Wisata Spiritual di Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah

ramadhan bersama rasulullah

Berbicara mengenai kehidupan Rasulullah SAW. sama dengan berbicara mengenai hadis, sebab wujud dari kepribadian Rasulullah itulah hadis, sebab hadis adalah ucapan, perbuatan, taqrir, serta semua sifat dan bentuk fisik Nabi SAW. Ulama lainnya menyebutkan bahwa definisi hadis yang paling lengkap adalah termasuk hadis adalah ucapan para sahabat. Jadi, apabila mau mengetahui kehidupan Rasulullah maka salah satunya sumbernya adalah hadis-hadis Rasulullah itu sendiri.

Indahnya Ramadhan di rumah Rasulullah
Rasulullah SAW. tinggal di rumah yang sangat sederhana. Letaknya bersebelahan dengan Masjid Nabi SAW. Di rumah beliau terdapat beberapa kamar untuk masing-masing isteri beliau. Di rumah yang ukurannya tidak luas dan penuh kesederhanaan tapi dihuni orang-orang mulia dan agung dengan jiwa yang besar, dan lapang; didampingi para isteri yang penuh perhatian dan kesetiaan yang luar biasa; dilandasi dengan semangat agama dan dakwah untuk memenuhi ridha Rasul dan ridha Allah. Inilah Baiti Jannati (Rumahku surgaku). Dalam suasana dan situasi demikian, menyambut dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan pasti terasa indah dan nyaman serta penuh kedamaian.

Di antara kebiasaan Rasulullah SAW. dalam menyambut kehadiran bulan Ramadhan, beliau mengucapkan tahni’ah atau ucapan selamat kepada para sahabat dan umat Islam umumnya, sebagai doa dan motivasi agar selalu berjiwa lapang dan besar dalam menyikapi datangnya bulan ramadhan sehingga semua kewajiban dan ibadah dilaksanakan dengan penuh rasa ringan, tidak terasa berat, tidak ada rasa keluh kesah, tapi semuanya dilaksanakan dengan rasa ringan, nyaman, dan penuh keceriaan. Rasulullah SAW membaca tahni’ah sebagai ucapan selamat.

أَتَاكُمْ رَمَضاَنُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَباً بِهِ وَأَهْلاً جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكاَتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ زاَئِرَاتٍ هُوَ آتٍ

“Bulan Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan pelopor segala bulan, marhaban bihi wa ahlan (Selamat datang bulan Ramadhan). Bulan puasa telah datang dengan penuh berkah, maka muliakanlah tamu yang datang itu.” (HR. Thabarani).

Berdasar pada hadis inilah, tahni’ah atau ucapan selamat Marhaban ya Ramadhan, dalam bahasa Indonesia kita mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa semoga ridha Allah selalu menyertai kita semua, dan lain-lain. Terkadang juga dibumbuhi dengan berbagai macam pantun Melayu yang bernuansa agama, bernuansa nasehat, untuk saling mendoakan dan saling memberi motivasi. Saya pribadi ketika mengucapkan tahni’ah biasa mengawali dengan terjemahan ayat dan atau hadis.

Baca juga: Dari Puasa Teologis ke Transformatif (http://mabmonline.org/dari-puasa-teologis-ke-transformatif)

Selain itu Rasulullah SAW. dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan selalu memperlihatkan wajah gembira dan ceria pada keluarganya dan umat Islam lainnya. Menyambut kedatangan bulan Ramadhan tidak baik dengan wajah cemberut, wajah kusut seperti tak bersemangat, wajah frustrasi, apalagi sampai berkeluh kesah.

Dalam kaitannya dengan puasa pada bulan Ramadhan, Aisyah, isteri Rasulullah SAW. mengatakan:

فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
Kami diperintahkan mengqadha puasa, dan tidak diperintahkan mengqadha shalat. (HR. Muslim).

Oleh karena bagi perempuan secara kodrati mengalami masa haidh, masa libur untuk tidak boleh puasa, tetapi ia wajib menggantinya pada hari-hari lain setelah bulan Ramadhan. Dalam hal penggantian puasa bagi perempuan yang mengalami masa haidh tersebut, Rasulullah memberikan tuntunan agar mengganti puasanya, dan tidak mengganti shalat yang ditinggalkan pada masa haidh, sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut. Bahkan lebih tegas tuntunan Rasulullah SAW. agar tidak mengabaikan penggantian puasa wajib sampai masuk bulan ramadhan berikutnya. Mengabaikan tanpa melunasi hutang puasanya itu boleh jadi dianggap meremehkan kewajiban, kecuali apabila ada udzur. Rasulullah SAW. mengingatkan:

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَىْءٌ لَمْ يَقْضِهِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ وَمَنْ صَامَ تَطَوُّعاً وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَىْءٌ لَمْ يَقْضِهِ فَإِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّلُ مِنْهُ حَتَّى يَصُومَهُ
Barangsiapa yang mendapatkan Ramadhan berikutnya sementara masih ada kewajiban puasa yang belum dilunasi, maka ibadahnya tidak diterima. Barangsiapa yang puasa sunnat sementara masih ada kewajiban puasanya yang belum dilunasi, puasa sunnatnya itu tidak diterima sampai ia sudah mengganti puasa wajibnya itu. (HR. Ahmad bersumber dari Abu Hurairah).

Hadis ini sebagai peringatan dari Rasulullah SAW. agar tidak mengabaikan dan meremehkan hutang kepada Allah. Hutang terhadap sesama manusia wajib dibayar, tentu lebih wajib dibayar adalah hutang kepada Allah.
Dalam hal sikap Rasulullah SAW. untuk mendapatkan indah dan damainya Ramadhan adalah pada hari-hari akhir terutama 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau sangat sedikit tidurnya, beliau bangun begadang malam untuk berdzikir dan beribadah. Bahkan beliau membangunkan isteri-isterinya.

Aisyah salah seorang isterinya mengatakan:
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Adalah Nabi apabila sudah masuk 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari).

Mengencangkan sarung, maksudnya bekerja keras, sangat antusias, penuh perhatian dalam mempersiapkan diri untuk banyak beribadah pada malam-malam tersebut.
Rasululuh sedikit tidur, kita umatnya sedikit-sedikit tidur.
Rasulullah sedikit makan. Kita umatnya sedikit-sedikit makan.
Rasulullah sedikit-sedikit ibadah. Kita umatnya sedikit ibadah.
Rasulullah sedikit-sedikit bersedekah. Kita umatnya sedikit bersedekah.
Rasulullah bangun tengah malam untuk berdzikir dan beribadah. Kita kadang bangun tengah malam, hanya untuk kencing, selesai kencing tidur kembali. Atau bangun karena yang lain tapi bukan untuk ibadah. Kalau kondisinya demikian, bagaimana umat Islam bisa meraih indahnya ramadhan, bagaimana merasakan nyaman dan damainya Ramadhan, kalau antara pengetahuan dan pengamalan ibadah puasa ramadhan tidak sejalan. Pengetahuan agama banyak, tetapi kesadaran menjalankan agama kurang atau sedikit. Wallahu a’lam.

oleh H. Wajidi Sayadi
(http://wajidisayadi.blogspot.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *