahal, matahari cukup panas dan membuat mereka kepanasan, itu tampak sebagian dari mereka yang berkipas-kipas. Namun, teriknya matahari tudak membuat mereka surut ke belakang. Aku juga kegerahan di atas panggung dan terus mengibas-kibaskan buku jadwal kegiatan yang ada padaku agar sedikit ada hembusan angin ke kulit. Akhirnya, acara pembukaan ditutup dengan arak-arakan tradisi adat kariya. Tandu dalam adat kariya ini berbentuk macam-macam, seperti perahu, singgasana, kursi, dan sebagainya. Ada juga tari-tarian persembahan dari para perempuan muda yang tampak sangat atraktif sehingga menghibur para penonton, tarian ini bernama Lariangi.

Ada juga tari perang yang diperagakan sekelompok pria dengan senjata di tangan. Tari perang ini disebut tari Sajo Moane. Selanjutnya, ada arak-arakan kue tradisional yang dibentuk berbagai rupa, konon sebagai wujud syukur kepada Allah Swt. atas limpahan rezeki yang telah diberikan. Kulihat arak-arakan ini melibatkan berbagai kampung dan kecamatan yang ada di Wakatobi karena baris paling depan terdapat identitas kampung dan kecamatan.

Gagal Bermakalah

Sedih luar biasa kurasakan saat kulihat nama Dr. Chairil Effendy dan namaku tidak ada dalam jadwal seminar sebagai pembicara yang akan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Akan tetapi, makalah kami tentang teknologi perkapalan tradisional dalam tradisi lisan Kalimantan Barat ada dalam buku panduan kegiatan, kebetulan subtema seminar tentang tradisi maritim dan tradisi lisan masyarakatnya. Aku mempertanyakan hal tersebut kepada panitia pusat Dr. Sutamat.

”Maaf Pak, mengapa nama Dr.Chairil Effendy dan saya tidak ada dalam sesi seminar sedangkan makalah kami ada dalam buku panduan,” tanyaku.

”Pak Chairil mengonfirmasikan kepada kami melalui Bu Teti kalau beliau tidak bisa datang, jadi kami tidak menjadwalkan beliau dalam sesi seminar” jelas Pak Sutamat.

”Tapi, saya pengganti beliau dan beliau bilang makalah akan diseminarkan, Bapak lihat sendiri dalam buku panduan nama saya juga ada sebagai penulis makalah tersebut, tolong dong Bapak atur waktu pada sesi yang mana terserah yang penting saya bisa menyampaikan makalah,” pintaku kepada Pak Sutamat.

”Tapi Mas, jadwal udah ngak bisa diubah lagi dan kami juga sudah banyak pemakalah, belum lagi para pemakalah titipan Pemkab Wakatobi sehingga kami juga jadi rumit mengatur waktunya,” kata Pak Sutamat.

”Mas jangan khawatir, nanti kami buatkan juga sertifikat sebagai pemakalah dalam kegiatan ini,” hibur Pak Sutamat.

Dalam hati aku berkata, ”Aku tidak perlu sertifikat, yang kuperlukan adalah menyampaikan pokok pikiran dalam sesi seminar. Aku memang bukan orang hebat dan pintar tapi kalau ada kesempatan memaparkannya dalam sesi seminar tentu akan memperkaya pengalaman dan melatih keberanian akademik. ”Emangnya aku sarjana sertifikat?” batinku.

Aku sempat kecewa juga tetapi apa yang bisa kuperbuat selain menerima keputusan dan mengikuti kegiatan Lisan VI ini dengan sungguh-sungguh. Yang membuat kukecewa adalah banyak pembicara yang tidak punya makalah tetapi membentangkan pokok-pokok pikirannya secara lisan. Rasanya tidak adil! Mungkin karena ini adalah acara tradisi lisan maka tulisan tidak terlalu penting agaknya? Padahal, data-data tradisi lisan itu sepatutnya ditransformasi dalam keberaksaraan karena para pembicara adalah masyarakat akademik dan disampaikan dalam forum akademik.   

Selanjutnya, Berwisata ke Pulau Hoga…

Check Also

Dana Terbatas, Warga Pelai Tetap Peringati Kemerdekaan

Oleh : Achmad Sofian MABMonline.org, Semparuk,  “Ayo yang jaoh merapat! Siape yang mao ikot lombe …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *