Home / Jurnalisme Warga / Wisata Ke Pantai Kijing

Wisata Ke Pantai Kijing

pantai kijing

Oleh Siti Rohmawati
MABMonline.org, Pontianak-
– Pagi itu cerah. Tepatnya pada 27 Oktober 2012, kami berwisata ke Pantai Kijing. Pantai Kijing merupakan satu di antara obyek wisata di Kalimantan Barat, letaknya cukup jauh dari pusat kota Pontianak. Untuk sampai ke tempat ini, kami harus menempuh jarak sekitar 93 km dari kota Pontianak atau 15 km ke arah utara Mempawah. Akan tetapi, hal ini tidak menyurutkan semangat kami. Pukul 8.15 pagi kami start. Dengan menggunakan lima motor, kami berangkat ke tempat tujuan.

Sekitar 35 menit perjalanan kami sampai juga di Pantai Kijing. Plang batu bertuliskan Pantai Kijing menyambut kami. Akan tetapi, perjalanan belum berakhir. Masih perlu menempuh jarak sekitar 300 m dari mulut gang untuk sampai ke pantainya. Setelah sekitar 5 menit kemudian sampailah kami di pintu masuk. Sampai di pintu masuk, kami harus membeli tiket. Harga tiket hanya 5 ribu rupiah per orang. Begitu masuk daerah wisata, angin pantai terasa sejuk dan segar menyergap tubuh kami.

“Oh, ternyata seperti ini to Pantai Kijing,” kata Imam, salah seorang teman kami. Sebuah senyum yang cukup lebar terkembang di bibir kami.

Tak jauh dari pintu masuk, terlihat beberapa kantin. Kantin ini menyediakan berbagai makanan. Mulai dari makanan ringan, minuman, hingga makanan berat bisa dibeli pengunjung di kantin-kantin ini. Beberapa orang tampak sedang menikmati makanannya sambil berbincang-bincang.

Pantai Kijing memang indah. Hamparan laut yang luas langsung terlihat begitu memasuki kawasan ini. Warna airnya tampak kecoklatan di pinggir pantai. Makin ke tengah makin membiru. Ombak kecil tampak berkejar-kejaran diterpa angin. Satu dua kapal tampak berlayar di laut itu.

Di bagian selatan terdapat sebuah bukit yang dipenuhi dengan berbagai jenis tumbuhan dan pohon. Akan tetapi, tempat pertama yang kami tuju adalah bagian utara. Daratan kurang lebih 3 m dari bibir pantai dipenuhi dengan pohon kelapa. Pohon ini tinggi-tinggi.

Kami berjalan di bawah pohon-pohon kelapa menggunakan motor. Pohon-pohon kelapa ini berbaris rapi dengan jarak antar pohon yang nyaris sama. Hamparan rumput-rumput liar yang hijau tumbuh di antara deretan pohon kelapa ini. Belum jauh kami berjalan, terdapat sebuah bangunan dari semen. Kami pikir bangunan itu adalah toilet karena bagian tengahnya ada seperti sebuah ruang kosong. Akan tetapi, terrnyata bangunan itu adalah panggung pertunjukan, satu di antara fasilitas yang tersedia di Pantai Kijing. Sayang, panggung itu tampak sudah tidak terawat lagi. Warna hijau tua yang terlihat bukanlan cat panggung, melainkan tumbuhan lumut yang menyelimuti sebagian besar badan panggung. Sampah-sampah juga banyak  terlihat.

Kami kembali berjalan. Meskipun merupakan wilayah yang ditumbuhi pohon kelapa dan hamparan rumput liar di antara akar-akarnya, terdapat sebuah jalan setapak yang berpasir. Jalan ini panjang dan lonjong melingkar. Salah seorang dari kami berkata bahwa jalan ini biasanya untuk racing motor.

Tiba di sebuah tempat yang kami rasa cukup nyaman dan aman, kami berhenti. Kami letakkan barang-barang bawaan kami di bawah sebatang pohon kelapa yang tidak begitu tinggi. Setelah itu kami segera berlarian menuju pantai. Ada yang bermain air, ada yang bermain pasir, dan ada juga yang berfoto-foto.

Hamparan pasir membentang sangat panjang ke arah utara sampai tak kelihatan ujungnya. Pasir itu terasa hangat terkena matahari dan percikan air pantai. Terdapat juga kulit-kulit kerang kecil yang ditemukan di balik pasir dan air pantai itu. Kami terus bermain.

Tak terasa waktu berlalu. Pukul 11.05. Matahari mulai naik dan panas. Pasir pun terasa makin panas. Kami kembali ke pinggir, di bawah pohon kelapa. Kami beristirahat sambil makan makanan yang kami bawa. Setelah itu kami tidur-tiduran di atas pasir. Serasa menjadi anak pantai.

Pukul 14.30 kami kembali berjalan-jalan. Kali ini kami menuju ke arah selatan, kembali lagi melewati jalan tadi. Kami menuju bukit yang ada di awal kami masuk. Sampai di bawah bukit kami segera memarkirkan motor kami. Kami melihat ada penjual rambutan dan membeli beberapa ikat. Setelah itu, kami menaiki bukit tersebut. Bukit itu tidak terlalu tinggi. Terdapat sebuah jalan tangga dari semen. Akan tetapi, jalan itu sudah rusak. Beberapa bagian sudah hilang, tinggal tanah berbatu dan memperlihatkan akar-akar pohon. Hal ini membuat kami tekadang harus saling berpegangan agar tidak tergelincir.

Gambar : Foto Pantai Kijing
Ceria di Pantai Kijing

Tiba di badan bukit yang cukup datar kami berhenti sejenak. Ternyata terdapat beberapa kantin yang ada di badan bukit ini. Akan tetapi sayang, kantin-kantin disini sepertinya sudah tidak dipakai lagi. Padahal panorama bawah bukit yang terlihat dari badan bukit ini cukup indah. Air pantai menggenangi bagian bawah pohon kelapa. Batu-batu besar tampak membantu pohon kelapa menghadang ombak pantai.

Tak lama, kamipun melanjutkan perjalanan. Kali ini kami berjalan turun mengikuti jalan kecil yang tampaknya sering dilewati. Tiba di bawah, kami masih harus berjalan beberapa meter untuk sampai di balik bukit. Banyak pohon kerisan yang menutupi jalan.

Tiba di balik bukit, pemandangan yang terlihat tak kalah indahnya dengan pantai tadi. Bukan pasir yang menghiasi bibir pantai, melainkan hamparan batu-batu yang besar. Suara ombak yang menerpa batu-batu itu memperindah pemandangan. Terlihat dua orang yang duduk di atas sebuah batu besar sambil memancing ikan. Segera saja kami naik di atas batu-batu itu. Kami bermain-main melompati batu, duduk-duduk, dan berfoto-foto.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *