Home / Jurnalisme Warga / Melestarikan Zikir Nazam Melayu Sambas

Melestarikan Zikir Nazam Melayu Sambas

Oleh Tan Erwin

MABMonline.org, Pontianak — Tak… tak… dung… dung…dung… bunyi gendang yang memecahkan keheningan malam di asrama mahasiswa Kabupaten Sambas Pantai Utara di Pontianak. Di bawah sinar lampu dan di tengah-tengah aula asrama pemuda berkumpul melakukan salah satu kegiatan rutin.

Suara gendang dan teriakan suara anggota tim zikir membuat bulu kudukku merinding seketika. Apa yang dibaca mereka? Kupikir latihan paduan suara atau karaoke. Pelan-pelan mendengarkan alunannya seperti ayat-ayat Alquran yang menenangkan hati dan jiwa. Perlahan aku naik anak tangga. Satu-persatu kaki melangkah untuk mengikuti suara itu. Suara semakin jelas dan aku menyaksikan sekelompok pemuda berkumpul membentuk lingkaran. Gendang dan kertas bacaan bersusun rapi di depan mereka.

Sekelompok pemuda melantunkan nada bacaan-bacaan Arab yang dikenal dengan zikir nazam dalam kitab barzanji. Posisi mereka mengelilingi pemain gendang tersebut. Gendang yang bulat dan bacaan Arab biasanya dilakukan setiap ada waktu sempat atau kosong bagi kumpulan mahasiswa Sambas. Salah satu pemuda mengarahkan anggota untuk mengulang bacaan sesuai dengan nada yang tepat agar kelihatan bacaan-bacaan yang benar dan yang salah.

“Inilah kegiatan rutin kami, berlatih kalau ada waktu sempat saja untuk mengembangkan salah satu budaya Sambas karena kesibukan masing-masing,” ungkap Fahmi, penerus zikir nazam di asrama mahasiswa Kabupaten Sambas Pantai Utara di Pontianak.

Mereka melantunkan dengan nada yang sangat tinggi kemudian nada rendah dan kemudian datar dengan bantuan pengeras suara. Bergiliran dua baris per orang sambil mengelilingkan pengeras suaranya. Secara pasti bergantian pemimpin mengarahkan anggotanya ibarat komando yang diberikan ketua.

Pemuda itu asyik memeluk gendang sambil memainkannya dan menunjuk-nunjuk kertas bacaan yang ada di depannya. Selalu mengarahkan anggota yang sedang belajar salah satu budaya Sambas. “Saya di sini sebagai Malakkan atau tukang pimpin baca rawi,” ujarnya sambil memeluk gendang. Ia yang memimpin dengan suara pertama kemudian diikuti oleh anggota-anggotanya.

Fahmi belajar zikir nazam sejak tahun 2008 hingga sekarang. Ia mendapatkan pembelajaran zikir nazam juga di asrama mahasiswa Kabupaten Sambas, yaitu belajar dengan Junaidi mahasiswa STAIN yang sudah menjadi alumni di asrama. Baginya nikir nazam ini sudah menjadi kewajiban untuk digaungkan karena zikir nazam ini juga salah satu warisan budaya yang dipopulerkan Syekh Ahmad Khatib Al-Sambasi dan isi dari zikir nazam tersebut berkenaan dengan keagamaan.

Zikir nazam yang dilantunkan oleh pemuda asrama sudah menjadi salah satu khazanah Islam di Sambas karena masuknya zikir nazam ini pada abad ke-16 yang merupakan kesusastraan Arab-Persia ke Asia Tenggara dan masuklah ke daerah Melayu. Zikir nazam awalnya ialah media penyebaran Islam dari pedagang arab.

Melihat perkembangan zikir nazam ini sudah sangat lama sejak adanya Islam ada di Sambas. Isi dari zikir nazam tersebut adalah ucapan memuji Rasul dan bersyukur kepada Maha Penguasa. Perlunya budaya ini dikembangkan karena mengandung pesan-pesan moral dan menguatkan tali silaturahmi antarumat. “Kadang waktu kami belajar tidak cukup untuk di asrama saja. Kami melakukan kegiatan ini bergabung dengan tim zikir nazam Nur Islam di Sungai Jawi dalam acara nikahan, akikah, dan sunatan,” ujar Fahmi.

Kemampuan Fahmi tidak diragukan lagi dalam menggaungkan zikir nazam. Ia sudah berani melatih anggota asrama dan akan membuat tim zikir nazam. Menurutnya dari ketiga Asrama Sambas yang ada di Pontianak baik asrama perempuan maupun laki-laki hanya di asrama tempatnya tinggallah yang melakukan kegiatan zikir nazam. “Bagi saya ini adalah tanggung jawab saya sebagai pemuda yang terlahir dari Sambas untuk mengembangkan dan melestarikan salah satu budaya dan pemudalah yang melanjutkan estafet budaya,” ujar alumni PGSD ini.

Alat-alat yang ada di dalam pembacaan zikir nazam ini bukan hanya gendang tetapi ada juga marakas dan tamburin. “Dalam pembacaan zikir nazam ada bagian-bagiannya termasuklah zikir nazam, nyalai, rawi, nyerakal, dan doa yang dilakukan secara berurutan,” jelasnya sambil menggoyang marakas.

Fahmi kadang juga merasa prihatin dengan perkembangan zaman yang tidak mampu dibendung. Banyaknya budaya baru yang berasal dari budaya luar menjadi semakin eksis di kalangan pemuda sehingga budaya yang bersifat rohani pun dilupakan. “Kenyataan yang dapat dilihat ialah budaya zikir nazam ini jarang sekali dilakukan oleh pemuda,” jelasnya.

Fahmi dengan keteguhan dan usaha yang kuat untuk melestarikan budaya dan berharap kepada pemerintah dan orang tua membuka pelatihan zikir nazam untuk mengembangkan budaya ini. “Siapa saja dapat melestarikan budaya ini dengan cara apa saja, bisa dengan cara mengadakan lomba,” ungkap Fahmi.

Check Also

Penulis Muda, Rohani Syawaliyah

Oleh Hira Wahyuni MABMonline.org, Pontianak — Rohani Syawaliah, seorang sastrawan yang berasal dari Jawai, Sambas, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *